Plan E: Enjoyable Over-Overtime
Bakat bikin khawatir tuh bakat paling ngerepotin tapi paling mendekati kekuatan superhero sebenarnya. - Ari
***
"Ranti manis ..." Alva memanggil Ranti dengan nada membujuk. Dia tengah mencoba mengangkat topik Salsa, topik yang sejak tiga hari lalu selalu sukses membuat Ranti sensitif.
"Hm?" Tanya Ranti sambil tetap fokus pada layar laptopnya.
"Kamu masih bikin skripsi?? Udahan dulu dong sayang, emang ngga cape?" Tanya Alva. Dalam hati dia sudah gemas, kapan bisa mengobrol nyaman kalau mata perempuannya tidak bisa lepas dari laptop begini?
"Aku dari tadi udahan bikin skripsinya. Ini lagi iseng aja nyusun-nyusun proposal thesis buat program beasiswa S2 yang kemaren kita liat itu loh," jawab Ranti santai tapi fokus. Alva menelan ludah. Dari sekian banyak perempuan, kenapa hati Alva tertambat dengan maniak belajar seperti Ranti ya?
"Sayang ..." suara bariton Alva yang lembut membuat Ranti sulit berkonsentrasi. Suara Alva memang salah satu suara favorit Ranti di dunia. Apalagi kalau kata yang diucapkan adalah ucapan manis atau ungkapan sayang ... meleleh sudah anak gadis satu ini. Padahal dulu sewaktu masih bersahabat, Ranti sering sekali tertawa geli kalau Alva sudah mengeluarkan gombalannya yang kebanyakan gula, eneg.
Akhirnya Ranti menyimpan progress pekerjaannya lalu menutup laptop. Ia tersenyum geli melihat wajah menang Alva.
Dari tadi saingan sama laptop toh??
"Apa Alvaaa?" Tanya Ranti tersenyum lebar.
"Alva sayang kek gitu," gerutu Alva. Tapi kemudian Alva langsung menahan tawanya karena Ranti langsung kaku dan wajahnya berwarna merah padam dalam waktu singkat.
Ranti si cewe yang kelampau serius, disuruh memanggil pacarnya dengan sebutan mesra saja langsung malu. Reaksi salah tingkah Ranti inilah yang bikin Alva betah menggombalinya. Manis kalau buat Alva.
"Jahat kamu! Aaa ... aku malu ..." kata Ranti salah tingkah dan mengompres pipinya yang panas dengan tangannya yang dingin. Satu setengah tahun berpacaran ternyata tidak membuat Ranti lebih ahli menyampaikan kata-kata mesra. Alva tertawa puas sekali, tak peduli Ranti menepuki bahunya berkali-kali
"Eh, udah saltingnya! Aku dari tadi mau ngomong serius ngga kesampean. Hahaha ..." kata Alva sambil tertawa sesekali. Begitulah dia kalau sudah berduaan dengan Ranti, suka salah fokus. Bahkan sejak Ranti menutup laptop tadi nama Salsa tidak tersebut sama sekali.
"Yaudaahh mau ngomong apaaa?" Ranti mendelik kesal. Pura-pura kesal tepatnya. Masih malu-malu dia habis disuruh bilang sayang.
"Salsa apa kabar?" Tanya Alva memberi kode. Niatnya adalah membuka percakapan agar Ranti mau berbaikan dengan Salsa.
"Hmm ... belom nanyain. Mau nelponin anaknya? Yuk."
"Dih, kok ngejawabnya kayak ngga ada apa-apa gitu??" Alva jadi penasaran karena reaksi Ranti cukup tak terduga. Setelah beberapa hari lalu kerjaannya sibuk curhat soal kekesalannya dengan Salsa, hari ini Ranti tampil tenang. Terlalu tenang menurut Alva.
Ranti pun tersenyum jahil, "Kamu pasti mikir aku masih kesel sama Salsa ya?"
"Ya sampai kemarin malem kamu masih ngeluhin Salsa kan?" Tanya Alva balik. Ranti malah terkikik.
"Aku ngeluhin Salsa buat Kak Ari ..." Ranti mendekat pada Alva sehingga suaranya dapat dipelankan. Alva masih kagum dengan degupan di dadanya yang konsisten muncul tiap Ranti berjarak 5 sentimeter atau kurang.
"Buat Kak Ari??"
"Iyaa ... sebenernya kemaren-kemaren pas aku ceritain Salsa ke kamu di telepon, itu pas Kak Ari udah dirumah dan lagi ngemil di meja makan," Ranti menjulurkan lidah sementara Alva memelototinya.
"Motivasi kamu apaaa coba, Ran?" Tanya Alva tak habis pikir.
"Kepengennya sih biar Kak Ari nguping tapi sok bego. Terus moga-moga aja dia kepikiran dan ngomong sama Salsa di kantor. Siapa tau kalo dia ngira kita berantem dia jadi kasian sama Salsa. Kan lumayan Salsa bisa pendekatan," jawab Ranti.
"Tapi masalahnya yang ngira kalian berantem juga bukan cuma Kak Ari. Aku juga ngira gitu. Aku yakin bahkan Salsa pun ngira begitu."
"Yaa ... itu emang sekalian sih."
"Sekalian?"
"Aku rasa ngga sehat kalo aku terus-terusan bantuin Salsa. Takutnya dia jadi ngegampangin urusan. Jadi kemarin aku gituin dia biar dia struggle dikit, toh emang jalan yang dia pilih butuh effort maksimal kan?" Alva ber-ooh-ria mendengar penjelasan Ranti.
"Kamu tega juga ya ..."
"Harus ditega-tegain. Kalo ngga kasian Salsa ke depannya. Dia bisa ngga ngerti konsekuensi pilihan-pilihannya. Lagian kalo urusan kemaren doang mah aku percaya Salsa bisa atasin kok ..."
"Jadi gue ngga dibuang??? Huweee ... Ranti sayang, I love you soooo ..."
Baik Ranti dan Alva menengok ke balik sofa. Di sana sudah ada Salsa yang sedang menyegerakan diri ke arah Ranti. Lalu sedetik kemudian Salsa memeluk Ranti erat-erat.
"Kok dibuang? Mikirnya jelek banget sih lo?! Pamali ah, Sa ..." Ranti malah salah fokus dengan ucapan Salsa. Tapi Salsa tidak peduli, dia terus memeluk Ranti sekuat tenaga. Air matanya ditahan habis-habisan.
Mungkin Ranti tidak bisa menduga kelegaan Salsa ketika mencuri dengar soal Ranti yang sengaja membuat Kak Ari peduli pada Salsa sampai penjelasan Ranti yang paling terakhir tadi. Alva pun mendesah lega. Syukurlah dua sahabat ini sudah berbaikan kembali.
"Berisik banget sih!" Tiba-tiba suara lain muncul. Kak Ari sudah berdiri di dekat mereka dengan wajah galak.
"Kecilin napa suara lo, Sa?! Gue udah pake headset tapi suara lo tuh tetep bikin pengang, heran deh ..." kata Kak Ari dengan ekspresi sangat terganggu. Di luar dugaan Salsa melempar senyum haru.
"Jadi suara gue nyampe ke telinga lo walaupun udah dihalangin headset, Kak? Uuww, so sweet ..." ucap Salsa dengan wajah setengah halu.
"Auk amat deh. Salah gue ngomong sama yang otaknya gesrek," kata Kak Ari lelah setelah menghela nafas panjang. Jelas dia menganggap Salsa sedang bercanda dan menyindirnya. Dia pun memilih mengabaikan Salsa dan beranjak mengambil minum.
Diam-diam Ranti memperhatikan kelakuan Kak Ari dan Salsa. Ranti tersenyum. Matanya bertatapan dengan Alva dan rasanya gatal ingin menceritakan sesuatu pada pacarnya itu.
"Sa, kalo haus ambil air sendiri ya," pancing Ranti. Salsa yang ditawari kesempatan berduaan dengan Kak Ari saat weekend begini langsung menuju dapur tanpa pikir panjang. Anggap saja kencan, iya ngga?
"Kenapa kamu senyum-senyum?" Tanya Alva penasaran.
"Kamu perhatiin ngga? Kak Ari udah ngga manggil Salsa 'bocah' lagi. There must be some progress between them. Gila, tiga hari doang padahal ngga update," kata Ranti yang gayanya mengalahkan emak-emak rumpi.
"Aku ngga tau kalo kamu segini ngedukung Salsa sama Kak Ari ..."
"Dibilang ngedukung ngga juga sih ... tapi dari lama aku selalu ngerasa mereka compatible sih."
"Compatible? Emangnya gadget?"
"Ih seriusss .. mereka tuh sama-sama baik tapi ngeselin. Lagian perhatiin deh, Salsa bilang naksir abis-abisan tapi di depan Kak Ari masih suka sok cool aja gitu. Jaga pride banget. Kak Ari juga kesannya cuek, tapi pas Salsa dateng dia tau-tau suka muncul aja loh."
Alva berpikir sebentar, mengingat-ingat beberapa kejadian. Lalu dia pun menampakkan ekspresi terkejutnya.
"Wah iya! Bener juga kamu! Eh bentar, kamu ngga berencana meddling hubungan mereka kan?"
"Alva sayang, kalo ngga ada campur tangan Salsa kita ini ngga pacaran. Anggep aja ini balas budi, oke?" Ranti membelai lembut pipi Alva. Nada suaranya penuh aura persuasi karena sangat ingin ikut campur dalam mempercepat kedekatan hubungan Salsa dan Kak Ari.
Sementara Alva terbelalak, Ranti pun bingung. Setelah beberapa saat, ekspresi panik dan salah tingkah Ranti berangsur-angsur muncul seiring dengan terbitnya senyuman lebar Alva. Ranti baru sadar kalau tadi panggilan sayang itu keluar lancar dari mulutnya. Alva tertawa kencang, puas dan penuh kemenangan sementara Ranti berteriak menahan malu.
Di dapur, Kak Ari yang baru tersedak karena terkejut mendengar teriakan dan tawa makhluk-makhluk di ruang tamu itu menatap Salsa kesal, "Lo dateng, semua orang jadi pengen gue budeg kayaknya."
"Gue udah baikan sama Ranti, Kak!" Salsa malah merespon tidak nyambung.
"Udah tau. Mungkin gue bentar lagi budeg, tapi gue ngga buta," Kak Ari memenuhi gelas bawaannya kembali dengan air lalu beranjak.
"Mau kemana?" Tanya Salsa menahan diri agar tidak mengeluarkan nada tak rela.
"Ke kamar lah, main game," jawab Kak Ari santai.
Salsa memajukan mulutnya. Gimana bisa dideketin kalo hobinya nge-game di dalem goa sampe lumutan?
"Sidang lo kapan?" Tanya Kak Ari tiba-tiba.
"Jumat depan, abis Ranti," jawab Salsa apa adanya.
"Jam?"
"Setengah 11 siang."
"Hmm ... tanda tangan dosen-dosen udah lengkap?"
"Mau gue kejar hari Senin sama Selasa."
"Ngga mepet? Lo cuti seminggu aja, ngga apa-apa kali. Beresin approval sama siapin materi presentasi kan butuh waktu."
"Ngga, Kak. Berkat lo, analisa gue di-approve tadi pagi. Skripsi udah rampung buat disidangin. Kalo minta tanda tangan mah cepet, kan mintanya juga rame-rame sama anak-anak yang dibimbing dan diuji," jawab Salsa lengkap, meskipun masih menebak-nebak kenapa Kak Ari bertanya.
Kak Ari mengangguk-angguk lalu mengangkat gelasnya, "Baik juga dosen lo, mau meriksain skripsi Sabtu pagi gini. Okay, Good Luck then."
Hati Salsa berdebar heboh melihat punggung Kak Ari menjauh.
Diperhatiin gini aja udah kepanasan gue ...
***
Kak Ari membuka matanya lebar-lebar sampai alisnya terangkat ke atas saat dia melihat Salsa masuk ke ruang meeting di belakang Mba Fany. Salsa memberikan senyum sekilas pada Kak Ari, lalu segera duduk dan fokus diskusi dengan Mba Fany.
Perusahaan tempat Salsa dan Kak Ari bekerja sedang mengikuti pitching salah satu produk dari perusahaan besar. Ini merupakan salah satu pitching terpenting tahun ini di dunia advertising agency.
Perusahaan menurunkan orang-orang terbaiknya untuk proyek pitching ini. Jadi menemukan Salsa berada di ruang meeting yang sama dengannya membuat pandangan Kak Ari pada Salsa menjadi sedikit berbeda. Ada pengakuan yang mau tak mau Kak Ari berikan pada Salsa.
Tapi lusa kan dia sidang!!!
"Dulu gue suka bingung kenapa Ranti selalu lebay banget ngekhawatirin lo. Sekarang gue baru ngerti." Kak Ari menghampiri Salsa pada waktu istirahat sesi brainstorming.
"Ngerti?" Jawab Salsa tidak fokus. Hatinya sedang kegirangan didatangi Kak Ari. Berharap ini sedang di rumah dan Kak Ari membawa seserahan. Ah, senangnyaaa ...
"Lo tuh emang orangnya mengkhawatirkan ya?" Tanya Kak Ari serius. Senyum Salsa hilang meskipun debaran kuat di jantung masih terasa.
"Lo khawatir kenapa? Gue ngga bisa catch up di proyek gede kayak gini? Gitu amat lo Kak mikirnya sama anak magang ..." ujar Salsa sedikit kesal karena merasa diremehkan.
"Sidang lo gimana? Tinggal dua hari bukannya sibuk persiapan malah ngurusin ginian." Kak Ari memilih to-the-point daripada lawan bicaranya ini makin salah paham. Salsa tersenyum.
"Revisi catatan penguji udah di tanda tangan, approval lengkap. Tempat sama waktu fixed. Slide presentasi udah selesai. Kalo gue ngga ngapa-ngapain gue bisa parno sama sidang gue nanti."
"Fine. But this is an important pitching. We will work overnight here. Way over-overtime," Kak Ari mencoba mengingatkan. Maksudnya sih agar Salsa berpikir ulang soal kesehatannya. Kan tidak lucu batal sidang karena badan ambruk kecapekan dihajar lembur.
"I know. Lo pikir gue anak kecil yang lagi dibawa nyokapnya kerja, Kak? I'm part of this ..." Salsa yang terlalu sibuk mengira bahwa Kak Ari menganggapnya bocah tak bisa apa-apa itu seakan ingin membuktikan sesuatu.
Kak Ari menggeleng pelan, "Terserah lo deh."
Salsa melihat Kak Ari pergi. Lagi-lagi kali ini dia melihat punggung Kak Ari menjauh. Dalam hati selalu ada harapan yang Salsa simpan agar suatu saat dia tidak lagi berada di belakang Kak Ari. Tidak lagi melihat Kak Ari menjauh.
Salsa berharap untuk dapat selalu menemukan Kak Ari di sisinya, meskipun masih lengkap dengan mulut judes dan kening mengkerut.
***
Melihat Salsa membuat Mba Fany teringat kepada dirinya saat baru bekerja dulu. Berpikir pendek, senang mengeksplorasi, tapi tidak pernah main-main pada pekerjaan di depan mata.
Ditambah dengan bakat Salsa dalam membuat konten sosial media, Mba Fany sangat bersemangat untuk mengasah kemampuan Salsa. Ia tak peduli apakah Salsa akan lanjut bekerja di kantor ini atau nantinya pindah setelah lulus kuliah. Selama Salsa ada di sini, ia ingjn mencemplungkan Salsa kepada pengalaman bekerja sebanyak mungkin.
Itulah mengapa Mba Fany mempercayakan Salsa sebagai asistennya dalam pitching kali ini. Sialnya, sebagai asisten, Salsa tidak bisa pulang sebelum Mba Fany sementara Mba Fany senang bekerja di kantor ketimbang di rumah.
Kemarin Salsa pulang ke rumah jam dua pagi. Itu pun sudah harus masuk ke kantor jam 10 pagi-nya karena ada tugas dari Mba Fany. Hari ini brainstorming berjalan alot kembali meskipun CEO mereka sudah turun tangan mengepalai sesi kali ini.
Waktu menunjukkan pukul setengah 10 malam ketika Salsa mulai gelisah. Salsa membawa laptopnya ke ruang rapat dan berencana mempelajari skripsinya diam-diam saat tiap divisi sibuk mengerjakan bagian mereka masing-masing. Kemarin Salsa mempelajari situasi, saat pengerjaan sendiri-sendiri itu adalah saat paling menyiksa bagi Salsa. Menganggur tapi tidak bisa kemana-mana dan tidak bisa melakukan apa-apa karena statusnya stand by, menunggu tugas Mba Fany.
Malam ini dia berencana mengkaji ulang persiapan sidangnya diam-diam. Tapi ternyata agak sulit dilakukan ketika CEO mereka bolak-balik ruangan. Kalau sampai terlihat bahwa Salsa mengerjakan sesuatu yang tidak berhubungan dengan proyek pitching, Salsa bisa membahayakan posisi Mba Fany yang sudah mengajaknya masuk proyek ini.
"I think I'm gonna finish my task at my desk. I need my spot to finish this fast," kata Kak Ari, satu-satunya perwakilan divisi media yang hadir karena partnernya sedang sakit.
"Fan, Salsa udah pernah lo ajarin Google analytics belum?" Tanya Kak Ari pada Mba Fany setelah dia berdiri. Merasa namanya dipanggil, Salsa langsung mengadah.
"Udah pernah kok," kata Mba Fany setengah fokus karena tengah berkutat dengan laptopnya, membuat laporan sambik mencari,cari ide.
"Lo lagi ngga pake kan? Gue pinjem buat bantuin gue ya," kata Kak Ari santai. Salsa memelotot. Wajahnya makin terkejut saat Mba Fany mengangguk. Salsa melihat isyarat Kak Ari yang mengajak mengikutinya. Salsa menurut lesu. Dia itu sebenarnya anak magang atau hamba sahaya ya? Nasibnya begini amat ...
Salsa masuk ke divisi media. Sepi. Tidak ada seorang pun.
"Media udah sepi jam segini??" Tanya Salsa celingukan.
"Hari ini ada gathering channel tivi gede. Lumayan doorprize-nya. Ruangan ini pasti udah kosong sejak sejam lalu," jelas Kak Ari lalu duduk di ruangannya. Kak Ari memanggil Salsa untuk masuk ke ruangan yang sama dan duduk di hadapannya.
Seumur-umur Salsa menghadapi laki-laki, belum pernah ada yang bisa membuat gugupnya sampai panas dingin begini. Tubuh Salsa terasa ringkih, seolah tiap langkah mampu membuat kakinya copot saking kencangnya dentuman di dadanya.
"Ngapain lo Kak ... ngajak gue berduaan aja di ruangan lo," tanya Salsa sangat tegang. Wajahnya memerah. Kak ari mengerutkan alis.
"Itu otak disapu biar ngga kotor," balas Kak Ari, "Gue mau kerja. Lo kalo mau review skripsi lo buat sudang besok di sini aja. Kalo mau istirahat sebentar juga gapapa, ntar gue bangunin kalo Fany manggil."
Senyum Salsa langsung mekar. Yaampun gemaaaassss sekali rasanya pada Kak Ari! Baik dan peka, tapi judes dan ketus. Entah sejak kapan selera Salsa jadi seperti ini, tapi Salsa merasa nyaman dengan cara Kak Ari memperhatikannya. Mungkin ini memang kagum atau kasmaran, tapi Salsa ingin terus menikmatinya ...
"Buruan. Jangan bengong," Kak Ari memecahkan lamunannya. Tanpa menghentikan senyumnya, Salsa pun membuka laptopnya di hadapan Kak Ari dan mulai bekerja.
Dia melakukan persiapan sidang seperti biasa dia melakukan persiapan membawa acara. Membaca ulang materi di kepalanya sambil memvisualisasikan bagaimana cara dia membawakannya di sidang nanti. Dia melakukannya berkali-kali sambil memperbaiki di beberapa bagian sampai visualisasinya sempurna. Beberapa saat kemudian dia mulai stuck.
"Kak ..."
"Hm?"
"Kak Ari kalo kerja sukanya sepi atau sambil ngobrol?"
"Sepi."
"Oooh ..."
"..."
"Gue ngga bisa mikir kalo sepi gini."
"Bukan urusan gue, Sa."
"Kan lo yang ngajak gue ke sini."
"Terus bukannya terima kasih lo malah ngerecokin gue kerja?"
Salsa manyun. Dasar cowo judes bermulut pedes. Diminta pedasnya sedang saja dikasih rawit 12 buah!
"Lo udah ijin ngga masuk kan besok?" Salsa nyaris lompat kegirangan sewaktu Kak Ari melempar pertanyaan.
"Udah sejak gue dapet tanggal kok, Kak. Gue pas dicemplungin ke proyek ini juga udah konfirmasi ke Mba Fany. Sama tadi pagi udah gue ingetin lagi Mba fany-nya. Pokoknya besok gue sidang sampe jam 5." Salsa menjelaskan penuh semangat.
"... bukannya sidang lo jam setengah 11 ya?"
"Iya, tapi plus foto-foto dan seneng-senengnya kan sampe jam 5."
"Belom juga sidang mikirnya udah seneng-seneng. Kalo ngga lulus gimana lo??"
"Lulus insya Allah."
"Pede banget lo."
"Harus lah. Cuma pede yang gue punya. Kalo ngga pede, hidup gue ngga punya apa-apa lagi. Hahahaa ..."
Kak Ari berhenti mengetik. Ada yang ganjil setelah mendengar Salsa bicara begitu meskipun nadanya sewajar saat sedang membicarakan cuaca atau kemacetan kota.
"Maksudnya?" Tanya Kak Ari penasaran.
"Gue bisa sampe sekarang gini ya karena kepedean, Kak. Ngomong bisa aja dulu, terus usaha ngelakuin sambil mikir kalo ternyata ngga bisa gue bakal malu."
"Soalnya lo udah telanjur songong gitu ya?"
"Iya, gue juga gengsian pula kan. Hahaha ..."
"Jadi lo bisa jadi sampe sekarang tuh hasil gengsian?"
"Iya. Gue kebanyakan ngomong ke orang-orang, jadi kebanyakan gengsi juga deh. Ke bonyok aja gue bacot beudh ..."
"Ngebacot apa lo ke bonyok?"
"Ya kan dari SMA gue udah diprospek mereka buat ngelanjutin bisnis mereka. Gue bacotin aja, 'gamau, Salsa maunya nekunin bidang lain ...' gitu lah. Untung sampe sekarang kesampean kan. Hehehee ..."
"Emang lo maunya apa?" Kak Ari lanjut mengobrol sambil mengerjakan pekerjaannya
"Mereka kan background-nya ekonomi, sedangkan gue ngga minat yang kayak gitu. Bokap financial consultant, nyokap kayak usaha pinjaman gitu gue ngga ngerti banget pokoknya. Gue pengennya ya yang kayak sekarang, influencing people through marketing ... selling ... advertising ..."
"Bidang yang lo sebut itu kan ada aspek ekonominya juga."
"Hmm ... tapi bukan itungannya yang gue suka, but the act to move people. The ability to speak, to affect their behavior to do something. Or buy something. Gue ngga terlalu suka bergerak berdasarkan nilai dan angka kayak mereka."
"Tiati kualat, salah-salah ngga diakuin anak ..."
Salsa tertawa sejenak mendengar ejekan Kak Ari.
"Iya nih, kayaknya udah ngga diakuin anak deh gue. Dua tahunan ini gue dicuekin melulu sama mereka, huhuu ..." Kak Ari berhenti mengetik mendengar jawaban Salsa.
"Kok lo bisa mikir gitu?" Tanya Kak Ari sudah tidak berkonsentrasi. Dia hanya berpura-pura fokus pada layar laptopnya. Salsa mengangkat bahu ringan.
"Ngga tau deh tuh, pada sibuk banget ngembangin bisnis mereka. Satu di Jepang, satu lagi di New York. Udah pada ngga pernah pulang lagi ke rumah. Kalo dihubungin susah banget. Tahun lalu malah lupa ulang tahun gue. Berasa dibuang gue. Hahahaa ..." nada suara Salsa sangat ringan, berkesan seperti bercanda. Tapi Kak Ari malah jadi sedih mendengarnya.
"Jangan bilang gitu ..." kata Kak Ari, bingung ingin bereaksi apa.
"Iyaa ... gue bercandaaa ..." jawab Salsa sambil tetap tertawa. Kak Ari berjuang keras mencari kata-kata untuk menghibur Salsa, meskipun orangnya sendiri tampak tidak sedih. Dia hanya tersenyum miris. Salsa tidak melihat Kak Ari, tapi Kak Ari dapat merasakan kalau suasana hati Salsa lebih berat dari yang perempuan itu perlihatkan.
"Don't feel bad about me, Kak. I have a great life," tiba-tiba Salsa membuka suaranya lagi, "Biar mereka ngga ngomong terang-terangan, Ranti dan Alva sering main ke rumah gue pun karena mereka ngga mau gue kesepian di rumah. Ranti juga suka ngajak gue makan dan nginep ke rumahnya biar gue ngerasain interaksi keluarga. Everyone around me are kind and warm, I can't ask for more."
Salsa masih mengutak-atik file di laptopnya, berusaha menghindari pandangan iba Kak Ari. Entah apa yang dipikirkannya, menceritakan tentang perasaan yang selama ini dianggapnya tabu itu. Masalah keluarga yang beberapa tahun belakangan ia pendam sendiri karena tidak ingin ia akui keberadaannya akhirnya mencuat malam ini. Mungkin karena ini sudah larut, kesadaran Salsa ikut-ikutan mengkerut.
"Gue mau bikin kopi, lo mau ngga?" Tanya Salsa pada Kak Ari tanpa menatap matanya.
"Boleh ..." kata Kak Ari sambil memalingkan wajahnya ke arah laptop, sadar bahwa sejak tadi dia terus saja memperhatikan Salsa dan ceritanya dengan serius.
Salsa ke pantry untuk menenangkan diri sambil membuat dua kopi. Lima menit kemudian dia pun kembali. Dia meletakkan kopi Kak Ari dan kopinya lalu lanjut mengutak-atik slide presentasinya kembali.
Suasana menjsdi hening seiring dengan larutnya Salsa dan Kak Ari pada pekerjaan masing-masing. Kak Ari hendak meminum kopinya saat dia menyadari Salsa sudah terlelap dan kopinya sudah habis diminum.
Ini anak abis minum kopi apa obat tidur sih?!
Kak Ari menatap Salsa diam-diam. Di matanya Salsa itu seolah seorang tuan putri. Cantik, smart, humble, agak aneh sih sifatnya, tapi tetap saja banyak kualitas Salsa yang semakin hari semakin mengagumkan bagi Kak Ari.
Tapi siapa sangka si tuan putri berotak gesrek yang satu ini ternyata sedang terkurung sepi. Kak Ari sendiri ragu apakah dia seorang pangeran yang mampu menyelamatkannya atau hanya pengawal kerajaan yang tugasnya melindungi Sang Putri dari kejauhan.
Tapi Kak Ari merasakan sesuatu setelah mendengar cerita Salsa tadi. Ia menahan diri untuk tidak mengusap kepala gadis yang sedang tertidur itu.
Kak Ari memilih menyelesaikan tugasnya, mengirimnya via email ke seluruh anggota proyek pitching besar ini dan membangunkan Salsa. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi.
"Sa, bangun. Pulang." Salsa langsung terbangun, melihat waktu di laptopnya yang otomatis menyala saat Salsa menekan tombol power dan terkejut. Dia sudah bersiap membereskan barang-barangnya ketika percaya tak percaya dia mendengar Kak Ari berkata,
"Lo nginep di rumah gue dulu ya?"
Salsa pun tercenung sambil menatap Kak Ari sampai lupa bernafas.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top