❬ 6 ❭ E n a m
•Part 6•
*****
Sore ini sangat cerah dan entah ada angin apa, Alva datang ke rumah Letta dengan satu bungkus martabak manis dan satu kantong cemilan yang ia beli tadi di supermarket.
Lelaki itu memarkirkan mobilnya di halaman rumah Letta saat satpam sudah membukakan gerbang. Di lihatnya dari dalam mobil, Letta keluar dengan baju yang sudah rapi.
Ia pun keluar kemudian mengunci mobilnya, menghampiri Letta yang sudah menatapnya dengan penuh kebingungan.
"Mau kemana?" tanya Alva saat sudah ada di depan Letta.
"Mau nge-camp. Kan besok libur," balas Letta mendongak menatap lelaki yang tingginya lebih beberapa centimeter darinya.
"Gue mau ikut, boleh enggak?" tanya Alva.
"Tapikan lo belum siap-siap," balas Letta menatap Alva dari ujung kaki hingga kepala.
"Gue balik dulu siap-siap, selesai gue siap-siap gue langsung kesini. Gue bawain ini, nanti gue balik lagi. Lo tungguin gue. Oke!" cerocos Alva tanpa henti. Letta hanya menganggukkan kepalanya dan menerima kantong plastik yang Alva sodorkan.
Di lihatnya lelaki itu memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan perkarangan rumahnya.
Letta masuk kembali ke dalam rumah menghampiri ayahnya yang tengah asik menonton televisi acara makan-makan.
"Yah, nih ada titipan dari calon mantu," ujar Letta menaruh kantong plastik itu di meja yang ada di depan ayahnya.
"Calon mantu siapa?" tanya ayah Letta menyelidik.
"Alva," balas gadis itu menyengir kuda.
"Ada-ada aja, tapi ayah aamiinin, kok. Tenang aja, siapa tau kalian jodoh," sahut Leo membuka kantong plastik yang berisikan martabak manis.
Letta pun membuka kantong plastik yang lainnya, ia melihat es krim di dalamnya yang sudah sedikit mencair. Gadis itu membuka bungkusnya terlebih dahulu, kemudian melahapnya.
"Anaknya kemana? Kok cuman sogokannya doang?" tanya Leo di sela memakan martabaknya.
"Pulang lagi. Katanya mau ikut Letta nge-camp."
"Ohh, boleh. Asalkan kalian enggak tidur satu tenda."
"Ya, enggak mungkinlah, Yah," balas Letta tak habis pikir dengan ayahnya.
Dia kira cewek apa, tidur bareng dengan cowok yang bukan siapa-siapanya. Letta tak ingin menikah sebelum wisuda.
"Iya-iya. Kamu udah siap semua?"
"Udah dari kemaren Letta siap-siap, Yah," balas Letta masih asik menjilati es krimnya.
"Bagus deh. Hati-hati di sana, jangan macem-macem, nanti ilang, lho," sahut Leo memperingati.
"Ish apa sih, Yah. Letta kan udah sering, jadi Letta taulah harus gimana. Lagian ayah cuma gara-gara berita langsung posesif," ujar Letta menatap televisi yang menayangkan suatu berita hilangnya lelaki yang sedang naik gunung.
"Ayah 'kan cuma ngasih tau," balas Leo melahap kembali martabaknya.
"Hmm," gumam Letta.
°°°°
"Bun, Alva izin muncak, ya?" ujar Alva menuruni tangga dengan tas yang ada di punggungnya.
"Mendadak banget," balas Bunda Alva.
"Hehe, ya gitu deh, Bun. Alva berangkat dulu ya, Bun," Alva menyalami tangan Reina, kemudian mencium kedua pipi dan dahinya, "baik-baik, Bun, di rumah," teriak Alva seraya berjalan meninggalkan rumah.
"Iya!" sahut Reina dari dapur.
Ia hanya menggelengkan kepalanya melihat anaknya yang jika ada apa-apa pasti lebih suka dadakan. Jika di tanya anak itu selalu menjawab, "kalo enggak mepet deadline, enggak bakalan kelar, Bun. Jadi lebih baik dadakan." Reina hanya bisa menghembuskan nafasnya berat saat mendengar jawaban anaknya yang selalu saja begitu.
°°°°
"Yah, Letta berangkat dulu, ya, Assalamualaikum," pamit Letta menyalami tangan ayahnya di ikuti oleh Alva.
"Pamit dulu, ya, Om," ujar Alva.
"Hati-hati kalian. Kamu jagain anak Om. Jangan sampe kenapa-kenapa, kalo sampe kenapa-kenapa kamu yang tanggung jawab." Peringat Leo.
"Iya Om, siap!" balas Alva.
"Udah ayo. Nanti kemaleman," sahut Letta tak sabaran.
Mereka pun keluar dari rumah Letta dan memasuki mobil Alva. Mobil itupun melaju keluar dari area rumah Letta dengan kecepatan sedang.
Di perjalanan mereka hanya berbincang sedikit, supaya tidak bosan dan tidak canggung. Membicarakan hal seputar perkuliahan sampai ke aktivitas masing-masing.
Jika berbicaranya nyambung seperti ini, Letta akan betah berlama-lama di dalam mobil. Semua orang pasti mencari orang yang sefrekuensi dan bila di ajak berbicara selalu nyambung.
°°°°
Letta dan Alva sudah sampai di area camping sekitar setengah jam yang lalu. Kedua remaja itu bahu membahu membantu dirikan tenda.
Letta sebelumnya sudah janjian dengan teman camp-nya jika akan camping hari ini. Sayangnya mereka tak satu kampus. Sedangkan Alva sangat mudah mencari teman lelaki. Lihatlah lelaki itu, setelah mendirikan tendanya dan tenda Letta, kini sudah berada di warung kecil bersama dengan beberapa lelaki lainnya.
Berbincang dengan sesekali tertawa seperti sudah lama kenal. Apakah memang begitu?
"Gimana kuliah lo, Ta?" tanya teman camping Letta, Kinara.
"Kayak biasa, sih, Kin," balas Letta yang tengah duduk memandangi pemandangan dari atas, "kalau lo, gimana?" lanjut Letta bertanya.
"Sama aja sih. Cuma sekarang lagi numpuk tugas, sampe begadang gue." Decak Kinara.
"Itu mah udah biasa, Kin. Jalanin aja dulu bentar lagi juga kelar kuliah kita," balas Letta menatap wajah Kinara yang tersenyum menanggapi ucapannya barusan.
"Ta, dipanggil tuh sama doi," ujar Kinara melihat Alva yang melambaikan tangan ke arahnya dan pasti itu untuk Letta.
"Doi-doi, temen gue doang itu," balas Letta kemudian berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang sedikit kotor.
"Woi debunya ke muka gue!" kesal Kinara, sedangkan sang empu sudah tertawa terbahak-bahak seraya berjalan menghampiri Alva.
Hanya beberapa kilometer saja jaraknya kini dengan Alva, "Kenapa?" tanya Letta duduk di bangku kayu yang ada di depan Alva.
"Enggak apa-apa, sih. Lo mau minum apa?" tanya Alva.
"Mau jahe anget aja, deh," jawab Letta mengeluarkan ponsel ponselnya.
"Oke," sahut Alva kemudian memesankan Letta jahe hangat dengan penjualnya.
"Udah dapet temen?" tanya Letta menaruh ponselnya di atas meja.
"Udah. Itu tadi temen SD gue. Gue sempet lupa sama wajahnya, tapi dia ngingetin gue," jawab Alva menggaruk tengkuknya.
"Punya temen jangan dilupa-lupain."
"Ya, enggak dilupain. Cuma kelupaan, karena udah lama enggak ketemu," balas Alva membela diri.
"Iya, deh," gumam Letta.
Pesanan Letta pun datang dan gadis itu langsung meminumnya. Terasa hangat di tenggorokan dan badan disuhu yang cukup dingin ini.
Jika suhunya dingin ia lebih memilih meminum jahe hangat daripada cokelat panas seperti remaja pada umumnya. Kurang puas saja rasanya jika hanya menikmati cokelat panas.
Alva terus memandangi wajah Letta yang tengah fokus meminum jahe hangat sesekali gadis itu melihat sekeliling.
Rambut yang diterpa angin, dan hoodie over size berwarna putih, membuatnya lebih enak dan lebih sejuk jika terus dipandangi.
*****
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top