❬ 2 ❭ D u a
Part 2
Hari ini adalah hari di mana Aina pertama kali menjalankan misi dari sahabatnya, Letta. Sebenarnya ia telah menolak misi konyol ini, tetapi Letta terus saja memaksa. Yang akhirnya membuat Aina menyerah adalah kesepakatan traktiran 2 ice cream setiap ia berhasil menjalankan misinya. Sungguh, Aina telah berkorban banyak hanya untuk ice cream, kadang ia berfikir, mengapa dirinya bisa sebodoh ini.
Aina berjalan kearah gedung Ilmu Komunikasi, tempat kelas Alva berada. Sebenarnya gedung sastra dan gedung komunikasi bersebelahan. Jadi, Aina tidak perlu berjalan jauh dari kelasnya ke kelas Alva.
Setelah sampai di gedung yang ia tuju, Aina segera menghubungi temannya, yaitu Kenzo. "Hallo, ada apa, Na?" tanya Ken dari seberang telepon
"Gue ... gue ada perlu sama lo, kelas lo di mana? Gue udah di gedung komunikasi."
"Lo naik aja ke lantai dua, kelas gue pas banget di sebelah kanan tangga, gue tungguin lo di depan kelas, deh."
"Oke, otw!" Aina mematikan ponselnya, lalu segera beranjak ke lantai dua dengan terburu-buru. Bagaimana tidak, 10 menit lagi kelasnya akan dimulai, dan Letta seenaknya menyuruh Aina melakukan ini sekarang. Setelah tiba di lantai dua, Aina langsung melihat keberadaan Ken. Benar kata Ken, kelasnya tepat berada di sebelah tangga.
"Ken!" panggil Aina
"Lo mau ngapain, Na?" Aina mengeluarkan cokelat dan sepucuk surat berwarna putih dari tasnya, lalu memberikannya pada Ken
"M-maksud lo apaan, Na?"
"Jangan ge-er, Ken. Itu buat Alva, sahabat lo, tapi bukan dari gue."
"Terus dari siapa? Kalau Alva nanya, gue harus jawab apa?" tanya Ken, masih tidak mengerti akan maksud Aina
"Lo bilang aja dari bulan, pengagum rahasia dia, oke? Gue harus pergi sekarang, kelas gue
udah mau mulai, bye!" Aina bergegas pergi, sementara Ken masih tidak mengerti, pria ini memang sedikit lamban dalam hal berpikir.
"Bulan ...." gumam Ken. Ia kemudian masuk ke dalam kelasnya dan langsung memberikan cokelat juga sepucuk surat tersebut kepada Alva.
"Ngapain lo ngasih gue cokelat sama surat? Lo naksir sama gue?" tanya Alva merasa jijik.
"Najis! Itu dari bulan, pengagum rahasia lo."
"Bulan?" Alva mengambil surat tersebut, tanpa pikir panjang, ia membuangnya ke dalam tempat sampah, "paling orang gabut doang," lanjut alva. Pria itu kembali membaca novelnya. Sebenarnya ada yang terlintas di pikirannya, tetapi dengan cepat ia menangkis semua pikiran itu.
"Cokelatnya gak lo buang sekalian?" tanya Ken
"Gak boleh buang-buang makanan, mending lo makan deh tuh cokelat, daripada mubazir."
"Yaudah, kalau lo gak mau, gue makan." Ken mengambil cokelat tersebut tanpa rasa bersalah.
**
"Ta, kelas udah selesai nih, lo gak mau teraktir gue sekarang? Tiga ice cream lohh!" tagih Aina
"Bentar, Na, gue belum selesai nyatet."
"Lelet banget sih lo! Udah, besok aja."
"Yaudah iya, ayo!" Letta memasukan buku-bukunya ke dalam tas, kemudian berjalan beriringan bersama Aina keluar kelas.
"Ta?" panggil Aina.
"Apaan?"
"Kenapa lo gak nemuin Alva langsung dan bilang kalau lo suka sama dia?" tanya Aina penasaran. Pasalnya, ia masih belum mengerti untuk apa sebenarnya Letta menjadi pengagumrahasia, itu hanya memberatkannya saja.
"Gue gak mau nyatain perasaan gue ke dia, biarin aja dia yang nyari tau sendiri," jawab Letta dengan senyum tipisnya
"Kadang gue gak ngerti sama arah pemikiran lo, gak paham sama sekali sumpah."
"Yaudah, lo gak perlu mencoba untuk memahami, karena yang ngejalanin itu gue, bukan lo,"lontar Letta dengan nada mengejek, lalu berjalan mendahului Aina
"Aneh!" sungut Aina kesal.
**
Malam ini, Ken berkunjung ke rumah Alva. Seperti biasa, mereka berdua akan melakukan ritual bermain game bersama. "Al, lo gak penasaran siapa bulan?" tanya Ken tiba-tiba saat mereka tengah asik memainkan game di ponsel masing-masing.
"Ngapain gue penasaran sama orang gabut kayak gitu," jawab Alva malas.
"Dia pengagum rahasia lo. Buset bro! Lo punya pengagum rahasia, minimal kaget lah gitu," teriak Ken heboh.
"Berisik woy! Lo mau gue usir?"
"Gak asik lo ah!"
Ting!
Terdengar satu pesan masuk dari ponsel Alva. Dengan segera ia membaca pesan tersebut.
Unknow
Hai cowok bulan, ini aku, bulan.
Semoga tidurmu nyenyak.
Goodnight^^
"Cowok bulan? Bulan?" gumam Alva
"Apa sih? Siapa?" tanya Ken
"Bulan. Dan anehnya, gue dipanggil cowok bulan."
"Balas dong, kasian, dia tuh suka sama lo, bro. Seenggaknya hargai dia."
"Sok banget lo. Gak ah, males gue."
Bunyi ponsel tanda pesan masuk kembali membangunkan Alva. Sudah 5 kali terdengar suara pesan masuk, entah siapa yang mengiriminya pesan sepagi ini. Dengan rasa malas yang tercampur rasa penasaran, Alva mengambil ponselnya.
Unknown
Hai! Good morning, aku bulan.
Semalam tidurmu nyenyak?
Kamu lihat bulan, gak, semalam? Sangat indah. Lain kali lihatlah!
Siang nanti ada cokelat yang akan datang ke kelas mu, hihi, dimakan, ya!
Alva mengerutkan keningnya, kata-kata yang dibuat gadis bulan itu belum sepenuhnya masuk ke otak Alva.
"Apa sih, anak sastra nih pasti!" sungut Alva. Alva tiba-tiba tersadar, siapa yang memberikan nomor ponselnya kepada gadis itu? Yang mengetahui nomor Alva hanya keluarga dan teman terdekatnya. Sekarang ada gadis tak jelas yang mengetahui nomornya.
"WOY! MELANGGAR UNDANG-UNDANG PRIVASI NIH!" teriak Alva emosi.
"Alvarel!" Tiba-tiba Reina, bunda Alva, membuka pintu kamar sang anak. Bukan apa-apa, Reina sudah sering menyuruh Alva untuk tidak berteriak sembarangan di dalam rumah, "Ayah kamu masih tidur, Al, jangan teriak-teriak gitu!"
"Bunda kok gercep banget ke kamar Al?"
"Bunda kebetulan lewat, terus kamu teriak gitu. Untung aja bunda gak bawa sapu kesini. Kalau bawa, udah Bunda gebukin kamu!"
"Ya maaf, Bun."
"Mandi sana! Kamu ada kuliah pagi," titah Reina
"Iyaa ...," jawab Alva, sedikit malas. Pagi ini benar-benar membuat mood Alva turun.
***
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top