Chapter 04: The Third Accident


Aku turun dari bus ketika tiba di tujuan. Haa ..., hari yang melelahkan! Untunglah kedua wanita itu tidak jadi dipecat. Jika jadi, mungkin hari-hariku akan lebih melelahkan dibandingkan sekarang! Rasanya ingin sekali segera terbang ke apartment dan tidur di kasur tercintaku!

"Ups, maaf." Astaga, karena melamun, aku tidak sengaja menabrak orang yang melintas.

Orang yang kutabrak ini seorang wanita dengan rambut sepanjang pinggangnya. Rambutnya merah terang dengan tinggi tubuh sekitaran 160 sentimeter. Wajahnya biasa-biasa saja ketika menatapku setelah kami bertabrakan. Ah, ada tahi lalat di dagunya.

"Tidak apa-apa." Dia tersenyum ramah padaku dan segera berjalan lagi.

Mataku masih melekat erat pada punggung wanita ini. Saat melihatnya dari depan, aku tidak merasakan apa-apa. Sekarang, ketika menatapi bagian belakang, mengapa ada rasa familiar? Mungkinkah kami pernah saling bertemu? Tapi, kan, aku tidak mengenalnya dan juga sebaliknya. Teman masa kecil? Tidak, dia tidak mirip siapa pun dalam ingatan masa kecilku. Lalu, hal apa yang membuat rasa familiar ini muncul?

Tatapanku tidak berpaling. Sampai wanita ini berhenti di pinggir jalan di dekat tiang lampu jalan dan tengah menunggu lampu merah karena ingin menyeberang, aku menyadari mengapa merasa familiar. Debaran jantungku mendadak meningkat. Ini bukan karena aku jatuh cinta, ya, tapi hal lain.

Aku tidak yakin, tapi situasi ini mirip dengan kecelakaan yang kulihat lima hari lalu. Aku merasa seperti tahu apa yang akan terjadi beberapa saat kemudian. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?

Karena diserang kepanikan, tubuhku berjalan ke kiri dan ke kanan. Aku bingung! Ya Tuhan, beberapa saat lagi wanita yang bersenggolan denganku tadi akan mengalami kecelakaan. Tolong? Ya! Aku harus menolongnya! Aku tidak tahu kecelakaan ini akan terjadi atau tidak, tapi lebih baik bertindak sebelum terlambat! Jika salah, itu urusan nanti!

Secepat mungkin kakiku berlari menuju wanita itu. Tanganku segera menggapai tangannya dan menarik menjauh dari pinggiran jalan. Mataku melirik ke samping setelah menariknya dan melihat sebuah mobil melaju sangat kencang menuju kemari.

"Ah, hei! Apa-apaan kau! Aku ingin menye—"

"Kyaa ...!"

"Aarg ...!"

Beberapa orang terserempet mobil yang melaju kencang.

Bam!

Suara hantaman mobil dan tiang listrik bagaikan ledakan keras. Keras sekali hingga membuat pendengaranku tuli beberapa detik. Wanita yang kutarik tadi ikut terjatuh bersamaku di trotoar saking kencangnya tarikanku. Dia terperangah dengan wajah pucat pasi melihat mobil ini hampir menabraknya. Tangannya masih kugenggam dan terasa gemetaran hebat.

Sejujurnya, tidak hanya wanita ini saja yang ketakutan. Aku merasa beberapa bagian jiwaku melayang pergi meninggalkan tubuh setelah melihat mobil hampir menabrakku. Jantungku saja masih bagaikan drum yang dipukul kencang sekali. Aku tidak memiliki sedikit pun tenaga. Bahkan untuk bicara saja aku tidak ada tenaga.

Mobil ini menghantam sangat keras hingga bagian depan rusak parah. Tiang yang ditabrak saja miring! Pengemudi mobil tidak terlihat akibat tertutupi oleh airbag. Beberapa saat kemudian, airbag mengempis dan pengemudi mobil terlihat pingsan. Tidak lama kemudian, orang-orang di sekitaran menghampiri mobil ini dengan makian.

Setelah mengambil napas, aku merasa lebih tenang. Wanita yang menimpaku ini dibantu bangun oleh orang lain karena masih lemas sepertiku. Ketika dibantu bangun, kakiku sedikit gemetaran. Kutatapi wanita yang kutolong. Beberapa kali dia membuka mulut. Tampaknya ingin mengucapkan terima kasih, tapi karena masih kaget atas kejadian ini, mulutnya kembali tertutup.

Matanya sedikit berair. Kuyakin perasaan wanita ini kacau balau. Senang karena selamat dari kecelakaan dan sedih akibat hampir mati. Dua perasaan yang berbentrokan juga kurasakan. Jika tadi terlambat beberapa detik saja, maka aku akan celaka juga. Ini sungguh sebuah pengalaman yang tidak akan kulupakan seumur hidupku.

Suara kaca pecah menarik perhatianku. Orang-orang yang mengepung mobil memecahkan kaca dan mengeluarkan sang pengemudi. Untunglah pengemudinya pingsan. Jika tidak, mungkin sudah dihajar habis-habisan ....

Sekitar setengah jam setelah kecelakaan, suara sirene polisi dan ambulan terdengar.

Sebuah mobil polisi berhenti dekat mobil kecelakaan. Sedangkan mobil ambulan berhenti tidak jauh dan segera mengurus semua korban kecelakaan.

Kulihat empat orang pria berseragam keluar dari mobil polisi dan mengamankan keadaan di sekitar jalanan. Setelah jalanan macet—banyak pengendara yang melambatkan kendaraannya hanya untuk melihat kecelakaan—menjadi lebih teratur, salah seorang polisi terlihat menanyai orang-orang di sekitar lokasi kecelakaan. Mungkin mencari tahu bagaimana kecelakaan bisa terjadi.

Seseorang yang tengah diwawancarai polisi mendadak menunjuk ke arahku dan wanita yang kutolong tadi. Well, wanita tadi kini berada di sebuah kafe kecil, tidak jauh dari ini. Saking traumanya, wanita itu jadi kesulitan bicara sampai akhirnya menangis setelah menahan lama rasa takutnya.

Sedangkan aku, trauma, sih, tapi tidak sampai membuatku depresi berat. Lagipula aku masih hidup dan hanya mengalami luka lecet! Jadi, tidak ada yang perlu didepresikan! Aku juga tidak menyesal karena sudah menolong orang. Aku justru akan sangat menyesal jika membiarkan orang yang akan terkena kecelakaan.

"Permisi, Pak, nama saya Loni dari satuan lalu lintas. Saya dengar dari para saksi lain bahwa Anda dan seorang wanita lagi hampir tertabrak oleh mobil di sana." Polisi yang menghampiri dan menanyaiku menunjuk mobil kecelakaan di sampingnya menggunakan jempolnya.

Mataku melirik sekilas ke mobil. "Ya, benar."

"Bisakah Anda memberikan keterangan tentang kejadian kecelakaan?"

Kujelaskan bahwa aku tidak sengaja melihat sebuah mobil yang melaju kencang melebihi kecepatan normal menuju ke arah seorang wanita sehingga refleks kutarik demi menyelamatkannya dari tabrakan. Aku tidak bisa bilang pada polisi ini bahwa aku seperti melihat masa depan, maka dari itu memutuskan untuk menyelamatkan wanita ini. Soalnya terkesan absurd. Bisa-bisa aku dianggap gila lagi.

Polisi ini mengangguk setelah mendengar kesaksianku. "Jika sempat, saya mohon pada Anda agar ke kantor polisi besok untuk memberikan kesaksian ulang atas kejadian ini. Kesaksian Anda akan menjadi bukti kuat untuk menjerat secara hukum pelaku pengemudi mabuk."

Kugaruk pipiku yang tidak gatal. Sepertinya aku tidak memiliki pilihan lain. "Ya."

Polisi itu meninggalkanku setelah meminta identitasku dan nomor telepon yang bisa dihubungi, lalu menuju ke arah kafe. Tampaknya akan mendengar kesaksian dari wanita tadi. Haa ...

Ketika tiba di apartment, Aya masih belum pulang. Rasanya aku ingin segera menceritakan kejadian ini padanya. Tentu saja bukan cuma soal kecelakaan ini, tapi juga kecelakaan-kecelakaan sebelumnya yang muncul dalam mimpiku ini. Jika kuingat-ingat lagi, kalau tidak ditolong, maka wanita itu akan mati mengenaskan dengan tulang retak di bagian dada dan pinggang. Yang lebih mengerikan lagi, darah berterbangan sesaat setelah wanita itu tergencet antara tiang listrik dan mobil.

Banyak wanita yang menjerit histeris dan pingsan di tempat melihat pemandangan menyeramkan itu. Dalam mimpi saja aku muntah hebat akibat mual melihat semua itu. Duh, mendadak aku merinding karena mengingat ini! Untung saja tidak terjadi!

Sudah, jangan diingat lagi hal mengerikan itu! Lebih baik aku mandi dan makan. Kira-kira, apa yang Aya masak tadi siang ya? Jadi tidak sabar melihat isi kulkas ... ugh, nafsu makanku hilang gara-gara masih terbayang-bayang kejadian buruk di mimpi.

Selesai mandi, aku menjatuhkan badanku di atas sofa dan menyalakan TV menggunakan remote yang ada di sofa. Ah? Mengapa aku melihat pemandangan yang familiar di TV? Seperti ...

"Sekitar pukul 6.15 sore, terjadi kecelakaan akibat pengendara yang mabuk berat. Mobil yang dikendarai pengemudi mabuk ini melaju sangat kencang dan akhirnya menabrak tiang lampu penerangan jalan."

Ah! Pantas saja familiar! Inikan lokasi kecelakaan tadi! Oh, mobilnya disorot sekarang.

"Bagian depan mobil rusak parah dan tiang listrik menjadi sedikit miring akibat kuatnya tabrakan. Beruntung tidak ada korban jiwa ketika kecelakaan terjadi. Hanya ada beberapa korban dengan luka ringan hingga berat akibat terserempet mobil yang melaju kencang ..."

Aku tidak lagi mendengarkan sisa berita karena menganti channel TV. Aku berusaha melupakan hal ini, eh, justru kembali diingatkan lagi. Ugh, tadinya setelah mandi aku merasa lebih enakan, tapi kini kembali mual setelah melihat mobil rusak. Pandangan tentang korban yang mati dengan brutal membuatku merinding ....

Haa .... Mungkin aku makan malam setelah Aya pulang saja. Sekarang hampir jam 8 malam. Aya pulang sekitar jam 9 dari tempat kerja dan tiba di sini kurang lebih jam 10 lewat. Itu juga kalau dia tidak ada kegiatan tambahan di tempat kerja. Jika ada, katanya sih bisa pulang jam 12 malam lewat. Jika jam 10.30 Aya belum pulang juga, maka aku akan maka sendiri ... jikalau nafsu makanku kembali.

Kuhabiskan waktu dengan menonton TV. Sial sekali hari ini. Semua tayangan movie di beberapa channel merupakan genre gore(1)! Hari apa ini sampai semua tayanga movie di TV serempak bergenre gore!? Memangnya ini hari jumat kliwon? Ini hari rabu, woi!

"Tsk!" Kumatikan TV saking kesalnya. Sekarang apa yang akan kulakukan?

Aku bangun dan menuju kamarku. Setelah mengambil HP di meja kamar, aku melemparkan tubuhku ke kasur. Empuknya kasur membuatku memantul sekali. Kupeluk guling dan mulai mem-browsing di internet. Berita yang beredar di internet tidak mau kalah dengan stasiun TV. Kecelakaan tadi menjadi viral di berbagai situs pemberitaan.

Hm? Oh! Ada fotoku di salah satu pemberitaan! Kapan pula seseorang mengambil fotoku? Aku tidak sadar ada wartawan di dekat sana. Cepat juga kabar kecelakaan itu sampai di telinga wartawan sehingga sempat memotret wajahku.

Akhirnya aku mencari tahu seberapa banyak berita yang menampilkan fotoku akibat penasaran. Haa ... ujung-ujungnya, mem-browsing atau menonton TV ternyata sama saja. Sama-sama menunjukan soal kecelakaan tadi. Aku bahkan tidak sadar sudah menghabiskan waktu hingga jam 12 malam hanya karena penasaran! Tsk ....

Suara pintu apartment yang terbuka terdengar samar-samar dari kamarku. Aya pasti sudah pulang. Hari ini kegiatan Aya sepertinya menumpuk. Bagaimana ini? Aku ingin sekali menceritakan hal ini pada Aya, tapi dia pasti lelah setelah seharian bekerja. Apa besok pagi saja? Tapi besok pagi aku takut tidak bisa bangun awal dan berangkat kerja tanpa menceritakan apapun.

Rentetan konflik di kepala membuatku galau. Bicara sekarang atau nanti saja? Ugh, aku tidak bisa memutuskan ....

"Lyner?" Suara ketukan pelan terdengar sesaat setelah Aya memanggilku dengan suara kecil.

Aku segera bangun dan membukakan pintu kamar. "Ya?"

Ketika pintu terbuka, ekspresi lelah Aya bisa kulihat. Tampaknya pekerjaannya hari ini melelahkan. Aku jadi tidak tega untuk membahas soal kejadian rentetan kecelakaan ini dengannya. Aya terlihat seperti akan tertidur sesaat setelah tubuhnya roboh di kasur.

"Kau belum makan malam?"

"Ah, ya ...." Kugosok bagian belakang kepala dengan perasaan malu. Tidak kusangka Aya akan mengecek kulkas setelah pulang. Pasti dia melihat makanan yang seharusnya menjadi makan malamku belum tersentuh sedikit pun.

Aya tersenyum sambil mendesah. "Ada apa? Pasti ada alasan mengapa kau tidak makan malam. Makan malammu tidak terdapat sayuran atau daging yang tidak disukai."

Perkataan Aya yang tepat sasaran membuatku tertawa kaku. Berhubung dia sudah menanyakannya, ya sebaiknya dijawab. "Begini ...."

======================

(1). Gore: Pembunuhan, berdarah-darah, atau kekerasan.

====================== 

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top