Cera

Merangkai dan merangkai

Dalam sunyi tiada terbilang

Bunga hitam terbingkai

Dan jawabmu terhenti, mengawang-awang

.

.

"Elena, berhentilah sejenak. Di luar, angin sedang bertiup kencang. Ayo, kita bermain kincir-kincir!"

Persuasifnya sang pemuda dengan surai sewarna mahoni, ditanggapi dehaman singkat dari sosok yang masih sibuk berjibaku dengan seonggok potongan kayu.

"Aku tidak bisa, Arvie," Elena membalas datar, fokusnya masih pada satu titik, pisau di tangannya sibuk mengikis kulit akasia, "Aku harus segera menyelesaikan patungnya sebelum pameran seni kota dimulai."

"Huh, memangnya itu kapan?"

"Dua minggu lagi, tak lama."

Arvie mendengus sebal. Kakinya melangkah tepat ke sebelah gadis rambut hitam sepinggang yang duduk di salah satu sisi ruangan, dekat dengan jendela bertirai putih tipis. Sekilas, Arvie melihat pucuk legam kepala Elena tertimpa cahaya matahari pagi. Sangat indah, serupa permata dengan kilauannya yang mahal.

"Kamu perfeksionis, ya," netra kelabunya mengamati seraya membatin jika patung tersebut pasti akan selesai tepat waktu dan gadis itu tak perlu merisaukannya, "Bermainlah dulu. Bagaimanapun juga kamu masih anak berusia dua belas, belum saatnya memikirkan hal-hal berat seperti ini."

Elena menoleh, helai-helainya mengikuti seirama. Berembus sebuah napas lelah dari nasalnya, "Jika ini bukan tugas yang diberikan oleh ibunda, aku juga pasti akan meninggalkannya. Tapi sayangnya tak begitu."

Nada kekecewaan jelas tergambar dan lengkung bibir ke bawah semakin mengukuhkan perkataannya. Jelas sekali bila Elena tak suka dengan tugas ini. Salahkan ibundanya yang semena-mena saja bertitah tanpa pernah memikirkan perasaan anaknya sendiri. Demi kehormatan keluarga, katanya. Demi masa depan yang lebih baik, katanya. Omong kosong. Elena yakin ini hanya karena ego saja. Ibunda ingin Elena menjadi seperti dirinya, menjadi seorang pemahat patung kenamaan yang namanya dikenal seantero negeri. Kendati Elena tak menyukai ini semua, ibunda akan selalu membatasi opsi yang dapat dipilih Elena. Sehingga satu-satunya cara adalah dengan menuruti perintah agar semua berjalan dengan semestinya.

Tapi semestinya juga beliau sadar, jika Elena masih terlalu dini untuk dibebani dengan semua ini.

"Ibumu orang yang keras, ya," Arvie berujar simpatik.

"Kamu tahu pasti ibunda seperti apa," gadis kecil bergumam, "Untuk beberapa hari ke depan, mungkin aku tak dapat bermain dengan yang lainnya. Jadi, aku titip salam saja untuk mereka, ya."

"Baiklah, akan aku sampaikan," Arvie tersenyum, cerahnya mengalahkan mentari. Hangatnya membuat Elena mendapat sedikit ketenangan, "Cepat selesaikan agar kamu dapat bermain bersama kami dan--oh! Besok aku akan berkunjung lagi kemari lalu bercerita padamu mengenai hari ini agar kamu tak melewatkan apapun!"

Tubuhnya berbalik, sekejap kemudian sosoknya hilang di balik pintu.

.

.

Ia lahir di lingkungan keluarga dengan cipta karya sebagai bakat yang mendarah daging. Turun temurun, dari kakeknya kakek, ayahnya ayah, hingga akhirnya jatuh ke tangannya sebagai anugerah.

Elena menghargai serta bersyukur pada kemurahan hati Sang Maha Pencipta karena mau memberkatinya dengan talenta. Sejak kecil, ia telah dikenalkan dengan semua tetek bengek berbau seni. Kuas cat, onggokan kayu berulir, juga denting-denting piano renta. Elena menyukainya, Elena betul-betul menyukainya.

Seni adalah keindahan dan Elena menyukai keindahan. Seperti negeri dongeng, kau tahu? Tempat di mana mimpi adalah realita dan realita terangkai seindah mimpi. Semuanya dengan muluk-muluk, memanjakan kaum-kaum fana.

Elena sejujurnya tak benci jika harus membuat suatu karya seni.

"Patung jelek macam apa ini?!"

Satu bantingan ke dinding pualam, memecah keheningan malam yang masih terlalu dini. Kayu-kayu menjadi serpih dengan hanya sekali hentak, meninggalkan rupa bentuk yang tak lagi utuh.

Elena ... tak membencinya, sungguh. Hanya saja ibunda selalu membuatnya jadi tampak lebih sulit dan tak mudah untuk dijangkau oleh dirinya.

Manik emerald Elena menatap nanar, air mata pun tertahan di pelupuk mata. Tidak! Tidak! Jangan jatuh! Ia tetap harus terlihat tegar. Ia tak boleh kelihatan lemah di depan ibunda!

Sebisa mungkin. Sebisa mungkin ...

"Tapi ibunda ..." Pita suaranya bergetar, ada setitik ragu dalam hatinya. Hatinya berucap jangan melawan, namun di sisi lain ia ingin membela haknya. Ia yakin ia tak salah, lalu kenapa ia mesti menderita? "... patung itu ... sudah Elena buat dengan susah payah. Kenapa ibunda tega menghancurkannya?"

Pikirannya telah disuarakan dan ibunda malah menatapnya nyalang. Kilatan itu tak salah lagi, merupakan kilatan penuh emosi yang kerap Elena terima ketika ibunda ingin meluapkan amarah.

"Kenapa tega, katamu?" Ibunda mendekat dan Elena berjalan mundur perlahan, "Seharusnya ibunda yang bertanya padamu, Elena! Apa-apaan membuat sampah seperti itu?! Memalukan! Bahkan gelandangan saja tak mau mencurinya karena terlalu hina!"

Yang selanjutnya terjadi, tak pernah Elena duga. Ibunda mencengkram kepalanya, menarik surai-surainya hingga pekikan tak sanggup ia tahan. Biarlah menerobos sepi dan mengganggu manusia-manusia yang tengah terbuai kantuk! Elena ingin seseorang datang menolongnya, menjemputnya, membawanya kabur dari setan yang merasuki ibunda!

Elena ingin ... Arvie datang menyelamatkannya.

"I-ibunda ... maafkan Elena. Elena janji akan membuat patung yang lebih indah."

"Ibunda mendengar janjimu sudah sejak tiga hari yang lalu, Elena! Sudah tiga hari!" Wajah ibunda mendekat, Elena refleks menutup indera pengelihatannya. Gambaran ibunda yang marah adalah mimpi buruk baginya dan ia tak ingin mimpi buruk malam ini, "Sekarang coba lihat hasilnya?! Hanya sampah! Mengecewakan sekali!"

Satu tamparan mutlak, mengenai pipi Elena, dan ringisan kecil lolos dari bibirnya.

Secara kasar, ibunda lalu membanting tubuh Elena ke lantai ubin yang memantulkan gemerlap rembulan.

"Masih ada waktu hingga pameran seni tiba. Dalam jangka waktu tersebut, ibunda harap patungmu sudah selesai, Elena."

Suara gemeletuk sepatu dengan hak tinggi, terdengar semakin mengecil, menjauh, meninggalkan seorang dara yang masih geming tak berdaya.

Tangisnya kali ini tak dapat dihindari. Satu nama, dengan lirih terucap dari bilah bibir mungilnya. Terus diulang, terus diulang, menganggap jika nama itu adalah obat penenang terbaik untuk saat-saat seperti ini.

Satu nama ... yang terus diulang.

'Arvie ... Arvie ... Arvie ...'

.

.

"Elena, wajahmu ..."

Binar hijau Elena yang selalu menyapa dengan hangat meski tanpa riak ekspresi, tak terlihat pagi ini. Arvie malah menangkap bekas luka tamparan di pipi (ada lecet yang terlihat kentara) dan kantung hitam yang menggantung di bawah mata gadis manis tersebut (gadis itu ... tak tidurkah?).

Jemarinya yang kelewat penasaran, mulai meniti garis wajah Elena yang lembut. Ia hanya menyentuh, tidak memberi tekanan, pun tidak ingin melukai lebih jauh. Ia hanya berusaha meyakinkan diri jika inderanya tak salah berasumsi.

Kemudian ia tarik kembali tangannya, "Ibumu lagi, ya?"

Elena tak berucap, anggukan pelanlah yang mewakili jawabannya.

Arvie selanjutnya beranjak, mendekati sebuah lemari untuk mengambil kotak berisi obat-obatan. Lantas setelah mendapatkan apa yang ia cari, ia menghampiri lagi Elena.

Kapas putih sengaja ia lumuri dengan cairan antiseptik berbau menyengat. Secara perlahan, Arvie membersihkan bekas luka yang tampak. Elena berjengit sewaktu perih mendera dan Arvie akan menghentikan gerakannya hingga sang gadis tak lagi merasa sakit.

"Ibumu sudah keterlaluan, Elena," Arvie berujar simpatik.

"Aku tahu," akhirnya ada kata yang diucap, Arvie mengembuskan napas lega, "Tapi dia ibundaku. Seseorang yang telah melahirkanku dan merawatku. Aku tak bisa melakukan apa-apa selain menurut padanya."

Arvie mengambil perban dari dalam kotak, "Benar juga, sih. Kita anak kecil, bisa apa?" Lalu dengan telaten, Arvie membalut luka Elena.

Hening menjadi jeda di antara keduanya. Baik Elena maupun Arvie tak ingin menukar banyak kata--setidaknya--untuk sekarang. Semuanya terlalu sibuk dalam pemikiran-pemikiran yang masih belum pantas mereka terima. Siksaan, cacian, juga makian. Meski bukan Arvie yang mendapat perlakuan kasar tersebut (keluarga Arvie ialah keluarga yang harmonis), bocah laki-laki itu tak dapat memungkiri bila ia benar-benar bersimpati pada Elena.

Elena adalah seorang gadis yang manis, Arvie mengakui itu. Arvie mengenalnya sejak mereka masih sangat kecil. Awalnya, Elena merupakan anak yang sangat pemalu. Selalu bersembunyi di balik pohon, tak pernah menyapa, dan hanya mengamati Arvie serta teman-temannya yang lain kala sedang bermain kincir-kincir.

Namun Arvie dengan inisiatifnya sendiri, memutuskan untuk mendekati gadis tersebut. Ia ingat saat tangannya terulur lalu melempar kalimat perkenalan dengan lugu. Elena saat itu, tak langsung menyambut. Gadis itu malah memandanginya dahulu selama beberapa sekon yang canggung. Hingga saat tangan Arvie dapat merasakan jemari Elena yang dingin, ia tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya karena dapat menjalin pertemanan dengan orang baru.

"Nah, selesai! Lukanya sudah aku tutup," Arvie berdecak bangga tatkala melihat hasil pekerjaannya yang rapi.

Gerak Elena kemudian untuk menggapai perban yang menutup sebagian ranah pada pipinya. Tekstur yang agak kasar dapat ia rasakan.

"Terima kasih, Arvie," Senyumnya terulas tanpa sadar.

Arvie terkesiap, agak bersemu sewaktu melihat lengkung kurva itu mengarah untuknya, "S-sama-sama, Elena," Ia melanjutkan, "Datanglah padaku bila kamu membutuhkan sesuatu. Sebab mulai sekarang--" Arvie menarik tangan Elena perlahan, lalu menautkan kelingkingnya pada kelingking sang dara, "--aku akan selalu ada untukmu dan berjanji akan terus menjagamu."

Ketika itu sang pemilik iris hijau dan kelabu, menyenandungkan retorika tanpa nada.

[ "Selamanya, ini adalah janji yang harus selalu ditepati." ]

.

.

Beberapa hari semenjak insiden itu, berbekal semangat yang selalu Arvie ucapkan padanya, Elena berusaha bangkit. Terhitung dari hari itu pula, Arvie tak pernah absen mengunjunginya dan ia akan menemani gadis itu hingga lelah menyambutnya. Segala afeksi yang Arvie berikan padanya selama ini, jelas sekali membawa dampak yang positif bagi Elena.

Secara perlahan, Elena akhirnya memahami rasanya menyayangi seseorang dan disayangi oleh seseorang.

Secara pasti pula, Elena sadar jika ia telah jatuh hati pada Arvie, sosok yang berhasil mengenalkan dirinya pada dunia yang lebih hangat dan bersahabat.

Elena menyayangi Arvie. Elena mencintai Arvie.

Kali ini ia kembali memahat sebuah patung dengan bahan baku onggokan kayu akasia. Dan tinggal beberapa sentuhan lagi, patung itu akan selesai.

"Hei, Elena!" Secara sepihak, Arvie membuka pintu galeri tempat Elena biasa bernaung untuk menyelesaikan patung-patung, "Aku punya kabar bagus, mau dengar?"

"Aku akan mendengarkan," Elena menyahut tanpa melepas atensi dari pekerjaannya.

Arvie berdeham, melegakan pita suaranya agar dapat bercerita dengan jelas, "Ada anak baru yang pindah kemari. Seorang gadis, namanya Amelia. Ia punya rambut panjang bergelombang berwarna seperti cokelat susu dan matanya hitam seperti boneka."

"Oh, sepertinya anak yang menarik," Elena membalas, "Aku jadi ingin bertemu dengannya."

"Kamu harus!" Sang bocah laki-laki berujar antusias, "Dia anak yang baik juga ramah. Dia pasti akan sangat senang bila berkenalan denganmu."

Untuk kali ini, Elena menoleh pada Arvie dan menyadari ada senyum tulus yang terpatri di sana.

.

.

Hari ini, patung yang Elena buat sudah selesai.

Inginnya Elena, Arvie menjadi orang pertama yang melihatnya.

Namun menunggu hingga petang menjelang, Arvie tak kunjung datang.

.

Malam ini, patung yang Elena buat hancur lagi menjadi debu.

Inginnya Elena, melawan ibunda dengan kekuatan kecilnya.

Namun tamparan, cacian, makian, terus mendera tanpa mengenal henti.

.

.

Keesokan harinya, Elena kabur dari rumah. Destinasinya adalah tempat Arvie dan bertemu dengan bocah laki-laki tersebut adalah tujuan Elena. Sesampainya di sana, Elena ingin Arvie mengobati luka-lukanya lagi. Elena ingin pula berkeluh kesah padanya, ingin menangis sekencang-kencangnya bila perlu hingga paru-parunya rusak terkoyak atau hingga bola matanya tercongkel keluar. Elena ingin melihat wajah Arvie. Elena ingin merasakan hangatnya jemari Arvie menyentuh kedua pipi dinginnya. Elena ingin bertemu Arvie, bagaimanapun juga. Arvie, satu-satunya tujuan yang Elena punya sekarang.

(Sesampainya di sana, Elena tak mendapatkan apa yang ia inginkan.)

.

"Oh, Nak Elena! Astaga, ada apa denganm--mencari Arvie? Arvie sedang tak ada di sini. Ia tadi pergi bersama Amelia, hendak menangkap kupu-kupu katanya. Nak Elena mau masuk dulu? Akan bibi buatkan sup hangat dan mengobati--eh! Ada urusan lain? Oh, baiklah. Akan bibi sampaikan salammu pada Arvie. Terima kasih kembali, Nak Elena. Jaga dirimu baik-baik, ya."

.

.

Di dalam galerinya, Elena menatap statis kayu akasia utuh. Alat pahat digenggaman tangan kiri dan palu di tangan kanan, nyatanya enggan bergerak meski perintah dari sel kelabu telah dikirimkan melalui impuls-impuls saraf miliknya.

Elena, sekali lagi, membiarkan hitungan masa digulung sia-sia.

Empat adalah batasan waktunya, hari adalah satuan yang menyertainya.

Sisanya empat hari hingga pameran seni dimulai dan Elena masih belum bisa membuat apa-apa.

Sayup-sayup di kejauhan di luar sana, Elena mendengar suara tawa riang. Dari jendela mungilnya, ia mampu melihat yang tengah terjadi. Arvie dan seorang gadis kecil lain--spekulasinya, itu adalah Amelia--tengah berlarian ke sana kemari dengan jala-jala untuk menangkap kupu-kupu.

Mereka kelihatan senang.

Arvie kelihatan senang.

"--aku akan selalu ada untukmu,"

Jemarinya semakin mengerat pada perkakas untuk memahat hingga buku-buku berubah putih. Bibirnya digigit kasar, membiarkan cairan kental merah berbau karat keluar dari sela epidermis yang terbuka.

"--dan berjanji akan terus menjagamu."

Omong kosong.

Omong kosong.

Omong kosong!

OMONG KOSONG! OMONG KOSONG!

Elena menghambur pada benda-benda di sekitarnya. Berteriak murka, melempar alat yang tergenggam oleh tangan mungilnya ke sembarang arah, menepis guci keramik hingga tak mengindahkan lagi jika pecahannya berpotensi melukai kaki, merobek kanvas juga tirai-tirai, mendorong gelondongan kayu di hadapannya sampai berguling lalu membentur meja besar yang dipenuhi barang pecah belah lain.

Elena tak peduli lagi! Elena tak peduli lagi pada dunia yang sejak awal tidak pernah memedulikannya! Elena benci semuanya! Semuanya! Semuanya! Semuanya!

Bahkan Arvie ...

Bahkan Arvie yang pernah mengucapkan janji padanya, Elena pun benci.

Akan selalu ada, akan terus menjaga, Elena jadi merasa bodoh karena sempat percaya pada kata-kata Arvie. Sejak awal seharusnya ia tak percaya. Sang dara manis memukul-mukul kepalanya, mengacak rambutnya frustasi. Dasar bodoh. Dasar bodoh. Dasar bod--

Sebuah lilin putih bergulir mendekati Elena dan menyentuh ujung kakinya.

Elena geming, memperhatikan lilin putih itu dalam diam. Hingga sebuah lengkung kurva manis, tanpa sadar ia pulas ketika satu gagasan menghampiri. Ia akan bisa membuat ibunda bangga. Elena bisa membuat ibunda bangga!

Sang gadis kecil pun bergegas. Ada bahan-bahan yang mesti ia cari sebelum hari berubah menjadi gelap!

(Dengan berbekal alat pahat juga palu, ia meninggalkan ruang.)

.

.

"Terima kasih untuk hari ini, Arvie. Aku senang bisa bermain denganmu!"

Arvie terkekeh canggung, sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, "Sama-sama, Amelia. Senang juga dapat bermain denganmu."

Gadis itu--Amelia--tersenyum manis. "Kalau begitu, sampai jumpa besok!"

Lambaian tangan itu menutup perjumpaan mereka. Langit dengan kisi-kisi bersemu jingga melukiskan Amelia sebagai figur siluet yang kian menjauh dan Arvie betul-betul memperhatikan punggung Amelia, sampai tak nampak lagi di cakrawala.

Sudah sore, Arvie juga harus segera beranjak. Hutan akan menjadi sangat berbahaya jika kian melarut (akan ada serigala dan pemangsa lainnya). Langkah kakinya diayun santai, menelusuri setapak-setapak berpasir yang juga dipenuhi lubang. Sesekali ia pun bersiul-siul kecil, supaya hening yang di rasa tak terlalu mencekam di tiap jengkal raganya. Ia menatap kembali angkasa, bayangan rupa Amelia ada di sana tengah tersenyum dan tertawa-tawa padanya.

Ah, menyenangkan sekali punya kawan baru, batinnya.

Kepala yang tengadah kembali melihat ke arah jalan dan di sana ia menangkap sosok seseorang tengah berdiri memunggunginya sambil membawa sebuah tas jalinan rotan.

Surai hitam sepinggang yang kilauannya sangat Arvie suka.

"Elena?"

Nama itu terucap, sontak sosok misterius itu menoleh ke arahnya.

"Kenapa kamu di sini?" Tanyanya tak diindahkan. Sehingga akhirnya secara sepihak, Arvie menarik tangan gadis kecil itu, "Ayo, kita pulang bersama! Langitnya sudah gela--"

"Akan selalu ada, akan selalu menjaga ..."

"Eh?"

Manik hijau Elena bersirobok dengan abu-abu Arvie. Tatapan mata Elena yang kosong tanpa riak, membuat Arvie sedikit ragu jika yang di depannya kini bukanlah Elena yang ia kenal.

Arvie melepaskan tautan jemarinya dari Elena. Ia sedikit mendekat, mencoba untuk menyentuh helai-helai jelaga di hadapannya (ia ingin memastikan) dengan segenap keberanian yang mampu ia himpun dalam hitungan di kala itu. Elena nyatanya tetap geming.

"E-Elena, ada ap--"

Satu kali sentakan sewaktu Elena dengan cepat meraih alat pahat dari dalam tas anyaman rotannya dan langsung menghujam ke arah Arvie. Arvie sempat menghindar, namun sayatan tegas juga panjang yang melukai pipinya menjadi peringatan telak untuknya bahwa gadis itu tidaklah main-main.

"Elena! Apa yang kamu lakukan?!"

"Akan selalu ada, akan selalu menjaga ..."

Dorongan datang, mengunci kedua tangan Arvie dalam sekali tarikan napas. Pandangan Arvie sedikit berputar sewaktu tubuhnya terhempas ke jalanan berbatu kerikil. Kini Elena tengah menahan dirinya dengan duduk di atas daerah diafragmanya. Yang ia lihat pertama adalah kilat alat pahat sebelum iris hijau yang menatapnya tajam.

Napasnya tercekat, Arvie tak dapat berkutik.

"E-Elena, hentikan! Aku mohon hentikan ..."

Elena tak lantas bertukar kata. Tangannya terfokus untuk menahan tubuh Arvie juga mengarahkan alat pahatnya menuju areal arteri leher.

"Akan selalu ada, akan selalu menjaga ..."

Alat pahat itu begitu tajam, sejajar dengan pandangan Elena untuk Arvie sekarang. Alat pahat itu menggantung di udara, menunggu diberi perintah mutlak untuk bergerak.

"E-Elena, maafkan aku ..."

Rinai air mata jatuh membasahi, memberi sensasi perih kala mengenai luka yang masih terbuka.

Alat pahat itu begitu tajam, sejajar dengan pandangan Elena untuk Arvie sekarang. Alat pahat itu menggantung di udara, menunggu diberi perintah mutlak untuk bergerak.

" ... maafkan aku--"

Alat pahat itu pun dihujamkan--

--dan yang diinderai Arvie selanjutnya hanyalah kegelapan.

(Biarkan palu dan pahat melepas sendi-sendi dari tempatnya.)

.

.

Pameran seni kota telah tiba. Elena, dengan senyum sumringahnya pun tak luput untuk ikut turut serta.

Ia membuat patung lilin. Patung lilin dengan rupa seperti bocah lelaki tampan. Rambutnya sewarna mahoni dan irisnya kelabu seperti awan hujan. Elena senang banyak yang memuji! Katanya manik mata bonekanya terlihat asli! Surai-surainya juga tak seperti ijuk yang sengaja dibuat menyerupai! Semuanya memuji, semuanya senang! Ibunda juga senang!

Tawa Elena meluncur di hari itu. Pameran seni kota memang yang terbaik!

Namun, sayangnya ... ibunda Arvie tak terlihat begitu. Wajahnya sendu dan tersirat perasaan pilu.

Ibunda Arvie, tengah dirundung duka. Sewaktu mengetahui tubuh Arvie di temukan sudah tak bernyawa di dekat hutan, di sisi kota. Katanya, jasad Arvie sudah tak lagi utuh. Bahkan telah terkoyak hingga tak berbentuk. Katanya pula, tempurung kepalanya pecah. Sehingga helaiannya tak pernah ditemukan. Oh! Matanya juga katanya hilang! Sehingga meninggalkan rongga janggal di wajahnya.

Opsir setempat bilang, itu akibat serangan predator hutan yang lapar. Ibunda jadi ngeri dan menyuruh Elena untuk menjauhi hutan mulai dari detik ini!

Elena juga tak melawan perintah ibunda. Elena sayang ibunda. Elena akan menuruti ibunda.

Sebab bagaimanapun juga ... seorang pembunuh tak akan pernah kembali ke tempat kejadian perkara.

.

.

[ "Selamanya, ini adalah janji yang harus selalu ditepati." ]

.

.

( E N D )

A/N: Sebelumnya terima kasih untuk yang udah baca sampai akhir :3

Well, ini orific perdana saya sih hwehwe... jadi mohon maaf bila terdapat banyak kesalahan dan plot hole dimana-mana. Untuk selanjutnya, kritik dan saran yang membangun akan sangat diterima *bow*

Fiksi ini didedikasikan untuk #VessaDarkRomanceChallenge. Terima kasih untuk Vessalius04 selaku pihak penyelenggara karena sudah membuat challenge ini! Saya jadi terpacu buat keluar dari zona nyaman saya dalam dunia fiksi X"D

Awalnya saya ingin buat ini dengan karakter dari JGA, tapi atas beberapa faktor, ide itu saya gugurkan dan berakhir menjadi orific dengan karakter baru(?)

Entah ini dark romance-nya kerasa atau gak, tapi saya harap kalian semua menikmatinya ^^

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih sekali lagi~

A. K.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top