5
"Pagi!"
Giana hampir saja berteriak kaget saat sebuah suara bass menyapa telinganya, beruntung refleks tangannya lebih cepat dari suaranya. Ia berhasil membungkam mulutnya sebelum berteriak histeris. Ia yang sedang menunggu lift sembari melamun pun menjadi mendadak segar akibat sapaan ceria tersebut.
"Kaget, ya?" tanya Bayu sembari memamerkan senyum menawannya.
Giana mendelik, tetapi tetap diam. Ia kembali menatap layar yang bertuliskan angka di mana lift tersebut tengah berada. Saat pintu lift terbuka, ia melangkah masuk ke dalam.
"Kamu gak mau naik?" tanya Giana saat Bayu tak ikut naik dengannya.
Bayu menyeringai lebar. "Akhirnya lo ngomong juga," desah pemuda itu puas membuat kening Giana berkerut.
"Jangan ngerutin kening lo kayak gitu sering-sering! Entar cepet keriput, loh!" canda pemuda itu.
"Bukan urusan kamu!" Giana turun dari lift dan segera masuk ke ruangan. Menuju UPS dan menghidupkannya, lalu beralih menghidupkan printer. Setelahnya, ia menghidupkan komputernya. Kemudian ia mengambil kerjaannya dari lemari arsip dan menaruhnya di meja.
"Ngomong-ngomong, kenapa lo dari kemaren pake masker mulu, sih?" tanya Bayu setelah melihat Giana duduk tenang di kubikelnya.
Giana menoleh dan menatap Bayu risih. "Bukan urusan kamu! Kamu mau langsung kerja, atau nanti aja pas jam delapan?" Giana segera mengalihkan topik.
Sadar akan ketidaksukaan Giana akan topik tersebut, Bayu pun memutuskan untuk tak membahas hal tersebut lebih lanjut. "Terserah lo aja. Gue ikut aja mau lo gimana. Mau sekarang silakan, nanti juga gak papa. Gue gak masalah, kok." Bayu pun berjalan menuju kubikel Giana dan menarik beberapa faktur untuk dilihatnya.
"Ya, udah sekarang aja. Di tempat kamu aja. Biar sekalian aku ajarin cara input ke jurnal." Giana mengangkut setumpuk faktur yang tadi dikerjakannya di meja Bayu. Bayu mengangguk, lalu membantu Giana memindahkan faktur tersebut.
"Mau mulai dari kas besar dulu atau kas kecil dulu?" Giana mengangkat wajahnya untuk menatap Bayu dan meminta persetujuannya.
"Bagusnya? Gue ikut lo aja," balas Bayu tanpa niat.
"Kamu ini cowok, harus bisa menentukan pilihan. Jangan terbiasa dipilihin! Ini hidupmu, kamu yang menentukan, bukan orang lain," ucap Giana tegas membuat Bayu tertegun.
"Ah, i-iya," gagap Bayu yang masih tetap terpaku. Seumur hidupnya, ia tak pernah diperbolehkan untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Sekolah, kuliah, kerja, semua sudah ditentukan sedari awal. Bahkan baju, sepatu, gaya rambut juga sudah ditentukan untuknya. Begitulah selama ini ia menjalani hidupnya, diarahkan tanpa pernah sekali pun mengarahkan hidupnya mau ke mana.
Giana menghela napas panjang, lalu menatap Bayu intens. "Jadi?" Sebelah alisnya ia angkat. Satu menit berlalu, Bayu masih diam. Ia terlihat bimbang.
"Bayu? Jadi?" Giana mulai tak sabar dengan diamnya Bayu.
"Gak apa nih kalau gue yang milih?" tanya pemuda itu tak yakin.
"Tentu saja! Ini kan yang akan kamu kerjakan nantinya. Jadi harus keputusan kamu," jelas Giana gemas.
Bayu mengangguk mengerti. "Kalau gitu, lo ada saran gak buat gue? Maksudnya lo kan udah kerjain ini semua, jadi lo kan pasti lebih tau apa kelebihan dan kekurangannya. Biar gue bisa pertimbangkan mana yang mau lebih dulu gue pelajari."
"Kas kecil itu walau lebih sedikit, tapi faktur eksternalnya lebih banyak. Kamu harus teliti saat kamu mau memisahkan faktur eksternal dan internalnya. Sebelum dilepaskan hekternya, hitung dulu jumlah yang di klaim oleh mereka. Jika kurang, tanya pada orang kas. Kalau lebih, belum pernah sih. Lalu kas besar lebih banyak. Nominalnya juga lebih besar dari kas kecil. Kas besar, kebanyakan memiliki faktur pajak. Sebelum kamu mulai kerjakan, kamu harus lihat apa ada stempel di setiap bagiannya.
"Kas kecil ribetnya di lampiran pendukungnya yang banyak, tapi sedikit. Kas besar ribet di fakturnya banyak, lampirannya juga banyak, tapi barang yang akan diinput hanya itu-itu saja. Intinya, semua ada gampang dan susahnya masing-masing. Jadi kamu mau kerjakan yang mana dulu?" jelas Giana panjang lebar.
Bayu menatap faktur yang ada di hadapannya. "Mungkin kas kecil dulu aja," putusnya membuat Giana tersenyum sekilas. Bayu mengetahuinya karena mata gadis itu yang menyipit sejenak.
"Nah, tadi udah aku jelasin sedikit, 'kan? Ini namanya faktur internal,"-Giana menunjuk faktur yang berjudul 'nota kas kredit' dengan logo perusahaan yang ada di tengah nota tersebut-"lalu lampiran di dalamnya kayak struk tol, karcis parkir, faktur dan juga nota-nota pembelian barang dinamakan faktur eksternal atau bisa disebut lampiran juga. Itu nantinya akan dipisahkan agar bisa diserahkan ke pajak."
Giana berhenti sejenak untuk menatap Bayu yang hanya membalasnya dengan anggukan singkat tanda paham.
"Hal penting yang harus kamu ingat, sebelum memisahkan faktur internal dengan lampirannya. Kamu harus hitung dulu. Apakah lampiran yang dilampirkan nilainya sudah sesuai atau belum? Jika sudah sesuai, kamu boleh memisahkannya. Tapi kalau belum, kamu harus tanya ke bagian kas. Apa masih ada lampiran yang tertinggal di mereka, atau memang supir yang mengklaim berlebih. Mengerti?"
Sekali lagi Bayu mengangguk paham. Giana berdeham dan melanjutkan, "Nah, sesudah cek. Kamu boleh input pengeluaran yang ada ke dalam jurnal. Setelah input, kamu harus beri tanda pada faktur tersebut agar tidak terjadi dobel input. Terus, kalau kamu mau langsung pisahkan lampirannya, boleh-boleh saja. Tapi jangan sampai lampiran-lampiran itu hilang. Atau kalau kamu ...."
"Heh! Gi! Gue tau lo itu rajin, tapi jangan maksa anak magang buat jadi kayak lo, dong!"
Giana dan Bayu menoleh dan mendapati Siska tengah berkacak pinggang sambil menatapnya tak suka. Di belakangnya Arka dan Desi juga menatapnya sambil menggeleng tak percaya. Giana menghela napas lelah.
"Maaf," Giana menunduk, lalu menyusun kembali faktur yang sudah terbuka tadi, "kita lanjut saat sudah masuk saja. Maaf karna aku udah maksa kamu," lanjutnya lagi sebelum melangkah ke kubikelnya dan langsung bekerja.
Bayu bingung. Ia menatap Giana yang sudah kembali ke kubikelnya, lalu menatap Siska yang masih saja menatap pongah pada Giana.
"Maaf kalau saya lancang, tapi Giana tidak salah. Dia gak pernah maksa saya, itu keputusan saya," ucap Bayu menatap Siska tenang.
Siska tersenyum centil. "Aduh! Bayu, udah, deh. Gak usah belain Giana. Semua yang di sini tau, kok, kalau dia itu workaholic yang gak tau waktu. Jangan mau jadi kayak dia! Nanti gak punya temen. Terus, mana enak kalau hidup kayak gitu."
Bayu hampir aja terlompat dari tempat duduknya saat Giana menutup lacinya dengan agak keras. Ia tahu gadis itu tengah menyuruhnya diam dan tak melawan lebih lanjut. "Saya ngerti, Kak," jawab Bayu menuruti keinginan Giana.
Lima belas menit berlalu, pukul delapan tepat, Arka, Siska, dan Desi pun kembali ke kubikel mereka masing-masing. Bayu pun sudah siap dan menghadap komputernya, menunggu Giana mendatanginya. Lima menit berlalu, tetapi Giana masih fokus pada pekerjaannya.
"Giana!" panggil Bayu, tapi tak ada respon.
"Senggol aja, Bay," usul Sierra saat Bayu masih diam di sebelah kubikel Giana yang madih tanpa respon.
Bayu menurut, ia menyentuh pundak Giana pelan. Gadis itu terlonjak kaget. Ia menoleh dan menatap Bayu kesal. "Ada apa?"
"Udah jam delapan lewat. Gue masih gak ngerti apa yang harus gue kerjain. Tadi penjelasan lo belum kelar." Bayu menunjuk faktur yang sengaja ditinggal di mejanya tadi.
"Oh!" gumam Giana sembari bangkit menuju kubikel Bayu dan diekori oleh pemuda itu.
"Aku kasih kamu contoh buat input, ya?" Giana membuka salah satu faktur. Ia menginput data-data yang ada pada kertas faktur ke dalam jurnal sambil menghitung jumlah lampirannya. Sesekali ia menjelaskan pada Bayu yang hanya mengangguk-angguk tanpa henti.
"Nah! Sudah ngerti? Ada yang mau ditanyakan?" tanya Giana setelah selesai menjelaskan dan memberi contoh.
Bayu menggeleng. "Kalau gue masih bingung, gue bakal tanya ke lo."
Giana mengangguk dan kembali ke kubikelnya melanjutkan mengecek stok inputannya dengan laporan yang diberikan bagian gudang. Sesekali ia melirik Bayu yang masih setia mengerjakan tugasnya. Giana yang takut hasil pekerjaan Bayu salah pun membuka jurnal yang sudah selesai diinput Bayu dari komputernya.
"Ternyata dia pintar, walau gak bisa membuat keputusan sendiri," gumam Giana puas. Ia kembali menekuni laporan stoknya.
Tanpa terasa sudah jam pulang. Giana merenggangkan otot-ototnya yang kaku sebelum beranjak pulang.
"Mau pulang bareng gak?"
--------------------------
1271.15042020
Yeah! Balik lagi nih.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top