20
"Arghhhhh!!!"
Tanpa menoleh kanan, kiri, dan belakang lagi, Noah segera melesat dengan cepat menuju jalan keluar yang ternyata sudah tak begitu jauh—meninggalkan seluruh rombongannya yang hanya bisa terbengong kaget.
"Hahaha ...." Kompak ketiganya tertawa puas sembari berjalan santai keluar. Lucu rasanya melihat orang yang paling semangat masuk ke dalam gua hantu, malah menjadi orang yang paling semangat kabur lantaran ditepuk pundaknya oleh seseorang yang bahkan bukan hantu jadi-jadian melainkan tangan Giana.
"Calon suamimu kenapa, tuh, Kak?" tanya Giana sambil berusaha meredakan tawanya.
Clara menyeka air matanya yang mengalir akibat terlalu banyak tertawa sambil menggeleng pelan, "Gak tau, tuh. Nanti kita tanya aja."
Bayu yang tadinya berada di sebelah Giana, pun mundur satu langkah ke belakang dan mendorong Giana maju ke depan agar Giana dan Clara bisa berjalan bersisian. "Gue jaga di belakang aja," ucapnya saat Giana menoleh padanya. Walau sebenarnya ia tak begitu yakin bagaimana ekspresi Giana karena saat ini sangat gelap.
Duk! Duk! Duk!
Ketiga kepala itu menoleh ke belakang dan secara serempak menganggukkan kepala sopan pada sosok tinggi besar dengan rambut panjang terurai berantakan yang tengah mengetuk-ngetukkan tongkat yang dipegangnya ke atas lantai.
"Maaf, Mas. Ini mau jalan kok," ringis Giana lalu memimpin jalan untuk keluar.
Sesampainya di luar, Giana langsung terbahak puas melihat wajah Noah yang kini berwarna merah akibat malu. "Kamu kenapa? Kok lari ninggalin calon istri? Padahal tadi pas mau masuk bilangnya 'Tenang aja! Kan ada aku'. Eh ... gak taunya dia duluan kabur gara-gara aku tepuk pelan."
Noah melotot kesal, wajahnya semakin memerah-bahkan leher dan telinganya juga ikut memerah. "Diam kamu! Udah ngagetin, ngejek pula."
Giana merangkul Clara dan menatapnya serius, "Kak, suer, deh. Cowok kek gini tuh bagus buang aja ke laut. Masa dia ninggalin kakak sendirian di tempat gelap padahal kakak takut. Bagusan kakak pikir-pikir dulu deh rencana pernikahannya jadi apa gak."
Noah mendelik kesal, "Gia, kamu tuh, ya! Gak usah aneh-aneh, deh!"
Giana menatap Noah dengan pandangan bertanya, "Aneh-aneh gimana, No?"
"Ya, itu ... minta Clara buat mikirin pernikahan kita. Kamu tau sendiri 'kan kalau persiapan pernikahannya udah 95% siap?" balas Noah dengan tatapan horor.
Clara yang sedari tadi terdiam, kini pun mulai tersenyum jail. Ia balas merangkul Giana dan menatap Giana penuh pertimbangan. Tatapan matanya di arahkan pada Noah, lalu di arahkan ke atas sembari jemari telunjuknya mengusap dagu dengan pelan.
"Kayaknya kamu benar, deh, Gi," ucap Clara pelan sambil berpikir. "Kalau cuma gara-gara ditepuk pelan aja di gua hantu dia berani ninggalin aku tanpa pertimbangan apapun, terus kalau misalnya terjadi masalah yang lebih gawat kayak gempa atau kebakaran. Dia juga bakal ninggalin aku tanpa pikir panjang, dong, ya?" tanyanya lagi dengan suara pelan.
Noah membelalak, "Gak, dong, Cla. Kamu itu segalanya buat aku. Aku gak mungkin ninggalin kamu ...."
Belum selesai Noah membantah, Giana menyela terlebih dahulu, "Buktinya tadi ... kamu ninggalin Kak Clara tanpa pikir panjang. Langsung melesat secepat kilat tanpa noleh ke belakang lagi."
"Itu tadi aku kaget, Cla. Jangan kemakan sama omongan Gia!" Noah menggenggam tangan Clara erat.
"Jangan jadi kompor kamu!" Noah memarahi Giana yang kini sudah terkikik puas.
Bayu yang sedari tadi menonton sambil terkekeh geli akhirnya membuka suara, "Iya, Kak. Nyarinya yang kayak saya aja. Buktinya walau saya merasa serem tadi, tapi saya tetap jagain kalian dari belakang. Ya gak, Gi?" Bayu merangkul Giana mesra dan langsung ditepis kasar oleh gadis itu.
"Jahat banget, sih, lo. Sakit tau?" keluh Bayu pada Giana.
Noah masih menatap memohon pada Clara yang sudah siap menyemburkan tawanya. Di mata Clara, Noah saat ini terlihat seperti anjing kecil yang menatap memohon pada tuannya dan menurutnya itu sangatlah lucu.
"Ya udah. Balik, yuk! Udah malem," putus Clara sembari mengandeng lengan Giana yang masih sibuk memelototi Bayu.
Noah yang merasa diabaikan hanya menatap nanar punggung calon istrinya.
"Sabar, ya, Bro!" Bayu meremas bahu Noah pelan, lalu menyusul kedua gadis yang sudah mulai menjauh itu.
Sadar sudah tertinggal jauh, Noah pun segera menyusul. Noah membuka kunci mobil, walau dirinya belum sampai di depan mobil, lantaran rombongannya sudah menunggu di samping mobil dengan santai.
"Kalau begitu saya duluan, Kak Clara," pamit Bayu pada Clara yang segera diangguki.
Bayu menoleh pada Giana,"Gue harap lo bersenang-senang tadi. Malam."
Sebelum masuk ke dalam mobilnya, Bayu berbalik dan menganggukkan kepalanya pada Noah. Noah membalas anggukan tersebut dan mengangkat tangannya. Bayu pun segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil itu hingga menghilang dari pandangan ketiganya.
"Makan dulu, ya?" tanya Noah menatap lurus ke depan. Walau ia bertanya, ia sebenarnya tak memerlukan jawaban dari mereka sebab ia memang sudah memutuskan. Ia memajukan persneling dan menginjak pedal gas hingga mobil Avanza silver miliknya melaju meninggalkan pelataran parkir.
Mobil Avanza silver itu berhenti di sebuah restoran seafood yang lumayan terkenal di kota. "Yuk, turun!" ajak Noah. Giana dan Clara turun tanpa membantah.
Mereka masuk dan duduk di tempat kosong. Setelah membolak-balik menu tanpa minat, pelayan pun datang mencatat pesanan mereka. Lagi-lagi semua makanan yang dipesan merupakan pilihan Noah. Dan mereka tak keberatan sama sekali. Begitu makanan datang, mereka makan dengan lahap dan dalam suasana diam. Tak ada yang memulai percakapan. Yang mereka inginkan sekarang adalah makan, lalu mandi. Kemudian tidur.
"Makasih, No, Kak Cla" ucap Giana tulus begitu sampai di depan gang rumahnya, "duluan, ya," lanjutnya lagi.
"Gak usah ditemani, kalian pulang duluan aja," ucap Giana pada Noah dan Clara.
"Oke, deh. Hati-hati, ya!" ucap Clara. Ia melambaikan tangannya dan langsung dibalas oleh Giana.
Giana berjalan terbalik sambil melambaikan tangannya pada mobil milik Noah yang mulai bergerak. Setelah mobil milik Noah putar balik dan berjalan menjauh, Giana pun berjalan dengan benar.
Ia berjalan gontai menuju rumahnya. Hari ini, ia merasa sangat senang hingga tak mampu menyembunyikan senyuman di wajahnya. Senyumannya semakin melebar tatkala melihat sosok serba hitam yang begitu dikenalnya tengah berjongkok membelakanginya di depan rumah.
Ide jail terlintas di otaknya. Ia pun melangkah dengan lebar dan pelan. Tepat di belakang sosok itu, ia ikut berjongkok dan ..., "Dor!"
Sosok itu berbalik dengan cepat, namun karena dalam keadaan jongkok, keseimbangannya menjadi tak bagus hingga ia pun terjatuh. Ia menatap Giana yang tengah tertawa puas dengan jengkel. Tak mau berlama-lama duduk di atas aspal sambil ditertawai, Gilang bangkit dari duduknya.
"Jail banget, sih!" ucapnya sambil mengacak rambut Giana gemas.
"Kaget, ya?" tanya Giana retoris.
Gilang memutar bola matanya malas. Ia memilih untuk tak menjawab pertanyaan itu dan balik bertanya, "Habis dari mana? Kayaknya lo senang banget."
Giana mengangguk dengan semangat. "Iya. Hari ini aku senang banget. Tadi aku habis ke taman bermain. Main banyak wahana yang memacu adrenalin, lalu aku juga banyak cerita ke Noah, Kak Clara dan Bayu. Aku senang karna ternyata mereka gak seperti kebanyakan orang. Mereka gak natap aku dengan tatapan aneh dan nge-judge aku macam-macam. Ternyata begini, ya, rasanya punya teman?"
Gilang mengusap puncak kepala Giana lembut. Giana memejamkan matanya lantaran sangat menyukai hal tersebut. Ia menatap Gilang dengan mata berbinar senang.
"Aku senang," ucapnya riang membuat Gilang menariknya ke dalam pelukan. Giana tak menolaknya. Ia juga tak merasa risih sama sekali. Ia tak tahu kenapa, padahal ia biasanya tidak menyukai banyak sentuhan fisik. Namun sentuhan pemuda ini terasa sangat berbeda. Ia merasa senang dan hangat.
"Gue senang kalau kamu senang," ucap Gilang sambil mengurai pelukan mereka. Giana merasakan ketulusan Gilang dari pancaran matanya. Walau ia tak tahu bagaimana ekspresi pemuda itu karena terhalang masker.
"Udah malam. Mandi, lalu tidur, gih!" titah Gilang sembari mendorong pelan tubuh Giana masuk ke dalam rumah.
"Iya. Malam, Gilang." Giana merasa pipinya panas seolah terbakar. Ia sengaja berlama-lama membuka kunci pintu agar ia bisa berada di sisi Gilang lebih lama lagi.
Rupanya Gilang pun masih enggan berpisah. Terbukti dengan begitu pintu terbuka sempurna, Gilang segera memeluk Giana dari belakang membuat detak jantung Giana berdetak tak karuan. Ia pun merasakan pipinya semakin panas hingga ke telinga.
Gilang menyurukkan wajahnya di lekukan leher Giana. "Gue kangen sama lo, Ca," lirihnya pelan
Sontak Giana menegang mendengarnya. Ia bahkan tak bergerak setelah Gilang berjalan menjauhinya. Meninggalkannya sendiri dengan berbagai pikiran buruk yang menghajar tanpa ampun.
--------------------
1324.17062020
Yeay..
Kalian nge-ship siapa sih?
Gilang-Giana?
Atau Bayu-Giana?
Atau mau nge-ship Calvint-Giana?
Ehehehhe..
Makasih udah bantuin jebolin matanya sampe 1k..
Makasih banyak.
Senang banget loh aku.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top