BBB [10]
Sorry for typo
~Happy reading~

Aku pulang ke daerah Kemang jauh sebelum jadwal kepulanganku. Karena permintaan nyeleneh dari Raka dan Ibu yang terus mendesakku untuk segera pulang. Maka, aku merelakan waktu liburku untuk mengunjungi rumah Ibu. Padahal rencananya, aku ingin bersantai di hari libur dan melakukan kegiatan memanjakan diri seperti me time hingga menghabiskan waktu luangku di salah satu salon kecantikan dan spa.
"Bu ..." seruku.
Aku sudah sampai sejam yang lalu, dijemput oleh Kafka yang sekarang mengambil waktu luang kuliahnya dengan bekerja. Aku juga bingung dengan Kafka yang sudah seharusnya menamatkan kuliahnya jauh-jauh hari, sekarang ini malah sibuk mengurusi kantor Papa.
Namun karena belum ada tanda-tanda kehadiran Ibu, aku memilih memijat kakiku dulu yang terasa pegal dan kebas. Rasa pegal-pegal ini terus berlanjut dari lusa kemarin.
Lalu aku kembali teringat percakapanku dengan Kafka sewaktu tadi menjemputku.
•ווו
Kami seharusnya tidak melewati blok M di jajaran Senayan Residence ini. Keningku berkerut hingga berlipat-lipat, aku menoleh pada Kafka yang pandangannya sibuk meneliti setiap jalan di luar sana.
"Kenapa lo bawa kita ngeliling perum ini sih, Ka?"
Kafka sepertinya belum menyadari pertanyaanku, terbukti dari dia yang belum menanggapi ucapanku dan terlihat sibuk dengan dunianya. Karena kesal diacuhkan, padahal aku sudah merelakan jadwal liburku. Hanya demi menuruti permintaan Ibu, tidakkah Kafka memberikanku apresiasi, gitu?
"Kafka!" Intonasiku mulai naik. Ternyata berpengaruh pada Kafka yang akhirnya menoleh padaku, sambil memutar setir ke kiri. Berhenti di sebuah perum bernomor 220 dan 202 di seberangnya.
"Kenapa ke sini?" tanyaku ulang datar. Kentara sekali jika aku tidak menyukai tindakan yang Kafka lakukan. Bagaimanapun juga, aku tahu betul siapa orang yang tinggal di perum ini. Terlebih rumah yang berada di seberang nomor 220.
Aku berdecak kesal, ternyata Kafka masih saja bersikap melankolis seperti ini. "Lo seharusnya udah lupain dia, Ka," ujarku tegas. Karena menurutku tidak ada toleran dalam hal ini.
Semuanya harus tegas atau kau akan berakhir pada lubang yang kau gali sendiri.
Aku melihat cengkraman tangan Kafka pada setir mobil mengeras. Untuk itu, aku berinisiatif untuk pindah tempat duduk. Kafka dan emosi selalu tidak sinkron. Perpaduan yang bahaya jika aku berada disekitarnya sebelum Kafka hilang kendali.
Tapi, saat aku hendak keluar mobil, tiba-tiba Kafka mencegahnya. "Gak perlu, tugas gue udah selesai. Dia belum kembali," ucapnya sambil tersenyum miris.
Sudah ku duga!
Aku jadi khawatir jika Kafka terus menerus memikirkan perempuan itu, Kafka akan sakit. Padahal kalau dilihat dari tampangnya, aku yakin kakakku ini masuk ke jajaran pria idaman wanita.
Tapi kenapa Kafka malah menunggu sesuatu yang tidak pasti!
Aku tahu bahwa gadis itu bernama Min Youra. Sahabat sekaligus teman perempuan satu-satunya Kafka hingga sekarang.
Perempuan yang meninggalkan kakakku tanpa kabar sejak kelulusannya. Dan kebodohan yang Kafka lakukan adalah menunggu gadis itu hingga bertahun-tahun, bahkan sampai sekarang pun masih tetap menunggu kehadirannya. Kafka juga tak segan-segan membatasi dirinya dengan pergaulan wanita di sekitarnya.
Dasar tidak waras!
Sudah jelas-jelas ditinggalkan, masih saja ditunggu kehadirannya. Aneh. Aku terus menggerutu dalam hati, hingga akhirnya sampai di rumah.
•ווו
Walaupun Kemang termasuk wilayah Jakarta yang lumayan teduh karena sedikit lebih rindang dari wilayah lainnya—tapi bagiku—Jakarta sama sekali tidak ada baik-baiknya. Matahari selalu menjadi musuh mengerikan yang menghantui banyak penghuni Jakarta.
Apalagi ras kulit terang. Mereka paling anti, jika harus keluar rumah tanpa perlindungan yang memadai dari skincare-nya. Benar-benar merepotkan!
Untuk kali ini, aku sedikit bersyukur karena aku bukan masuk jajaran ras kulit terang itu, setidaknya ... tidak untuk sekarang ini.
Rasa panas ini, membuatku gerah. Aku berniat ingin mandi lagi. Saat aku melihat pintu kamar Santi sedikit terbuka ketika aku melihatnya, aku diam-diam melongokkan kepala.
Tumben.
Aku berusaha untuk tidak berpikiran aneh. Apalagi mengingat Raka yang katanya akan datang ke rumah. Tapi keadaan rumah sungguh sepi. Mungkin Raka akan datang nanti malam?
Saat aku datang ke rumah pun, tidak ada siapa-siapa. Hanya hening yang menemaniku selama ini. Tapi suara aneh menganggu indera pendengaranku. Rasanya risih sekali mendengarnya.
Aku mencoba menulikan telingaku dan bersikap tidak tahu menahu. Menganggap suara yang aku dengar hanya halusinasiku saja. Dan akhirnya aku memilih kegiatan yang sudah aku rencanakan sejak tadi. Mandi!
Setengah jam mengguyur diri dengan air dingin, rasanya sudah cukup membuatku kembali merasa segar. Aku pun telah memakai pakaian rumah yang lebih santai.
Lagi-lagi saat melewati kamar Santi, aku mendengar suara aneh itu. Suara itu semakin nyata dan jelas ketika aku mencoba mengupingnya. Walaupun aku sendiri harus menahan mual akibat mendengar suara itu.
"Santi lagi ngapain sih sampai kaya gini segala?" Aku tahu, aku sudah cukup umur untuk mengetahui jenis suara ini. Bahkan di jaman sekarang saja, anak sekolah dasar sudah pasti tahu dan mengerti arti dari suara ini.
Mendadak seluruh tubuhku panas dingin, kakiku bahkan sudah gemetaran. Tangan yang aku paksakan membuka kenop pintu akhirnya terbuka.
Setelah melihat hal yang terjadi di depanku, aku menjerit. "AAA!!!" Seluruh tubuhku terasa melemah seiring langkahku yang menjauhi kamar Santi.
Masih dengan detak jantung yang berpacu kencang, aku berlari ke kamar yang terdekat, untuk menyembunyikan diri. Aku berusaha mengenyahkan pikiran tentang kejadian tadi. Bulu kudukku kembali meremang.
Aku bergidik sendiri memikirkannya.
Sejak kedatanganku ke rumah ini beberapa tahun silam, belum pernah sekalipun aku mendatangi kamar orang tuaku sendirian seperti ini. Namun karena ini mendesak, karena aku butuh sesuatu untuk mengistirahatkan tubuhku, tanpa sadar, aku masuk ke kamar orangtua.
Padahal aku kira, itu adalah kamarku.
Kamar Santi sungguh membuatku merasa jijik. Anak-anak dari kucing—yang entah milik siapa—malah melahirkan di atas kasur dengan menimbulkan suara-suara aneh. Bukannya aku membenci kucing, hanya kurang suka saja saat kucing itu buang kotoran ataupun sedikit takut kalau kemungkinannya, aku di cakar-cakar oleh kucing.
Belum genap kekagetanku di kamar Santi, kini di kamar orang tuaky, aku kembali tercengang. Sadar bahwa ini bukan kamarku dan juga tersadarkan bahwa ada hal yang seharusnya tidak pernah aku lihat.
Aku tidak tahu siapa dan kenapa Santi jauh-jauh harus tidur di kamar orang tua—kami. Padahal dia sudah memiliki kamar sendiri. Awalnya juga aku tidak mengira bahwa perempuan yang sedang tidur di atas ranjang kamar orang tuaku ini adakah Santi. Tapi melihat sebagian wajahnya yang tidak tertutup oleh rambut, membuatku semakin yakin bahwa pemilik rambut ombre merah ini adalah Santi.
Tapi itu bukan point utamanya!
Kakiku kembali melemas saat melihat lantai kamar yang penuh dengan berserakan baju-baju hingga pakaian dalam!
Aku juga tidak terlalu bodoh untuk tidak tahu situasi ini. Apalagi aku tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria laknat yang berani-beraninya mengotori kamar orang tuaku!
Pria itu tidur dengan posisi tengkurap sambil tangannya yang menyembul, memeluk leher Santi. Tubuh mereka tertutupi selimut tebal.
Kalau dalam situasi normal, aku pasti akan memaki hingga menendang pria ini.
Tapi melihat kucing yang lahiran di kamar Santi dan melihat Santi yang sedang .... dalam keadaan seperti ini, membuat aku tidak bisa menompa tubuhku.
Aku mengeluarkan ponselku dengan tangan bergetar dan menelepon seseorang. Aku memilih secara random nomor yang terakhir kali menghubungiku.
"Tolong jemput .... " kataku dengan lirih.
~tbc~
©06 Agustus 2020
Revisi : 22/10/20
Terima kasih telah membaca
Bye-bye, black! 💚
.
.
.
Jangan lupa klik 🌟 tinggalkan komentar dan share cerita ini ya 🤗
.
.
Salam hangat,
Fe
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top