Chapter : Satu
Sweetest Escapism — Dazai Osamu x Readers
˚ ༘♡ ⋆。˚ ❀
[1/3]
WARNING!
THIS FICTION IS CONTAIN: Human abusive, gore, toxic relationship, brainwashing, and many illegal action.
PLEASE BE WISE!
***
AGENSI DETEKTIF Bersenjata, salah satu organisasi yang bekerja dibalik pemerintah dan membantu orang-orang. Organisasi yang berisi anggota berkemampuan khusus. Setiap anggota dalam agensi cukup disegani dan memiliki kemampuan yang luar biasa.
Ada kalanya mereka serius, ada kalanya mereka bercanda. Contohnya, seperti Dazai Osamu. Laki-laki berambut cokelat itu suka sekali membuat lelucon hingga membuat Kunikida, salah satu anggota lainnya, naik pitam karena kelakuannya.
Terkadang Kunikida juga heran, bagaimana rekan kerja Dazai yang kalem dan memiliki humor bagus itu tahan dengan kelakuan Dazai. Yang dimaksud, adalah [Name] [Surname], anggota agensi yang memiliki kemampuan Manipulasi Informasi atau data sekalipun.
[Name] selalu dipasangkan dengan Dazai saat ada tugas. Gadis itu selalu menjadi pengganti Kunikida kala Dazai berbuat onar. Wajahnya yang cantik nan ayu, lalu perilakunya yang tegas, sangat membuat setiap anggota terpesona dengannya.
Tapi siapa yang bisa menyangka, kalau [Name] yang tegas itu menyukai Dazai. Di dalam hatinya, dia selalu menjerit saat pria itu mengganggu dan memberikan tatapan lembut padanya. Namun, sifatnya yang ketus membuatnya terlihat tak tertarik dengan Dazai. Tapi itu tidak berlaku untuk Yosano, wanita di agensi yang bisa menebak secara langsung perasaannya.
[Name] tentunya tak bisa mengelak dari berbagai pertanyaan dari Yosano. Intinya, Yosano mengira kalau keduanya itu berpacaran.
Suatu waktu, di bulan Februari, yang katanya itu adalah bulan kasih sayang. Semua orang, semua pasangan, laki-laki dan perempuan, sangat menantikan coklat dari orang yang mereka sukai. Bahkan [Name] sekalipun, yang notabene-nya tidak tertarik hal-hal romantis, menantikan coklat dari seseorang yang ia sukai.
[Name] menghela nafas melihat tanggal 14 di kalender milik agensi. Pastinya dia akan membuat coklat untuk teman-temannya, namun pastinya itu coklat pertemanan. [Name] tidak ingin menyatakan cintanya. Dia hanya ingin orang yang disukainya-lah yang menyatakannya.
Sebuah tangan merangkul pundak [Name]. [Name] lantas melirik tangan berbalut perban itu, lalu memutar bola malas saat menyadarinya.
“Halo, [Name]-chan! Mau bunuh diri bersama?” tawar pelaku yang merangkulnya, Dazai. “Hari ini mari kita mati bersama dengan memakan coklat yang diberi racun tikus!”
[Name] berdecak mendengarnya. “Sudah kubilang, jangan aneh-aneh! Lagian, mau ngapain sih ngajakin aku bunuh diri terus? Gak bosen apa?” tanya [Name] heran.
“Tentu saja aku tak bosan untuk mengajak wanita cantik mati bersamaku! Itu impianku!” balas Dazai senang.
[Name] sweatdrop mendengarnya. Gadis itu menghela nafasnya, mencoba menyingkirkan tangan Dazai. “Terima kasih untuk pujiannya, aku tak mau diajak mati denganmu,” pungkas [Name].
“Kalau begitu, beritahu aku apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Dazai yang masih setia menaruh tangannya di pundak [Name]. “Serius banget lho dari kejauhan. Bahkan kamu tak sadar kalau sedang diperhatikan orang tampan.”
[Name] menatap datar Dazai. “Hah! Kepo, ya?” sahut [Name]. “Tapi berjanjilah satu hal, enyahlah dari sini setelah aku beritahu alasannya.”
Dazai mengangguk patuh dan berbinar-binar padanya. Tentunya [Name] sweatdrop dengan wajah yang tak bisa dipercaya dari Dazai itu. Namun, daripada membuat Dazai terus berisik padanya, [Name] lebih memilih memberitahunya. Tidak peduli Dazai akan pergi setelahnya atau tidak.
“Kau tahu, bulan Februari itu adalah bulan kasih sayang. Banyak yang bilang kalau bulan ini sangat dinantikan oleh banyak pasangan. Jadi aku hanya menatap tanggal 14 di kalender saja,” ucap [Name] menjelaskan.
Dazai berdehem mendengarnya, dia menatap [Name] dan tersenyum. “Bilang saja, kamu mau coklat ‘kan? Dari orang yang kamu sayang?” tanya Dazai.
[Name] tertohok mendengarnya. Namun, dia menetralkan wajahnya daripada dicurigai oleh Dazai. “Entahlah, memangnya ada, ya, yang menyukaiku?” tutur [Name].
“Pasti ada kok,” balas Dazai. “Habisnya, meski tegas, [Name]-chan itu tetap baik. Sangat menyayangi nyawa seseorang di dunia ini. Jadi enggak mungkin kalau enggak ada yang suka [Name]-chan.”
“Hm, aku enggak yakin.”
“Harus yakin dong!”
“Gimana caranya?”
“Tanya perasaanmu sendiri.”
.✮。• *₊°。 ☆°。
[NAME] MENGHELA nafasnya. Kini dia berada di luar agensi, sedang menikmati udara sore hari disertai cup kopi panas yang ia beli tadi. Hembusan angin menyapu anak rambut dan jidat miliknya. [Name] kebingungan karena dilanda perasaan gundah tadi.
Pembicaraannya dengan Dazai benar-benar membuatnya hampir keluar dari jati dirinya. Menahan tingkah agar tak dicurigai kalau kita menyukainya itu cukup sulit. Beruntunglah [Name] mampu melakukannya meski tidak tahu akan bertahan berapa lama.
“Ara, ada [Name]-chan di sini. Selamat sore, [Name]-chan.”
[Name] menoleh ke kiri saat suara lembut menyapanya. Seorang penjual bunga dari toko bunga, Hime Furushiku. Wanita bersurai blonde dan ramah itu memang cukup mengenal [Name]. Gadis itu selalu menghampiri tokonya saat sore hari entah untuk memperhatikan pembeli atau melihat-lihat bunga.
“Hime-san, selamat sore. Aku izin mengganggu lagi, ya,” celetuk [Name]. “Kau tahu, aku agak bosan karena tak ada misi akhir-akhir ini.”
Hime tertawa pelan mendengar keluhan [Name] itu. “Bukannya itu bagus? Mungkin ketua sedang ingin memberimu istirahat mengingat sebulan yang lalu kamu pergi mengerjakan misi tanpa pulang,” tutur Hime. “Dazai-san bahkan mengganggu kesini karena katanya bergantian tugas denganmu.”
[Name] menggerutu pelan. “Si bodoh itu ...,” gumamnya. “Ah, benar, bagaimana dengan bunga-bunga di sini? Apa ada banyak yang membelinya?”
Hime tersenyum ramah. “Lumayan banyak, aku senang. Terkadang memang tidak ada pembeli, tapi kami harus tetap bersyukur,” jawab Hime. “Ah, benar, bagaimana hubunganmu dengan orang yang kamu sukai, [Name]-chan?”
[Name] yang tengah menyeruput kopinya nyaris menyembur ke depan. Dia buru-buru menelan kopinya. Hime tertawa kecil karena tingkah [Name] yang tak terlalu sulit dibaca olehnya. Hime tahu kalau gadis itu suka sekali menyembunyikan tingkahnya yang berpura-pura untuk biasa saja, padahal tengah salah tingkah.
“Sebentar lagi itu Valentine. Apa kamu punya rencana memberikan coklat untuknya?” tanya Hime.
[Name] terhenyak. Dia menghela nafas pelan setelahnya. “Buang-buang waktu saja. Aku ingin dia yang memberikan coklat untukku,” ucap [Name]. “Karena, aku yakin jika dia menyukaiku—“
“Memang siapa yang menyukaimu, [Name]-chan?”
BRUSHH—
“AHH! [NAME]-CHAN, KENAPA MENYIRAMKU? DENGAN KOPI LAGI!”
[Name] melotot saat dia menyiram orang yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Hime sendiri terkejut karena orang itu mengejutkan keduanya diakibatkan tiba-tiba hadir dan memotong pembicaraan.
“Dazai! Apa yang kau lakukan?” tanya [Name] panik.
“Harusnya aku yang bertanya!” protes Dazai. Dia menciumi tangannya yang terkena siraman kopi juga. “Bau kopi!”
“Beruntungnya aku menyirammu dengan kopi, bukan campuran sianida,” tutur [Name]. Dazai langsung melotot padanya, dan [Name] hanya mengalihkan pandangannya. “Maaf, aku 'gak sengaja. Itu refleks alami.”
“Alami dari mana! Ranpo-kun yang sering mengejutkanmu saja tak pernah disiram!” gerutu Dazai.
“Habisnya, kau itu mengagetkanku banget,” ucap [Name]. ”Kalau misal ketahuan, ‘kan, itu merepotkan. Nanti, bisa jadi salah paham untukmu.”
“[Name]-chan benar-benar jahat,” rengek Dazai. “Hime-chan, jangan pernah dekat-dekat dengan [Name]-chan. Nanti disiram kopi.”
“Sayangnya aku ini tak pernah kasar dengan perempuan,” celetuk [Name].
“Jadi dengan laki-laki kau kasar, 'gitu?”
“Ya. Tetapi hanya berlaku untukmu.”
“Benar-benar deh!!”
.✮。• *₊°。 ☆°。
TRAGEDI [NAME] menyiram Dazai dengan kopi beberapa hari lalu sampai di telinga anggota agensi lainnya. Bukannya protes, mereka malah menertawakan Dazai yang bisa-bisanya disiram kopi. Tidak terbayangkan kalau Dazai disiram cairan lain.
[Name] sendiri sebenarnya sedikit panik. Takut pria itu marah dengannya. Buktinya, [Name] tak bertatap muka selama tiga hari dengan Dazai. Laki-laki itu sibuk mondar-mandir bersama Ranpo entah kemana.
[Name] mengacak-acak rambutnya. Lantas dia membuang nafas kasar. “Benar-benar, deh. Aku jadi takut dia menjauh. Padahal aku belum mendengarnya mengatakan perasaannya padaku,” gumam [Name].
Perempuan itu melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerja agensi. Namun saat melewati dapur, dia melihat Ranpo dan Dazai yang tengah berbicara. Langsung saja dia menyembunyikan badannya agak jauh dari dapur.
“Kemampuan Khusus: Manipulasi Informasi – Pendengaran untuk Segalanya!”
“Benar-benar, deh, Ranpo-kun. Aku bingung karena tingkahnya yang semakin kesini semakin mencurigakan. Aku jadi 'gak tahan buat menyatakan perasaanku.”
“Segitu sukanya kau sama dia? Yah, dia memang cantik, sih.”
“Hei, Ranpo-kun. Kau menyukainya?”
“Hentikan omong kosong dan tatapan tajam itu. Aku 'gak suka sama dia. Aku suka orang lain di sini.”
“Kalau 'gitu, bagus! Nah, bagaimana menurutmu kalau aku memberikan coklat di hari valentine nanti? Kira-kira dia akan menerimaku atau tidak?”
“20 : 100. Jangan terlalu cepat menyatakannya. Kau harus terus mengakrabkan diri sama dia. Kalian itu cocok tahu, Cuma kurang interaksi saja.”
“Terus? Aku 'gak mau dia direbut orang lain~”
“Bagaimana kalau saat White Day? Itu ide yang cukup bagus, lho!”
“Ah! Benar juga! Kalau 'gitu, aku minta tolong dia buat bikin coklat bareng aja. Gimana menurutmu?”
“Terus? Coklatnya buat apa nanti?”
“Ada, deh!”
[Name] terdiam saat selesai mendengarkan pembicaraan Dazai dan Ranpo. Gadis itu berpikir keras akan sesuatu.
Dazai membuat coklat?
Menyatakan perasaan?
Untuk siapa?
“Masa iya ... itu untukku?” gumam [Name]. Lantas dia menggeleng keras. “Hah! Lupakan saja. Aku harus fokus dahulu hari ini.”
“Tapi bisa jadi, ‘kan?” lanjutnya lirih. Ia berharap jika perasaannya tak bertepuk sebelah tangan.
Ya ... mungkin hal itu yang dipikirkan gadis itu sebelum hari-harinya menjelang White Day.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top