Satisfied
Written by Putrie-W
Elara's
Kupikir bisa melepaskan diri barang sejenak dari Rigel, karena akan pergi ke tukang jahit. Tapi sayangnya, takdir seperti mengutuk agar aku terus bersama laki-laki batu itu.
Vivian mengatakan tak bisa menemani, sebab harus makan siang dengan keluarga calon suaminya. Dan parahnya, Rigel mendengar percakapanku. Jadi, dia memaksa untuk ikut. Catat, dia yang memaksa, bukan aku yang ingin ditemani!
Baiklah, aku membiarkannya sekali lagi untuk memaksakan kehendak. Ya, memang kapan aku bisa membantah ucapannya? Hanya saja, kukira dia akan bersikap selaiknya laki-laki biasa yang sedang mengantar teman ke tukang jahit. Tapi saat Rigel membantah tebakan si penjahit yang mengatakan dia suamiku, aku seperti ditendang ke lembah curam.
Dia sama sekali tak mengerti, bahwa aku sangat paham apa status kami. Dan penegasan yang Rigel lakukan dengan mengatakan dia bos-ku adalah hal menyebalkan. Seakan dia ingin memamerkan sebagai atasan baik hati yang sedang mengantarkan bawahannya ke suatu tempat di hari Minggu.
Kuhela napas berat. Tidak ada minat untuk berbicara dengan Rigel sepanjang menuju apartemen. Karena aku sadar, percuma. Dia tak akan pernah mengerti apa yang aku rasa. Ya, dia tak akan pernah memahamiku.
🌺🌺🌺
Di sinilah aku. Duduk sendiri di dapur sambil mengunyah apel. Membiarkan Rigel dan perempuan yang mendesah di kamarnya waktu itu berduaan. Aku masih bisa sedikit mendengar yang mereka bicarakan. Termasuk saat Rigel mengatakan Riana tidak seksi.
Hei, tidak seksi katanya? Tapi dia masih juga meniduri Riana malam itu. Ckck! Dasar buaya!
Aku tidak mengerti tujuan sebenarnya Riana datang ke sini, karena suaranya semakin kecil. Ingin berkencan lagi dengan Rigel, mungkin. Sampai akhirnya kudengar bentakan dari Rigel.
“Anda tidak bisa mengancamku, Nona!”
Untuk beberapa saat aku diam, tapi akhirnya memutuskan melihat keadaan Rigel. Oh, ayolah, aku tak sekejam itu untuk mengabaikannya. Karena dia jelas-jelas terdengar sedang marah.
“Anda baik-baik saja, Pak?” tanyaku setelah berdiri di ruang tamu.
Rigel mengalihkan perhatiannya dari Riana untuk menatapku. Tapi fokusnya kembali pada perempuan itu saat Rigel mengetahui yang sedang dihubungi Riana adalah seorang wartawan gosip.
Brak!
Tanpa kuduga, Rigel membanting ponsel Riana, hingga hancur. Aku terkesiap dengan mata membulat. Bisa kulihat laki-laki itu dilanda emosi luar biasa.
“Kamu butuh berapa?!” Rigel bertanya pada Riana.
Ah, sekarang aku mengerti tujuan wanita itu kemari.
“Lima ratus juta ...," jawab Riana sambil melirik ponsel yang berkeping di lantai, "diluar sebelas juta, harga ponsel saya. Deal?" Lalu salah satu matanya kembali mengerling manja.
Tangan Rigel terkepal kuat. Rahangnya mengeras dengan dada yang naik-turun. Napasnya memburu. Apa yang membuatnya kesal? Karena harus membayar lima ratus juta untuk semalam? Entah. Tapi yang aku yakini Rigel memang tidak suka dengan keadaan sekarang.
“Brengsek!” maki Rigel. Yang dimaki hanya tertawa kecil. Kurasa dia merasa senang karena berpikir sudah menang.
Rigel menatapku yang masih mematung, lalu berjalan. Tapi tangannya kucekal saat melewatiku.
“Mau ke mana, Pak?” tanyaku dengan senyuman.
“Aku harus membereskan jalang ini, El! Dia pikir siapa dirinya bisa mengancamku?!” Dia menjawab dengan menggebu-gebu sambil melirik Riana yang terlihat semringah.
Yang ada di pikiranku, Rigel akan mengambil cek atau menyuruh asisten pribadinya untuk mengurusi transfer kepada Riana. Ah, Rigel pasti tidak sebodoh itu memberikan uang begitu saja. Atau bisa juga dia ingin menyuruh seseorang untuk menghabisi Riana. Rigel kan memang kejam.
“Tunggu dulu,” kataku sembari melepas tangan Rigel, “saya tahu cara menyelesaikan masalah Bapak. Percaya sama saya, Pak.” Lalu aku berjalan menuju Riana. Terdengar Rigel mendengkus, tapi dia tak protes.
Aku memindai Riana dari atas sampai bawah. Benar yang Rigel katakan, dia tidak seksi. Hanya bermodalkan pakaian kekurangan bahan saja sudah berani mengancam seorang Rigel Devara. Jika aku jadi laki-laki pun tak akan tergoda melihat dadanya yang sengaja terus dibusungkan.
“Kamu mau apa?” tanya Riana. Matanya menyipit ke arahku. Tangannya kemudian bersedekap.
“Anda ingin memeras Pak Rigel, Nona?” tanyaku balik.
Kami berhadapan, berjarak sekitar tiga langkah saja. Sehingga, saat dia menghela napas berat, aku masih bisa mendengarnya.
“Riana tidak mengancam, tapi Pak Rigel yang sukses ini pasti tidak ingin namanya hancur.”
Tiba-tiba aku merasa jijik saat dia menjawab dengan nada yang dibuat lemah. Lalu mata itu juga mengerling manja lurus ke arahku. Aku sedikit memutar kepala. Ternyata Rigel berdiri di belakangku.
“Tapi ... lima ratus juta itu terlalu mahal untuk barang bekas, Nona.” Sontak saja Riana mendelik, tapi belum sempat dia menjawab, aku kembali bicara. “Dan, bukankah Anda dengan sukarela menyerahkan diri pada Pak Rigel? Aku mendengarmu mendesah, yang mana artinya kamu juga menikmati.”
Riana mengentakkan kakinya. Kesal, pasti itu yang dia rasa. Lantas, tangannya yang tadi bersedekap, kini berada di pinggang. Dia memandang penuh angkuh.
“Tetap saja dia harus memberiku uang. Kalau tidak—”
“Kalau tidak, Anda akan menyebarkan berita itu, Nona?” Aku memotong ucapannya. “Sebarkan saja, aku ingin lihat.”
“El!”
Aku membalik tubuh saat Rigel memanggil. Dia terlihat sangat marah.
“Percaya, Pak,” kataku pelan.
Dan dia sekarang tampak melemah. Tangannya tidak lagi terkepal. Rigel memandangku, seraya mengangguk.
Aku tak mengerti ada apa dengan hati ini. Saat aku punya kesempatan untuk melihat Rigel menderita, tapi nurani seakan menolak. Ada yang menggerakkan pikiranku untuk membantunya.
“Oke, aku percaya.”
Seperti ada sesuatu yang menyentak dada saat Rigel mengatakan itu. Dan melihatnya tersenyum seperti ada sebuah aliran tenaga yang masuk ke diriku. Apa aku mulai tak waras?
“Setelah keluar dari sini, aku akan langsung menyebarkan kejadian malam itu,” ancam Riana yang kini berdiri di dekatku.
Aku tertawa kecil. Alis Riana hampir menyatu, tampaknya dia tak suka.
“Kamu akan menyebarkan bahwa Rigel Devara menghabiskan satu malam denganmu? Lalu, kamu berpikir nama Rigel akan hancur?” Riana mengangguk, mengiyakan pertanyaanku. “Dan bagaimana dengan namamu, Nona?”
Seperti dugaan, dia mematung. Kuambil langkah untuk lebih dekat dengannya. Mencondongkan tubuh dan berbisik di telinganya.
“Perusahaan Rigel Devara tak akan langsung hancur hanya karena satu pemberitaan bodoh tanpa bukti seperti itu. Tapi jangan lupa, namamu akan ikut terseret, Nona. Karirmu semakin meredup, bisa kehilangan pekerjaan, kelaparan, lalu ....”
Aku menarik diri. Kemudian, membuat sayatan di leher menggunakan telunjuk, sembari memejamkan mata dengan lidah terjulur.
Kudengar Rigel tertawa keras, sedangkan Riana mengumpat.
Mataku terbuka dan menemukan perempuan berambut cokelat itu meremas kuat tasnya.
“Bagaimana? Masih mau menyebarkan? Lakukanlah kalau kamu memang ingin mati.”
Dia berdecak dan sekali lagi kakinya mengentak kesal.
“Setidaknya ponselku harus mendapat ganti rugi!” tegasnya, melirik Rigel.
Aku berjalan untuk memunguti benda yang berserakan itu. Segera kembali setelah semua bagian yang hancur bisa kuambil.
“Ini sebelas juta?” tanyaku sembari meraih telapak tangan Riana. Kuletakkan ponsel hancurnya di sana. “Pintarlah sedikit, Nona. Ponsel bukan properti yang semakin hari harganya akan naik. Dan ini harga terbarunya sebelas juta satu tahun yang lalu. Jadi, jika kamu meminta ganti rugi, paling mahal kamu hanya mendapatkan separuh harga saja. Dan ini adalah akibat karena tindakanmu yang konyol itu.”
Beberapa detik, kami masih dilanda keheningan. Riana diam, tampak berpikir. Sementara, Rigel tersenyum puas ke arahku.
Aku, Elara Calista, berbicara tegas dan menantang seorang perempuan hanya demi Rigel Devara? Ini jelas masalah mereka dan seharusnya aku tidak ikut campur. Tapi entah mengapa, aku tak bisa menahan diri untuk diam. Mendengar Rigel memberikan kepercayaan padaku, bagai sebuah hal yang harus dijaga, sampai masalahnya berakhir. Mungkin karena aku bukan dirinya yang kejam.
“Napasmu sudah habis dari tadi jika Elara tidak mencegahku, Riana. Kamu tahu malam itu ketidaksengajaan dan kamu memanfaatkanku!” Rigel mengenyakkan tubuhnya pada sofa. Memandangi aku dan Riana bergantian.
Jadi benar yang aku pikirkan bahwa Rigel hendak membunuh Riana? Dia ... sesadis itu atau hanya ancaman saja? Tapi dia bilang kejadian itu ketidaksengajaan. Bagaimana bisa? Kukira mereka melakukannya atas dasar sama-sama suka.
“Pak ....” Riana memanggil lemah. Tiba-tiba dia berlutut di bawah Rigel. Tangannya bergerak-gerak manja di paha laki-laki itu.
Ah, pasti akan terjadi drama lagi. Kuhela napas berat. Sepertinya peranku sudah cukup.
Aku akan berbalik badan menuju kamar. Menatap sebentar Riana yang sedang memohon-mohon agar Rigel memberi ganti rugi untuknya.
“El, berapa yang harus aku berikan untuknya?”
Langkahku terhenti. Tidak menyangka Rigel meminta pendapatku. Ya, tentu saja dia akan melakukan atas kepentingannya, bukan karena menganggapku berharga untuk dimintai saran.
“Paling banyak enam juta, Pak.” Aku menjawab tanpa melihatnya.
“Riana, aku bertanggung jawab pada ponselmu yang hancur dan kamu akan mendapatkan enam juta sebagai ganti rugi.”
Setelah itu, aku meninggalkan mereka. Menutup pintu kamar secara buru-buru. Lalu, mengempaskan tubuh di ranjang sambil menatap langit-langit. Kepalaku terdesak oleh pertanyaan, kenapa aku tadi memegang tangan Rigel dan membantunya.
🌺🌺🌺
Entah sekarang sudah jam berapa. Aku tanpa sadar tertidur saat lelah memikirkan jawaban atas pertanyaan sendiri.
Berkali-kali aku mengerjap untuk memfokuskan penglihatan. Pelan, aku turun dari ranjang, sembari menguap. Melirik jam beker yang berada di nakas. Ternyata sudah jam tujuh malam. Rigel pasti akan mengomel, karena makanan belum tersedia. Huft!
Kuputar kenop. Memperhatikan ruang tamu yang sepi dari ambang pintu. Tapi keheningan terpecahkan karena tiba-tiba dari arah dapur terdengar dentingan sesuatu.
Aku melangkah, tanpa memedulikan wajah lecek. Hanya membenarkan ikatan rambut. Lagipula, Rigel tak akan mengomentari penampilanku, 'kan?
Mataku membulat saat melihat Rigel menata banyak makanan di piring. Dahiku juga mengerut. Mustahil dia menyediakanku makanan.
“Pak,” sapaku dengan langkah yang terus mendekat.
Wajahnya terangkat sebentar, sebelum akhirnya kembali menyelesaikan aktivitas.
“Maaf saya baru bangun. Bapak beli makanan di luar, ya?”
“Iya,” jawabnya singkat. Kemudian menarik kursi dan duduk. “Kamu juga duduk,” katanya.
“Saya belum cuci muka, Pak.”
“Duduk!”
Dan aku menurutinya. Kami terhalangi oleh satu kursi. Rigel menatapku dengan dagu yang bertumpu pada ibu jari dan telunjuknya. Tajam tatapannya membuatku mengalihkan pandangan.
Memilih untuk bangkit, hendak mengambil air es. Tapi, sebuah sentuhan terasa di pergelanganku. Jadi, mau tak mau aku menoleh ke belakang. Dan seketika Rigel melepaskan tangannya dariku.
“Makasih,” ucapnya singkat.
Aku tertawa.
Hei, aku tak perlu ucapan terima kasih darimu. Karena aku tahu, kamu tak akan serius untuk mengatakannya.
“Sebenarnya kamu enggak perlu bantu aku tadi. Aku bisa selesaiin sendiri.”
Lagi, aku tertawa. Nadanya yang datar terdengar menyebalkan. Dan itu memang ciri khas Rigel.
“Sama-sama, Pak.”
Bibirku tertarik lebar dan dia malah tampak tidak suka. Kembali aku hendak mengambil langkah.
“Kenapa, El?”
“Apa?” tanyaku balik. Menatapnya sebentar, lalu tetap bergerak untuk mengambil air dari lemari es.
“Kenapa kamu bantu aku?”
Gerakan tanganku terhenti sejenak. Kupandangi Rigel yang sedang bersedekap.
Aku juga sejak sore mencari jawaban itu. Ingin menemukan alasan yang tepat atas tindakan tadi. Tapi, hingga bulan telah menampakkan diri dengan cahaya pucatnya, tetap saja aku tak tahu.
“Kenapa, El?”
Rigel kembali bertanya. Kali ini dia pun mendekatiku. Cepat-cepat kutuang air dalam botol ke gelas dan menutup pintu kulkas. Tapi usahaku terlambat. Rigel sudah di sini. Kami berjarak satu jengkal saja.
“Bapak berdirinya jauhan dikit, dong!” protesku.
“Kenapa, El? Kamu belum jawab pertanyaanku tadi.”
Dan dia semakin maju, sehingga aku harus mengambil langkah mundur. Sayangnya, kini aku sudah menempel pada kulkas. Kedua tangan Rigel lalu diletakkan di sisi lenganku.
“Bapak mau ngapain?” Bukannya menjawab, tapi dia malah memajukan wajah.
Kugigit bibir bawah kuat-kuat. Khawatir jika Rigel berbuat yang tidak-tidak. Napas mulai tak beraturan saat dia mengembuskan napas di sekitar leher ini. Mataku terpejam erat saat dia memberi kecupan lembut.
Demi apa pun. Aku tidak tahu kenapa ada rasa aneh saat bibirnya menyentuh kulitku.
“Aku butuh jawabanmu, El,” bisiknya, sambil memainkan rambutku.
“Sa-saya cuma mau bantu, Pak. Bapak mundur lagi, dong. Sesak saya!”
Tentu saja itu kenyataan. Dadaku memang sesak saat berdekatan dengannya.
“Kamu cemburu?”
Aku cemburu? Mana mungkin!
“Untuk apa saya cemburu? Dengar, Pak Rigel. Saya membantu Bapak hanya karena tidak rela harga saya disamakan dengan dia. Anda tahu benar bahwa saat lima ratus juta Anda menjadi milik saya, Anda mendapatkan barang baru. Belum pernah ada yang menyentuhnya, Pak.”
Rigel menggeram. Tubuhnya kembali tegak. Aura tak senang terpancar jelas dari dirinya.
“Jadi karena itu?” tanyanya.
“Tentu saja, memang apa lagi?”
“Aku kira karena kamu ....”
Kalimat Rigel terjeda dan dia meraih daguku sekarang. Mengusap-usap pelan bibirku dengan ibu jarinya. Jantung tiba-tiba berdetak lebih cepat. Gelas yang masih di tangan, kugenggam erat.
Saat wajah Rigel maju dan bibir kami hanya berjarak dengan ibu jarinya saja, terdengar bel dari pintu depan. Aku menghela napas lega. Ada penyelamat yang datang rupanya.
“Sial!”
Rigel mengumpat saat bel itu terus berbunyi tanpa jeda. Dia melepas daguku dan berjalan tergesa-gesa.
Kutelan ludah dengan berat sambil memegangi dada. Ini kenapa? Rasanya aneh sekali hatiku. Bahkan wajah terasa panas.
Beberapa menit, Rigel tak juga kembali. Kususul dia dan mendapatinya tengah berhadapan dengan seorang wanita cantik bertubuh proporsional.
“Pak?” Aku memanggil. “Siapa yang datang?” tanyaku, sembari tersenyum pada wanita itu.
“Dia ... mamaku.”
🌺🌺🌺
Aku tidak tahu hubungan Rigel dan ibunya seburuk ini. Sejak tadi mereka berdebat. Terutama tentang perjodohan, bahkan keberadaanku seperti tak terlihat.
Bodo amat, deh. Makan saja terus.
“Mama sekarang tahu kenapa kamu menolak perempuan yang Mama pilihkan.”
“Sudah aku bilang, jangan urus kehidupanku!”
“Karena perempuan ini, 'kan?”
Siapa yang dimaksud? Aku?
“Bukan!” Aku dan Rigel menjawab bersamaan.
Wanita yang tadi mengenalkan diri dengan nama Cindy, tertawa. Mendadak aku jadi kikuk. Menatap Rigel, ya ... dia juga kelihatan bingung.
“Baiklah. Mama enggak akan urus kamu lagi. Ternyata Elara alasan kamu belum nikah. Mama tenang sekarang.”
“Aduh, Nyonya. Ini pasti ada salah paham. Saya hanya bawahan Pak Rigel.”
“Panggil aku Mama mulai dari sekarang, El. Oh, ya, maksudmu bawahan yang tinggal se-apartemen, El?”
Aku membatu. Kenapa kesialan terus datang semenjak mengenal Rigel? Salah paham ini sepertinya sulit untuk diatasi. Argh!
“Makanan sudah habis. Silakan pergi,” kata Rigel datar.
“OMG, Honey. Mama kamu baru datang ke sini dan kamu usir? Mama susah payah dapat alamat apartemen kamu.”
Lantas Nyonya Cindy bangkit. Berjalan meninggalkan kami dengan gaya anggunnya. Sang anak langsung menyusul. Terdengar Rigel mendengkus kesal.
Ugh! Too much drama!
“Oh, Baby! Ada apa ini? Kalian pisah kamar?!”
Pantas saja Rigel kesal pada ibunya. Ternyata memang dia perusuh. Kurasa dia melakukan sesuatu di kamarku. Seballl!
“Mamaaa! Berhenti!”
Entah apa yang sedang mereka ributkan sekarang. Aku memilih untuk membereskan meja saja, menahan sejenak jiwa ke-kepo-an.
“Menantuku, kemarilah!”
Ini semua gara-gara Rigel! Ibunya terus saja salah paham dan bagaimana caraku untuk mengatasi ini?
Aku mengeringkan tangan setelah selesai mencuci. Lalu berjalan menuju ruang tamu. Betapa kagetnya aku saat Nyonya Cindy berdiri di depan kamarku dengan gaun tidur di tangannya.
Itu milikku! Apa yang mau dia lakukan?
Kulihat Rigel mengacak-acak rambutnya. Dia sedang duduk di sofa.
“El, apa Rigel berbuat jahat padamu, hingga kamu pisah kamar?”
“Eh?” Tolong, aku bingung harus bagaimana! “Nyonya salah paham, kami memang tidur terpisah.”
“Bagaimana aku mendapatkan cucu kalau kalian tidur terpisah begini?”
Oh, astaga! Aku ingin kabur dari sini.
“Mama! Udahlah. Jangan bikin ribut di sini!” Rigel benar-benar tampak kesal.
“Mulai malam ini, kalian tidur berdua. Mama akan tidur di kamar ini.” Dia menggoyangkan kunci di tangannya. Lalu melempar gaun tidurku. Refleks aku menangkap dan ... dapat! “Besok kita bicara lagi, Rigel. Sekarang waktunya tidur.”
“Aku memang akan tidur. Mama pakai kamar itu aja enggak masalah. Elara biar tidur di sofa.”
Baiklah, tidak masalah tidur di sofa, asal keadaan damai.
Laki-laki berkaus hitam itu melangkah menuju kamarnya. Tapi sedetik kemudian, Nyonya Cindy menarikku dan mendorong ke dalam kamar Rigel. Aku menabrak Rigel dan sontak saja dia menggeram kesal. Tapi bukan itu yang kami perhatikan sekarang. Karena ... pintu kamar terdengar dikunci dari luar.
“Iblis brengsek!” umpat Rigel.
🌺🌺🌺
Detik jarum jam menemani keheningan kamar. Jantungku terus saja berdetak cepat sejak tadi. Tak pernah membayangkan akan seranjang dengan Rigel.
Napasku terhela berat. Pandangan mengarah pada langit-langit kamar, sesekali pada Rigel yang sedang tertidur. Ya, setelah perdebatan panjang, kami tak punya pilihan selain tidur berdua di sini. Kami sepakat tidak ada adegan mesum dan di tengah-tengah harus ada bantal yang memisahkan.
Aku tak mengerti kenapa bisa jadi seperti ini. Terlalu rumit untuk hubunganku dengan Rigel yang bukan apa-apa.
“Aww!”
Aku meringis ketika tangan Rigel menimpa perutku. Tubuhnya miring dan menempel di bantal pembatas. Dengkuran halusnya masih terdengar.
Pelan-pelan aku memindahkan tangannya. Tapi beberapa detik kemudian, dia kembali menimpa perutku. Aku berdecak kesal. Dipikir tidak sakit, apa?
Lalu aku menghilangkan bantal pemisah kami. Tersenyum licik saat aku duduk dan menyingkap selimut Rigel. Kemudian, aku gulingkan tubuhnya.
Bugh!
“Aduhh!”
Buru-buru aku berbaring dan memejamkan mata. Menutup seluruh tubuh dengan selimut. Dan aku tengah mati-matian menahan tawa agar tak pecah. Rasanya puas. Puas! Puas!
To be continued.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top