IRIS
By. Annelysme
Right, hidup di zaman sekarang susahnya minta ampun. Sudah cari pekerjaan susah, kejahatan merajalela, bahkan walaupun sudah dapat pekerjaan masih banyak bos yang semena-mena.
Iris menghela napas lelah. Sudah empat kali dalam satu tahun ini dirinya dipecat. Alasannya sama, yaitu karena mereka tidak memiliki uang tambahan untuk mempekerjakannya.
Kondisi ekonomi saat ini memang gawat darurat. Sehingga banyak sekali perusahaan yang melakukan PHK, termasuk perusahaan tempat Iris bekerja.
Mau bagaimana lagi, kalau ini sudah takdirnya. Merengek minta diterima kembali bukanlah gayanya. Apalagi demo seminggu penuh, benar-benar tidak ada gunanya. Lebih diterima saja seikhlas-ikhlasnya. Kalau sudah rezekinya, nanti dia akan mendapatkan pekerjaan dan bertahan lama.
“Ris. Gue dengar-dengar lo di-PHK lagi, ya?”
Iris mengangguk sambil menatap kosong jalan raya di depannya. “Iya. Emangnya kenapa? Lo mau kasih gue kerjaan?”
“Bukan gue, sih, tapi ada teman gue yang butuh karyawan. Lo mau?”
Wanita itu memindahkan ponsel yang dipakainya dari telinga kiri ke telinga kanan. “Pekerjaannya apa dulu?” tanyanya memastikan. Ia tidak ingin bergabung dengan perusahaan yang tidak jelas atau bisa jadi pekerjaan itu ilegal.
“Gue enggak tahu. Coba tanya dulu. Nanti gue kasih kontaknya. Gimana mau? Untung-untung buat nambah penghasilan.”
Iris menimbang-nimbang, “Boleh. Langsung kirim aja. Gue mau langsung konfirmasi sama orangnya. Lagi butuh banget pekerjaan soalnya. Thanks, ya, Dar.”
“Sip! Gue matiin teleponnya dulu.”
Suara panggilan terputus menjadi akhir perbincangannya dengan Dara.
Wanita itu duduk di kursi halte sambil membuka ponselnya. Ada pesan dari Dara tak lama kemudian. Dara mengirimkan foto sebuah kartu nama, di dalamnya terdapat nama orang itu, perusahaan, nomor telepon, dan juga alamatnya.
Iris menuliskan nomor telepon itu dan meneleponnya kemudian. Apesnya, sebelum sempat panggilan terjawab... ada seseorang yang mengambil ponselnya.
Decakan sebal ia keluarkan. Ia segera bangkit dari duduknya, dan mengejar pencuri yang merampas ponselnya.
“Ah, sial,” decaknya sambil berlari sekencang mungkin. “Berhenti!!” teriaknya.
Orang yang mengambil ponselnya melesat secepat kilat, sehingga dirinya cukup kesusahan mengimbangi. Namun, Iris tidak menyerah. Ponsel merupakan benda paling berharga di hidupnya. Tanpa ponsel, ia tidak bisa menjalani kehidupan di era modern ini
Entah kenapa... tidak ada orang yang sudi membantunya. Apa ini karena di jalan raya? Atau karena orang-orang malas membantu orang asing yang bukan siapa-siapanya?
Tak mau peduli. Iris tetap berlari. Mau dibantu atau tidak itu bukan prioritas. Yang terpenting, ponsel itu harus kembali di tangannya.
“Hey! Pencuri! Kembalikan handphone saya!” teriaknya lagi, berharap teriakannya di dengar. “Di depan sana ada kantor polisi, apa Anda tidak takut?!!”
Pencuri itu menoleh padanya, dengan tetap berlari tentunya. Entah benaran jago atau mantan atlet lari. Dia tidak menabrak walaupun berlari tanpa melihat ke depan.
Sayangnya, Iris tidak melihat dengan jelas bagaimana rupa orang itu. Dia memakai masker dan topi untuk penyamarannya. Profesional juga pencurinya, tapi kenapa harus ponselnya?
Kalau tidak ditimpuk, pencuri itu tidak mau berhenti. Iris yakin sepenuh hati. Ia harus mencari sesuatu untuk menghentikan pencuri itu.
Tasnya.
Iris melepas tas ranselnya. Sambil berlari, ia mengambil ancang-ancang untuk melempar tasnya.
Satu.
Dua.
Tiga.
Hap!
Tasnya melayang di udara.
Brak!!
Syukurlah, tas itu tepat mengenai pencurinya.
Iris segera berlari melihat kesempatan emas ini. Langsung saja ia menarik hoodie hitam yang digunakan pelaku. Tanpa basa-basi ia memelintir tangan orang itu.
“Kembalikan handphone saya?!” perintahnya. Sambil menahan tangan laki-laki itu.
Anehnya, si Pencuri pasrah begitu saja. Seakan-akan ikhlas kalau berakhir masuk penjara. Namun, Iris tidak boleh lengah. Siapa tahu itu adalah salah satu trik melarikan diri.
“Ada di saku saya.”
Dari suaranya terdengar maskulin. Fix, pelakunya laki-laki. Iris langsung menggeledah saku laki-laki itu. Bukan hanya satu, ia menemukan tiga buah ponsel di sana. Wah, benar-benar. Sehari sudah mencuri tiga ponsel. Benar-benar luar biasa. Apa tidak ada pekerjaan halal lainnya selain mencuri?
“Daripada mencuri, lebih baik cari pekerjaan lain saja,” omelnya. “Mencuri tidak mendatangkan berkah. Lebih baik pengangguran, dan hidup miskin daripada mencuri milik orang lain.”
Iris melepaskan lengan laki-laki itu setelah mendapatkan kembali ponselnya. Wanita itu juga mengambil kedua ponsel agar bisa ia kembalikan ke yang punya.
“Cari pekerjaan susah. Daripada bersusah payah, lebih baik saya melakukan hal yang instan dan mendatangkan banyak uang. Mencuri contohnya.” Dengan sombongnya pencuri itu membalas ceramahnya.
Iris memutar bola matanya. Ah, dasar. Salahnya sendiri, pencuri diceramahi. Tidak ada gunanya tahu. “Ya sudah. Terserah Anda saja, tapi saya harap Anda segera bertobat.”
Wanita itu hendak berbalik, tapi suara laki-laki menghentikannya.
“Apa enaknya mencari pekerjaan yang halal kalau harus menderita?”
Ia terdiam. Perkataan itu memang ada benarnya, tapi lebih banyak salahnya. Selama ini dirinya mencari pekerjaan yang halal dan sah, tapi itu semua tidak mudah. Perlakuan kasar, tidak adil, dan juga senioritas selama ini membuatnya sengsara. Namun, Iris menahan itu semua. Ia hanya ingin bekerja dan mendapatkan uang untuk menghidupi adik-adiknya. Walaupun menderita, ia tidak apa-apa. Asalkan adik-adiknya bisa makan dan hidup dengan nyaman.
“Anda salah. Walaupun menderita itu lebih baik. Selain itu, ada banyak manfaatnya jika kita mencari uang dengan halal. Ada juga kepuasan tersendiri saat kita berhasil mendapatkan uang dari kerja keras kita,” balasnya. Iris mati-matian menahan air matanya. “Saya yakin Anda tidak pernah merasakan itu semua.”
Iris melangkahkan kakinya. Berniat menjauhi laki-laki yang telah mengusik hatinya. Ia cukup sensitif dan sangat cengeng. Dirinya tak ingin ada orang asing yang melihatnya menangis. Benar-benar tidak keren. Iris ingin terlihat tegar dan baik-baik saja di hadapan semua orang. Dengan begitu, tidak akan ada yang berani meremehkannya. Ya, walaupun kenyataan tidak seindah harapan.
“Anda salah. Saya juga pernah merasakan itu semua.” Laki-laki itu kembali berbicara. “Bekerja keras sepanjang hidup saja. Lembur setiap hari, hanya makan sehari sekali, mengerjakan tugas orang lain, dihina, dicaci, direndahkan, bahkan di-bully. Saya pernah merasakan itu semua. Merasakan kepuasan saat mendapatkan uang hasil jerih payah saya. Hanya saja saya tidak bodoh seperti Anda yang terus bertahan padahal masih banyak jalan.”
Pertahanan Iris runtuh. Wanita itu menutup mulutnya, meredam tangisnya. Kenapa laki-laki itu seolah-olah tahu bagaimana hidupnya? Memang benar, itu semua dialaminya selama bekerja, tapi kenapa percis sekali? Padahal Iris yakin, banyak pekerja yang hidup dengan nyaman. Tidak selalu sengsara sepertinya.
Tidak bisa dipungkiri... selama ini ia diperlakukan tidak adil. Hanya karena dirinya miskin, yatim piatu, dan memiliki latar belakang pendidikan yang tidak sebagus rekannya, ia sering dihina, dimanfaatkan, diperlakukan tidak adil, bahkan satu pun rekan kerjanya tidak ada yang membelanya. Paling parah mereka membicarakannya di belakang. Mengatakan sesuatu yang buruk dan bahkan sampai vulgar. Benar-benar tidak bisa dimaafkan. Iris tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka itu mayoritas dirinya pasti kalah telak jika melawan. Lebih baik ia diam, tapi diamnya malah membuat mereka semakin semena-mena. Padahal mereka sudah dewasa, bahkan ada yang lebih dewasa darinya. Namun, kelakuan mereka tidak mencerminkan usia mereka sesungguhnya.
Mengingat itu semua membuat air mata yang disimpannya meleleh dengan begitu derasnya. Iris mengusap air matanya. Berlari menjauh. Ia masih ingat ini di jalan raya. Bahaya kalau ada orang yang melihatnya menangis. Apalagi kalau sampai ada yang memotretnya.
Saat sampai di toilet umum... Iris mencuci mukanya yang penuh air mata. Ia mencoba menghentikan tangisnya yang mulai parah. Dirinya lebih sensitif dari biasanya. Mungkin karena hormon wanita. Tangisnya bahkan tidak mau berhenti. Astaga! Bagaimana Iris bisa berhenti menangis kalau begini?
Ponselnya tiba-tiba bergetar. Air mengambilnya. Wanita itu berdeham berulang kali sebelum menjawabnya.
“Halo,” ujarnya bergetar.
“Ini gue, Ris. Lo ada di mana? Teman yang gue maksud nyariin lo. Katanya mau melamar, tapi ditunggu kok enggak ada responsnya?”
Ah, ternyata Dara.
“Maaf. Tadi ada insiden kecil, tapi jadi kok melamar pekerjaannya.” Iris terdiam sejenak. “Apa bisa langsung bertemu dengan teman lo itu?”
“Bisa banget! Kebetulan dia mau ketemu lo.”
“Oh, oke. Kapan dan di mana?”
Walaupun sedang bersedih, Iris harus tetap bangkit. Ingat ada Maya dan Arya di rumah yang bertumpu padanya.
“Bentar gue tanya dulu. Eh, atau lo chat langsung aja, ya? Nomornya ada di kartu nama.”
“Ya udah. Gue chat langsung aja. Makasih, Dara.”
“Sama-sama.”
Setelah itu, Iris mematikan sambungan teleponnya.
Ia mengetik ulang nomor telepon yang belum sempat ia simpan. Setelah itu, Iris menamainya sesuai dengan kartu nama yang diterimanya.
Iris : Selamat siang, apa ini dengan Bapak Ardata Pratama? Saya Iris Alessandra berniat mengajukan lamaran pekerjaan.
Iris : Tadi saya sudah berbicara dengan teman saya. Apa benar Bapak ingin bertemu dengan saya? Kalau benar, itu kapan dan di mana, ya, Pak?
Iris : Terima kasih.
Tak lama kemudian Pak Ardata langsung mengetik. Cepat sekali, seolah-olah menunggunya. Padahal sudah dipastikan seorang CEO pasti sibuk.
Pak Ardata Pratama : Benar ini dengan saya.
Pak Ardata Pratama : Bagaimana kalau siang ini? Di Kafe Matahari? Kebetulan saya senggang.
Iris : Boleh, Pak.
Pak Ardata Pratama : Oke. Nanti saya kabari lagi.
Iris : Iya, Pak. Terima kasih.
Setelah itu percakapan mereka berakhir.
Iris menghela napas lega. Ia tersenyum menatap pantulan wajahnya yang berantakan. Ia bahagia karena sepertinya bosnya yang satu ini adalah orang yang berbeda dengan bos-bos yang sebelumnya.
Ternyata kebahagiaan itu akan datang jika sudah pada waktunya.
Terima kasih banyak, Tuhan. Karena engkau telah menciptakan banyak rintangan dan kenikmatan untukku.
•••
Siangnya Iris sudah stand by di Kafe Matahari, tapi ia tidak melihat tanda-tanda kedatangan Ardata Pratama itu. Padahal ini sudah melebihi jam yang dijanjikan oleh pria itu.
Iris masih bisa memaklumi. Pasti Pak Ardata sibuk mengurusi pekerjaannya, dan kadang pekerjaan bisa datang walaupun dalam keadaan senggang.
Wanita itu menyesap es teh yang dipesannya. Es tehnya hampir habis. Pak Ardata tak muncul-muncul. Mengirim pesan sepertinya tidak sopan. Kalau itu ia lakukan akan mengesankan kalau dirinya tidak sabaran. Hal itu tidak boleh ditunjukkan pada bosnya. Haram hukumnya.
Karena bosan, Iris menonton televisi yang dipajang di depannya. Anehnya, bukannya memutar musik... mereka malah menyajikan tontonan berita.
“Breaking news. Ada seorang wanita yang diperkirakan berusia 20 tahunan sedang melakukan upaya bunuh diri di Gedung Gerhana. Wanita itu melakukan bunuh diri karena tidak kuat menjalani pekerjaan yang selama ini diduga membunuh mentalnya,” ujar Presenter berita. “Berikut laporan lengkapnya.”
Iris fokus menonton berita yang ada di depannya. Jarang sekali ada aksi bunuh diri yang ditayangkan secara langsung di acara TV.
“Selamat siang. Saya Andin Lastari dari IC News melaporkan laporan langsung dari kami. Seperti yang Anda lihat, di lantai teratas gedung terlihat seorang wanita yang hendak melakukan aksi bunuh diri. Wanita yang berinisial W itu, bekerja di Perusahaan AB. Dia mengaku bahwa selama ini diperlakukan tidak adil oleh rekan-rekan dan bosnya di perusahaan. Bahkan sampai ada yang melakukan pelecehan seksual padanya.”
Benar-benar bejat.
Seperti yang Anda lihat. W menolak turun walau telah dibujuk oleh banyak orang. Sekitar 20 menit W bertahan di sana sambil menyerukan keluh kesahnya.”
Walaupun perusahaan itu bejat, wartawan itu lebih jahat. Bagaimana bisa meliput orang yang ingin bunuh diri? Bukannya diberi bantuan malah disiarkan. Apa dengan disiarkan wanita itu mau menghentikan aksinya? Tidak, ‘kan? Malah dia akan semakin tertekan karena menjadi tontonan.
Iris merasa geregetan. Apalagi si Reporter dengan santainya menyampaikan beritanya, dan si Kamerawan sibuk menyorot wanita itu. Walaupun wajahnya diblur, tapi tetap saja itu melanggar privasi seseorang.
Ada apa dengan dunia saat? Ah, benar-benar sudah gila rupanya.
“Menjengkelkan, bukan?”
Iris tersentak saat tiba-tiba ada yang berbisik padanya. Senyuman seorang pria manis adalah yang pertama dilihatnya. Pria itu tepat berada di depan wajahnya dengan jarak yang bisa dihitung oleh kedua tangannya.
Wanita itu memundurkan kepalanya dan buang muka. Pipinya tiba-tiba panas. Ia berdeham sejenak untuk menghilangkan kegugupannya.
Pria yang datang itu duduk tepat di sebelahnya. “Meliput secara live upaya bunuh diri itu salah. Mereka tidak memikirkan bagaimana perasaan korban. Yang mereka pikirkan hanyalah rating naik dan berita yang mereka siarkan viral,” ujar pria itu tiba-tiba.
Iris mengamati pria di sebelahnya dengan diam. Sementara pria itu fokus melihat layar kaca di depannya. Apa pria di hadapannya ini adalah Ardata Pratama? Kalau dilihat-lihat, sepertinya iya.
“Ada keuntungan yang mereka dapat dari penderitaan orang lain.” Pria yang ia duga Ardata Pratama itu tiba-tiba menoleh padanya. “Menurut Anda, apa korban akan menghentikan aksinya jika disiarkan seperti itu?”
“Tidak.”
“Tepat sekali. Hal apa yang lebih baik kita lakukan?”
“Membujuknya atau menasihatinya, mungkin?”
“Bisa jadi.” Dia menatap kembali televisi. “Lebih tepatnya kita harus memberinya alasan untuk hidup.”
Kedua bola mata Iris membulat. “Memberi alasan untuk hidup? Maksudnya?” tanyanya bingung.
Pria itu tersenyum kecil. “Mereka yang bunuh diri tidak memiliki alasan untuk hidup lagi. Memang mereka bunuh diri karena sudah tidak kuat menjalani kehidupan mereka yang mungkin mereka rasa seperti di neraka, tapi jika mereka memiliki alasan hidup... itu beda lagi. Mereka pasti akan tetap bertahan walaupun hidup di dunia yang menyakitkan.”
“Bukannya seharusnya dia memiliki keluarga di rumah. Bukankah itu bisa menjadikan alasan untuk dia hidup?”
“Benar. Bisa iya, bisa tidak. Karena kita tidak tahu bagaimana hubungan keluarga mereka. Jika buruk, sudah pasti mereka akan lebih memilih mati. Jika baik, tidak mungkin saat ini di ada di sana.” Pria yang ia duga Ardata itu menunjuk televisi di depannya. “Menyedihkan, bukan? Perempuan itu bahkan terus menangis. Namun, dia ragu-ragu untuk meloncat. Pasti ada alasan lain yang membuatnya seperti itu.”
Iris memerhatikan saksama perempuan itu. Benar kata dia, perempuan itu ragu untuk meloncat. Hampir lima belas menit perempuan itu tetap ada di tempatnya. Kakinya bahkan terlihat gemetaran dan dia tidak sanggup menatap apa yang ada di bawahnya.
Jika dia sudah berniat bunuh diri sejak lama. Pasti dia akan langsung loncat tanpa memikirkan hal lainnya. Apa yang membuatnya ragu? Apa yang membuatnya bertahan?
“Bayi,” celetuk Iris tiba-tiba. “Pasti perempuan itu sedang hamil,” tekannya.
“Hamil?” bingung Ardata.
“Bukannya dia mengalami pelecehan seksual? Pasti ada kemungkinan kalau dia sedang mengandung saat ini. Mungkin karena itu, dia ragu-ragu untuk meloncat. Dia tidak ingin membunuh bayi yang dikandungnya,” jelas Iris. “Bayi itu bisa menjadi alasannya untuk hidup. Kita harus menolongnya!”
“Bingo!” Ardata menjentikkan jarinya. “Kalau begitu tolonglah dia.”
“Hah? Saya? Kenapa tidak kita berdua saja, Pak?” Iris terlalu takut untuk pergi ke tempat itu sendiri.
“Untuk apa saya menemani kamu?”
Baru kelihatan congkaknya. Padahal tadi terlihat friendly sekali. Dasar laki-laki! Hebat sekali jurus bunglonnya.
“Ya sudah. Jangan temani saya. Saya pergi saja. Mau bagaimana pun ada nyawa dua orang yang dipertaruhkan,” ujar Iris dengan nada kesal.
“Bagaimana interview-nya? Jika kamu pergi sekarang, kamu tidak akan saya terima. Jika tetap bertahan, akan saya pertimbangkan.”
Sumpah, laki-laki di hadapannya ini menyebalkan! Tadi dia begitu peduli pada perempuan yang hendak bunuh diri itu, tapi kenapa sekarang laki-laki itu tidak peduli? Malah lebih mementingkan interview yang padahal bisa dilakukan kapan saja.
Iris bimbang. Ia ingin segera mendapatkan pekerjaan, tapi di sisi lain. Dia tidak ingin membunuh orang.
Iris berulang kali menatap televisi dan Ardata bergantian. Setelah berpikiran panjang, Iris langsung menyambar tasnya dan berlari meninggalkan Ardata.
Nyawa orang lebih berharga. Untuk pekerjaan. Ia yakin bisa mendapatkannya jika itu sudah rezekinya.
•••
Selama lima belas menit Iris berlarian di jalanan. Akhirnya Iris sampai di Gedung Gerhana yang dimaksud. Beruntungnya dirinya saat wanita itu masih ada di tempatnya. Syukurlah, dia tidak melompat. Sekarang, wanita itu duduk di tepi gedung. Ada beberapa tim penyelamat di bawahnya, dan di belakangnya. Ada juga matras udara yang telah dipersiapkan oleh pemadam kebakaran.
Sepertinya dirinya sia-sia datang ke mari hanya untuk memberikan alasan hidup. Sudah ada yang dipersiapkan. Bahkan sangat matang. Tinggal menunggu bagaimana respons wanita itu. Memilih loncat atau turun. Dengan was-was Iris menonton dari bawah. Gedung yang dimaksud hanya ada empat lantai. Walaupun tidak terlalu tinggi. Namun, cukup mengancam nyawa. Bahkan, bisa meninggal di tempat sekali loncat.
Wanita itu duduk di tepian gedung dengan kedua tangan yang menangkup wajahnya. Ada air mata yang menetes dari sela-sela tangannya. Melihatnya saja membuat Iris tidak tega. Pasti beban yang ditanggung wanita itu lebih berat daripada dirinya. Walaupun diperlukan semena-mena Iris tidak pernah mendapatkan pelecehan seksual di kantornya, tetapi wanita itu merasakan itu semua. Sudah tidak bisa dibayangkan bagaimana sakitnya dia, dan Iris yakin seratus persen bahwa orang yang melakukan itu tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya.
“Mbak, ayo turun! Jangan bunuh diri! Kasihan sama keluarga Mbak!”
Seorang ibu-ibu di depannya berbicara dengan lantang.
Wanita itu menatap ibu-ibu tersebut dengan tatapan yang begitu menyedihkan. “Anda tahu apa?! Apa selama ini Anda mengalami kehidupan seperti saya?!” teriaknya. “Apa? Keluarga?! Saya bahkan tak tahu apa yang namanya keluarga! Jadi jangan sok tahu mengenai saya!”
Ardata tepat. Hubungan wanita itu dengan keluarganya memang tidak baik.
“Memangnya yang hidup menderita cuma Anda saja?! Saya juga menderita, Mbak!” Ada wanita lain yang ikut bicara. “Jangan sok bunuh diri begitu! Hidup cuma sekali, Mbak. Kalau Mbak bunuh diri Mbak enggak bakal bisa hidup lagi!”
Iris ingin menampar mulut wanita itu. Kenapa malah memprovokasi orang yang berniat bunuh diri? Bukannya orang itu akan sadar malah akan semakin parah.
“Betul! Kalau mau dapat belas kasihan sama orang jangan begini dong, Mbak!”
Astaga, benar-benar minta dilakban mulutnya satu persatu. Iris memijit pelipisnya. Kenapa petugas pemadam kebakaran dan polisi hanya diam saja melihatnya?
Sebuah ide tiba-tiba melintas di kepalanya. Iris melihat seorang pemadam kebakaran yang saat ini tidak berbicara dengan megafonnya. Megafon itu dianggurkan begitu saja.
Iris berlari menerobos kerumunan. Walaupun terdorong atau terjungkal, Iris tidak menyerah begitu saja. Sekuat tenaga ia mencoba mendekati pemadan kebakaran itu.
Usahanya tidak berakhir sia-sia. Saat sampai, Iris langsung merampas megafon dari tangan pemadam kebakaran.
Walaupun ada penolakan, Iris menolak untuk menyerahkan megafon yang saat ini sudah berada di tangannya.
“KALIAN SEMUA, DIAM!” Bentakannya menggema membuat semua orang yang ada di sana terdiam. “Kalian pikir hidup kalian lebih menderita dari orang lain? Ya, itu menurut kalian, tapi sebenarnya tidak!” Tak memikirkan perasaan malu. Iris dengan blak-blakan mengungkapkan apa yang ada di kepalanya.
“Kalian tidak tahu sebagaimana orang menderita dalam kehidupannya. Saya pun tidak tahu. Jadi, tolong jangan menghakimi seenak kalian,” lanjutnya. “Selain itu, mental orang berbeda-beda. Tolong jangan samakan satu dengan yang lainnya.”
“Saya tidak peduli. Mau Anda lebih tua dari saya atau lebih muda. Saya hanya ingin mengungkapkan apa yang ada di pikiran saya. Silakan hujat saja, sok-sokan, ngartis, kebelet viral atau apalah. Silakan! Saya tidak peduli!” Iris mengambil napas dalam-dalam saat semua mata tertuju padanya. “Kalian pikir mudah hidup di bawah tekanan sosial? Jujur. Saya juga merupakan korban. Sama seperti mbaknya, tapi yang sama alami tidak seberapa dengan apa yang dialami mbaknya. Itu tidak mudah asal kalian tahu!”
“Saya memang sering diperlakukan semena-mena, dikucilkan, dan lain sebagainya. Itu semua pernah saya alami. Bahkan, hal itu seperti rutinitas bagi saya.” Iris terisak. “Saya pernah berada di posisi yang serendah-rendahnya. Bahkan, saya pernah mencoba mengakhiri hidup saya. Saya pernah berdiri di tempat itu.” Iris menatap wanita itu. “Namun, saya tidak berani untuk meloncat. Saya ragu. Kalau saya pergi... siapa yang akan menjaga adik-adik saya? Siapa yang membiayai hidup mereka? Bagaimana saya bisa mempertanggungjawabkan semua itu di akhirat nanti? Saya benar-benar takut. Karena itu saya lebih memilih berhenti.”
“Saya sadar... sesulit apa pun hidup ini pasti ada jalan keluarnya.” Iris menghapus air matanya. Suaranya perlahan-lahan mulai habis saat tangis semakin kencang. “Jadi, Mbak. Tolong jangan akhiri hidup Anda. Saya yakin akan ada penyelesaian atas masalah Anda. Saya juga sangat yakin di masa depan sudah ada kebahagiaan yang menanti Anda.”
Wanita itu ikut menangis sepertinya, “Tidak ada masa depan untuk wanita kotor seperti saya.”
Walaupun terdengar samar, Iris dapat mendengar suara wanita itu.
“Kata siapa? Pasti ada masa depan untuk Anda. Saya yakin itu. Memang terdengar mustahil, tapi jika Anda tetap berjuang dan bertahan. Anda pasti bisa melaluinya. Tolong percaya pada saya.” Ia tidak boleh menyerah membujuk wanita itu. “Satu lagi... jika ada memilih mengakhiri hidup Anda, apa Anda tega melakukannya? Apa Anda tidak memikirkan seseorang yang sekarang sudah menjadi bagian dalam hidup Anda?”
Tebakannya benar. Setelah mendengar itu, perempuan itu langsung memegang perutnya. Tangisannya bertambah kencang. Memang seseorang yang akan menjadi ibu pasti tidak tega menyakiti calon anaknya.
“Tolong, Mbak. Jangan lakukan hal itu,” pintanya. “Ayo kita tata hidup ini bersama-sama. Saya akan membantu Anda semampu saya. Kita buat dunia ini lebih indah lagi. Masih banyak orang baik di dunia, dan masih banyak orang yang tulus menyayangi Anda. Karena itu, jangan sia-siakan hidup Anda. Tuhan memberikan Anda kesempatan untuk hidup lebih lama. Tolong jangan seenaknya memutuskannya.”
•••
“Aksi heroik terbaik yang pernah saya lihat.”
Iris mendengus saat melihat wajah Ardata Pratama di depannya. Pria itu mengulurkan sebotol air mineral padanya.
“Kenapa tidak diambil? Saya yakin kamu haus. Ayo ambillah,” bujuk Ardata.
“Tidak perlu. Saya tidak butuh minuman dari Anda,” tolaknya kasar.
“Apa kau masih marah dengan saya?”
Ardata memosisikan diri dengan berjongkok di depannya. Iris memutar posisi duduknya. Dirinya jadi kehilangan respect karena sikap laki-laki itu yang suka sekali berubah-ubah.
“Rupanya masih kesal.” Ardata kembali berdiri. “Padahal saya ingin menerima Anda menjadi salah satu karyawan saya.”
Mendengar kata karyawan membuat mata Iris bersinar. Sontak Iris langsung berdiri. “Apakah itu benar?”
Memang dirinya kesal setengah mati, tapi mendapatkan pekerjaan secara cuma-cuma tanpa bekerja keras adalah sesuatu yang sangat langka. Apalagi di zaman ini susah sekali mencari pekerjaan. Iris tidak mau menyia-nyiakannya.
“Tentu.” Ardata tersenyum, “ada syaratnya,” lanjutnya.
Tertipu sudah Iris. Tidak mungkin seorang CEO cuma-cuma memberikan pekerjaan padanya hanya karena aksi heroik tadi.
“Syaratnya apa?”
“Ajaklah seseorang lagi.”
Pria itu menepuk pundaknya lalu pergi setelah meninggalkan sebotol air di tangannya.
Iris tersenyum. Dugaannya salah. Ardata tidaklah seburuk apa yang dia kira. Pria itu hanyalah menguji seberapa besar simpatinya.
Tiba-tiba kedua bola matanya bertatapan dengan wanita yang hendak mengakhiri hidup tadi. Iris melempar senyum, dan berjalan mendekati wanita itu.
“Apa Anda sudah lebih baik?” tanyanya basa-basi.
Wanita itu tersenyum malu-malu, “Terima kasih sudah menyadarkan saya. Jika tidak ada Anda, saya akan menjadi pembunuh bayi saya.”
Jejak air mata kembali muncul. Iris dengan sigap menghapusnya, “Tidak apa-apa. Itu adalah kewajiban saya.”
“Emm... siapa nama Anda? Nama saya Wanda. Maaf, tadi belum sempat berkenalan.” Wanda mengulurkan tangannya. “Baru pertama kali saya bertemu dengan orang seperti Anda. Saya merasa bahagia.”
“Saya Iris.” Senyum Iris melebar. “Saya juga baru pertama kali bertemu orang setegar Anda.”
Mengapa Iris menyebut tegar? Wanda bisa saja melompat sejak tadi, tapi dia tidak melakukannya. Bukankah itu artinya dia adalah wanita yang tegar?
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Wanda menatapnya malu-malu. Seperti ada sesuatu yang ingin dia ucapkan, tapi dia ragu-ragu.
“Apa ada hal lain lagi?” tanyanya.
“Sebenarnya saya ingin menggunakan nama Anda untuk menamai bayi saya. Apa itu boleh?”
Wah. Rasanya bangga saat namanya digunakan untuk menamai anak orang lain. Seperti dirinya memiliki jasa yang tak pernah bisa dilupakan.
“Tentu boleh. Saya sangat bahagia malahan.” Iris menggenggam erat kedua tangan Wanda. “Kalau begitu... maukah Anda bekerja sama dengan saya sebagai rekan kerja?”
Wanita itu mengangguk malu-malu.
Ah, rasanya kekosongan yang selama ini Iris miliki terasa lengkap. Ia bahagia dapat menyelamatkan nyawa dua orang sekaligus, ia juga bahagia mendapatkan pekerjaan, yang paling membuatnya bahagia adalah karena sekarang ia telah mendapatkan seorang teman.
Ardata yang melihat itu tersenyum. Akhirnya ia dapat melihat senyum itu lagi. Bertahun-tahun ini, ia hanya bisa melihat kesedihan di wajah itu. Besar harapannya agar Iris bahagia. Semoga setelah ini, akan ada kebahagiaan bertubi-tubi yang mendatangi Iris.
“Terima kasih, Tuhan. Karena engkau telah memberikan hadiah terbaik untuk semua cobaan yang telah Iris alami selama ini,” batinnya.
Ingat. Seputus apa pun kalian, jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidup kalian. Dunia memang kejam. Itu tidak dapat terelakkan. Namun, apa kalian rela melepas masa depan kalian hanya untuk melepaskan diri dari semua beban yang pada akhirnya akan ada penyelesaiannya? Tidak, bukan? Karena itu tetap kuatlah. Suatu saat nanti kebahagiaan yang kalian harapkan akan silih berganti menghampiri.
--The End--
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top