࿐Chap 2
Semburat jingga kemerahan mengantar kepergian sang mentari ke asalnya, disusul pernak-pernik berkilauan bertaburan menghiasi cakrawala. Sang rembulan perlahan menampakkan diri, memperlihatkan keindahan yang dimilikinya. Lentera-lentera perlahan menyala, bergiliran dari satu rumah ke rumah lainnya menampilkan pemandangan yang begitu memesona bila dilihat dari menara.
Penjagaan Kerajaan Rivalle agak diperketat dengan beberapa pengawal menjaganya, mereka saling bergilir memberikan kesempatan untuk istirahat bagi yang belum.
Tap! Tap! Tap!
Suara ketukan langkah kaki menggema di lorong kerajaan, ketukan itu terdengar ringan tanpa beban berjalan menuju salah satu ruangan demi memenuhi tugasnya.
Tok! Tok! Tok!
"Yang Mulia Ratu, Anda telah dinantikan oleh Yang Mulia Raja dan Pangeran di ruang makan."
Suara penuh segan dan hormat terdengar dari balik pintu berukiran rumit, mengejutkan seorang wanita cantik sedang menatap pantulan dirinya dari cermin. Wanita itu menoleh ke arah pintu dengan mata cokelat madunya sedikit kosong, "Baiklah, aku akan segera keluar dan bisakah kau mengantarkanku ke sana? Sepertinya aku mulai lupa dengan denah kerajaan ini."
"Tentu saja, Yang Mulia Ratu. Akan saya antarkan Anda menuju ruang makan," balas seorang pelayan penuh hormat.
Wanita itu, [Name] kembali menatap pantulan dirinya. Tangan putih miliknya di dunia antah berantah bergerak menuju wajah putihnya lalu mengelus dengan lembut, dirinya penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab sama sekali. "Bagaimana bisa aku berada di sini? Dengan menempatkan tubuh yang berbeda, tubuh seorang ratu pula."
Tok! Tok! Tok!
"Yang Mulia Ratu, apakah Anda tertidur?"
Suara ketukan dan pertanyaan membuat [Name] tersentak lalu beranjak dari kursi, berjalan menuju pintu dan membukanya. "Saya tidak tidur, maaf sudah membuatmu menunggu lama." Wanita cantik itu melangkah keluar, menutup pintu lalu kembali menatap seorang pelayan membungkuk hormat padanya. "Tidak mengapa, saya hanya khawatir bila Anda masih kurang sehat."
[Name] mengangguk pelan, menggerakkan tangannya menepuk bahu sang pelayan dengan lembut. "Aku tidak apa-apa, terima kasih telah mengkhawatirkan diriku. Mari kita jalan menuju ruang makan, pasti mereka sudah menunggu kita."
Sang pelayan mengangguk pelan, membiarkan ratunya untuk berjalan duluan. Mereka sedang menyusuri lorong, melewati puluhan ruangan dengan fungsi berbeda-beda. Keheningan melanda di antara mereka, hanya ketukan sepatu bersentuhan dengan lantai keramik setiap berjalan. Sang pelayan membukakan pintu putih yang diyakini [Name] sebagai ruang makan, mempersilakan dirinya untuk memasuki ruangan tersebut terlebih dahulu.
[Name] pun masuk ke dalam, berjalan dengan terburu-buru dikarenakan dua orang lelaki berbeda usia menatap dirinya sambil tersenyum hangat. Ia duduk di salah satu kursi, berjauhan dengan seorang raja dan pangeran. Sang raja mengernyit keheranan, tidak biasanya [Name] duduk berjauhan dari dirinya maupun anaknya.
"[Name], kenapa kau memilih duduk berjauhan dariku atau Riku? Tidak biasanya kau seperti ini, ada apa?" tanya Akihiro dengan tegas. [Name] menatap Akihiro lamat sembari menggeleng pelan, "Tidak apa-apa, aku hanya ingin duduk di sini."
Akihiro masih menatap [Name] dengan tajam, mencari alasan yang terselubung di mata cokelat madunya. Bagaimana dengan yang ditatap? Tentu saja ia bergetar ketakutan, ingin rasanya berteriak untuk tidak menatap tajam ke dirinya lalu berlari kabur kembali menuju kamar. Tetapi ia urungkan demi menjaga image tubuh yang sekarang sedang ditempati jiwanya.
"Ada apa, Akihiro?" tanya [Name] dengan lembut, menyembunyikan rasa takutnya itu.
Akihiro menggeleng pelan, "Tidak ada, hanya saja sifatmu sepertinya berubah." Memelankan beberapa kata terakhir agar tidak terdengar oleh [Name] maupun Riku.
Kemudian mereka makan malam dengan tenang, suara dentingan antara garpu dan piring saling bersahut-sahutan. Riku yang sudah selesai menyodorkan piring serta garpu yang kotor di depan, mengambil selembar tisu lalu membersihkan setiap sudut mulutnya sehabis makan. "Ayah," panggilnya seusai membersihkan mulutnya.
Akihiro yang masih makan menatap sang putra tersayangnya dengan tegas, "Ada apa?"
"Bolehkah aku dan Ibu berjalan-jalan esok hari?"
"Berjalan-jalan bersama Ibumu?"
Riku mengangguk cepat, senyuman manis terukir di wajahnya. "Hum! Bolehkan, Ayah?"
"Tapi ...." Akihiro melirik ke arah [Name] yang sedang makan dengan lahapnya. "Ibumu masih lemah, Riku. Ayah rasa tidak memperbolehkannya," lanjutnya.
Riku mengubah ekspresinya menjadi cemberut, bangkitlah ia dari duduknya, berjalan mengitari meja makan lalu berlutut di samping Akihiro. Menyatukan kedua telapak tangan seakan memohon. "Boleh ya, Ayah? Aku janji akan menjaga Ibu dengan baik!" mohon Riku sambil menampilkan wajah imutnya, berharap sang ayah mengizinkannya.
Akihiro berusaha mati-matian untuk tidak luluh dengan jurus ini, ia mengalihkan pandangannya berusaha kembali makan dengan tenang namun tangannya yang sedang memegang sebuah garpu bergemetar. Lain halnya dengan [Name], ia menjerit tertahan, membekap mulutnya sendiri dan menyipitkan matanya. 'Astaga! Kawaii sekali anak ini! Duh, aku tidak membawa handphone lagi!' batinnya kala itu. Riku masih dalam posisi tersebut, tidak henti-hentinya ia merayu Akihiro agar diperbolehkan untuk berjalan-jalan bersama Ibunya.
Akihiro yang tidak tahan lagi langsung mengangguk cepat, "Baik-baik! Kau boleh berjalan-jalan bersama Ibumu! Tolong ... hentikan wajah imutmu itu, Riku!"
Riku tersenyum lebar, bangkit dari berlututnya sambil melompat-lompat kecil. "Terima kasih, Ayah! Aku janji akan menjaga dan tidak akan melepaskan Ibu seinchi pun!"
Akihiro hanya mengangguk, tangan kekarnya menutup wajah yang mulai keriput. Ia berusaha untuk memendam hasratnya, mencubit sang Putra Mahkota kelewat imut itu. Sedangkan [Name] menatap Riku sambil menganga kecil, tidak menyangka bahwa kerajaan ini memiliki Putra Mahkota imut seperti dia. 'Siapapun yang menjadi istrinya kelak pasti akan mimisan akibat serangan mematikan darinya,' batinnya tersiksa, menahan cairan merah pekat serta amis keluar dari hidungnya. Riku pamit meninggalkan Akihiro dan [Name] yang berada di ruangan itu ke kamarnya sambil tersenyum cerah layaknya mentari di pagi hari.
Note :
Aku minta maaf bila ada kalimat yang membingungkan, semoga menghibur ya~
Btw, silakan kalian membayangkan sendiri bagaimana ekspresi Riku kala membujuk Akihiro.
870 kata
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top