Part 9
Charity POV
Greed tidak menjelaskan lagi lebih lanjut tentang kakek tua yang bernama Darin Caster itu. Seperti biasanya, ia masih menutup rapat-rapat hal yang berhubungan tentang mimpinya. Kami akhirnya pergi ke daerah pemukiman melewati pasar dengan Greed sebagai pemandu jalan. Tanpa ragu sedikitpun ia mengarahkan kami ke tempat tujuan, memasuki belokan, melewati jalan tikus, seperti ia sudah pernah melakukan hal ini ratusan kali. Seperti ia sudah mengenal jalanan kota ini seperti napasnya sendiri. Seperti ia sudah hidup di tempat ini sejak ia dilahirkan, yang artinya sangat tidak mungkin. Kami lahir dari bentrokan Sang Cahaya dan Sang Kegelapan, dan jelas bukan dari kota Mesir ini.
Tapi tetap saja... aku benar-benar akan gila rasanya jika tidak diberi informasi apa-apa seperti ini.
"Jangan bilang kamu memang hidup sebagai gadis itu dalam mimpimu?" Tanyaku akhirnya. Sudah cukup rasa penasaranku kubendung demi prinsip pelit gadis serakah ini. "Dan bukannya orang ketiga yang mengawasi manusia-manusia itu dalam mimpi."
Greed tiba-tiba menghentikan langkahnya. Sedikit terkejut. Ah, apakah pertanyaanku tepat sasaran?
Greed menatapku lekat-lekat dengan mata kucingnya. "Apa bedanya? Aku tetap aku, dan dia sekarang hanyalah hantu."
"...Yang tubuhnya sekarang kamu pakai. Ceritakan lebih jelas tentang mimpi-mimpimu, Greed."
"Tidak ada hal yang cukup penting untuk diceritakan." Katanya keras kepala.
Aku mengembuskan napas keras-keras. "Ya, apa saja kalau begitu. Hal-hal remeh tentang mereka dalam mimpimu. Supaya aku bisa sedikit mengerti hal gila apa yang sedang kita hadapi sekarang." Kataku tidak kalah keras kepalanya. Aku tahu Greed tidak suka dipaksa, tapi butuh lebih dari sekadar pemaksaan untuk membuatnya membagi informasi. Logika. "Ini bukan cuma tentang dirimu sendiri, Greed. Ada aku di dalamnya. Kita berdua sedang terlibat."
Greed kali ini memandangiku seperti ingin mencopot kedua bola mataku. Taktikku sepertinya berhasil, tapi tetap tidak mengurangi kejengkelannya.
"Orang itu mirip sepertimu. Bodoh. Sok Kaya. Sok Tahu. Jika itu bisa menjawab kecerewetanmu. Sama-sama!" Semburnya dan langsung menyelonong pergi tanpa menungguku bereaksi.
Sedikit melenceng dari ekspektasiku, tapi tentu saja aku tidak akan menyerah.
"Saint itu?" Tanyaku setelah berhasil mengejarnya.
"Menurutmu siapa lagi? Kamu ingin tahu tentang orang itu, kan?" Sergah Greed.
Aku hanya bisa mengangguk maklum. Berusaha untuk tidak terlalu peduli dengan kata "bodoh" yang sudah ia katakan sebelumnya. "Yang aku katakan 'mereka'. Bukan hanya saint itu, aku juga ingin tahu tentang dirimu..." Aku merasakan tatapan melotot Greed dari ekor mataku. "...masa lalu wujud manusiamu."
Greed tidak menanggapi. Sepertinya dia tidak ingin membahas tentang sinner-nya.
"Jadi... apakah kami memang begitu mirip?"
"Ya. Kalian juga sama-sama menjengkelkan."
Wow. "Apa?"
"Sama-sama mengundang bahaya dengan sifat dermawan milik kalian, tapi bedanya orang itu sepertinya lebih berhati-hati dibandingkan dirimu." Ia kemudian berhenti sejenak demi memberi jeda pernyataan berikutnya yang penuh ketulusan. "Oh, maaf. Kalian ternyata tidak begitu mirip. Kamu seribu kali lebih bodoh dari orang itu." Benar, kan? Sincerity pasti mendapatkan banyak poin. Poin palsu.
Aku hanya bisa tersenyum geli mendengar pernyataan terakhir Greed. Gadis ini benar-benar menggunakan kesempatan ini sebagai ajang penghinaannya kepadaku. Greed seperti bisa membaca sifatku dengan mudah. Dan entah kenapa hal itu malah membuatku merasa senang dan bukannya terhina.
Perlu beberapa detik bagiku untuk menyadari bahwa Greed telah menghentikan langkahnya dari tadi. Aku menoleh kepadanya yang berhenti tidak jauh dari tempatku berdiri. Di tempat itu Ia terpaku dan hanya menatapku dalam diam dengan cara yang terlihat... aneh.
"Greed..."
"Ya, kalian mirip, tapi juga berbeda. Sekarang aku tahu kenapa. Dia selalu meminta maaf. Permintaan maafnya begitu murahan sampai ia pun meminta maaf untuk hal-hal yang jelas bukan kesalahannya." Ia kemudian melanjutkan, kali ini dengan volume suara yang kecil. "Sedangkan kamu, selalu mengumbar senyum murahanmu. Senyum yang sangat menjengkelkan itu. Senyum yang sangat meresahkan itu."
Setelah mengatakan hal itu dengan penuh susah payah, ia memalingkan wajahnya untuk tidak melihatku. Atau mungkin ia tidak berani melihat reaksiku saat ini.
Wahai Sang Cahaya Agung nan Suci. Apa dia baru saja... tersipu? Ini benar-benar ujian.
Aku merasakan hasrat yang kuat untuk memeluknya saat ini. Dan mengelus lembut kepala emasnya itu. Sejelas ia bisa membacaku, aku juga bisa membacanya seperti satu buah buku yang terbuka. Hubungan rivalitas yang membuat kami harus memandangi satu sama lain, dan saling memperhatikan dari batas jurang perbedaan. Saling memahami. Dan juga saling menemukan. Dan tanpa sadar saling menarik satu sama lain layaknya dua kutub magnet. Karena itulah aku tahu benar apa makna dibalik pernyataan dan sikapnya barusan. Greed boleh saja buta terhadap hal-hal yang kami rasakan saat ini. Tapi aku tahu. Aku selalu tahu.
Aku memberanikan diri untuk mendekatinya selangkah sampai suara Greed terdengar jelas menghentikanku.
"Jangan coba-coba..." Katanya sambil menatapku mantap. Gadis yang tersipu tadi sudah hilang sepenuhnya dari diri Greed tanpa jejak. Dia kembali lagi menjadi Greed yang bossy, keras kepala, dan sedikit angkuh.
"Apa?" Tanyaku menantang.
"Apapun yang mau kau lakukan. Jangan lakukan. Perjanjian itu masih berlaku, ingat? Atau lehermu akan menggelinding ke tanah setelah ini."
Aku sudah akan mengatakan bahwa sejak pertama kali perjanjian konyol itu dibuat, aku sama sekali tidak takut terhadap ancamannya yang sedikit kekanakan itu. Tapi aku menghentikannya. Berdebat saat ini tidak ada gunanya.
Kami adalah roh, bukan manusia biasa yang takut dengan tebasan dan cincangan. Metode pertarungan kami lebih kompleks dari sekadar bermain pedang. Tapi bukan karena itu aku tidak takut. Tapi karena aku tidak pernah merasakan hawa membunuh dari roh yang saat ini berdiri di hadapanku dan sedang berusaha keras untuk terlihat tegas.
"Haaah.. ternyata aku salah. Kamu tidak buta, Greed. Tapi hanya menolaknya... saat ini". Kataku tiba-tiba.
Greed menatapku tak mengerti. "Apa maksudmu?"
"Sudahlah. Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan." Kataku lelah sembari membalikkan badan hendak pergi.
"Hei, tunggu dulu! Memangnya apa sih masalahmu?"
Aku kembali menghadap Greed yang masih menatapku bingung. "Masalahku itu kamu, Greed. Kamu! Dan semua aksi penolakanmu. Memangnya kamu tidak sadar?" Kataku menyemburkan semuanya di hadapan Greed.
"Sadar apa?"
"Sadar kalau... kalau..." Aku tidak bisa melanjutkan. Ini benar-benar ajaib. Sedetik yang lalu aku percaya aku bisa menggambarkan perasaan ini dengan jelas dan memercayai Greed juga mengerti. Tapi saat ini aku malah tidak bisa mencari kata-kata ekspresi yang tepat dalam pembendaharaan kata baik dari bahasa manusia maupun bahasa roh. Aku menyerah. "Lupakan. Mencari Darin Caster lebih penting saat ini."
Greed menyilangkan tangannya di dada. Wajahnya saat ini terlihat antara marah atau ingin menonjokku. "Memangnya siapa yang bilang tidak penting, hah?"
"Terus kenapa berhenti tadi?"
"Aku tahu kamu memang bodoh. Tapi aku tidak menyangka bisa sebodoh ini." Kali ini Greed menampilkan wajah prihatin yang menyayat hati.
"Apa?"
"Aku berhenti tepat di depan rumah Darin Caster yang kita cari seharian ini, Dasar Roh Miskin Bodoh Bau Kambing."
-----------------------------
Hei, I'm back!!! Terima kasih sudah membaca dan menunggu dan menanyai dan menagih fic ini untuk dilanjutkan.
Di atas ada gambar Chareed hasil komisku dari Den (candycomic01). Aku suka membayangkan Charity tap tap kepala Greed. Entah kenapa itu terlihat warm sekaligus bikin melting.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top