Part 7

Greed POV

"Wah..." seru Charity tiba-tiba saat aku keluar dari kamar. Matanya tidak berhenti menatapku takjub.

"Kenapa? Kamu sendiri yang menyuruhku memakai baju gembel ini," kataku pedas sambil menunjuk-nunjuk baju belel yang sekarang sedang membungkusi tubuhku. Tidak kusangka akan datang hari di mana aku harus memakai baju-baju yang terlihat sangat murahan seperti ini. Tapi Si Gembel ini bersikeras memaksaku memakai baju-baju ini selama perjalanan kami ke kota. Pakaian mahalmu terlalu menarik perhatian, katanya.

"Aku kaget aja kamu bisa kelihatan 'lain' saat memakai baju normal seperti itu," kata Charity.

"Aku tidak butuh pujian."

"Aku tidak sedang memujimu, kok."

Kejengkelanku bertambah 1 juta poin roh. "Penampilanmu sendiri bahkan tidak ada bedanya dengan manusia pribumi. Roh maca-"

Perkataanku langsung terputus karena sesuatu langsung mendarat tepat di wajahku. Dengan penuh kejengkelan yang mendarah daging, kutarik benda sialan itu dari wajahku. Sebuah kain panjang berwarna kuning.

"Sudah kuperingatkan dari kemarin. Jangan bicara sembarangan. Kamu tidak mau kan kita dibakar hidup-hidup di tempat ini?" kata Charity. Ia kemudian menunjuk kain yang dilemparnya tadi kepadaku. "Pakai itu di kepalamu. Kita berangkat sekarang."

"Berhenti menyuruhku memakai sampah begini." Kataku sambil memegang kain itu dengan ogah-ogahan. Kain itu berbau lepek, seribu kali lebih jelek dari kain yang kupakai sekarang. Aku sangat tidak senang jika harus memakainya.

Charity hanya menghembuskan napas beratnya. Mungkin ia sudah kelelahan meladeniku yang sejak dari tadi tidak berhenti meracau gara-gara baju-baju belel yang ditawarkannya itu. Ia mendekatiku dan berkata, "Ya sudah. Kalau kamu memang ingin kepalamu terpanggang selama perjalanan, aku tidak akan memaksa."

Charity kemudian menarik kain kuning yang kupegang, yang dengan spontannya kutahan dengan erat. Dan roh di hadapanku ini sedang tersenyum penuh kemenangan.

Aku langsung menarik kain itu keluar dari genggamannya dan melingkarkannya menutupi kepalaku. "Aku kan tidak bilang tidak akan memakainya. Ayo pergi!" Aku mendahuluinya pergi ke depan.

Sesampainya di depan, dua ekor unta sudah berjajar rapi yang masing-masing kekangannya dipegang oleh dua orang pekerja. Aku tidak mengenal nama mereka, dan aku juga tidak peduli. Panggil saja Si Gendut dan Si Kurus.

Eh, tunggu... unta? UNTA??? Memangnya di sini tidak ada mobil? Dilihat dari sifat murahannya, pasti kami berdua harus memakai hewan-hewan itu untuk perjalanan kami.

"Itu bisa dinaiki?" Tanyaku kepada Charity yang sudah berada di sampingku. Dia sudah hendak mengambil alih tali kekangan dari Si Kurus tapi berhenti saat mendengarku. "Aku tidak meminta mobil sedan mewah yang sudah jelas tidak bisa kau beli, tapi setidaknya ada satu jenis kendaraan beroda empat di tempat ini yang bisa kita naiki daripada menaiki itu."

"Jalan kaki juga bisa kok."

"Perjalanan ke sana berapa lama?"

"Setengah hari.... dengan kecepatan unta sehat."

"Kamu gila? Kamu mau membunuhku yaa?"

"Ya makanya... naik saja. Kita tidak punya mobil di sini."

Charity langsung menaiki salah satu unta di depannya tanpa memberiku kesempatan untuk menolak. Aku? Mau tidak mau mengikutinya menaiki unta yang satunya lagi. Aku sedikit mengalami kesulitan karena unta sialan ini tidak berhenti bergerak. Apa-apaan ini? Kenapa unta milikku seperti mengalami gangguan pikiran seperti ini? Aku menoleh kepada Charity, tapi dia hanya menatapku diam.

"Char..." Charity langsung melotot padaku. Aku langsung paham. Masih ada dua orang pekerja itu di dekat kami. "Akram. Kamu yakin ini benar-benar bisa dinaiki? Dia tidak akan tiba-tiba melemparku kan?"

"Tenang saja, Kak Avarie. Unta tidak seperti kuda yang larinya kencang. Kak Avarie pegang tali ini saja erat-erat. Pasti tidak akan jatuh." Kata Si Gendut mencoba menenangkanku. Aku langsung mengikuti sarannya dan mencengkeram tali kekang kuat-kuat.

"Tapi kenapa hewan ini gak mau diam sih?" kataku masih sangat cemas.

Charity akhirnya mendekatiku... maksudku, untaku dan menjulurkan tangannya untuk mengelus kepala Si Unta. Dan secara ajaibnya unta yang kunaiki tenang sedikit. "Seseorang yang sangat kuhormati pernah berkata bahwa hewan memiliki pikirannya sendiri. Jika kamu tidak memercayainya, maka mereka juga tidak akan memercayaimu. Dari tadi kamu memperlakukannya seperti sebuah benda. Mereka juga makhluk hidup, sama seperti kita."

Aku berdehem. "Oooh... Maksudmu dengan seseorang itu, Si Pemusik yang habis babak belur dihajar Kak Wra- ehm maksudku Kakakku? Hahahaha." Aku tertawa keras. Itu memang terjadi, tapi cerita sesungguhnya tidak perlu kubeberkan kepada Charity.

"Kamu pernah bertemu dengannya? Apa maksudmu dengan Kakakmu yang menghajarnya?" Tanya Charity dengan wajah yang sangat penasaran.

"Maaf saja yaaa... aku malas menjelaskan sesuatu yang tidak perlu. Kita tidak punya banyak waktu. Kamu yang bilang sendiri butuh waktu setengah hari untuk sampai ke kota, kan?" Kataku kepada Charity. Aku bisa melihat dia memendam semua rasa penasarannya dalam-dalam dan memilih diam. Hah. Aku tidak peduli.

"Baiklah... ayo berangkat." Kata-kata Charity memulai perjalanan kami.

------------

Panas terik matahari benar-benar memangganggku. Ya iyalah... mana mungkin kain murahan seperti ini bisa melindungiku dari sengatan matahari sih? Kenapa juga aku memercayai Charity Si Bodoh itu. Peluh sebesar biji jagung tidak berhenti keluar dari tubuhku. Aku merasa kering dan lengket dalam waktu bersamaan.

Kenapa aku mau ikut dalam perjalanan merepotkan ini? Tapi tidak ada cara lain. Selain karena ingin mendapatkan informasi lainnya mengenai mimpi-mimpi bodoh yang kualami ini kepada Si Kakek tua bangka itu, aku juga punya urusan penting di kota. Receiver-ku hilang, dan butuh waktu beberapa hari untuk membuatnya lagi, terlebih di tempat terpencil seperti ini yang susah mendapatkan alat dan bahan yang memadai. Aku bayangkan, di kota nanti aku bisa menemukan barang-barang yang aku butuhkan dengan cepat. Dan aku juga pergi bersama Charity, jadi aku bisa memanfaatkannya membayarkan benda-benda itu untukku. Licik memang. Tapi anggap saja itu balasan karena sudah membuatku kepanasan di tengah gurun seperti ini.

Aku memandangi Charity yang sepertinya tidak merasa kesusahan sama sekali. Ia mengendarai unta-nya tepat di sampingku. Tidak cepat, tidak juga lambat. Dia berusaha sebisa mungkin menyamakan iramanya dengan irama untaku yang sangat payah. Ya mau bagaimana lagi. Aku kan tidak tiap hari pergi mengendarai unta di tengah gurun. Jadi jika meski tertatih-tatih, Si Bodoh ini tetap harus menungguiku.

"Mimpimu..." kata Charity tiba-tiba memulai pembicaraan di tengah gurun ini. "...semalam masih ada?"

Ya iyalaaaaaah.. adalah balasan yang ingin kusemburkan. Tapi aku memilih diam. Mengobrol di tengah gurun akan menghabiskan tenagaku dengan cepat, dan akan membuatku cepat haus. Tapi roh bodoh di sampingku sepertinya tidak mengetahuinya, atau dia tahu tapi memang tidak peduli. Toh, sebenarnya hal itu tidak terlalu mempengaruhinya. Dasar roh gurun.

"Aku sebenarnya penasaran. Seperti apa mereka dalam mimpi-mimpimu. Apa orang itu sama sepertiku? Apa orang itu juga sama sepertimu?" tanya Charity yang tidak bisa diam.

Dan aku... tentu saja diam. Oh, aku adalah roh bisu.

"Bagaimana kisah mereka. Bagaimana awal mula pertemuan mereka. Bagaimana kisah mereka bisa terjalin? Apa mereka akur? Atau sering bertengkar? Apa yang telah mereka lalui?" tanya Charity lagi yang tidak memedulikan sikap diamku.

Telingaku kali benar-benar panas rasanya. Dan aku tahu pasti penyebabnya bukan karena suhu matahari di gurun yang sangat tinggi.

"Greed..."

"Berhenti mengoceh, Brengsek. Telingaku sakit." Semburku memecahkan prinsip diamku yang kupertahankan sejauh ini.

"Ya... makanya dijawab. Aku sempat berpikir mungkin suaramu hilang gara-gara kepanasan." Katanya datar.

Logika konyol macam apa itu?

"Berhenti menanyaiku. Aku tidak akan memberi tahumu apa-apa."

"Kenapa?"

"'Memberi' bukan bagian dari namaku."

------------

Charity POV

"'Memberi' bukan bagian dari namaku." Katanya tegas. Seolah-olah aku selalu lupa bahwa dia adalah Greed Sang Keserakahan.

Aku bukannya lupa. Mana mungkin. Setiap sel dalam tubuh manusia dan rohku mengingatnya setiap milidetik. Aku merasa, Greed selalu berusaha menyembunyikan persoalan mimpi-mimpinya dariku. Dia memilih memecahkan masalahnya sendiri dengan mengambil solusi yang dipikirnya terbaik. Seperti meninggalkan Akram Foundation misalnya, yang sangat aku sesali itu. Padahal tidak menutup kemungkinan mimpi-mimpi itu tetap akan menghantuinya meski ia berada jauh dari tempat ini. Tidak ada jaminan mereka akan hilang selamanya. Dan aku curiga mimpi itu datang berhubungan dengan pertemuan dengan Kakek itu, yang membuatku memiliki ide menemuinya lagi.

"Baiklah..." kataku akhirnya. Aku tidak ingin memaksanya. Ini juga menyangkut mimpinya sendiri. Meski sebenarnya aku merasa tidak adil karena hal ini juga secara tidak langsung menyangkut diriku sendiri. Apa boleh buat. Greed memang sangat pelit informasi.

Greed diam lagi seperti sedia kala. Kami melanjutkan perjalanan kami tanpa bersuara lagi. Tanpa kata, tanpa percakapan. Hanya bunyi pijakan unta yang menginjak kedalaman pasir yang mengiringi kami, dan semilir angin panas pada gurun.

Tiba-tiba aku melihat Greed terkesiap karena sesuatu. "Suara apa itu?"

"Hah?" Aku bertanya heran.

"Kamu tuli?" Tanya Greed gusar. Sesuatu yang didengarnya sekarang entah kenapa meresahkannya.

Aku berusaha fokus menajamkan pendengaranku. Dan benar saja aku mendengar sayup-sayup petikan bunyi gitar dan suara seseorang bernyanyi. ....roda 'tuk kehidupan.

"Ah, kamu benar. Ada seseorang yang sedang bernyanyi di seberang... HEI!" Tanpa kuduga sekalipun Greed langsung mencongklang untanya untuk mempercepat langkah. Astaga, apa yang sedang dipikirkan gadis itu?

------------

Greed POV

Cahaya dan kegelapan-- penunjuk jalan hati

Apa-apaan lirik lagu itu? Kenapa aku merasa pernah mendengarnya sebelumnya? Apa aku sedang berhalusinasi? Tidak. Suhu tinggi gurun pasir tidak akan membuatku berhalusinasi. Aku memang mengenal lagu itu. Dan orang di seberang bukit itu tidak berhenti menyanyikannya.

Pecahan dari benak manusia

Lagu yang seolah memanggil sesuatu dari dalam diriku untuk keluar. Apa ini berasal dari mimpiku? Tubuh manusia masa laluku? Meski aku selalu mengutuki mimpi-mimpi itu setiap malam, aku selalu tidak bisa melupakan kisah mereka seolah-olah itu adalah bagian dari masa laluku sendiri. Dan lagu itu sejauh ini tidak ada di dalamnya. Sialan. Memangnya ini ada hubungannya denganku? Kenapa aku dibuat merana seperti ini sih?

Layu untuk tumbuh; lalu hidup untuk mati

Aku terhenyak. Dan tiba-tiba saja aku sudah berhenti di hadapan seorang pemuda yang memainkan sebuah alat musik sejenis gitar. Gambus? Ia berteduh di bawah satu-satunya pohon kurma yang tumbuh di tempat itu sambil mendendangkan lagu itu dengan khidmatnya. Para sinner dan saint itu bukan kami. Kami bukan mereka.

Siklus ini terus lingkari dunia

Kutarik sekali tali kekang untuk memberi isyarat unta itu untuk duduk. Aku menuruni unta dengan segera saat ia membengkokkan kakinya ke bawah dan menghampiri pemuda itu dengan perlahan. Ia masih bernyanyi dengan penghayatan yang menyayat hati. Tidak ada yang namanya siklus, mereka sudah mati. Dan kami tidak berada di sini untuk menggantikan mereka.

Aku mendekati pemuda itu selangkah demi selangkah sampai suara Charity menghentikanku. "Jangan lakukan!"

Langkahku terhenti, tapi tatapanku tidak berhenti menatap pemuda yang tidak jauh dari hadapanku saat ini. "Memangnya kamu tahu apa yang akan aku lakukan?"

"Apapun itu, jangan lakukan," katanya tegas. "Dan lepaskan skill itu."

Tatapanku langsung kualihkan ke bawah untuk melihat tanganku dan aku sedikit tercengang karena tanpa sadar aku telah mengaktifkan Midas Touch. Kenapa aku bisa...? Apa ini? Perjalanan ini seharusnya menjadi solusi untuk mengenyahkan mimpi-mimpiku. Tapi setiap langkahku malah membuatku selangkah mendekati kegilaan.

"Aku turut prihatin. Tidak kusangka panas gurun benar-benar membuatmu jadi..."

"AKU TIDAK GILA!!!" Bentakku kasar.

"...aneh. Kamu kenapa sih?"

Aku memijat kepalaku tanda frustasi. "Mana kutahu. Aku benci lagu itu."

"Ma-maaf jika nyanyianku mengganggu kalian. A-aku hanya menyanyi u-untukku sendiri. Hiks." Kata pemuda itu yang tiba-tiba sudah berada di hadapan kami berdua. Tunggu, bukan seorang pemuda. Tapi seorang gadis. Aku baru menyadarinya setelah melihatnya lebih dekat. Suara berat saat mendengarnya menyanyi membuatku salah mengira dia seorang laki-laki.

"Ma-maaf... huaaaaaaaaa." Dan gadis itu malah menangis histeris. Sejujurnya aku tidak membenci nyanyiannya, yang aku benci lagu yang dinyanyikannya itu. Tapi melihatnya menangis bombay seperti ini benar-benar membuatku ingin menghajarnya sekarang.  

"Hahaha... Kakak itu cuma bercanda. Nyanyianmu bagus kok," kata Charity yang sangat pengasih itu.

"Kalian tidak membenci nyanyianku?" tanya gadis itu penuh harap.

"Tidak. Kami menyukainya. Siapa namamu, Adik? Kenapa kamu sendirian di tempat ini?"

Gadis itu dengan cepat menghapus bekas ingus dan air matanya, kemudian menjawab, "Ah, namaku Faris. Aku dari kota dan sedang dalam perjalanan mengunjungi pamanku di desa sebelah." Faris tersenyum memamerkan senyumnya. Sangat berkebalikan dengan sikap cengengnya tadi. "Jika kalian menyukai nyanyianku, maukah kalian mendengarnya lagi?"

-----------------------------------------------

Sepertiga pertama dari part cerita ini ingin kupangkas habis-habisan. Mungkin akan kuedit lagi. Mungkin juga tidak. Tergantung mood. Entah kenapa part ini menurutku terasa begitu membosankan. Rasa-rasanya ingin ku-skip part ini, dan part setelah ini dan menulis part-part bunga-gula-gulali yang menjadi favoritku.

Spesial thanks buat teman satu kabinku dari kapal yang sama, seesawknight. Terima kasih sudah meminjamkan lirik antologimu yang kupakai untuk lirik lagu yang dinyanyikan Faris dan memberikan idenya tentang Si Penyanyi Jalanan. Aku nyari nama Jungkat-Jungkit dalam bahasa arab di gugel, tapi hasilnya jadi aneh. Jadi, "Knight" aja yaa.. Faris.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top