Part 3

"<.....>, apa yang kau lakukan melamun di situ. Cepat bawa bahannya ke sini. Tuan kita sedang menunggu."

"Nyonya, aku tidak sedang melamun. Aku sedang mengagumi alat yang sangat luar biasa ini. Mesin jahit ini sangat menarik." Wajah gadis pelayan itu terlihat berbinar-binar melihat mesin jahit tua itu. Entah apa yang sedang dibayangkannya.

"Hah, tahu apa kamu tentang mesin jahit? Pelayan rendahan seperti kamu. Lakukan saja apa yang kau bisa. Sekarang ambil bahan-bahan berkualitas mewah dari gudang. Aku tidak memerintah dua kali kepada pelayanku, <.....>."

"Aduh... iya iya. Aku ambil sekarang. Cerewet sekali sih."

"Astagaaa... apa yang sudah dilakukan oleh diriku di masa sebelumnya sampai mendapatkan pelayan yang kurang ajar sepertimu."

"Hahahaha. Mungkin kau berhutang padaku di masa la... ADUH!!!"

"Ah, maaf. Kamu tidak apa-apa, Nona?" Seseorang bertubuh besar dengan pakaian mewah berdiri di hadapannya. Baru sekilas melihatnya saja, gadis pelayan itu langsung tahu dia adalah Tuan Kaya yang dimaksud oleh majikannya tersebut.

"Ti-tidak ap..." Gadis itu tidak melanjutkan perkataannya. Kesadarannya telah kembali. Harusnya saat ini dan detik ini juga dia bersujud memohon pengampunan dari Tuan Kaya di hadapannya. Jelas-jelas dia yang telah menabraknya.

"Tuan, apakah Anda terluka? Oh maafkan saya... pelayanku sungguh tidak tahu aturan. Dia hanyalah anak yang berasal dari kasta bawah."

"Tenang saja, Nyonya Alamri. Aku tidak terluka sedikitpun. Aku yang salah karena tiba-tiba datang ke sini. Tapi, maafkan saya, Nyonya. Mungkin kita harus menunda urusan kita. Aku harus segera pergi."

"A-apa... ta-tapi.. bahannya..."

"Aku bisa kembali membelinya lain kali. Tapi aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa, Nyonya Alamri." Tuan itu buru-buru pergi seperti ada yang memburunya.

"Tu-tunggu... Tuaan!!" Nyonya Alamri menyusul Tuan Kaya itu yang bergegas pergi.

Dan gadis pelayan itu sadar, dia telah melakukan sebuah kesalahan besar.

--------------------------------------------------------

Charity POV

Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, Greed melakukan rutinitasnya seperti biasa. Kontrak tidak tertulis kami masih berlaku, dia masih mengambil pekerjaanku sebagai pemimpin di "Akram Foundation" setelah ia kalah dalam pertarungan bisnis kami tempo hari. Aku sendiri yang memintanya tapi Greed juga tidak menolak dengan pekerjaan itu, meski sebenarnya persetujuannya memang berdasarkan pemenuhan satu permintaan dari pihak yang menang kepada pihak yang kalah.

Tapi, saat aku mengatakan "rutinitas biasa"-nya, sebenarnya itu tidak termasuk dengan perlakuan dinginnya kepadaku. Ya. Sejak hari itu, Greed tidak pernah berbicara kepadaku barang sepatah kata pun. Aku mengerti alasan di balik kemarahannya tersebut karena sikapku yang mungkin sudah kelewatan baginya. Tapi, dibandingkan dengan perlakuannya kepada Mido kemarin, dua hal itu sungguh berada dalam konteks yang berbeda. Bercandaan para dosa memang berada di lain dimensi.

Aku menghembuskan napas berat. Mungkin nyawa manusia memang tidak lebih berharga dari timbunan harta emasnya. "Padahal aku kira kamu telah memahaminya..."

"Memahami apa, Kak?" Mido yang tiba-tiba berada di sampingku bersuara. Ia seperti biasanya dipapah oleh Neith. Oh, sepertinya aku tidak sadar telah menyuarakan pikiranku barusan.

"Bukan apa-apa." Aku langsung melemparkan senyum kepada mereka berdua. "Ada apa kemari? Pekerjaan kalian sudah selesai?"

"Ini waktu makan siang loh, Kak. Kak Ava yang menyuruh kami untuk istirahat makan." Kata Neith.

"Iya. Kak Avarie orangnya sangat disiplin. Waktu kerja harus kerja, waktu istirahat harus istirahat." Kata Mido menmpali. "Yah, meski awalnya kami merasa tersiksa saat awal-awal dia menjadi ketua. Tapi sekarang Kak Avarie sudah berubah."

"Kalian senang Kak Avarie ada di sini?" Tanyaku kepada mereka berdua.

"Iya dong." Kata Mido dan Neith hampir bersamaan.

"Sama. Kakak juga." Kataku tulus.

Setelah mendengar perkataanku, Neith kemudian mengeluarkan ekspresi seperti hendak mengatakan sesuatu. Tapi menelannya kembali.

Aku kenal benar Neith seperti apa. Pembawaan sifatnya yang sedikit pemalu membuatnya tidak bisa mengatakan apa yang ingin dikatakannya. Kecuali jika terpaksa. Maka yang bisa kulakukan adalah memancingnya bicara. "Ada apa, Neith? Apa ada yang mengganggu pikiranmu? Kamu bisa mengatakan semuanya kepada Kakak." Kataku membujuknya.

Neith akhirnya menampakkan keinginan untuk bersuara. Mulutnya beberapa kali membuka dan menutup sebagai usahanya untuk mengeluarkan kata. "Itu... aku mau tanya.. Kak Akram dan Kak Avarie sekarang lagi bertengkar?"

Oh, aku mengerti.

Mido keheranan mendengar pertanyaan Neith. "Loh, mereka kan tiap hari bertengkar. Itu kan udah biasa."

"Bukaaan. Yang ini berbeda, Kak." Kata Neith bersikeras. "Biasanya saat mereka bertengkar, suasana di sekitar mereka tidak seperti ini. Tidak sedingin ini. Aku memang buta, tapi aku bisa merasakannya. Kak Avarie... Kak Akram... apakah telah terjadi sesuatu?"

Neith memang tidak bisa diremehkan. Mata batinnya sangat peka melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat begitu saja oleh mata lahir manusia. Aku mengelus kepalanya. "Tidak ada kok. Maaf membuat kamu khawatir, Neith."

"Beneran?"

"Hahaha... iya. Memang ada sesuatu yang sedikit mengganggu kami saat ini. Tapi Kakak janji, kami akan baik-baik saja." Kataku menenangkan. Mendengar perkataanku membuat Neith dan juga Mido menjadi lega.

Mido kemudian mengatakan sesuatu yang membuatku hampir tersedak ludah sendiri.

"Aku sih tidak khawatir sama Kak Ava dan Kak Akram. Mengutip kata Kak Ijda kemarin, 'sepasang kekasih memang begitu, selalu ada pasang surutnya'... hehehe." Kata Mido sumringah.

"Hah? Apa kamu bilang barusan, Mido?"

"Aku tidak terlalu khawatir...?" Jawab Mido setengah keheranan.

"Bukan itu. Sepasang kekasih? Siapa?" Aku langsung mendapatkan perasaan tidak enak.

"Sudah jelas, kan? Kak Akram dan Kak Ava-laaah. Memangnya siapa lagi?" Mido menjawab pertanyaanku seolah-olah menjawab pertanyaan yang jawabannya paling jelas di dunia ini. Aku sedikit menepuk jidatku sambil menghela napas. Greed tidak boleh mendengar hal ini.

"Siapa yang menyebar isu itu?" Kataku akhirnya.

"Semua orang dan pekerja di sini sudah tahu kok. Bahkan banyak orang yang mengira Kak Ava adalah calon istri Kak Akram karena Kakak memberikan tempat tinggal dan membiarkan Kak Ava mengelola usaha yang Kakak bangun selama ini."

Kesalahpahaman ini harus segera dibereskan. "Mido... Neith... dengarkan Kakak baik-baik. Kakak hanya menolong Kak Avarie dari kesulitan. Dia orang asing di sini, tidak punya rumah, jadi Kakak hanya memberikan tumpangan buat dia menginap."

"Itu sih kami sudah tahu. Tapi kenapa Kakak juga mengajari Kak Ava tentang bagaimana caranya mengelola usaha Kakak? Menurut Kak Ijda, Kakak sedang menyiapkan Kak Ava untuk hidup bersama dan mengelola usaha ini bersama-sama. Iya, 'kan?" Kata Neith berusaha membantah semua kata-kataku. Matanya saat ini jelas memancarkan cahaya kegembiraan meski cahaya penglihatannya meredup. Aku tidak tega menghancurkan impian kecilnya itu. Tapi...

"Malah Kak Ava yang sedang mengajari dan membantu kita, Neith." Kataku tenang. "Kak Ava adalah boss dari sebuah perusahaan besar. Dia tidak mungkin menghabiskan waktu seumur hidupnya untuk melarat di tempat ini."

"Boss kok gak punya rumah?" Kata Mido.

"Boss kok malah ada di sini?" Kata Neith menggurui kakaknya.

Aku benar-benar kehabisan akal. Baru kali ini aku kehabisan kata menghadapi mereka berdua.

"Memangnya kenapa aku yang 'Boss'? Kalian segitu tidak percayanya yaa kalau aku punya perusahaan besar di dunia?" Greed tiba-tiba datang dari arah belakang dan men-toel masing-masing kepala Mido dan Neith.

"Aduh...!" Kata Mido dan Neith bersamaan.

"Aku sudah memerintahkan apa pada kalian, Anak-Anak Nakal?" Tanya Greed galak sembari berkacak pinggang di hadapan Mido dan Neith. "Bukannya makan tapi malah nongkrong di sini. Waktu istirahat habis. Saatnya kembali bekerja! Dan jangan ada di antara kalian yang makan!"

"Baaiik..." Kata Mido dan Neith kompak. Mereka pergi dengan tergopoh-gopoh meninggalkan kami berdua.

Sepeninggal Mido dan Neith, serasa ada ruang yang kosong yang tercipta. Seperti biasanya, Greed tidak mau repot-repot berbicara denganku.

"Greed..." Panggilku.

Dia kemudian menatapku. "Begitu juga denganmu. Jam makan siang sudah lewat!"

Gadis itu berlalu pergi setelah mengatakan hal itu kepadaku. Aku pun tersenyum. Sepertinya masa perang dingin kami telah usai.

----------------------------------------------------------

"Neith... tadi sebelum Kak Avarie datang.. kok aku merasa Kak Akram terdengar seperti menginginkan Kak Avarie menghabiskan hidupnya di sini?" Kata Mido mengingat-ingat pembicaraan mereka sebelumnya.

Neith tersenyum. "Sama kok. Aku juga merasa begitu. Lagian, Kakak sadar tidak? Dari sekian penjelasan Kak Akram yang panjang lebar itu, tidak sekalipun dia membantah isu tentang mereka berdua yang sepasang kekasih."

Mido ikut tersenyum lebar. "Kamu benar, Neith. Kak Ijda harus tahu tentang ini."


----------------------------------------------------------------

Yups, para pekerja yang senang bergosip. Dan aku sudah menyerah dengan flat-nya romance cerita ini (iya, aku ngerasa flat.. iya, aku sadar diri). Aku serahkan pada alur cerita aja, dibawa ke mana mereka berdua. Dan terima kasih yang sudah mau membaca ff ini. Arigatou gozaimasu~ *bow*

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top