EIGHT
"Baiklah Changkyunnie. Bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah kau menyukainya?" tanya Tuan Lee tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya. Ia fokus menyetir.
"Aku sangat menyukainya. Kamsahamnida, Appa."
Changkyun sibuk membolak-balik halaman buku yang baru dibelinya. Jangan salah sangka, itu bukan buku cerita anak-anak pada umumnya. Ya, itu buku yang berisi tentang berbagai macam rumus kimia yang mungkin jika kau membacanya saja rasanya ingin muntah. Anak itu memang sangat menyukai dunia sains.
Tuan Lee tersenyum mendengar jawaban dari putranya tersebut. "Kalau begitu nanti akan Appa belikan lagi jika kau sudah selesai membacanya," ujarnya kemudian mengelus puncak kepala Changkyun.
"Nee Appa. Sekali lagi terima kasih," sahut Changkyun kecil sembari memamerkan senyum manisnya.
Hening menyelimuti beberapa saat. Sampai akhirnya Tuan Lee menoleh ke arah Changkyun dan berkata dengan nada serius.
"Changkyun-ah," panggilnya pada Changkyun yang juga menatap padanya.
"Nee?"
"Appa punya satu permintaan padamu."
Changkyun mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut Tuan Lee dengan seksama.
"Apa itu?"
"Appa mohon tetaplah menjadi bagian keluarga Lee, apa pun yang terjadi. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan keluargamu. Mungkin Jooheon dan Hyunwoo belum bisa menerimamu, istriku pun juga begitu. Tapi percayalah mereka orang baik, mereka hanya butuh waktu saja untuk menerima keputusanku," ucap Tuan Lee panjang lebar.
Changkyun mendengarkan dengan mulut sedikit terbuka. Baiklah mungkin ucapan Tuan Lee tadi belum bisa dicerna sepenuhnya oleh anak seumurannya. Alhasil ia hanya mengangguk tanpa tahu harus menjawab apa.
"Hmm ... ucapanku memang membingungkan. Tapi aku tahu kau tidak bodoh. Jadi ingat saja apa yang Appa katakan tadi dan kau pahami ketika kau besar nanti. Arraseo?"
"Nee Appa," sahutnya paham.
Tuan Lee tersenyum kemudian mengacak surai legam milik Changkyun dengan lembut.
Tiiinnnnnn!!!
"Appa awas!!"
Tuan Lee tersentak begitu melihat sebuah truk melintas tak beraturan berjalan menuju mobil yang dikendarainya. Dicobanya untuk menghindar namun ....
Braakkkk!!
~~
"Hahh ...." Changkyun membuka matanya dengan nafas tersengal. Mimpi itu lagi. Sangat mengerikan baginya untuk selalu kembali ke masa itu lagi.
"Sudah bangun?" tanya seorang remaja di sampingnya.
Changkyun sedikit tersentak saat mendengar suara pemuda tersebut. Ia segera mendudukkan dirinya.
"Joo-Jooheon Hyung? Mengapa kau di sini. Tidak, maksudku ini di mana?" tanyanya masih bingung dengan apa yang terjadi. Seingatnya, dia terkunci di dalam toilet dan pingsan. Ohh, mungkin ini di ....
"Di ruang kesehatan sekolah," sahut Jooheon dengan nada dinginnya.
"Kenapa aku bisa di sini?"
Jooheon berdecih kesal.
"Bodoh. Apa aku perlu menjelaskannya padamu kenapa bisa sampai di sini?" tanyanya dingin.
"Heisshh ... mengapa kau kasar sekali pada dongsaeng-mu?" ujar pemuda satunya yang tak lain adalah Hyungwon yang baru bangun dari tidurnya. Ya ia memutuskan untuk tidur di ruang kesehatan. Ya, ini jauh lebih baik daripada di bawah pohon bukan?
Changkyun menundukkan kepalanya. Selalu saja dingin, pikirnya.
"Bagaimana keadaanmu Changkyun-ah? Sudah merasa lebih baik?" tanya Hyungwon lembut.
Changkyun merekahkan senyum manisnya.
"Nee. Aku sudah merasa lebih baik, Sunbae."
"Aishhh ... kau ini terlalu sopan. Panggil saja aku Hyung, oke?"
"Nee, Hyung."
"Bagus," ujarnya kemudian mengacak puncak kepala Changkyun.
"Oh! Bajumu kotor. Ini pakailah." Hyungwon menyerahkan sebuah jaket kepada Changkyun.
"Nee, gomawo." Changkyun menerima jaket tersebut dan segera memasangkan ke tubuhnya. Agak kebesaran ternyata, itu berarti Hyungwon lebih tinggi darinya.
Jooheon merasa ingin muntah melihat tingkah dua orang di hadapannya. Sedangkan Hyungwon yang melihat ekspresinya hanya terkekeh pelan.
"Oke. Kurasa kalian butuh waktu berdua. Aku akan pergi, ini urusan keluarga," kata Hyungwon kemudian melenggang begitu saja.
Jooheon hanya memandang kepergian Hyungwon dengan raut muka tak pedulinya.
"Kenapa kau bisa terkunci di dalam?" tanya Jooheon tiba-tiba.
Changkyun agak terkejut dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Jooheon. Apa ia tidak salah dengar?
"Maksudnya?"
Jooheon memutar bola matanya malas.
"Aku yakin kau tidak tuli kan?"
"Itu ... itu ...." Changkyun tergagap sendiri.
"Siapa yang melakukannya?!" ucap Jooheon kali ini dengan nada sedikit membentak.
Changkyun bungkam. Mana mungkin ia mengatakan bahwa itu perbuatan dua teman kelasnya.
"Emmm ... maaf aku tak bisa mengatakannya," sahutnya pelan tapi masih terdengar di telinga Jooheon.
"Wae? Ini termasuk kasus bullying."
"Karena mereka temanku."
Jooheon berdecih lagi. Kali ini terdengar sedang merendahkan. Remaja di hadapannya ini memang terlalu naif.
"Kau itu memang bodoh dan lemah. Kurasa kau memang pantas mendapatkannya, seharusnya aku tak perlu menolongmu dan sekarang aku menyesal," ujarnya sarkas.
"Jika seperti ini akhirnya lebih baik dulu kau masuk ke sekolah yang cocok untuk orang buta sepertimu, sialan!"
Lagi-lagi Changkyun hanya bisa terdiam mendengar serentetan kata menyakitkan dari mulut Jooheon. Jangankan menyahut, mengangkat kepalanya pun ia tak berani. Dan sialnya lagi-lagi cairan bening itu mengalir di pipinya tanpa bisa ia cegah.
Dan itu juga kesialan tersendiri bagi Jooheon. Melihat Changkyun menagis, uhh menyebalkan. Hanya kata itu yang selalu muncul di pikirannya.
Jooheon tersenyum miring. "Benar. Menagis. Itu kan yang bisa kau lakukan? Menangis saja terus dan ingat bahwa aku takkan peduli!" ucapnya dengan nada keras, yang tentu saja membuat Changkyun semakin terisak dalam diamnya.
Bruukk
"Ambil itu dan pulanglah!" lanjutnya sembari melemparkan tas sekolah milik Changkyun. Entah bagaimana ia bisa mendapatkan tas tersebut.
Jooheon segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. Petugas kesehatan sudah pergi dari tadi dan suasana sekolah juga cukup sepi. Ia malas jika harus berlama-lama bersama dengan Changkyun di dalam.
Sedangkan tanpa mereka sadari. Di sana ada seorang lain yang sedari tadi memperhatikan mereka dari awal hingga akhir percakapan tersebut.
Pemuda itu melirik sekilas ke dalam ruangan yang hanya menyisakan Changkyun dengan mata sembabnya.
'Itukah penyebabnya?'
#BLIND#
Changkyun duduk di bangku halte dengan wajah tertunduk. Sesekali ia mengusap matanya yang terkadang masih merembeskan air meski hanya sedikit. Hatinya kembali terluka. Ya, luka yang bahkan semakin bertambah kian harinya. Ia selalu terluka tapi tak pernah ada yang sudi mengobatinya.
"Kau menangis?" tanya seseorang yang tiba-tiba duduk di sampingnya.
Changkyun sedikit terkejut sebenarnya, tapi ia segera mengenali si pemilik suara tersebut kemudian tersenyum.
"Eoh ... Kihyun Hyung. Kau membuatku terkejut," ujarnya ramah.
"Kau belum menjawab pertanyaanku Im Changkyun."
Changkyun menggeleng kuat.
"Bukan apa-apa."
Kihyun membulatkan bibirnya. "Aku tahu, tenang saja. Aku tak akan bertanya lebih jauh lagi," sahutnya yang disambut dengan helaan nafas lega dari Changkyun. Ia bukan tipe orang yang suka memaksa.
"Omong-omong, hari ini aku sedang bahagia loh."
"Bahagia kenapa?" Changkyun menaikkan sebelah alisnya. Dari suaranya memang terdengar bersemangat.
"Bukan apa-apa, aku hanya sedang bahagia saja," lanjutnya.
'Okey, sekarang aku sudah tertular virus Lee Minhyuk,' batin Kihyun.
"Kau aneh, Hyung." Changkyun terkekeh pelan mendengar ucapan Kihyun yang menurutnya unik. Seperti bukan Kihyun, pikirnya.
"Terserah apa katamu. Tapi bagamana jika kau menemaniku makan tteokbokki?"
"Tteokbokki?" Changkyun terlihat berfikir. Entah menerima atau menolak, ia masih tidak tahu.
"Iya. Tenanglah, it's on me."
"Tapi sepertinya aku tak bisa menemanimu, Hyung. Maaf," sahut Changkyun diikuti wajah menyesalnya.
Kihyun mengerutkan keningnya.
"Wae? Ini masih belum terlalu larut untuk pulang. Dan jika kemalaman aku berjanji akan mengantarmu sampai rumah."
Changkyun terdiam, sebenarnya ia merasa tak enak untuk menolak ajakan kakak kelasnya yang selalu baik padanya.
"Ayolah Changkyun-ah! Aku sangat ingin makan tteokbokki sekarang, sedangkan Minhyuk tak bisa menemaniku," lanjutnya sedikit memohon. Ia memang sedang menginginkan tteokbokki sekarang.
"Baiklah, mungkin tidak ada salahnya menemanimu, Hyung," jawabnya kemudian kembali tersenyum.
Itu palsu. Sebenarnya ia gelisah. Nyonya Lee pasti akan memarahinya jika terlambat pulang. Tapi di sisi lain ia juga tak mau jika Kihyun kecewa.
Terdengar tawa senang dari seseorang di sampingnya. Changkyun mau tak mau ikut tertawa mendengar tawa Kihyun yang indah.
"Oke. Kajja aku tahu kedai tteokbokki yang enak dekat sini," ajak Kihyun kemudian beranjak lebih dulu dan diikuti Changkyun yang mengekor di belakangnya.
#BLIND#
Kini Changkyun dan Kihyun sedang berjalan santai. Sesuai janjinya, Kihyun akan mengantarkan Changkyun sampai ke rumahnya.
Tentu saja Changkyun awalnya menolak tapi bukan Kihyun jika ia tak bisa mendesak secara halus lawan bicaranya. Alhasil Changkyun hanya bisa mengiyakan tawaran(?) Kihyun. Lagi pula ia juga takut jika hanya berjalan sendiri di malam hari. Itu terlalu beresiko untuknya.
"Bagaimana pendapatmu tentang tteokbokki tadi?" tanya Kihyun membuka percakapan.
Pasalnya sudah hampir sepuluh menit mereka berjalan namun belum satu kata pun keluar dari keduanya. Kihyun bukanlah pecinta keheningan namun ia juga bukan orang yang hiperaktif semacam Minhyuk.
"Eoh. Itu enak," hanya itu yang keluar dari bibir tipis Changkyun dan selanjutnya hening.
Kihyun mengernyitkan dahinya, tidak biasanya hoobaenya ini terlihat diam seperti ini. Apa yang terjadi?
"Changkyun-ah, apa kau baik-baik saja? Kau terlihat gelisah," tanyanya khawatir.
Changkyun tak merespon. Sepertinya ia tengah terhanyut dalam pikirannya sendiri.
Kihyun menepuk bahu Changkyun pelan. Dan benar saja anak itu sedikit tersentak.
"Ahh ... nee?"
"Kau baik-baik saja kan?"
"Nee. Aku baik-baik saja, Hyung," sahut Changkyun mengulum senyum.
Sungguh menyebalkan melihat orang yang jelas-jelas terluka tapi masih berusaha terlihat baik-baik saja.
"Kau tahu Changkyun-ah?" tanya Kihyun kali ini dengan nada serius.
"Tahu apa?" Changkyun menautkan kedua alisnya.
"Kau itu tidak pandai dalam menyembunyikan perasaanmu," ucap Kihyun singkat.
Changkyun menghentikan langkahnya secara mendadak dan sontak membuat Kihyun harus menahan langkahnya. Raut mukanya benar-benar berubah sekarang. Apa benar yang dikatakan Kihyun itu?
"Apa aku terlihat begitu menyedihkan? Sampai-sampai terlihat jelas olehmu hyung?" tanyanya sendu.
Kihyun terdiam sesaat sebelum akhirnya merangkul bahu mungil Changkyun.
"Tidak kok. Aku memang selalu peka dengan perasaan orang lain."
Changkyun lagi-lagi hanya menundukkan kepalanya mendengar ucapan Kihyun.
"Baiklah, kita sudah sampai," ucap Kihyun tiba-tiba.
Changkyun menggalihkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Kihyun. Ia memasang wajah herannya.
"Hyung, dari mana kau tahu di mana rumahku?"
Kihyun hanya tersenyum miring yang pada dasarnya tak dapat dilihat oleh Changkyun.
"Tentu saja aku tahu, aku melihatmu setiap hari masuk ke dalam rumah itu," sahutnya yang membuat Changkyun semakin mengerutkan keningnya. Pasalnya ia sepertinya tak merasa bertetangga dengan Kihyun.
"Kalau begitu kau juga tahu ...."
"Kau adik Lee Jooheon, si ketua ekskul futsal," potong Kihyun sebelum Changkyun menyelesaikan kalimatnya.
Tergambar dengan jelas ekspresi terkejut dan gelisah secara bersamaan di wajah Changkyun.
"Seharusnya tak begini," ujar Changkyun kemudian melangkah menjauhi Kihyun.
"Wae? Kenapa kau terlihat takut seperti itu?" Kihyun maju selangkah mendekati Changkyun kemudian meraih lengan Changkyun.
"Jooheon Hyung tak akan menyukainya, ia pasti malu."
Jujur, Kihyun mulai paham dengan apa maksud dari segala pertanyaan yang dulu bercokol di hatinya. Dan sekarang apa yang harus ia lakukan?
"Tunggu Changkyun-ah!" panggilnya mencegah Changkyun yang sudah melangkah lagi.
Changkyun menghentikan langkahnya, menunggu kalimat dari mulut Kihyun.
"Mungkin aku terlalu lancang untuk mencari tahu tentangmu dan itu membuatmu tak nyaman. Tapi percayalah aku tak berniat buruk, aku hanya tak ingin kejadian itu terulang lagi," ucapnya menyesal.
Changkyun tersenyum.
"Tak apa, Hyung. Aku mengerti, tak perlu merasa bersalah," ujarnya tulus.
Kihyun tersenyum kemudian menepuk bahu Changkyun pelan.
"Terima kasih, sekarang pulanglah. Orang tuamu pasti khawatir," ucapnya tulus dan hanya dijawab dengan senyum tipis Changkyun.
"Aku berharap ucapanmu itu bisa menjadi nyata, Hyung," ucapnya lirih setelah sampai di depan pintu rumahnya.
#BLIND#
Maaf ya kalo ceritanya gaje..
Kemarin aku abis jatoh dari motor dan sekarang tangan aku sakit buat ngetik susahh😢😢 #curhat
Okey, seperti biasa yaaa VOMMENT nya jangan lupa
Hargai saia lah sedikit😞
Makasih...😘
Salam
VhaVictory
(09-11-2018)
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top