1.

Pagi itu Minji harus bangun kendati dia sedang libur. Dia menguap dan terduduk cukup lama di atas kasurnya. Dia menggeram pelan karena kesal harus bangun sepagi ini. Kalau saja Jonghun—kakaknya— tidak menyuruh datang ke studio musik, dia mungkin masih menyelam di alam mimpi.

"Aish!" umpatan itu terdengar sesekali, menyalurkan rasa kesal karena tidak bisa merasakan hari libur yang sesungguhnya. Meskipun begitu, satu jam kemudian dia sudah rapi dan siap untuk pergi ke studio musik yang terletak di kawasan Gangnam.

Butuh waktu sekitar tiga puluh sampai empat puluh lima menit untuk sampai ke tempat tujuannya. Studio musik sewaan itu bahkan belum buka, tapi entah kenapa Jonghun ingin bertemu di sini. Padahal, lokasi rumahnya jauh lebih dekat dengan apartemen Minji.

"Kau sudah datang," ujar Jonghun sambil melepas serbet di pinggangnya. Minji melihat pria itu sedang mendekorasi sebuah kue tart berbentuk silinder yang tidak terlalu tinggi. Pinggiran kue itu tertutupi oleh potongan strawberry dan kiwi yang bersisian. Sementara  di atas kue itu dihiasi krim berwarna merah jambu dan hijau dengan potongan cokelat putih besar bertuliskan "happy birthday"

"Siapa yang ulang tahun?" tanya Minji setelah dia duduk di meja yang berisi tumpukan kertas dan menaruh tasnya asal. Jonghun menjitak kepala adiknya setelah itu, membuat Minji berdecak kesal.

"Tentu saja kau. Untuk apa aku menyuruhmu pagi-pagi datang ke sini?"

Dua belas September, ah...bahkan Minji sendiri lupa tentang hal itu. Dia masih berpikir bahwa bulan ini musim panas karena cuaca pagi yang seringkali menyengat. Minji hampir saja menangis, tapi gadis Busan itu memilih untuk menelan tangisnya dan mencomot krim tart untuk dicicipi.

"Enak sekali," ujar Minji senang kepada Jonghun yang —sepertinya— sangat menunggu komentar. Ini pertama kalinya dia menghias kue tart di studio musik yang seharusnya tidak tersentuh hal-hal merepotkan semacam ini. Jonghun cukup bernapas lega kalau kue itu enak dan ikut duduk untuk menikmati tart.

"Omong-omong ini ulang tahunmu yang ke berapa?"

Minji menatap langit-langit studio—berpikir, kemudian dia menatap Jonghun yang masih menikmati kue hiasannya sendiri.

"Kalau tidak salah dua puluh delapan."

Jonghun menghela napas. "Waktu rasanya berjalan cepat sekali, ya. Rasanya aku baru saja mengajarimu naik sepeda kemarin. Tapi sekarang kau sudah berumur dua puluh delapan tahun."

Minji hanya mendengus, agak bosan juga harus mendengar kalimat klise itu setahun sekali. Walaupun begitu dia cukup berterima kasih karena kakaknya itu masih ingat perihal ulang tahunnya ini.

Jonghun pergi sebentar untuk mengambil lemon squash kepada Minji, sementara gadis itu masih asik memakan kue tart. Ponselnya bergetar tanda panggilan masuk. Dari nomor tidak dikenal, pasti salah sambung lagi, pikir Minji. Gadis itu memilih untuk mengabaikan karena tidak ingin merusak momen bahagia dengan Jonghun pagi ini.

"Kenapa tidak diangkat?" tanya Jonghun, atensinya teralihkan pada ponsel Minji yang kedap-kedip. Minji mengedikkan bahu, menjejalkan benda persegi panjang itu ke dalam tas dan membiarkannya. 

"Tidak penting," ujar Minji sambil menyesap lemon squash-nya. Matanya menatap berkeliling dan sorot matanya menangkap satu bungkusan di meja lainnya.

"Kau juga beli hadiah untukku?" tanya Minji tidak percaya. Jonghun melipat tangan di depan dadanya selagi Minji mengambil bungkusan itu, dia hanya memerhatikan Minji membuka bungkus berwarna merah jambu dengan semangat. Setelahnya dia cukup terkejut dengan isi yang terpampang  di hadapannya saat ini.

"Kau serius memberikan aku laptop ini?" Minji membelalak tidak percaya. Jonghun mendengus sambil mengambil gitarnya dan memetik beberapa senar dengan asal. 

"Benar, kau sendiri yang bilang membutuhkannya. Sekarang aku sudah beli, dan pastikan kau memanfaatkan benda itu dengan baik." Jonghun sudah larut dalam petikan gitar yang jauh lebih terarah, menghasilkan melodi indah yang menghantarkan rasa terharu di dalam benak Minji.

Gadis itu menubruk Jonghun dengan sebuah pelukan erat. Laptop adalah benda penting lainnya untuk bekerja sebagai penulis lepas. Laptop Minji rusak sebulan yang lalu karena kehujanan dan harus terjatuh ketika dia terdesak di dalam bus.

"Terima kasih," Minji masih memeluk Jonghun. Pria itu tersenyum lega di balik punggung Minji, kemudian mengusap kepala adiknya dengan sayang.

"Tidak perlu begitu. Ini hal wajar yang dilakukan oleh seorang Kakak," kata Jonghun sambil menyeringai. "Omong-omong, Ibu menyuruhmu untuk pulang ke Busan."

Wajah Minji yang tadinya berbinar kembali redup lagi, dahinya mengernyit tidak suka. Sebelah tangannya menaruh kembali laptop pemberian Jonghun di atas meja. 

"Untuk apa?"

"Menemuimu, tentu saja. Kau pikir apa?" tanya Jonghun tidak habis pikir. Minji memutar bola mata dengan malas sembari menghela napas. Dia paling tidak suka pulang ke Busan untuk alasan seperti itu.

"Masih bisa lewat videocall. Aku tak mungkin bolos kerja hanya untuk pulang ke Busan."

Jonghun tak senang jika harus berdebat masalah ini. Sejak tiga tahun yang lalu, Minji menolak untuk pulang selain hari-hari besar dimana semestinya keluarga berkumpul. Sampai saat ini Jonghun masih ragu apa alasannya, dan dia benci karena tidak mengetahui hal tersebut.

"Hanya tiga jam menggunakan kereta ekspress, Ibu dengan senang hati menjemputmu di Busan. Kau tidak perlu bolos kerja kalau berangkat di hari Sabtu. Mudah kan?" jelas Jonghun perlahan, seperti mengajari anak kecil menghitung dua ditambah dua sama dengan empat.

Minji menghela napas. Untuk kali ini dia hanya diam di tempat menahan amarah yang mulai menguasai relung hatinya. Air mata mulai menggenang di ujung matanya, berusaha mati-matian agar tidak jatuh tapi rasanya sia-sia. Tidak butuh waktu lama untuk bulir itu jatuh membasahi pipi Minji. 

Jonghun diam saja, menghela napas lalu meraih bahu Minji agar perhatian adik perempuannya itu fokus kepadanya.

"Aku hanya ingin bertanya, aku harap kau tidak tersinggung dan mau menjawabnya dengan jujur."

Minji masih diam, malahan semakin terisak di tempat.

"Kenapa kau tidak ingin pulang hm?" tanya Jonghun lembut, mengabaikan tatapan tajam dan menolak menjawab dari Minji. Gadis itu memejamkan matanya sejenak, menghentikan sepihak air mata yang tak akan mungkin berhenti jika dia tetap membuka matanya.

"Tidak bisa kujawab, maaf," kata Minji yang ingin meraih tasnya untuk pergi. Jonghun membiarkan saja, hingga suaranya membuat langkah Minji terhenti.

"Karena Ayah, kan? Kau pasti tidak ingin kembali karena dia."

Minji diam di tempat, meremat ujung tasnya untuk menahan emosi kemudian berbalik. Gadis itu kembali berhadapan dengan Jonhun sebagai kakak laki-kalinya, tapi dalam jarak yang lumayan jauh.

"Kalau sudah tahu, kenapa bertanya?"

Minji sudah terlebih dulu keluar dari studio itu sebelum Jonghun menanggapi apa-apa. Dia mengacak rambutnya kesal begitu tahu apa alasan adiknya itu.

Sementara Minji berlari, tidak peduli terhadap langit yang keburu mendung dan mulai memuntahkan titik-titik hujan. Dia tetap berjalan menuju halte, sepenuhnya tidak peduli kepada bajunya yang basah total. Luka yang berusaha ditutupinya sejak lama kembali terbuka lebar, dan rasa sakit itu kembali menjalar di seluruh relung hatinya tanpa diminta.

~

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top