22 Light after Darkness

Ingatlah ....

Setiap gelap selalu bersanding dengan cahaya. Setiap kesedihan akan berakhir dengan kebahagiaan.

 

~~oOo~~

“Lepas!”

Kamala berontak sekuat tenaga. Namun, lengan yang merengkuhnya jauh lebih kuat. Tenaga femininnya kalah telak dibandingkan pria itu.

“Nggak akan aku lepas.”

Kamala masih meronta-ronta. Namun, Dion sama keras kepalanya dengan wanita itu. Dia tidak mengendurkan pelukannya sama sekali.

Lalu mulut Dion mendaraskan doa-doa pelunak hati. Al-Fatihah dilantunkannya pelan di telinga Kamala. Pria itu terus melakukannya tanpa putus asa. Hatinya berserah pada Allah, pasrah akan rencana yang Dia berikan saat ini. Namun, Dion masih tidak mau berputus asa.

Lalu tangis Kamala pecah.

Wanita itu terisak hebat di pelukan Dion. Kamala tidak menyadari apa pun. Yang diketahuinya hanyalah suara merdu yang perlahan-lahan menenangkan hati. Bayangan-bayangan suram akan masa depan yang tidak jelas pudar, berganti dengan kengerian neraka yang membuatnya ketakutan alih-alih putus asa.

“Istighfar, Kam,” bisik Dion lembut di sela isak tangis wanita itu.

Kamala latah. Dia terus mengucapkan istighfar berkali-kali. Begitu terus sampai tangisnya mereda.

Saat Dion memapahnya kembali ke tempat tidur, Kamala merasakan letih luar biasa. Dia langsung tertidur pulas begitu kepalanya menyentuh bantal.

“Tidurlah, Kam.” Dion mengusap lembut kepala Kamala. “Lupakan semuanya. Kamu baik-baik saja sekarang. Insyaallah.”

~~oOo~~

Dion duduk terpekur. Pandangannya hampa terpaku ke satu titik di dinding di hadapannya. Pria itu terlihat serius berpikir.

“Dokter sudah kasih obat penenang, Yon.”

Mama mendekati putra sulungnya. Kursi besi berkeriut keras saat wanita paruh baya itu mengambil tempat duduk di sisi Dion.

“Untung saja kamu datang tepat waktu. Kalau nggak ....”

Mama tidak mampu melanjutkan perkataan. Napasnya terembus kencang. Wanita itu mengikuti aksi putranya, menatap kosong ke dinding di depan kamar.

Keduanya sama-sama terdiam. Mama masih terguncang dengan kejadian yang menimpa Kamala.

Begitu menerima telepon dari putranya, Mama, Papa, dan Sarah segera pergi ke rumah sakit. Mereka terus berjaga agar Kamala tidak sampai melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya.

“Apa Kama pernah menunjukkan tanda-tanda ingin bunuh diri, Yon?” Mama memecah kebisuan di antara mereka.

Dion terdiam. Ingatannya berputar mencari-cari kepingan memori. Yang paling cepat muncul adalah saat dia memergoki Kamala hendak melompat dari jembatan penyeberangan di Jakarta.

Waktu itu Kamala mengelak habis-habisan jika dia ingin mengakhiri hidup. Namun, Dion yakin wanita itu sudah memendam depresi cukup berat.

Ditambah gangguan kecemasan dan ablasio retina yang dideritanya, Dion curiga kejiwaan Kamala benar-benar tidak baik-baik saja.

Kamala butuh bantuan.

“Dion tidak bisa memastikan seratus persen. Butuh pengamatan lebih dalam lagi.” Pria itu berhati-hati menjawab pertanyaan mamanya.

Saat Dion menoleh, Papa keluar dari ruang rawat inap Kamala. Pria paruh baya itu mendekati istrinya dan mengelus lembut bahu wanita tersebut.

Mereka saling berpandangan. Ada percakapan tanpa suara yang terjadi. Cara Papa dan Mama saling memandang menyiratkan komunikasi tanpa kata yang mampu menguatkan satu sama lain.

Lalu ide itu melintas begitu saja.

Dion tertegun. Duduknya langsung tegak. Pria itu menelan ludah. Dengan hati berdebar-debar, Dion berkata pada kedua orang tuanya.

“Dion ingin membantu Kamala, Ma, Pa.”

Dua orang tua itu menatap sang putra sulung.

“Bagus. Kami mendukungmu.”

“Dengan menikahinya,” imbuh Dion lagi.

Papa dan Mama terbelalak. Dua orang itu bahkan sampai menjulurkan leher. Mama refleks beringsut mendekati putranya. Tangan wanita itu terulur menyentuh kening Dion.

“Nggak panas. Anak ini waras, Pa.”

“Ah, masak? Jangan-jangan dia dehidrasi, Ma. Katanya orang dehidrasi kan, nggak mampu berpikir jernih.”

Mama mengangguk kuat-kuat. “Coba Papa ambil minum. Dua liter sekalian, Pa. Biar otak Dion bisa encer mikir lagi.”

Dion mengeluh keras. Orang tuanya yang selalu menghadapi situasi dengan candaan dan ketenangan tingkat akut itu malah membuatnya kesal.

“Ma, Pa. Dion serius.” Pria itu berkata tegas.

“Loh, kami juga serius.” Papa mengambil tempat duduk di belakang istrinya yang tengah menghadap ke arah Dion.

"Kami ini dua rius malahan. Kenapa kamu baru bilang sekarang?"

Dion melongo.

“Tuh, kan, Ma. Ini anak kayaknya memang butuh cairan. Kasih Aqua yang banyak, Ma. Ada di kamar calon mantu kita, kan?”

“Idih, Papa. Jangan sebut merek blak-blakan gitu. Entar kita ditagih hak cipta lagi sama Aqua.” Wanita itu menyodok rusuk sang suami.

“Lah, itu Mama juga sebut.”

Dion mengabaikan perdebatan kecil orang tuanya. Mulutnya terbuka lebar. Mata Dion membulat setelah menyadari perkataan papanya.

“Kamar ... calon ... mantu?” Dion membeo bingung.

“Ya, Allah. Kita sekolahin Dion mahal-mahal, tapi mikir ginian saja dia lelet banget, Ma.” Pria paruh baya itu mengeluh.

“Ya, maklum, Pa. Ada yang dicontoh. Dulu Papa melamar Mama kan, juga kayak Dion ini.”

Dion langsung mengangkat tangan. Ekspresinya yang semula bingung kini berubah jadi penasaran.

“Papa sama Mama ...,” pria itu menelan ludah, “... kalian merestui Dion?”

Yo tentu, Yon. Justru kami berdua menunggu kami gerak cepat kayak sekarang.” Mama berkata lembut.

“Kamala butuh pertolongan. Kami sepakat denganmu. Tapi dia juga sangat keras hati. Mama bisa memahami hal itu sebab Kamala memang selalu sendirian selama ini.”

Dion menatap mamanya tidak mengerti.

“Katamu Kamala yatim piatu, kan? Mama sudah coba korek informasi, mencari tahu di mana dia tinggal sebelum pindah ke Jakarta.”

Dion terperangah. Suasana ruang tunggu di depan kamar Kamala mendadak terasa sangat sunyi. Bulu kuduk Dion sampai berdiri mendengar inisiatif yang dilakukan mamanya.

“Mama berhasil tahu?” tanya Dion dengan rasa penasaran yang tidak ditutup-tutupi.

Mama mengangguk. “Sedikit lancang memang. Mama ke kontrakan Kamala untuk mengambil kartu asuransi dia. Lalu Mama menemukan alamat panti asuhan tempat Kamala dibesarkan.”

Hawa dingin mengaliri punggung Dion. Telinganya terbuka lebar-lebar mendengar cerita Mama.

“Jadi, Mama ke sana. Mama sengaja minta ibu pengurus panti untuk mengizinkan keluarga kita merawatnya. Beliau mengizinkan, bahkan ingin bertemu dengan Kamala. Tapi Mama masih melarang.”

“Kenapa, Ma?”

Wanita itu tersenyum prihatin. “Kamala sengaja tinggal jauh dari keluarga pantinya tentu untuk menyembunyikan penyakitnya. Mama rasa lebih bijaksana jika membiarkan Kamala sendirian dulu.”

Mama lantas menoleh ke arah kamar inap Kamala yang tertutup rapat. “Mama nggak menyangka jika perkembangannya malah lebih buruk. Tindakan Kamala sudah mengkhawatirkan, Yon.”

Papa menambahi perkataan istrinya. “Kita harus membantu Kamala, Yon. Kamu yang paling tahu bagaimana cara menyikapi permasalahan Kamala. Tapi kami mendukungmu. Apa pun rencanamu.”

Dion tidak bisa berkata-kata. Dia menelan ludah dengan susah payah. Segumpal rasa panas menyumbat tenggorokannya.

“Kami sudah anggap Kamala sebagai anak sendiri. Lakukan yang terbaik untuk dia, Yon. Jangan sampai nyawanya menghilang sia-sia,” pinta Mama.

Bersambung --->>

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top