12 Blasio Note

Kamu tahu salah satu hal terburuk di dunia? Yaitu penyesalan karena menyia-nyiakan masa lapang dan sehat.
~~oOo~~
"Ini naskah siapa?"
Kamala berusaha bersikap tenang. Senyumnya tersungging lebar, meski debar jantung di dada terus bertalu-talu tiada henti.
"Nama penulisnya Syaron. Dia mengirimkan sinopsis yang sangat menarik. Jadi, saya minta dia mengirim beberapa bagian naskah," jelas Kamala dengan nada tenang.
"Jadi, naskahnya belum siap semua? Masih on going?" Editor Kepala di tempat Kamala bekerja melontarkan pertanyaan.
Kerutan di dahi pria yang sering disapa bos besar itu membuat Kamala sedikit gentar. Dia menelan ludah, berusaha menenangkan debaran jantungnya yang seolah mengajak lari maraton dua puluh kilometer.
"Begitulah, Pak. Saya tidak menjanjikan apa pun padanya, tapi dia bersedia merampungkan naskah sesuai tenggat waktu jika karyanya diterima."
Kerutan di dahi Editor Kepala semakin bertambah banyak. Dia membaca berkas yang disodorkan Kamala dengan saksama. Perlahan-lahan kerutan itu memudar, berganti dengan bola mata yang membesar dan ekspresi keterkejutan.
"Ablasio retina?" tanya pria itu kaget. "Dan dia mengeklaim ini adalah kisah nyata?"
Kamala mengangguk. "Perjuangannya mengatasi penyakit itu patut diapresiasi, Pak. Dia juga punya anxiety disorder. Oh, maksud saya tokoh dalam novel."
Kamala buru-buru menjelaskan saat melihat Editor Kepala membuka mulut hendak bicara. Wanita itu meneruskan perkataan.
"Saya tidak menanyakan apakah gangguan kecemasan itu juga termasuk dalam kisah nyata. Namun, penyakit ablasio retina yang diderita si tokoh memang benar-benar nyata dilihat oleh si penulis."
Editor Kepala termenung. "Apa dia menyertakan data dirinya? Nama penanya sederhana, tetapi ide ceritanya menarik."
Kamala bertanya heran. "Tumben Bapak menanyakan identitas penulis. Biasanya juga diserahkan pada editor."
"Karena aku ingin mewawancarainya dulu," jawab pria itu.
Wajah Kamala sedikit memucat. Dia tidak mengira akan ditodong keinginan seperti itu.
"Belum ada, Pak. Saya belum meminta data apa pun sebab kita belum menyiapkan kontrak naskah. Selama ini prosedurnya selalu seperti itu, kan? Naskah lolos baru meminta rincian data penulis untuk kontrak."
Editor Kepala menghela napas kecewa.
"Selain itu, Syaron ini sepertinya juga sangat tertutup. Dia tidak memberi saya nomor Whatsapp. Seluruh komunikasi dia lakukan melalui pos-el."
"Bagaimana kalau tulisan dia ternyata bermasalah? Belakangan ini isu plagiarisme sangat kencang. Belum lagi jika kisah yang diambil si Syaron ini adalah kisah orang lain. Perlu ada persetujuan lebih dulu."
Kamala kembali memberikan senyum yang tidak sampai ke mata. Ruang kerja atasannya yang selalu menyetel penyejuk udara kini terasa sangat dingin sampai mendirikan bulu roma. Jantung Kamala kembali berdebar-debar.
"Tolong, percayakan Syaron pada saya. Saya akan memastikan tidak ada aturan perusahaan yang dilanggar."
Pria yang duduk di belakang meja kerja itu menatap Kamala lekat-lekat. Dia tidak meragukan kredibilitas editornya yang satu ini. Kamala memang punya mata tajam dan tangan dingin dalam mengolah naskah.
Namun, kali ini pria yang juga merupakan pemilik penerbitan itu ingin membuat gebrakan baru. Sudah lama dia merencanakan hal ini. Namun, belum ada naskah yang dinilainya cocok dengan rencananya.
Kamala memberikan solusi. Membaca premis cerita saja sudah membuat pria itu tertarik. Saat berlanjut ke sinopsis dan kerangka cerita, dia yakin bila pilihannya kali ini pasti tepat.
"Kamu yakin Syaron bisa menyelesaikan naskah itu dalam satu bulan?"
Kamala mengerjapkan mata. Ingatannya segera tertuju pada folder naskah di laptop. Tanpa ragu, Kamala menganggukkan kepala.
"Saya akan mengawal naskah ini tepat waktu." Kamala berjanji.
"Oke, deal. Blasio Note jadi milikmu." Editor Kepala menganggukkan kepala.
Kamala nyaris meloncat kegirangan. Namun, dia berhasil menahan diri. Sebagai gantinya senyum lebar merekah di wajah polosnya.
Setelah berterima kasih pada Editor Kepala, wanita itu bergegas kembali ke kubikelnya. Dia tidak peduli tatapan setengah lusin orang yang penasaran pada dirinya. Jarang-jarang mereka melihat Kamala tersenyum secerah itu.
"Untung saja aku bisa berbohong dengan sempurna. Naskahnya sudah selesai. Tinggal lakukan editing saja." Kamala berkata lirih.
Dirinya segera tenggelam pada pekerjaan. Makan siang terlewati begitu saja. Saat jam menunjukkan pukul tiga sore dan terdengar suara derit kursi, langkah kaki, serta riuh percakapan orang yang gembira menyambut jam pulang kantor, baru Kamala tersadar akan waktu.
Wanita itu mendongak. Dia mengamati rekan-rekan kantornya yang mulai pergi meninggalkan ruangan.
"Eh, sudah jam pulang?"
Jari Kamala memijat-mijat mata. Rasanya panas dan perih, juga berdenyut-denyut. Kepala Kamala juga terasa sangat pusing.
"Perasaan minumku sudah banyak." Kamala melirik botol air berukuran dua liter di atas mejanya. "Kenapa kepalaku masih pusing? Efek radiasikah?"
Kamala belum berniat pulang. Dia masih ingin menyelesaikan beberapa halaman novel lagi. Namun, pandangan wanita itu mengabur.
Hingga akhirnya Kamala menyerah.
Dia memberesi perlengkapannya, kemudian beranjak pulang. Baru saja memindai kartu presensi di lobi bawah, mata Kamala menangkap bayangan sosok yang sudah familier.
"Haish, kenapa mereka ada di sini?"
Kamala bergegas menyelinap pintu belakang. Dia bersembunyi di antara orang-orang yang lalu lalang di lobi. Begitu berhasil mencapai udara luar, hidung Kamala mengembuskan napas lega.
"Astaga, nyaris saja tadi ketemu mereka." Wanita itu melangkah cepat menyusuri trotoar. Udara ibukota yang gerah membuat keringat dengan cepat membanjiri pakaian Kamala.
Dia sudah keluar dari gang kecil di belakang kantor dan langsung berhadapan dengan parkiran bagian timur. Dion dan Sarah terlihat berada di kejauhan, masih menunggunya di depan lobi.
Dengan cepat wanita itu berjalan pergi berlawanan arah dengan pasangan kakak beradik tersebut. Langkah Kamala panjang-panjang. Saking terburu-burunya, Kamala tidak melihat arah dan hampir menabrak seorang pejalan kaki.
"Ridwan?" Wanita itu mengusap-usap dada menenangkan jantung yang berdebar kencang.
"Elo, Kam." Lelaki di hadapan Kamala menyapa dingin.
Alis Kamala terangkat tinggi. Dipandanginya Ridwan lekat-lekat. Ingin sekali Kamala menanyakan kabar lelaki itu, atau berbasa-basi tentang pekerjaan di kantor.
Namun, gestur Ridwan berbeda. Lelaki itu tidak terlihat seramah biasanya. Ridwan yang tengah berdiri di halte bus tidak lagi menoleh padanya. Pandangan lelaki itu tertuju lurus ke arah bus seharusnya datang.
"Rid–"
"Bus gue udah datang. Bye, Kam."
Kamala melongo. Dia tidak mengerti dengan perubahan sikap pria itu. Ridwan tidak sekalipun menoleh ke arahnya.
Berdiri termangu Kamala menatap kepergian bus yang membawa sosok Ridwan. Hati Kamala masygul.
"Ridwan kenapa? Kok, dingin banget sama aku? Emang aku ada salah sama dia?"
Kamala kembali melangkah pergi. Pikirannya dipenuhi perubahan sikap sang kolega kantor. Sampai di indekos, wanita itu masih dibingungkan dengan sikap Ridwan yang berubah seratus delapan puluh derajat.
"Kok, aku jadi over thinking gini? Mungkin aja Ridwan sedang buru-buru tadi. Jadi, nggak sempat basa-basi sama aku."
Kamala memandangi ponsel di atas meja. Ingin sekali dia mengirim pesan pada Ridwan. Namun, status hubungan mereka yang hanya sebatas rekan kerja membuat Kamala mengurungkan niat.
Malam itu Kamala melakukan lembur lagi. Dia berniat menyelesaikan editing beberapa halaman novel Syaron lagi. Namun, baru setengah jam menghadap laptop, pandangan Kamala mendadak dipenuhi kelebatan cahaya yang datang dan pergi dengan cepat.
"Kenapa denganku?" Kamala memejam-mejamkan mata. "Ini mata jadi nyeri banget. Ya, Allah. Sakit."
Kamala mematikan laptop. Dia membaringkan diri seraya memejamkan mata. Saat mencoba membukanya lagi, jantung wanita itu nyaris berhenti berdetak.
Penglihatannya jadi tidak normal. Seolah ada tirai membayang yang menghalangi tiap citra benda yang dilihatnya. Lalu perlahan-lahan pandangan Kamala mengabur dan wanita itu sempat tidak bisa melihat apa pun.
"Allah, kenapa ini?"
Kamala menutup mata. Kecemasannya meningkat drastis. Dada Kamala berdebar-debar hingga nyaris robek.
"Dokter mata. Dokter mata." Wanita itu buru-buru mengambil ponselnya.
Dia tahu ada setengah lusin pesan dari Sarah dan lebih sedikit pesan dari Dion. Namun, Kamala mengabaikan. Di tengah gempuran kilasan cahaya yang datang dan pergi dengan cepat, wanita itu mencoba membuat janji pemeriksaan dengan dokter mata.
"Allah, jangan sampai kenapa-kenapa mataku." Kamala kembali memejamkan mata. Dua butir air mata mengalir di pipi.
"Aku masih ingin melihat dunia. Allah, tolong jangan ambil penglihatanku."
~~oOo~~
Selamat Idulfitri penulis ucapkan
untuk semua Readers yang
merayakan. Mohon maaf
lahir dan batin, ya.
Oh, ya. Author juga punya titipan
ucapan hari raya dari Kamala
dan Dion. Mereka berdua
kompak minta Readers
doakan agar bisa bersatu
jadi pasangan halal.
Sementara ini, Readers
bantu kawal mereka biar
nggak macam-macam, ya.
Eh, tapi kan, ada Ridwan.
Ini Kamala enaknya nikah
sama Dion apa Ridwan?
Atau Kamala mending
sendirian saja tanpa pendamping?
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top