⭐CHAPTER 9🌼
Happy reading....
.
.
.
.
Pada akhirnya waktu akan tetap berjalan. Tak peduli apa yang terjadi dalam hidupmu, tak peduli seberapa menderitanya dirimu, waktu tak akan menunggu. Hari ini akhirnya aku tiba di puncak masa perkuliahan; wisuda. Dengan toga yang talinya telah berpindah dari kiri ke kanan, aku berfoto bersama Abi dan Umi, juga berfoto bersama Kinar dan Justin yang insya Allah akan menyusul di wisuda yang akan datang. Ada yang kurang? Tentu saja. Tak terasa satu tahun telah berlalu. Bisa dikatakan bahwa ini adalah kedua kalinya Bintang menghilang dari hidupku. Jadi, aku sudah mulai terbiasa. Walaupun rasanya lebih sakit, sebab Bintang menghilang setelah menyatakan cinta padaku. Jika suatu saat nanti ia kembali, bisa saja ia akan pergi lagi. Mungkin.
"Selamat ya, Ra," ucap Rio dan Andini ketika aku selesai berfoto di depan gedung rektorat. Hari ini mereka berdua juga wisuda bersamaku dan ribuan wisudawan lainnya.
"Makasih. Selamat juga untuk kalian berdua," balasku.
"Itu yang lagi berdua, kapan wisudanya, Ra?" ujar Andini seraya melirik Kinar dan Justin yang sedang asyik melihat hasil foto di kamera Justin.
"Hm ... mungkin tahun depan?" jawabku diikuti tawa dari dua sejoli itu.
Merasa sedang dibicarakan, Kinar dan Justin mengarahkan tatapan tajamnya padaku, Rio, dan Andini. "Cepat wisuda itu nggak menjamin kesuksesan!" ujar Kinar percaya diri.
"Setuju!" sahut Justin.
"Ya, tapi setidaknya kami udah semakin dekat dengan kesuksesan," balas Andini tak mau kalah.
Justin langsung menatap Kinar. "Nar, sekarang gelar kita masih mahasiswa, kan? Lo tahu nggak gelar mereka sekarang apa?"
"Apa?" respons Kinar sok polos.
"Pengangguran! Ha ha...." Sekarang dua manusia absurd itu tertawa sejadi-jadinya. Mereka yang bicara, mereka pula yang tertawa. Sementara kami yang sama sekali tak merasa lucu hanya bisa geleng-geleng kepala.
Bayangkan jika spesies seperti Kinar berjodoh dengan spesies seperti Justin, pasti anaknya nanti akan stres memiliki orang tua seperti mereka.
Tatapanku mulai menjelajah ke sekeliling, mencari Abi dan Umi yang ternyata sedang duduk di salah satu bangku taman sembari mengamati ijazahku. Senyumku mengembang. Aku benar-benar bersyukur; aku, Abi dan Umi masih diberikan umur panjang hingga bisa tiba di hari bahagia ini. Senang sekali rasanya bisa membuat mereka bangga.
Aku kembali menatap sekeliling, wajah-wajah bahagia para orang tua dan anaknya benar-benar menyejukkan hati. Namun, tetap saja ada hal lain yang terjadi. Beberapa pasang mata menatapku sembari berbisik-bisik. Kebanyakan dari pihak orang tua dan juga beberapa wisudawan dari fakultas lain yang sepertinya tak pernah melihatku. Wajar saja jika aku menjadi pusat perhatian, di saat gadis-gadis lain tampil cantik dengan make up-nya, aku malah tampil dengan keadaan yang masih sama. Bahkan cambang di wajahku semakin lebat saja. Tetapi tak mengapa, aku tetap bahagia. Seperti yang sering kukatakan sebelumnya; aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Sepanjang hidupku, aku tak akan pernah bebas dari serangan berbau 'body shaming'.
Tepukan di bahuku membuyarkan segala macam pikiranku. Rio dan Andini berpamitan, mereka akan langsung menuju studio foto untuk mengabadikan hari bahagia ini. Tepat setelah Rio dan Andini pergi, sebuah pesan singkat dari nomor baru yang tak kukenal mendarat di ponselku.
Selamat, ya. Hari ini kamu cantik sekali dengan baju wisuda itu.
Pesan itu membuatku spontan mengangkat kepala, celingak-celinguk mencari seseorang yang mungkin sedang memperhatikanku. Namun, aku tak menemukan siapa pun.
"Cari siapa sih lo?" tanya Kinar. Justin ikut menatapku. Aku pun memperlihatkan pesan itu kepada mereka.
"Wah, ada mata-mata di kampus kita!" sahut Justin asal.
"Siapa, sih? Aneh banget." Kinar ikut berkomentar.
"Jangan-jangan salah satu wisudawan yang ada di sini lagi," tebak Justin semakin tak masuk akal.
"Teratai!"
Suara berat seorang pria dari balik punggungku membuatku berbalik. Mataku membelalak seketika. Betapa terkejutnya aku melihat seseorang yang ada di hadapanku kini. Jantungku berdetak kencang tanpa komando. "Bi-bintang?" ucapku terbata-bata.
Pria itu tersenyum. Senyumannya masih sama seperti dulu. Hangat dan menenangkan. Namun, ada rasa kesal di hatiku. Kenapa ia menghilang dan sekarang kembali lagi? Apa yang sebenarnya ia mau? Apa tujuannya?
Aku mengalihkan tatapanku ke arah Kinar dan Justin. Alisku saling tertaut melihat respons mereka. Sama sekali tak ada keterkejutan di wajah kedua sahabatku itu.
Aku menelan ludah. Berusaha mencerna segala yang terjadi. "Kenapa kalian nggak kaget?" tanyaku. Tetapi Kinar dan Justin hanya diam saja.
"Kenapa kalian nggak kaget?" ulangku. "Seharusnya kalian kaget, dong. Setelah setahun tanpa kabar, sekarang Bintang muncul lagi." Suaraku mulai gemetar. Mataku pun berkaca-kaca. "Jangan diam aja! Kalian tahu sesuatu, kan?"
"Teratai...." Umi datang menghampiriku bersama Abi. "Kamu jangan marah sama Kinar dan Justin," lanjut Umi.
Aku semakin mengenyit tak mengerti. "Umi dan Abi juga udah tahu? Apa cuma aku yang nggak tahu apa-apa?"
"Kinar dan Justin baru ketemu Bintang dua hari yang lalu, respons mereka sama kayak kamu, mereka marah. Bahkan lebih marah dari kamu. Malahan waktu itu Kinar nampar Bintang saking kesalnya." Umi berusaha menjelaskan dengan lembut. "Bintang datang lima hari yang lalu. Dia datang ke rumah waktu kamu lagi di kampus. Dia minta saran Umi dan Abi gimana caranya biar bisa ngomong baik-baik sama kamu."
Hening sejenak. Umi menjeda ceritanya di tengah hiruk pikuk wisudawan dan wisudawati di sekitar kami. "Abi juga marah waktu itu," lanjut Umi, "karena gara-gara Bintang, anak Umi ini jadi sering sedih. Tapi setelah Bintang jelaskan semuanya, Abi langsung luluh. Begitu juga dengan Kinar dan Justin."
"Abi bilang kalau kamu akan wisuda lima hari lagi, Abi yang melarang Bintang ketemu kamu. Abi ingin kamu fokus dulu ke acara ini." Abi melanjutkan cerita Umi. Aku masih diam mendengarkan. "Jadi, Abi sarankan untuk ketemu dulu sama Kinar dan Justin untuk menceritakan semuanya. Abi harap kamu mau dengar penjelasan Bintang. Hari ini dia datang spesial di hari wisuda kamu, Nak. Ini kan merupakan salah satu hal yang kamu impikan." Abi mengakhiri penjelasannya dengan senyuman.
Sementara diriku masih diam mematung. Otakku masih berusaha mencerna kejadian tiba-tiba ini. Aku kembali menatap Kinar dan Justin. Mereka tersenyum padaku. Mata mereka seakan berbicara dan mengucap kata 'maaf'. Aku menghela napas panjang dan memberanikan diri menatap Bintang lagi.
"Selamat ya, Teratai," ucapnya seraya memberikan buket bunga kepadaku. Bukan bunga Teratai tentunya. Aku menerima bunga itu, menatapnya dalam diam.
"Makasih." Hanya itu kata yang bisa keluar dari mulutku.
"Sama-sama," balasnya. "Ikut aku, yuk!"
Alih-alih menjawab, aku malah menatap Abi dan Umi. Kedua orang terhebat dalam hidupku itu mengangguk, memberi isyarat bahwa aku memang harus ikut dengan Bintang. Aku pun segera mengiakan. Aku memang butuh penjelasan darinya. Ke mana saja ia selama ini? Kenapa ia tiba-tiba menghilang dan tak memberi kabar? Aku butuh semua jawaban.
⭐⭐🌼🌼
10 Maret 2019
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top