Chapter 3

Nicolas menegak minuman kerasnya seperti meminum air putih, Sekarang ia sedang tidak bisa merasakan apapun, entah apakah ini karena ia berdekatan dengan Selena atau karena kehilangan Sophie? Nicolas sama sekali tidak mengerti dirinya sendiri, ia sama sekali tidak tahu.

Sejauh yang ia ketahui, perasaan ini membawa dampak buruk baginya, ia merasa sesak dan tidak bisa bernafas.

Kenapa begitu sulit? Apa bernafas memang sesulit ini? Kenapa ia merasa seakan-akan dirinya sedang tenggelam dan tidak bisa melihat atau bernafas?

Leandra dan Thomas memandang Nicolas dengan khawatir. Sebenarnya mereka berdua lebih mengkhawatirkan efek dari minuman keras itu pada diri pria itu. Awalnya mereka mengajak Nicolas untuk melampiaskan kesedihannya pada minuman, bukannya malah tenggelam dalam minuman keras.

Sebenarnya Nicolas sendiri tahu bahwa dirinya akan sulit dikendalikan kalau mabuk, tapi kali ini ia tidak mau repot-repot memikirkan hal itu. Sudah cukup baginya satu minggu penuh penderitaan dan seharusnya orang-orang menciptakan sebuah piala untuknya karena bisa bertahan dari godaan gadis yang sangat terlarang baginya. Sialan!

Sophie meninggalkannya, dan kini ia harus berhadapan dengan gadis kecil itu. Gadis kecil yang entah bagaimana sudah berada didalam hatinya bertahun-tahun yang lalu. Sialan...

"Nic, rasanya kamu terlalu banyak minum" ucap Thomas berusaha menghentikan Nicolas yang masih menegak botol yang baru dibukanya—botol ketiga yang sudah diteguknya.

"Jangan ikut campur, Thomas. Aku sama sekali tidak mabuk" jawab Nicolas dengan pandangan yang sudah tidak fokus, dan hanya orang bodoh saja yang tidak menyadari hal itu.

"Sudah, hentikan tingkahmu sekarang, Nicolas!" sembur Leandra dan memaksa Nicolas menurunkan botol yang ada ditangannya, "Kamu seperti orang gila kalau seperti ini terus!"

Thomas memandang sahabatnya dengan sedih, seorang Nicolas yang penuh wibawa itu kini berada di posisi seperti ini, "Sudahlah, dude. Kamu harus menghentikan semua ini atau kamu akan menghancurkan dirimu sendiri"

"Lepaskan!" Nicolas mundur hingga punggungnya menabrak dinding dingin dibelakangnya. Ia mengacak-acak rambut tebalnya, ia butuh ditenangkan dan ia butuh sesuatu...

"Ini semua karena dia! "geramnya, berusaha mengarahkan segala kekesalannya pada gadis yang bahkan tidak berada didepannya.

Saat sedang memikirkan apa yang dilakukan gadis itu sekarang, mendadak Nicolas merasa tubuhnya digerayangi oleh seseorang.

"Hey, tampan..." gumam manis seorang gadis berambut ikal yang tengah menggerayangi tubuhnya dengan mesra. Awalnya Nicolas menikmati sentuhan gadis itu, bagaimanapun ia sepertinya butuh pelepasan yang selama beberapa lama ini tidak terpuaskan. Tapi semakin gadis itu menyentuhnya, ia malah merasa jijik

Dan mendadak wajah Selena malah muncul dibenaknya.

Nicolas melepaskan diri dari sentuhan wanita cantik yang kini tengah menggerayanginya diarea tonjolan dibalik jeans yang dikenakannya, "Back off, woman!" teriaknya sambil mendorong wanita itu yang mengernyit tersinggung,

"Bastard!" jerit gadis itu dengan nada tersinggung

Sebelum gadis itu sanggup mengatakan kata-kata selanjutnya, Nicolas telah berjalan meninggalkan gadis itu.

Sialan, sialan...!

Kepalanya seakan-akan tengah dipukul oleh segerombolan kurcaci, dan dengan enggan Nicolas memaksakan dirinya bergerak menuju parkiran dan berusaha menghiraukan denyut di kepalanya.

Dua jam adalah waktu sebentar tapi merupakan waktu terlama bagi Selena untuk menunggu Nicolas yang belum kembali dari kantornya. Ia berharap detak jantungnya yang berdetak seperti orang gila tidak ada hubungannya dengan pria itu, tapi rumah Nicolas kosong dan pria itu sudah terlambat selama dua jam.

Padahal biasanya Nicolas sudah sampai dirumah sebelum pukul sepuluh.

Suara jarum jam terasa seperti bunyi bom baginya, jantungnya semakin berdebar tidak karuan, bukan hanya sesekali ia memandang kearah jarum jam yang semakin maju dan menujukkan waktu dua belas, pria itu bahkan belum pulang ke rumah.

Apa ada sesuatu yang terjadi padanya? Selena benci pada dirinya sendiri karena berpikir negative seperti itu, tapi hanya pertanyaan itu yang terus berulang dibenaknya. Semakin ia memikirkannya, ia semakin bertambah takut. Apa kali ini ia akan kehilangan Nicolas? Apa Nicolas memutuskan untuk pergi ke tempat Sophie?

"Oh Tuhanku..." gumamnya pelan, dan air matanya menetes. Rasa takut, khawatir, cemas dan rindu serta kehilangan mulai menguap keluar dari hatinya.

Tuhan, ia akan menjadi anak yang baik, Selena akan berusaha menatap Nicolas seakan-akan tidak pernah ada perasaan didalam hatinya, ia bahkan rela melakukan apapun, Selena rela jika Nicolas pulang dengan tatapan mematikan yang sering ditujukan padanya. Asalkan Nicolas pulang!

"Please" doa Selena, kedua tangannya memegang liontin salib mungil-nya yang menyembul keluar dari kerah blouse-nya.

Di sela-sela doa dan tangisnya, mendadak ia mendengar suara mobil dari depan rumah. Langsung saja kakinya melangkah dan membuka pintu dengan cepat walaupun detak jantungnya masih berdebar dengan kencang. Tubuhnya hampir saja jatuh ke lantai saat melihat pria yang keluar dari mobil itu, Nicolas!

Pria itu keluar dari mobil dengan gontai, tapi demi Tuhan itu benar-benar pria itu, itu Nicolas-nya...!

Selena menghapus air matanya dengan punggung tangannya dan berlari mendekati Nicolas, ia langsung memeluk pria itu dari belakang, "Ya Tuhan, aku mengira kamu tidak akan pulang Nic, aku pikir ada sesuatu yang terjadi padamu. Aku sangat khawatir...!"

"Kamu mabuk, Nic?" tanya Selena pelan ketika pria itu membalikkan tubuhnya dan melihat mata pria itu tidak fokus, pria itu bahkan tidak memaki-nya ketika ia memeluk pria itu

"Bukan urusanmu" ucapnya dingin disela-sela usahanya untuk berjalan dan Selena dengan sigap menghampiri pria itu untuk menahan tubuh Nicolas yang hampir jatuh

"Kamu mungkin bisa mengatakan ratusan kali kalau kamu sama sekali tidak mabuk atau mengucapkan kata-kata tajam seperti ini bukan urusanku, tapi yang jelas kamu tidak bisa berjalan sendiri dan kamu membutuhkanku untuk membantumu" ucap Selena tenang sambil menarik tangan pria itu, lalu meletakkannya diatas bahu-nya untuk membantu tubuh berat Nicolas dan masuk kedalam rumah.

Ketika Nicolas memutuskan untuk keluar dari mobilnya, dengan kepala berdenyut-denyut. Ia berharap istrinya berada didepan matanya dan membantunya seperti biasa.

Ia sangat ingin memeluk Sophie karena setidaknya istrinya itu dapat meredakan perasaan tidak nyaman yang selalu dirasakannya ketika berhadapan dengan gadis kecil itu. Ratusan malam Nicolas berharap kalau ia bisa benar-benar Sophie menjadi istrinya.

Namun ratusan malam telah ia habiskan dengan jawaban yang sama.

Tidak ada wanita malam kecuali gadis itu.

Seorang pria tidak pernah menangis, bahkan semua pria yang ditemuinya tidak pernah menangis dengan rasa bangga ketika menceritakan hal itu, termasuk dirinya. Tapi ia sudah lelah menekan perasaan ini didalam dadanya.

Setiap kali Nicolas memikirkan Selena, perasaan sesak itu kembali lagi dan membuatnya sulit bernafas seakan-akan oksigen telah ditarik secara paksa darinya.

"Bagaimana kalau Selena tidak pernah melupakan perasaannya padamu, Nic? Apa yang akan kamu lakukan?"

Ketika ia menikah dengan Sophie, istrinya mengeluarkan pertanyaan seperti itu yang sampai hari ini tidak pernah bisa dijawabnya. Bukan karena Nicolas tidak bisa menjawabnya tapi karena ia takut dengan jawaban itu.

Larut dalam pemikirannya, mendadak ia merasa tubuhnya limbung dan seseorang bertubuh lembut memeluknya serta membantunya untuk berdiri tegak.

"Kamu bisa berulang kali mengatakan kalau kamu tidak sedang mabuk, tapi kita berdua tahu kalau kamu membutuhkanku sekarang, Nic"

Suara lembut itu terdengar begitu indah ditelinganya. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Tapi tidak ada satupun suara yang mampu dikeluarkannya.

Siapa? Selena?

Tidak, apa yang kamu pikirkan Constantine? Apa dari sekian banyaknya gadis hanya dia yang bisa muncul di otak sialanmu?

Kemudian Nicolas ingin tertawa. Gadis itu tidak mungkin berada didepannya sekarang. Tidak setelah selama seminggu ini gadis itu terus menghindarinya seakan-akan sangat tabu baginya untuk bertemu dengan Nicolas.

Tapi Nicolas tahu aroma jeruk ini.

Hanya ada dua orang yang mengenakan aroma jeruk ini, yang pertama adalah istrinya dan orang kedua adalah gadis terlarang baginya.

Jauh dialam sadarnya ia tahu siapa orang yang mengenakan aroma jeruk. Nicolas pernah mengatakan kepada istrinya bahwa ia sangat menyukai aroma jeruk dan hari berikutnya Sophie mengubah aromanya menjadi aroma yang disukainya.

Dan apakah ini Sophie?

Menit kemudian Nicolas bisa merasakan bahwa tubuhnya dihempaskan dengan lembut diatas sofa empuk miliknya dan lagi-lagi aroma jeruk itu melingkupi dirinya. Apa ini mimpi indahnya dibalik penderitaan yang akan muncul ketika pagi menjelang dengan sakit kepala yang akan menghantam kepalanya karena beberapa botol whiski?

Tapi Nicolas tidak ingin membayangkan pagi. Karena ini adalah mimpi yang sudah bertahun-tahun diinginkannya.

Aroma gadis itu...

Dalam pandangannya Nicolas seakan melihat gadis itu didalam mimpinya, apa mimpi bisa terasa begitu nyata? Ia mengulurkan tangannya dan mengelus salah satu sisi wajah gadis yang dirindukannya itu.

Tubuh selena sedikit berjengit ketika merasakan tangan Nicolas mengelus salah satu sisi wajahnya. Pandangan pria itu terlihat tidak fokus, namun pandangan itu terasa begitu nyata.

Ia tidak sedang melihat tatapan penuh benci atau kekesalan yang selama ini ditunjukkan pria itu, namun pandangan penuh cinta.

Selena ingin menangis bahagia karena pada akhirnya pria itu bisa menatapnya dengan pandangan seperti yang pernah didapatnya dulu. Sebelum dirinya sendirilah yang menghancurkan hubungan platonic mereka.

"Nic..." panggil Selena pelan, membiarkan tangan besar itu mengelus sisi wajahnya dengan lembut.

Namun kebahagiaan itu terasa mengangkatnya begitu tinggi dan menghempasnya begitu kencang hingga terasa sangat menyakitkan, karena ucapan pria itu selanjutnya.

"Sophie..."

Selena terdiam dengan tubuh setengah menunduk, telinganya berada di depan bibir pria itu. Nafasnya seakan menghilang dalam detik itu juga ketika ia mendengar ucapan itu dari bibir pria itu.

Memangnya apa yang kamu pikirkan, Sel? Apa kamu berharap yang dipanggilnya adalah dirimu?

Kemudian rasa sakit itu mulai menghantamnya lagi. "Apa kamu begitu mencintai Sophie sampai memanggilnya dalam tidur? Apa sebegitu besarnya rasa sayangmu kepadanya?"

Air matanya mulai mengalir tanpa bisa dihentikan, lalu mendadak ia merasa tubuhnya dihempaskan keatas sofa dengan kedua tangan berada diatas kepalanya.

"Nic?" panggil Selena dengan perasaan takut yang mendadak merasuki hatinya begitu saja.

"Aku merindukanmu"

Kata-kata itu terdengar parau namun Selena masih bisa mendengarnya dan ketika otaknya masih mencerna apa maksud ucapan Nicolas barusan, pria itu mulai menciumi sisi wajahnya dan tangan Nicolas mulai menggerayangi tubuhnya

"Nic? Stop it. Ini aku Selena, aku—"

Ia berusaha mendorong tubuh pria yang besarnya dua kali lipat dibanding dirinya namun sama sekali tidak berhasil walaupun untuk menggeser tubuh pria itu sedikit. Dan ketika jemari pria itu mulai menggerayangi payudara dan turun hingga paha dalamnya lalu kebagian sensitive-nya yang mulai basah Selena merasakan ketakutan yang semakin membesar

Jadi ia berusaha memanggil pria itu lagi

"Nic, please..."

Tapi pria itu malah menatapnya dengan pandangan tidak fokus dan berkata, "shh, kiss me baby"

"Apa kamu bisa melihat dengan jelas siapa aku sebenarnya, Nic?" tanya Selena parau

Dan Selena juga tahu kalau pria itu tidak sedang melihat dirinya namun pria itu tengah melihat dirinya sebagai sesuatu yang berbeda.

Pria itu tidak tahu betapa menyakitkannya hal ini, Apa kamu tidak pernah melihatku sama sekali, Nic? Pikiran itu membuat sebulir air mata mulai berjatuhan dari pelupuknya. Selena hanya bisa berbaring dan dengan parau ia berusaha memanggil nama pria itu berulang kali.

Berharap pria itu akan sadar dan mengatakan kalau pria itu memang tengah bercinta dengan dirinya.

Dirinya dan bukan orang lain.

Tapi Selena tahu siapa yang ada dipandangan pria itu. Bukan dirinya dan tidak pernah dirinya. "Aku mencintaimu, Nicolas. Tidak bisakah kamu melihat hal itu?"

Hatinya menjerit namun ia menahan jeritannya ketika pria itu mulai menghujam masuk kedalam dirinya tanpa berhenti. Nicolas menunduk dan mengecup bibir Selena, menggigit pelan dan memaksa gadis itu membuka bibirnya sehingga ia bisa memasuki bibir itu sesukanya.

Ciuman tanpa arti itu membuat kekosongan dalam hati Selena semakin menyakiti dirinya. Bibir yang saling menempel itu tidak memiliki arti apapun, setidaknya bagi Selena pria itu tidak pernah memikirkan arti ciuman itu.

Mendadak Selena mengingat doa-nya setiap malam. Doa yang sama.

Tuhan, aku rela memberikan apapun asalkan sekali saja pria itu bisa mencintaiku seperti ia mencintai istrinya..

Selena menarik nafas panjang dan tanpa sadar mengeluarkan desahan sekaligus isakan pahit dari tenggorokannya. Kata-kata cinta terkunci begitu saja ditenggorokannya.

"Aku merindukanmu" gumam Nicolas ketika selesai mencapai puncak dan ia bahkan tidak menyadari tubuh mungil dibawahnya masih berusaha menahan isak tangis yang hampir tidak terbendung lagi.

Setelah merasa pria itu telah tertidur dengan pulas, Selena memutuskan untuk membawa Nicolas pelan kedalam kamarnya dengan susah payah. Setelah berulang kali mencoba, akhirnya Selena berhasil membawa pria itu keatas tempat tidurnya, membasuh tubuh pria itu dengan kain hangat serta mengganti pakaian Nicolas dengan pakaian tidur.

Hal itu berhasil mengalihkan nyeri diantara pahanya.

Satu hal lagi yang harus dilakukannya sebelum tidur. Ia kembali kearah sofa dimana ia baru saja melakukan malam pertamanya dengan Nicolas.

Tangannya membawa kain lap hangat dan tubuhnya berlutut tepat diatas sofa yang memiliki bercak darah-nya. Ia mengelap bercak itu dengan sesekali menghapus air mata dari sisi wajahnya.

Nicolas tidak boleh sampai mengetahui hal ini.

Pria itu akan semakin membencinya, bahkan kemungkinan terburuknya pria itu tidak akan mau lagi berbicara dengannya. Tidak.. jangan lagi.

Sebuah rasa sesak merasukinya seperti hantu yang tak berperasaan, mengambil alih pertahanannya dan meruntuhkan segala kekuatan yang dimilikinya. Lalu air matanya lagi-lagi merebak tanpa diinginkannya, hatinya sesak dan ia tidak mampu melakukan apapun.

Dan pada akhirnya ia membiarkan kepalanya terkulai lemah diatas sofa itu dan menjerit kecil, tangannya terkepal disisi tubuhnya.

Bukankah kamu sudah berjanji untuk lebih tegar? Lalu kenapa kamu menangis sekarang?

Bukankah hal ini yang selama ini kamu inginkan? Memiliki Nicolas walaupun hanya untuk satu malam..?

Jadi mengapa sekarang kamu menangis pedih?

Selena merasakan bahwa otaknya bisa menerima semua ini tapi hatinya masih belum bisa. Hatinya sama sekali tidak bisa menerimanya. Ia menginginkan Nicolas, ia menginginkan hati serta keseluruhan diri pria itu.

Inilah harga yang harus dibayar atas keinginanmu.

"Aku merindukanmu"

Kata-kata penuh cinta yang diucapkan pria itu satu jam yang lalu disela-sela percintaan mereka, seakan mengalir dikepalanya dan menggores dengan kasar diseluruh tubuhnya. Dan ia tahu kali ini ia benar-benar sudah kalah.

"Aku merindukanmu, Nic, aku sangat merindukanmu" gumamnya pelan seakan berbisik.

Selena harus mengigit tangannya agar isak tangis serta jeritannya tidak meluncur dengan kencangnya dari bibirnya.

Kemudian tanpa sadar ia tertawa, Selena menertawai dirinya sendiri dan membiarkan air mata bening mengalir begitu saja. Ia menatap kosong ke salah satu sisi tangannya. "Kamu sudah kalah Sel, kamu bukan apa-apa baginya. Dari awal, dia tidak pernah mencintaimu. Jadi apa yang kamu harapkan lagi?"

Dengan penuh paksaan Selena menghapus air matanya, menelan saliva-nya dan memaksakan dirinya untuk bangkit dari sofa. Selena menatap jam dinding yang berada tidak jauh dari ruang tamu

Dua jam, setidaknya ia masih memiliki waktu dua jam untuk menata hatinya sebelum pria itu bangun dan mengetahui semuanya.

Tidak, dia tidak akan tahu apa yang telah terjadi. Nicolas tidak boleh tahu.


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top