Chapter 18- Gravity
Happy reading :)
Selena duduk di samping jendela apartemennya, berusaha mengabaikan kantuk yang kini tengah menderanya. Sudah 3 bulan ia kembali ke Apartemennya setelah pertemuan terakhirnya dengan Nicolas.
Ia bahkan tidak lagi mengetahui kabar pria itu, tepatnya Selena tidak lagi berusaha mencari tahu bagaimana keadaan pria itu.
Ia telah berhasil melaluinya sampai hari ini.
Namun kemanapun ia pergi, berita dan radio selalu membawa nama pria itu. Nicolas seakan selalu melingkupinya, selalu berada disampingnya.
Selena menutup matanya rapat-rapat, memeluk tubuhnya dan bersandar dipinggir jendela. Sudah beberapa hari ini ia selalu mengenakan kemeja pria itu hanya untuk menghirup aroma pria itu dalam-dalam. Bermimpi bahwa pria itu tengah memeluknya sekarang., memeluknya seperti yang dilakukan pria itu sebelumnya..
Ayah dan ibunya sudah mengetahui keadaannya dan ia sama sekali tidak menyesal karena memberitahu mereka berdua, walaupun pada awalnya ia sangat takut untuk mengatakan kebenarannya.
Tapi anehnya, ibunya sama sekali tidak marah kepadanya begitupun dengan ayahnya. Mereka memang kecewa dengan sangat, tidak diragukan lagi. Namun kedua orang tuanya sama sekali tidak menghakiminya..
"Kecewa? Tentu saja ibu kecewa karena kau hamil di luar nikah sayang. Tapi apa yang penting sekarang adalah bahwa anak itu tercipta karena perasaan diantara kalian.."
Selena mengingat dengan jelas bagaimana ibunya mengatakan hal itu dengan lembut dan riang ketika ia bertanya melalui telepon alasan mengapa ibunya sama sekali tidak marah atau kecewa kepadanya.
Ayahnya.. Selena telah mengatakan hal yang perlu dikatakan kepada ayahnya melalui pesan, dan ia tidak ingin mengulangi pesan itu lagi.
"Kau masih belum bersiap-siap? Ini sudah waktunya kita ke rumah sakit" Lisa masuk kedalam ruangan dengan memberengut.
Lisa telah menjaganya sejak 3 bulan yang lalu, menemaninya saat ia membutuhkan seseorang saat ingin menangis. Selena tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada gadis itu.
Hanya Lisa-lah yang masih dengan sabar menemaninya. Baik dimalam ia menangis ketika merindukan pria itu maupun saat kehamilannya sering kali membuatnya terguncang, merengek dan menyusahkan temannya itu.
Tidak ada satu hari tanpa ia berterima kasih karena menerima tawaran Lisa untuk menemaninya, walaupun awalnya Selena benar-benar menolak.
Selena tersenyum lemah, "maaf, aku akan bersiap-siap dulu" Selena bangkit dan mengusap perutnya yang mulai membesar sembari masuk kedalam kamarnya yang terletak 3 meter dari jendela tempat biasa ia menghabiskan waktu senggangnya.
Kamarnya tidak berubah dari terakhir kali pria itu datang, yang berbeda hanyalah sebuah foto kecil yang dipajang diatas nakas sebelah tempat tidurnya. Jemarinya mengelus pinggiran portrait itu,
Ia sangat merindukan pria itu.
Benaknya selalu mengingat betapa mata biru terang pria itu sering kali menghisapnya, rahang kokoh dengan rambut tipis yang menghiasinya ketika pria itu sedang sibuk dan itu malah membuat ketampanan pria itu semakin membuatnya terhipnotis, rambut gelap tebalnya yang begitu halus.
Selena mengangkat jemarinya dan merasakan terakhir kali ia merasakan jemarinya menyentuh kulit kepala pria itu.
"Selena..! apakah kau sudah selesai bersiap?" Lisa berteriak dari depan kamarnya.
Dengan cepat ia mengelap air matanya dan membuka walk in closet-nya, menarik sembarangan baju yang pantas dipakainya
"sudah. Sebentar..." jawabnya sambil mengganti pakaiannya dan berjalan kearah pintu, menatap Lisa yang sedang menunggunya sambil melirik jam di dinding.
"kau lama sekali.."
Selena mengangkat bahu acuh, "pergerakanku semakin melambat, tidak ada yang bisa kulakukan mengenai hal itu, Lis.."
Ia melipat kedua tangan didepannya, "memangnya ada apa? Kenapa mendadak kita harus memeriksakan kandungan? Aku baru saja memeriksakan kandunganku seminggu yang lalu"
"dokter Ben mengirim email kepadaku semalam, katanya ada laporan yang tertinggal mengenai bayimu. Jadi kita diminta untuk segera datang ke rumah sakit"
"ada apa memangnya? Ada apa dengan bayiku?" Selena memegang tangan Lisa dengan erat, ia sangat takut sesuatu terjadi pada bayinya.
2 bulan yang lalu ia bertemu beberapa dokter yang lain dan mendapatkan hasil diagnose yang sama dengan dokter sebelumnya.
Namun ketika ia bertemu dengan dokter Ben yang memberikan jawaban yang sangat berbeda dengan dokter yang lain, ia memutuskan untuk menetapkan dokter Ben sebagai dokter kandungannya.
Bayinya mengalami perkembangan setelah sebulan diberikan beberapa asupan vitamin. Selena juga harus melakukan beberapa test dan setelah sebulan merasakan rumah sakit, ia bersyukur bahwa bayinya ternyata mengalami perkembangan dan tidak terjadi apapun padanya.
Dokter Ben hanya menyarankannya agar makan dengan teratur, olahraga dan banyak beristirahat.
Mungkin ini semua karena stress-nya, itulah yang dikatakan oleh dokter Ben yang sekarang menaganinya. Selena menerima masukkan itu dengan senang hati.
Setidaknya walaupun ia kehilangan Nicolas, ia masih bisa bertahan karena bayi yang berada di dalam kandungannya sekarang. Setidaknya penghubung antara dirinya dengan pria itu masih ada.. dan ia tidak benar-benar kehilangan pria itu.
Dalam keadaan ling-lung Selena mengikuti Lisa yang menariknya keluar dari apartemen dan menuju rumah sakit yang terletak tidak jauh dari city.
~
Ben menatap dokumen pasien yang telah menyita waktunya hampir 3 jam terakhir, jemarinya yang bebas mengangkat ponsel yang berdering dan tersenyum saat melihat ID caller, "ada apa, dude?"
"bagaimana dengan persiapannya?"
"tenang. Aku sudah mengiriminya email, seharusnya hari ini ia akan datang ke tempatku untuk memeriksakan kandungannya"
Ben menjelaskannya dengan malas, "aku sungguh tidak ingin terlibat, hanya saja ini karena aku banyak berhutang padamu"
"aku tidak akan melupakan bantuanmu Ben dan jangan lupa memberiku kabar mengenai bayi itu"
Ben tertawa dan memutarkan pen di jemarinya, kepalanya disandarkan di kursi, "kau pikir aku akan lupa bagian paling penting itu? Yang benar saja..!" kemudian suara ketukan dibalik pintu membuatnya berhenti tertawa, "..sepertinya aku kedatangan pasien, aku akan mengabarimu lagi nanti"
"Masuk" ucap Ben lantang setelah mematikan sambungan teleponnya.
Kemudian Selena dan Lisa masuk kedalam ruangan dan duduk tepat didepannya.
"selamat siang, Dok. Maaf kami terlambat" ucap Lisa saat duduk dikursi
Ben tersenyum lembut," it's okay" pandangannya beralih kearah Selena, "bagaimana keadaanmu, Miss?"
"saya baik-baik saja, Dok" Selena menggenggam kedua jemarinya yang diletakkan diatas meja, "boleh saya tahu apa yang terjadi dengan bayiku?"tanyanya gugup
"hmm.. sebenarnya saya baru saja meneliti hasil usg anda yang terakhir kali, dan saya menemui beberapa kejanggalan" jelas Ben sambil menatap hasil ronsen yang telah diletakkan didepan mejanya.
Walaupun sebenarnya ia sama sekali tidak melihat ronsen itu dengan serius.
Selena mengernyitkan alisnya, "keganjalan? Anda tidak bilang seperti itu saat terakhir kali aku datang berkunjung"
"maaf miss, tapi saya juga baru saja menemukannya. perkembangan bayi anda agak lambat"
Lisa menggenggam tangan Selena seakan memberikan kekuatan kepadanya. Sedangkan Selena menggeleng dengan tidak percaya, bagaimana bisa bayinya memiliki masalah dengan perkembangannya?
"..mustahil" bisik Selena pelan dan tidak ada yang bisa mendengarnya kecuali dirinya sendiri.
"kami membutuhkan suami anda sesegera mungkin sehingga kami bisa menindaklanjuti apa yang harus dilakukan"
Selena menahan nafasnya tanpa sadar, "..saya tidak memiliki suami"jawabnya lirih
"well, kalau begitu pria yang memiliki andil besar dalam kehamilan anda?" Ben mengangkat sebelah alisnya seakan bertanya dan tidak dijawab oleh Selena. Pikirannya mulai mengambang kearah lain.
Selanjutnya Selena tidak lagi mendengar apa yang dikatakan dokter kepadanya. Ia sama sekali tidak mampu mendengar kelanjutannya. Percakapan yang terjadi diruangan itu seakan terjadi begitu cepat dan terdengar bagai dengungan yang tidak dimengertinya.
Yang bisa diingatnya adalah bayinya dan perkembangan yang lambat serta beberapa kata yang tidak dimengertinya, yang dimengertinya adalah bahwa ia harus menemui Nicolas dan mengatakan yang sebenarnya kepada pria itu.
Ya Tuhan,
bagaimana mungkin bayi yang dikandungnya memiliki kelainan? Nicolas.. hanya nama itu yang terlintas dibenaknya. Ia sangat membutuhkan pria itu sekarang. Selena menahan air matanya dan hanya mengikuti langkah Lisa keluar dari ruangan dokter.
Lisa menyuruhnya duduk sementara air matanya mengalir dengan derasnya, "..ini bohong. Bayiku tidak mungkin memiliki kelainan. Pasti dia salah melakukan diagnosa" ucapan itu keluar begitu saja dan Selena menatap Lisa seakan menginginkan ucapan yang menyetujuinya.
Namun Lisa tidak melakukannya. "..lis.." panggilnya lirih
"mungkin saja benar, kau tahu 'kan, Dr. Ben adalah dokter kandungan yang memiliki kemampuan berbeda dengan yang lainnya. Kalau dia bilang bahwa ia membutuhkan Nicolas maka sepertinya kau harus menghubunginya, Sel.." Lisa menjelaskan apa yang harus dilakukan Selena dan mengambil tempat duduk disamping gadis itu
Selena menggeleng kepala, "tidak.. bagaimana mungkin aku menjelaskan semua ini? Nicolas pasti akan tahu bahwa aku sedang berbohong!"
"..dan memang kau sedang melakukannya bukan?"
"apa yang harus aku lakukan, Lis?" Selena menggenggam kedua tangannya, rasa takut mulai memasuki benaknya.
Bagaimana mungkin ia mengatakan kepada Nicolas mengenai keadaannya? Bagaimana kalau pria itu marah dan berbalik membencinya seumur hidup? "..dia pasti sangat membenciku"
"..kaulah yang membuat dirimu dibenci olehnya. Aku sudah mengatakan bahwa cepat atau lambat Nicolas akan mengetahuinya, Sel"
Selena mendesah kesal, "kau sama sekali tidak membantu, Lis!"
"aku sudah memberikan jawabannya untukmu. Telepon dia, temui dia dan minta maaf padanya. Aku rasa dia pasti akan lebih bijaksana dalam menghadapimu, bagaimanapun juga kalian saling mencintai bukan?"
"..dia tidak mencintaiku" ucap Selena lemah
"aku tidak ingin bertengkar tentang hal ini kepadamu, hanya saja ini demi kau dan bayimu. Untuk sekali ini hilangkanlah segala gengsi yang kau miliki dan cobalah untuk tidak berspekulasi tentang sesuatu, kau tidak akan mengetahui apa yang terjadi kalau tidak mencoba.." jelas Lisa dan kemudian ia berdiri, "..Nicolas sedang berada di perancis. Kau tahu dimana bisa menemuinya, Sel.."
Kemudian Lisa pergi meninggalkan Selena yang masih memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. Ia tidak mungkin minta tolong Nicolas, memangnya apa yang bisa dikatakannya? Ia minta tolong karena bayinya mengalami kelainan?
Mustahil ia melakukannya!
'oh Tuhan, bagaimana caranya ia mengatakan kepada Nicolas mengenai bayi yang ada dikandungannya?'
Pria itu akan membencinya karena membohonginya, dan kalaupun Selena menutupi semuanya dari pria itu, berpura-pura memiliki anak yang lain.. Tidak.. Selena menggeleng kepalanya, tidak Nicolas bukan orang bodoh yang bisa tertipu begitu saja.
~
Selena tidak tahu kenapa ia malah melangkahkan kakinya ke apartemen pria itu. Bukannya ia tidak tahu tempat itu sebelumnya, hanya saja ia berusaha tidak melangkahkan kakinya ke sini.
Takut?
Sudah pasti. Ia tidak bisa membayangkan betapa pria itu akan memanggilnya sebagai pembohong dan terlebih lagi ketika ia membuka pintu apakah akan terjadi seperti sebelumnya?
Ia takut.
Takut membayangkan saat masuk kedalam apartemennya, ia akan melihat seorang wanita sedang bergelayut manja.
Selena tidak ingin membayangkan hal itu. Walaupun ia tidak ingin membayangkan, tetap saja benaknya memikirkan keinginan terburuk.
Bayang-bayang saat gadis yang begitu mirip dengan Sophie sedang bergelayut manja di sekeliling leher Nicolas, membuat perutnya seakan dikocok-kocok.
Ia ingin muntah..
Namun sialnya, kakinya tetap saja memasuki bangunan apartemen pria itu. Membiarkan pikiran pesimisnya merajalela di setiap sisi otaknya.
Selena menatap bayangan dirinya di cermin besar yang ada didalam lift. Tubuhnya yang mulai membengkak sudah pasti tidak membuat pria-pria bergairah saat melihatnya, sangat berbeda dengan dirinya sebelum ini.
Selena memaksakan dirinya untuk mengabaikan kenyataan itu, tapi tetap saja.
Bagaimana bisa ia mengabaikan pandangan pria yang selalu ada didalam hati dan pikirannya?
Ia mengutuk tangannya yang mulai bergetar hanya karena memegang Card Key apartemen Nicolas.
Namun Selena tetap mengulurkan tangan dan membuka kunci apartemen pria itu, jantungnya berdetak dengan sangat kencang dan hebatnya ia masih belum berbaring di UGD karena hal ini.
Saat Selena membuka pintu, ruangan itu terlihat begitu sunyi tanpa tanda-tanda kehidupan. Dan ia melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam ruang tamu, meletakkan tas-nya di sofa yang berada di ruang tamu.
Dan mulai mendengar percakapan di ruangan lain yang tertutup oleh sebuah pintu berwarna coklat.
Matanya terbelakak saat menatap pria yang selalu mengisi mimpi-mimpinya, mampu membuat tubuhnya bergetar karena gairah yang tidak pernah padam, pria yang mampu menyakitinya hanya dalam satu waktu dan mampu membuatnya menjadi gadis yang paling berbahagia hanya dengan satu pelukan.
Pria itu terdiam di balik meja kerjanya, meneliti tumpukan dokumen yang berada di sisi meja, Selena bisa melihat betapa berantakan meja kerja itu
Dan Selena juga bisa melihat seorang gadis berada di samping Nicolas, menunjuk kearah dokumen dan mendesah manja agar Nicolas memperhatikannya.
Selena ingin keluar dari ruangan dengan cepat saat melihat kedekatan mereka berdua.
Demi Tuhan, mereka berdua hanya berdekatan karena pekerjaan!
Tapi hanya dengan itu saja, matanya sudah mengabur karena air mata yang menumpuk di pelupuk-nya. Dan Selena mengutuk kecerobohannya karena tangan kanannya menabrak kusen pintu sehingga menimbulkan derit yang memecah keheningan di ruangan itu.
"Selena?"
Kali ini Selena bisa melihat Nicolas menatapnya dengan terkejut seperti tidak pernah membayangkan dirinya berada di sana.
Untuk beberapa detik, Selena membiarkan keheningan menyertai mereka hingga pria itu bangkit dari tempat duduknya.
Dengan gerakan yang sangat perlahan dan hampir menyerupai gerakan anggun yang jelas mampu membuat orang waras manapun tertawa terbahak-bahak, Nicolas berdiri dari tempat duduknya, melepas dokumen yang sedang dipegangnya.
Ia bahkan melupakan pekerjaannya dan berjalan kearah Selena, memeluk gadis itu dengan sangat erat, mengabaikan kenyataan bahwa perut Selena yang mulai membulat berada ditengah-tengah pelukan mereka dan membuat pelukan itu menjadi tidak nyaman.
Bahkan pria itu mengabaikan kenyataan bahwa Selena menarik nafas dengan keras karena pelukan mendadak darinya.
~
Nicolas
Aku tidak bisa membedakan antara kenyataan dan halusinasi. Bayangkan saja, ini sudah 3 bulan sejak Selena memilih untuk menolak keberadaanku, meninggalkanku dan sudah 3 bulan juga aku merasa seperti di neraka.
Neraka tanpa kehadiran gadis itu terasa lebih buruk dari sekedar neraka.
Selama 3 bulan aku merasa apartemen ini penuh dengan bayang-bayang gadis itu, aroma dan senyum Selena. Dan itu hampir berhasil membuatku gila.
Untuk menghilangkan bayang-bayang gadis itu, Aku sengaja menambah jam kerja seperti orang gila. Aku bahkan sengaja mengambil seluruh dokumen yang seharusnya bisa dikerjakan oleh bawahan atau sekretarisku.
Seharusnya aku bisa memberikan dokumen itu kepada Leandra, tapi bukannya memberikan pekerjaan itu, aku malah memilih untuk membawa pulang pekerjaan atau mengerjakannya di kantor.
Aku benar-benar berusaha. Sangat-sangat berusaha. Dan karena kerja kerasku itulah, entah bagaimana aku berhasil memenangkan beberapa tender yang mendatangkan keuntungan million dollar yang sebenarnya bisa membuat para pengusaha bangga namun tidak untukku.
Untuk pertama kalinya aku sama sekali tidak berbangga hati dalam memenangkan tender yang begitu sulit.
Yang ada dibenakku hanyalah bagaimana mendapatkan Selena kembali. Hanya itu yang ada dibenakku setiap memenangkan tender sialan itu!
Leandra dan Thomas telah berulang kali menasehatiku. Bahkan sekarang Leandra mengikutiku hingga ke apartemen karena Thomas mengkhawatirkanku.
Tapi aku bahkan tidak perduli. Tidak ada yang aku perdulikan selain bayangan Selena yang kian hari semakin menyiksaku.
Bahkan menyiksaku setiap malam, dan kini mulai menyiksaku di siang hari..
Dan baru saja aku memarahi Leandra dengan menyuruh gadis itu agar meninggalkanku sendiri, dan disanalah aku melihat bayangan Selena berdiri di tengah pintu.
Hanya saja aku merasa bayangan kali ini terasa lebih nyata dibanding sebelumnya dengan aroma yang menggelitik indera penciumanku.
Bayangannya mematung dan bukannya tersenyum seperti biasanya.
Saat itu aku merasa seperti terhipnotis, aku merasa tubuhku mengambil alih gerakan. Saraf-ku seakan mati rasa dan dengan bodohnya membiarkan tubuhku mengambil alih segalanya.
Aku berjalan seperti mayat hidup, ini sesuatu yang tidak biasanya terjadi.
Hanya saja aku butuh merasakan apakah bayangan gadis itu hanyalah sekedar fatamorgana semata yang akan hilang dalam hitungan waktu ataukah benar-benar halusinasi yang tanpa sadar telah menjadi sebuah kenyataan.
Seperti kata orang, berhati-hatilah terhadap harapanmu.
Dan ketika aku memeluk gadis itu, aku merasa bayangan kali ini memang nyata. Aku bahkan bisa menghirup aroma yang begitu aku rindukan. Ini benar-benar menyiksaku, hanya dengan menghirup aroma ini saja, gairahku langsung terbit.
Aku bahkan tidak perduli jika kali ini Leandra mengejekku dengan kalimat yang biasa diucapkannya selama 3 bulan ini, '
For God's sake Nic. Kau benar-benar terlihat seperti orang gila!' Kali ini aku tidak akan perduli.
Bahkan jika yang tengah dipeluknya adalah bayangan Selena..
Tapi kali ini ia bahkan tidak mendengar ucapan sinis dari Leandra, aku melepaskan pelukanku dan menatap bayangan yang berada didepanku, menatapku dengan kebingungan.
Ya Tuhan, aku sangat merindukannya..
Jemariku membingkai wajah mungil didepanku dan aku mengecup bibir ranum yang selalu memenuhi mimpiku setiap malam dengan penuh kelembutan yang semakin lama menjadi semakin intens.
Aku ingin mengecap setiap rasa yang dapat ditimbulkan gadis ini, aku ingin menandainya dengan kepemilikan sehingga ia tidak akan pernah bisa menolakku.
Rasa frustrasiku telah membuat kewarasanku menipis.
"..aku akan memberikan waktu untuk kalian berdua"
Ucapan itu membuatku menghentikan ciuman dan memutar kepalaku seperti orang bodoh. Aku melihat Leandra mengemasi tas jinjingnya dan tersenyum lebar.
Leandra malah menepuk bahuku dengan lembut, "setidaknya kali ini kau bertindak waras, Nic" gadis itu menatap Selena dengan tatapan lembut, "bicaralah dengannya Sel, dia telah bertingkah seperti orang gila hampir 3 bulan terakhir. Dan aku benar-benar tidak tahan lagi. Kalau saja dia bukan teman baikku, aku sudah melemparnya ke rumah sakit jiwa"
Leandra bahkan mengedipkan sebelah matanya dan mengecup puncak kepala Selena, "percayalah. Aku benar-benar akan melakukannya. Dan karena sekarang kau telah kembali, aku akan sangat berterima kasih kalau kau dapat mengembalikan kewarasannya"
Kemudian Leandra meninggalkanku dan bayangan gadis yang berada didepanku—atau tepatnya sebuah bayangan yang menjadi nyata.
Aku menatap gadis yang berada didepanku dan dengan bodohnya, dari segala perkataan yang mungkin kuucapkan, aku malah mengucapkan kata-kata yang semakin membuatku terlihat seperti orang paling bodoh didunia, "..jadi, kau bukan bayangan?"
~
Tbc
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top