Chapter 1

Aku mencintainya, mencintainya dan sangat mencintainya...

Selena tahu apa yang orang pikirkan tentangnya, ia juga tahu apa yang digosipkan mengenainya. Hanya saja Selena pura-pura tidak menyadarinya. Menggunakan topeng hidup buatannya, berpura-pura tidak mengetahui apapun dan hidup dalam kepura-puraan serta sedihnya

Tuhan sekalipun tidak akan memaafkannya, karena itulah sekarang Selena tengah dihukum--menurutnya. Semua ini karena keegoisan perasaannya sehingga membuat keluarganya menjadi rancu seperti ini bahkan membuat pria yang sangat ia cintai membenci dan bersikap dingin padanya.

Sering sekali Selena bertanya apakah ini salah? Kalau Tuhan tidak menghendakinya memiliki perasaan ini mengapa sekarang ia masih memilikinya?

Tidak hanya seminggu sekali, Selena bahkan rajin mengikuti kelas pengakuan dosa yang hanya diikuti segelintir orang yang mungkin berada dititik depresi--berbeda dengannya.

Dan bahkan saat mengikuti kelas itu pun, Selena tidak dapat mengatakan perasaannya pada pendeta sekalipun. Ia terlalu malu untuk mengungkapkannya. Apa yang mampu dikatakannya?

Bahwa ia, Selena Buckingham jatuh cinta pada paman tirinya, Nicolas Constantine?

Tenggelam dalam pemikirannya itu, Selena mengusap air matanya yang jatuh bergulir melalui pelupuk matanya dan mengalir ke pipinya. Ia bukannya wanita yang tidak memiliki perasaan, tapi Selena juga bukan wanita yang sensitive. Sudah 7 tahun lamanya ia memendam perasaan ini

Bahkan ia melihat orang yang sangat dicintainya menikah didepan matanya dan Selena masih dapat tersenyum dan bahkan mendapat pelukan dari istri orang yang dicintainya. Bukankah ia seharusnya bisa berbangga hati sedikit dari ketegarannya ini?

Tapi mengapa hatinya kini terasa diremas-remas saat melihat pria yang disayanginya hanya menunduk sedih melihat istrinya yang kini berbaring dibawah tanah yang dingin? Mengapa hatinya terpilin saat melihat makam wanita itu?

__________________________________________________________________________________

"S-sel! Selena!" teriak Nicolas sambil berlari terpogoh-pogoh seakan mendapat undian. Nafasnya tidak teratur, ia meletakkan tangannya didadanya seakan berusaha mengatur nafasnya yang masih terengah-engah

"kau sangat jelek sekali Nic! Ada apa? apa kau memenangkan undian besar?" ledekku bercanda. Nicolas sama sekali tidak ingin dipanggil paman olehnya yang hanya terpaut 4 tahun darinya. Baginya ucapan Uncle hanyalah menambah umurnya dan merusak ketampanannya saja. Karena itu mereka sepakat untuk memanggil pria itu dengan nama.

Nicolas memegang pundak Selena dan tersenyum lebar, memperlihatkan sederetan giginya yang putih, "aku sudah melamar Sophie, dan dia menerimanya!"

JLEB

Ada sesuatu didalam hatiku yang terasa panas dan sakit. Disaat seperti ini seharusnya aku tersenyum bukan?Seharusnya disaat seperti ini aku tersenyum dan mengucapkan selamat lalu loncat-loncat kegirangan bukan?Tapi mengapa dadaku terasa sakit dan mataku terasa panas?

Tubuhku bergetar kencang dan menundukkan kepalaku. Tegarlah Selena! kutukku dalam hati. Ini semua tidak boleh terlihat. Tidak, semua ini harus berjalan dengan semestinya. Tertawalah! Tertawa..! teriakku dalam hati

"Sel? selena? kau kenapa?" Nicolas menatapku dengan khawatir. Ketika Selena tidak menjawabnya, Nicolas mengguncang-guncang gadis itu dengan pelan, "Hei, Sel! Kau kenapa?"

Selena mengangkat kepalanya perlahan. Mainkan peranmu, Selena! teriaknya dalam hati. Kemudian seperti artis Selena tersenyum lebar namun air matanya mengalir perlahan tanpa bisa dihentikan. Sialan! rutuknya

"Sel? mengapa kau menangis?" Nicolas mengusap airmatanya dengan ibu jarinya dan membuatnya semakin ingin menangis.

Selena mundur selangkah dan tersenyum, "ini airmata bahagia! Mana mungkin tidak, paman yang kusayangi akan menikah!" serunya dan melebarkan tangannya diudara.

Kalau semua orang bisa tertipu dengan aktingnya dan jika Nicolas bahagia dengan semua tipuan ini, maka Selena akan menipu semua orang dengan aktingnya. Nicolas memeluk Selena dengan erat dan mencium puncak kepalanya, "terima kasih Sel...! terima kasih. Aku akan mengenalkannya padamu segera. Aku ingin mengenalkan pada Sophie betapa sayangnya aku padamu Sel..!"

"ya, semua itu bisa diatur. Asalkan dia tidak iri padaku saja"

Nicolas terkekeh dan mengacak-acak poni Selena yang lurus, "tidak akan. Dia bukan wanita seperti itu" dan mengangkat tangannya untuk melihat jam tangannya, "baiklah, aku harus ke kantor sekarang. Aku akan menjemputmu jam 7 malam. Kita akan makan malam dengan Sophie, okay?"

"okay!" jawab Selena dengan mengancungkan kedua jempolnya didepan Nicolas dan pria itu hanya tertawa bahagia. Kemudian meninggalkannya ditempat menuju tempat kerjanya.

___________________________________________________________________________________

Selena masih menatap Nicolas yang masih menatap makam istrinya dengan pandangan kosong. Mungkin para pelayat akan memperbincangkan hal ini, seakan-akan Nicolas sama sekali tidak perduli dengan istrinya yang meninggal mendadak. Karena pria itu tidak menangis atau menjerit histeris.

Tapi Selena bisa melihat kepedihan dari raut wajahnya dan dari matanya hazelnya yang tidak lagi terang seperti dulu. Kini mata itu redup tanpa cahaya. Apa ini karena cahayanya sudah terkubur dibawah tanah yang dingin?

"Selena, ayo kita pulang" ajak Ibunya yang sudah berteduh karena hujan mulai turun dan membasahi tanah. Selena hanya mengangguk lemah dan melihat ibunya berjalan kearah Nicolas yang masih termangu didepan makam Sophie.

Melihat Nicolas yang dengan lemah mengikuti kakak iparnya, beradu pandang dengan Selena yang masih berada dibawah pohon. Matanya memancarkan kebencian dan dingin. Tidak ada lagi tawa yang terlihat didalam mata hazel itu. Tidak ada lagi kilat canda yang selalu dicintai Selena. Semua tidak ada lagi, dan ia tidak cukup kuat untuk menerima tatapan dingin itu

Kemudian Selena mengatakan kepada ibunya, "Mom, aku ingin berjalan-jalan sebentar sebelum pulang"

"tapi, sekarang sedang hujan Sel.."

"aku tahu. Aku akan memakai payung Mom. Lebih baik Mom dan Dad pulang dulu, rasanya Uncle membutuhkan istirahat." saat Selena melihat rasa tidak setuju yang terpancar dari wajah ibunya, Selena segera menambahkan, "aku tidak akan lama" dan mengecup wajah ibunya

Nicolas tidak melihat Selena bahkan tidak mau menatapnya. Dan Selena sadar akan hal itu, namun tidak berkata apapun hingga mobil yang dinaiki mereka hilang dari penglihatannya.

Sementara itu, Selena berjalan kearah makam Sophie dan menunduk untuk meminta maaf, "..maafkan aku, Sophie.." dan mengangkat kepalanya dengan wajah penuh air mata dan isak tangis, "aku tahu tidak seharusnya aku meminta maaf atau bahkan mendapatkan maaf darimu. Tapi.. aku tidak pernah berpikir untuk merebut Uncle darimu. Dia memang milikmu, selalu.."

"Aku hanya.. hanya tidak tahu harus bagaimana dengan perasaan ini. Maafkan aku..." isaknya dan berusaha menelan segumpalan rasa yang terus tercekat ditenggorokannya

Selena yakin itu hanya mimpi. Semua yang dilihatnya--ia baru saja melihat Sophie tersenyum padanya. Senyum penuh maaf dan penuh kasih seperti yang selalu diperlihatkan wanita itu. Dan kemudian bayangan itu menghilang tepat didepannya. Tubuhnya jatuh didepan nisan Sophie dan isak tangisnya pecah dan tertutup oleh suara hujan yang tengah turun.

____________________________________________________________________________________

"Nic, minumlah.." Tasha, ibu Selena memberikan secangkir kopi panas kepada Nicolas yang tengah duduk termangu seakan tidak merasakan apapun

Edward, suami Tasha berjalan mengitari meja kaca kecil dan menepuk pundak adiknya, "minumlah dan istirahat. Kau membutuhkannya"

"..aku tidak apa-apa 'kak.." jawabnya lemah. Nicolas sedang tidak ingin memikirkan apapun. Bahkan tidak ingin melakukan apapun.

Tasha memeluk Nicolas dengan lembut, "kau akan baik-baik saja. Sekarang gantilah bajumu yang basah itu dan bergabunglah bersama kami diruang tamu"

Walaupun malas, Nicolas tetap melakukan yang diminta Tasha, kakak iparnya. Dan ia pun berjalan masuk kedalam kamarnya sendiri untuk berganti baju.

Yang disaat bersamaan Selena masuk kedalam ruang tamu dalam keadaan basah kuyup dan membuat ibunya berteriak, "Selena Chadwick! Kau bilang padaku akan menggunakan payung dan kemana payungmu itu?!"

"aku ternyata lupa membawanya Mom.."

Edward berjalan dari kamar mandi membawa sebuah handuk tebal dan mengusapkannya ke kepala Selena yang basah, "keringkan kepalamu. Jangan sampai kau sakit.."

"iya Dad.." jawab Selena dan pergi kekamarnya yang berada disebelah kamar Nicolas.

Detak jantungnya berdegup kencang hanya merasakan bahwa Nicolas berada disini. Ya, Selena dapat merasakan kehadiran pria itu, walaupun Selena menolak untuk menyadarinya. tapi hatinya tidak..

Selena berganti baju dengan blus berwarna gelap yang menggambarkan suasana hatinya sekarang ini. Dengan rok pendek yang dipadu dengan pita disampingnya. Sebelum memutuskan bergabung dengan kedua orang tuanya diruang tamu dan--Nicolas, Selena memandang wajahnya didepan kaca yang terlihat sangat lelah diarea mata.

"...dasar jelek" ucap Selena pahit sambil mengusap bayangannya di kaca. "kau bisa Selena. Kau bisa melewati ini.." Setelah menguatkan hatinya, Selena memutuskan untuk bergabung dengan orang tuanya.

Orangtuanya seakan sedang berdebat santai dengan Nicolas, namun saat melihat kedatangan Selena, pria itu berubah menjadi dingin dan mengintimidasi. Selena berusaha menahan rasa sakit didadanya saat melihat tatapan dingin pria itu yang sudah 1 tahun ditunjukkan kepadanya.

"kemarilah sayang.." Tasya memanggil putrinya dan menepuk sofa disampingnya. Selena berjalan santai dan duduk disebelah ibunya. "omong-omong, Selena. kau jadi melanjutkan s2 mu di Prancis?"

Selena terpaku mendengar pertanyaan ibunya. Tapi matanya tertuju pada Nicolas yang memandangnya dengan dingin dan tanpa kilatan sama sekali pada mata hazelnya, dengan pahit Selena memalingkan wajah dan menatap ibunya yang masih menunggu jawabannya. "ya mom. Aku sedang mengurusnya. Mungkin membutuhkan waktu beberapa bulan"

"baiklah kalau kau sudah memutuskan begitu. Hanya saja kau harus memberi kabar kepada kami kapan keberangkatanmu, mengerti?" tegas ibunya.

"tenang Mom.."

Setelah itu mereka bertiga, Ayah, Ibu dan Nicolas mulai berbincang dan Selena memilih untuk diam seribu bahasa daripada mengganggu perbincangan mereka. Karena Selena tahu jika ia memilih untuk bergabung dalam percakapan ini, Nicolas akan menatapnya dengan ekspresi benci--lagi.

Beberapa jam setelahnya, Ibunya menepuk pelan pundakku, "baiklah Sel, kau temani Uncle Nicolas selama beberapa lama ini sebelum kau pergi kuliah. Okay?"

"eh? Tapi mom...! kenapa tidak Mom saja yang menjaga Uncle?" tegurku dengan cepat. Aku tidak ingin hanya berduaan saja dengan Nicolas! Tidak mau! Selena tidak akan sanggup jika harus melihat tatapan benci atau dingin dari pria itu lagi

"yang benar saja Sel. Suami Mom kan Dad.. mana mungkin Mom meninggalkan Dad sendirian dirumah. Sudah, kau jangan membantah. Ikuti saja kemauan Mom, okay?"

"But..."

Tapi ayah dan ibunya sama sekali tidak mendengarkannya. Ibunya hanya melayangkan tatapan peringatan kearah Nicolas yang masih duduk di kursi, "Nic, kau harus mendengarkan apa kata-kata Selena ya? Jika dia menyuruhmu makan, maka kau harus makan. Jika dia menyuruhmu istirahat, maka kau juga harus melakukan hal itu!"

"baik, kak. kau tenang saja.." jawabnya sambil tersenyum lemah tanpa melihat kearah Selena

"Bagus. Baiklah, kami tinggal dulu" Tasya dan Edward pamit pulang meninggalkan Selena yang masih terdiam disofa

ya Tuhan, apa lagi yang akan terjadi? Apa ibunya tidak tahu kalau Nicolas sangat membencinya? Saat ada ibunya saja Nicolas memandangnya dengan penuh benci apalagi jika tidak ada kedua orangtuanya? Selena meringis memikirkan apa yang akan dikatakan Nicolas

Kemudian disanalah dia--Nicolas, berdiri dalam jarak 1 meter didepannya dan hanya dibatasi meja kaca. Pria itu menatapnya dengan tatapan yang selama setahun terakhir selalu dilihatnya, "kau bisa menggunakan kamarmu seperti biasa" ucap Nicolas acuh dan meninggalkan Selena yang masih duduk sambil tertunduk

Dan meninggalkan gadis itu disana, Nicolas bergegas masuk kedalam kamarnya.

Selena mendengarkan kata-kata itu bagai angin yang membuat dingin tubuhnya. Kata-kata dingin itu sangat.. sangat menghancurkannya.

_________________________________________________________________________________

"Hei, Sel... kau kenapa?" tanya Nicolas bingung saat menjemput Selena setelah pertemuannya dengan Sophie.

"tidak ada. Ayo jalan.."

Nicolas memegang bahu Selena dan membuat gadis itu berhenti melangkah, "apa ada yang mengganggumu? kau harus mengatakannya padaku kalau tidak bagaimana aku tahu?"

"kau tidak perlu tahu Nic mengenai hal itu"

"tentu saja aku harus tahu. Aku sayang padamu Sel. Kau keponakanku yang aku sayang walaupun aku bukan Uncle aslimu" Nicolas mengernyit kesal dengan penuturan gadis yang tidak terpaut jauh umurnya dengannya.

Selena meringis. Lagi-lagi Nicolas menekankan kata Uncle dan keponakan, sehingga membuatnya semakin sakit hati. Apa tidak cukup dengan ciuman yang tanpa sengaja ia lihat? Ciuman panas antara Nicolas dengan sophie digerbang kampusnya? Apa selama ini masih belum cukup? Sampai kapan lagi Nicolas berharap dirinya akan melakukan akting gila ini?

"Sel.. siapa yang menganggumu?"

"sudahlah Nic! aku mau pulang. aku capek" sanggah selena dan mengibaskan rambut ikalnya dari bahunya.

"Sel..!" nicolas masih menekankan ucapannya dan tidak menginginkan sanggahan apapun dari Selena.

Rasa sakit yang semakin menumpuk dihatinya, rasa pahit yang sudah ditelannya sejak lama seakan keluar dari tempatnya dan tidak terbendung lagi. Rasa gelap yang dirasakannya seakan memecah dari dadanya. Selena menghadap kearah Nicolas dan berteriak, "itu Kau!"

"Sel?"

"aku mencintaimu Nic! Aku jatuh cinta padamu! Kau lah yang mengangguku. Nah sekarang kau sudah tahu!"

Nicolas menatap Selena dengan mata terbelak. Dengan ngeri menatap Selena yang kini menatap pahit kearahnya. Nicolas menggeleng tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Tidak, dia pasti baru saja sedang bermimpi, "kau jangan bercanda sel.."

"kalau aku sedang bercanda padamu! percayalah, ini kenyataannya!" tegas Selena pahit

Nicolas mendorong Selena keras, "Ini sama sekali tidak boleh! Aku adalah pamanmu, dan sampai kapanpun kau adalah keponakanku. Hanya itu" Nicolas menggeleng kepalanya dengan pahit, "..sebaiknya kau pulang sendiri. Mulai hari ini sepertinya kita tidak perlu bertemu lagi, Sel. Ini baik untuk kita berdua"

Kemudian Nicolas meninggalkannya. Meninggalkan Selena dengan semua kepahitannya dan dengan tatapan dinginnya. Sedangkan Selena, mengutuk dirinya karena mengatakan hal tabu itu. mengutuk dirinya yang berlagak tegar dan akhirnya kehilangan semua..

___________________________________________________________________________________


Cerita gaje ini sepertinya mulai membuat Author menjadi melankolis kembali \(-____- \)

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top