worn down.
Bagaikan seekor laba-laba renta Pamela keluar kamar dengan lamat-lamat merambat pada dinding.
Well, dia memang selalu menghindari flu. Selain karena sekali dia flu gejalanya akan cukup lebay, pengalaman sakit terakhirnya juga bisa dibilang menyeramkan. Itulah kenapa Medina kemarin mencak-mencak heboh pas Pamela tidur di atas sofa berdebu. Sebab, kali pertama mereka ketemu enam bulan lalu selepas perceraian Pamela, dia mesti dilarikan ke IGD dan Medina lah yang menemukannya sesak nafas di rumah serta berakhir dengan menungguinya sampai fit kembali di rumah sakit.
Omong-omong soal Medina ....
"Huchiiim!" Pamela kembali menggosok kasar ujung hidungnya yang gatal.
Ternyata, Asisten Opa yang telah diwariskan kepadanya itu sudah menyiapkan makanan untuknya makan malam.
Pamela yang membuka kulkas sempat membaca tulisan dalam notes yang cewek itu tinggalkan.
Untuk Pamela Keras Kepala Harris,
Harus makan. Besok pagi gue datang lo harus udah berhenti bersin. Gue tinggalin obat flu dan alergi lo sekalian.
Ps. Kalo lo merasa butuh ke dokter telpon gue jam berapa pun.
Pss. Ingat! Lo harus tampil paripurna besok saat ketemu Pak Donald. Jangan sampai kelihatan merana dan butuh bantuannya. Jangan sampai diceng-cengin lagi sama Pak Agas dan Magnolia.
—Medina.
Hih, dasar!
Sebelum ini Pamela tak pernah diasisteni oleh seorang perempuan. Ingat kan? Banyak cewek seolah nggak suka padanya entah karena apa. Rasanya ya memang karena dia terlalu cantik sih hehe. Jadi, dibanding memberinya Asisten cewek, Paris selalu mengirim satu yang bisa sekalian merangkap sebagai bodyguard-nya. Madi adalah salah satunya. Bukan oleh Paris, Madi dikirim Eyang setelah Pamela kehilangan Asisten pemberian Paris yang mendadak resign gara-gara mau menikah—salah satu rekannya di agency Paris sih curiga kalau alasan sebenarnya dia keluar lantaran calon istrinya cemburu sama Pamela.
Lalu, bicara soal Madi, hadeh, entah ke mana perginya cowok soft spoken satu itu? Pamela sebetulnya lumayan menyukainya karena dia nggak seceriwis Medina. Dia bahkan selalu menuruti apa kata Pamela sekali pun itu kontroversial. Misalnya, pas Pamela masih suka dugem sampai pagi meski dia orangnya Donald Harris, tapi Madi tak segan membohongi Bosnya itu demi Pamela bisa selalu lolos dari hukuman. Uh, nggak terhitung deh berapa kali Madi menggendongnya yang teler sejak saat dia belum menikah. Cuma, setelah peristiwa di hotel waktu itu yang menjadi hari terakhir mereka bertemu lelaki itu begitu banyak meminta maaf kepada Pamela.
Hm, Pamela bahkan tidak yakin apa salahnya Madi yang secara kebetulan ada di kamar yang sama dengannya, tetapi dengan lelaki itu tidak membantah sedikit pun tuduhan Jevas bisa dibilang ya dia ikut bertanggung jawab atas gagalnya pernikahan Pamela nggak sih, dan entah Opa kini menyembunyikannya di mana? Jangan-jangan nasibnya sama seperti Savalas pula? Duh, jangan sampai deh. Bagaimana pun Madi pernah jadi Asisten terbaiknya.
Kemudian, balik lagi ke Medina ternyata dia boleh juga. Paling minus di terlalu cerewet sekaligus hobi banget membantah Pamela!
Mengabaikan beberapa set menu makanan yang tentu Medina dapat dari resto-resto ternama Jakarta, perempuan itu akhirnya meraih satu kotak susu.
Lidahnya pahit. Mungkin minum susu hangat yang manis dan creamy selain akan bikin hidungnya plong bisa juga membungkam cacing-cacing di perutnya yang seperti terus menyodok-nyodok mencari jalan keluar.
Bersama kepalanya yang makin berat serta pandangannya yang seolah berlari-larian, Pamela susah payah memutar tombol nyala kompor untuk lantas menaruh satu milk pot yang tanpa sadar dia isi penuh dengan susu.
Dua menit atau karena dia kebablasan menuang susunya maka setidaknya dia hanya harus menunggu paling lama lima menit sampai nanti bisa memberi makan cacingnya yang kelaparan. Namun, realitasnya perutnya bahkan tak sanggup menunggu selama itu.
Dari balik piyama satin yang sudah tak digantinya dua hari Pamela meremas perutnya yang bak diaduk-aduk.
Ugh, God! Apa dia panggil dokter saja yah?
Gimana kalau sampai besok kondisinya nggak kunjung membaik? Opa tentu bakal memakai kesempatan tersebut buat pakai jurus larang-larang andalanya. Atau, parahnya Pamela bakal dipaksa cepat-cepat kawin lagi daripada keburu mati dan berakhir dengan nggak ada gunanya. Pun, Agas pasti bakal semangat juang mengompori!
Satu notifikasi lalu masuk ke handphone-nya yang dia letakan sembarangan dekat kompor saat Pamela merasa keringat dingin mulai tumbuh deras di sekujur punggung dan dahinya.
Itu ... dari Paris.
Melihat pop up-nya sekilas melalui netranya yang panas isinya kayaknya file pdf dengan judul to do list. Termasuk nama Personal Trainer yang agaknya Paris nilai bisa membantu Pamela untuk menjaga tubuhnya tetap ideal untuk enam bulan ke depan—cowok itu tetap kekeuh agar Pamela ikut audisi, anyway.
Dalam rentetan chat selanjutnya Paris juga mengiriminya kata-kata mutiara. That's oh so him!
Paris: You tahu kenapa I ijinin you pepetin doi? Karena temanya inklusif!
Entah apa lanjutannya, jari Pamela terasa berat buat membukanya.
Namun, laki-laki itu mungkin udah bertapa. Dan, dapat wangsit kalau seandainya pun Pamela menjalankan rencananya lalu hamil itu justru bakal bikin dia punya point plus. Seperti kata Paris temanya adalah inklusif. When you think of runway models, pregnant women probably don't come to mind. But, Coco Rocha did it once at New York Fashion Week, and who knows, other women might do it too.
Akan tetapi jangan jauh-jauh hamil, saat ini saja sebelum Jevas tergoda dan mengapa-apakannya dia sudah ingin muntah.
Pamela tergesa bergeser ke arah wastafel. Dia membungkuk di sana saat cairan kekuningan yang berbau mirip campuran cuka dan nasi basi terlontar keluar dari mulutnya.
Ugh!
Bersamaan dengar bunyi guyuran kran yang dia buka untuk membasuh mulut sekaligus serakan bekas muntahnya bel apartemnnya terdengar bergema nyaring.
Lho, siapa yang datang?
Apa Medina? Tapi, cewek itu sudah tahu kata sandinya. Dia nggak perlu pencet bel segala untuk sok-sokan menghargai privasi Pamela karena pada dasarnya dia rebel sejati. Tetapi, kalau memang bukan Medina terus siapa dong?
Sayangnya Pamela tidak ada energi untuk menebak-nebak karena gelombang mual berikutnya kembali datang. Dia memuntahkan seluruh yang dia makan di dua hari belakangan sampai badannya lemas dan luruh bagai daun gugur untuk ambruk terduduk di dekat wastafel.
"Haaah." Napasnya putus-putus. Dan, Pamela rasanya ingin tertawa.
Mungkin karena bertahun-tahun dia memiliki Jevas hingga kalau sakit pun dia selalu bisa bergantung pada tiap bantuan maupun perhatian dari pria itu. Pamela bahkan sampai lupa seperti apa rasanya sakit dan kesepian.
Namun, malam ini di apartemennya yang dingin dengan suara gemericik air, didih rebusan susu, juga bel yang ribut bak saling bersahut-sahutan, mendadak Pamela jadi skeptis terhadap dirinya. Di usianya sekarang Pamela nggak punya pencapaian gemilang kayak orang-orang. Dia juga gagal dalam banyak hal. Banyak orang membencinya. Dulu teman-temannya, ditambah keluarganya, belum lagi mertuanya, lalu sekarang Jevas. Sudah tahu begini kenapa sih dia terus berkeras diri bertahan hidup kalau cuma punya kehidupan yang sepayah ini?
Air mata Pamela yang bercampur baur bersama tawa mirisnya masih bertahta kala gelombang muntah berikutnya tak mampu dia tahan hingga setidaknya dia bisa kembali berdiri sehingga di lantai kini tampak terserak genangan seperti serpihan kuning-kuning nasi yang barusan meluncur keluar dari mulutnya.
Iyuh! Menjijikan!
Andai tak bersandar pada kitchen island storage Pamela boleh jadi udah rebah di lantai. Dia sedang merasa sangat lemah ketika derap langkah kaki seseorang yang seolah berlari terjaring mendekat lantas melewatinya mungkin untuk mematikan kompornya? Oh, shit, susunya ... pasti telah berceceran kan?
Huh, baik dapur ini maupun Pamela sedang sangat berantakan. Dan, ketika dia lamat-lamat mendongak untuk melihat siapa yang menerobos unitnya, Pamela melihat samar-samar wajah yang dua hari lalu begitu datar saat meninggalkannya di pinggir jalan.
Mengingatnya membuat Pemela mendadak sedih. Serta, kenapa sih Jevas mesti datang sekarang? Di saat Pamela lagi nggak berdaya? Di saat kecantikannya tidak sedang ranum-ranumnya. Tetapi, mau mengusirnya pun Pamela nggak ada sisa tenaga.
Menyadari Pamela duduk dengan mengenaskan di tengah muntahan yang bahkan mengenai sebagian rambut sampai pakaiannya, Jevas sebagai pelaku utama yang barusan memaksa masuk mengulurkan lengan. Niatnya pasti mau membantu bangkit. Namun, saking lemasnya Pamela bahkan tak bisa melihat uluran tangannya dengan benar terlebih buat balas meraihnya.
Pria itu masih sempat berdecak sebelum berkata singkat, "Saya angkat." Dan, kemudian mudah saja baginya membopong tubuh Pamela di dadanya.
Dan, detik ketika wajah Pamela yang mungkin saja masih tertempeli remahan nasi bekas muntahan akhirnya dapat bersentuhan dengan dada pria itu, hidungnya yang di dua hari ini mampet tiba-tiba seolah langsung dipenuhi oleh semerbak harum aroma parfum yang selalu sukses mengingatkan Pamela pada sensasi langit biru, sepoi angin, lambaian daun kelapa, kupu-kupu di atas bunga, juga kicau-kicau riang burung gereja.
Ah, menyegarkan. Rasanya Pamela udah kangeeeen banget!
Sayangnya, rindu yang bahkan belum sempat sepenuhnya terobati itu harus padam saat Jevas mendadak berhenti berjalan.
Pamela tidak bisa melihat wajah pria itu, tapi suaranya terkesan tajam sewaktu mendadak Jevas menodong, "Mencari siapa?"
Dan, sialnya Pamela tahu jika pertanyaan tersebut nggak dimaksudkan untuknya.
***
Siapa tuh yang datang?
Setiap usaha Pamela buat berduaan sama Jevas ada aja rintangannya kan Mbak Pem jadi pusing ya tapi kan salah sendiri niatnya anu sih wkwkwk
Baca duluan cerita ini juga sudah tersedia sampai bab 25 di sebelah ya. Ada juga hidden chapter yang bisa kamu temukan.
Terima kasih sudah baca cerita Pamela dan petualangannya ❤️🩹
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top