before again.

Memulas gincu merah yang pernah bikin Marilyn Monroe hingga Grace Kelly dilabeli legendary ke atas bibirnya untuk kesekian kali, Pamela lantas mencecap-cecap mulutnya sejenak di depan cermin yang dua kali lebih tinggi dari tubuhnya kala monolog bicara, "Okay, mirror don’t lie, who’s serving looks and living rent free?"
Mengubah tone suaranya detik berselang menjadi ala-ala serdadu Pamela dengan luar biasa percaya dirinya kontan menyahuti, "No doubt, that’s the one and only Pamela Fabulous Harris! So, go play where hearts get risky and love forgets the rules!"
Bak orang setengah gila perempuan itu lantas terkikik-kikik sendiri.
Ya, gimana hatinya nggak gembira coba?
Sekitar satu jam lalu Jevas mengabari kalau dia telah landing di Soetta.
Goodness!
Dalam hitungan menit momen yang Pamela tunggu-tunggu selama enam bulan lebih loh akhirnya tiba. Well, bukannya dia se-overconfidence itu kok bahwa akan ada peristiwa menarik yang terjadi antara dirinya dan mantan suami. Cuma, kalau pun Jevas nggak kepikiran Pamela toh bisa usaha untuk bikin pria itu berubah pikiran kan? Hehe.
Kanaya Melati yang kerap mengutuknya mungkin memang nggak salah sih. Pamela jelas punya sisi iblis. Dan, Jevas boleh jadi juga benar bahwa Pamela adalah manusia brengsek—come on, tidak ada orang baik yang bakalan tega main api di belakang mantan sahabatnya sendiri seberapa pun dia pernah sakit hati.
Memutar tubuhnya sekali lagi di hadapan cermin hingga bikin gaun malamnya sedikit mengembang, Pamela lalu memberi gesture flying kiss untuk dirinya sendiri sebelum bergegas ke arah pintu, sembari tak lupa terlebih dahulu menyambar paper bag berisi makanan yang siapa tahu Jevas belum makan kan jadi mereka bisa dinner bareng.
Uh, that’s a really good call, Pamela!
Saking happy-nya Pamela meninggalkan unitnya sambil menari-nari dan bersenandung ria.
***
Pamela mengecek jam di handphone-nya. Harusnya sih Jevas udah hampir tiba yah.
Menelan rasa tak nyamannya dia memaksa untuk berdiri tak jauh dari pintu lift di lantai unit Jevas—to be honest, dia bisa saja langsung menerobos masuk sebab dia cukup yakin masih bisa menebak dengan akurat sandi pintunya, tapi dia sungguh sedang tak ingin cari-cari masalah terlebih sama Jevas—maka, kendati beberapa kali pintu terbuka dan membawa satu-dua orang asing yang membuatnya refleks buru-buru menyembunyikan muka Pamela toh tetap sabar berdiri di sana hingga sekitar dua menit dengan hati yang berdebar-debar.
Lalu ....
Ting!
Lift terkuak lagi. Pamela hampir kembali mengangkat paper bag-nya guna menutupi wajah sebelum hidungnya mengendus sekelebat aroma lembut parfum yang familier.
Menurunkan lengannya. Benar saja sosok Jevas yang menggendong ransel sambil menggeret satu koper kabin udah ada di hadapannya.
Pamela spontan tersenyum lebar menyambutnya. Namun, berbeda darinya yang tampak cerah ceria, Jevas justru terlihat datar saja. Seolah menemukan Pamela malam ini—saat masih jadi istrinya, Pamela bahkan sering menunggui kepulangan Jevas di depan pintu sampai-sampai kalau pas pria itu buka pintu serta tak menemukan Pamela dia pasti langsung panik bukan main, mana sekarang Pamela lagi cantik dan wangi banget kan harusnya dia senang—tak seistimewa yang dirasakannya.
Ya kali dia baru aja datang. Pasti lelah dong, Pem! batinnya yang tidak terkontaminasi bisik-bisik iblis pun ber-positive thinking.
"Hei?" Pamela lantas berinisiatif duluan menyapa. Dia sebenarnya ingin menggandeng sebelah tangan Jevas yang menganggur. Tapi, pria itu menyimpannya di dalam saku celana.
Jevas hanya mengangguk pelan seraya melangkah duluan ke arah unitnya. Tanpa ragu bak anakan ayam Pamela pun gegas mengikutinya.
"Semuanya lancar?" Pamela membuka pertanyaan ketika mereka telah berada di apartemen Jevas, dan dia tak mau berhenti mengikuti pria itu yang berjalan ke arah dapur untuk meraih air mineral dari kulkasnya.
Jevas meneguk langsung dari botol sambil kemudian dengan enggan mengangguk.
Ih, kenapa yah dia? Secapek itu kah?
"Udah makan?" Tak patah arang Pamela segera beralih topik bahasan.
"Belum."
"Pas bangeeet dong! Aku bawa nasi ayam geprek sambal ijo loh." Dengan bangga Pamela menggoyang-goyangkan paper bag cokelat di samping wajahnya. "Aneh banget nggak sih? Adik Paris buka bakery, tapi sedia nasi ayam juga. Buat rotinya kemarin sih not bad lah. Jadi, aku penasaran deh beli ayamnya. Semoga sama enaknya."
Jevas nggak banyak merespons. Masih membawa-bawa botol minum dia lalu melipir ke arah rak piring untuk lantas meraih wadah makan yang amat Pamela kenali karena memang miliknya sendiri dari sana.
Pamela tentu waspada.
Ih, masa sih mau langsung dibalikin gitu aja?
Please, dia ngajak ketemuan setelah nyuruh Pamela nunggu tiga hari tuh betulan cuma buat balikin literally balikin wadah makan itu tanpa ada intensi lain?
Seriusan?
Apa Pamela aja yang terlalu ngarep? Tapi, loh kayaknya nggak kok. Mustahil dia salah baca sinyal! Mereka kenal tahunan dan nggak mungkin banget yang dia lihat tiga hari lalu sekaligus kemarin malam di kamar hotelnya, yang tampak membayang di mata Jevas tuh bukan kabut nafsu!
"Udah?" gumam Pamela. Rahangnya nyaris jatuh begitu melihat wadah itu teronggok melas di depannya.
Jevas menaikan alisnya.
"Udah gini doang aku langsung balik? Kan kamu kemarin janji nggak akan ngusir lagi. Aku loh udah beli baju. Aku juga udah ke salon." Pamela mengerucutkan bibirnya. Dan, siapa yang tidak bisa melihat rambut hitam legamnya yang tuing tuing kalau dibawa gerak? Dia sengaja menatanya biar Jevas bisa memilin-milinnya seperti yang sering pria itu lakukan tiap kali mereka habis bercinta!
Bak orang habis marathon Jevas menghela napasnya lelah. "Kamu bisa makan di sini kalau memang mau makan," katanya berkompromi.
Ihhh, tapi, aku kan maunya makan kamuuu!
Masa sih dia nggak peka banget?!
Kepalang dongkol Pamela tanpa pikir panjang sontak mencecar, "Kalau aku pulang next mungkin nggak ada momen begini lagi loh yah. Aku kalau perlu terima undangan buat ketemu keluarganya Chatra Dinata. Dan, kamu tahu kan kalau udah ketemu begitu pasti ujung-ujungnya ke mana? Aku mungkin harus menikah sama dia."
"Go ahead."
"Hah?"
"Menikah dengan dia atau dengan siapa pun. Tidak ada kaitannya dengan saya."
"Sayaaaang!" Pamela merajuk. "Ada apa sih? Ada yang nggak berjalan dengan semestinya? Pamerannya nggak sukses? Kamu bete kenapa? Aku tahu nih kamu pasti ada yang bikin nggak nyaman kan? Tell me, I am all ears."
Di pisahkan oleh satu meja makan, Jevas memandangnya lekat-lekat. "Kamu tahu satu hal yang nggak bisa saya maafin dari Mami?" tanyanya bukan cuma terdengar letih, tapi juga gusar dan pedih.
Lagi, ya bagaimana Pamela nggak tahu? Dalam pernikahan mereka keduanya begitu saling mengandalkan. Pamela bukan hanya istri, tetapi teman berbagi cerita nomor satunya Jevas. Hm, bukan berarti Jevas tak pernah punya rahasia, tetapi terkait masa lalunya Jevas memang selalu terbuka cerita.
Maka, dia tentu paham betapa Jevas sangat sayang Patricia. Nggak perlu diragukan. Tapi, di saat yang sama dia pun tiada henti menyesalkan hubungan Patricia dengan Argatama yang terjalin di belakang Zianne. Mereka melakukan pengkhianatan, dan Jevas sangat membenci fakta itu.
Menyapu wajahnya menggunakan dua tangan Jevas tak lama terdengar merintih, "Kalau Mami saja nggak bisa saya maafin. Kamu pikir kamu bakal lain?"
Pamela terhenyak. Jadi, ini masih soal yang sama yah?
"Tapi, aku nggak ...." Pamela bergumam, tak sanggup menyelesaikan.
"Nggak selingkuh?" Pun, Jevas tak menyiakan kesempatan buat membantunya mengingat tentang dosa besarnya.
Pamela nggak tahu kenapa Jevas yang kemarin masih bisa santai meladeninya kini justru kembali membahas soal ini. Okay, Pamela ngerti kok kalau masalah ini belum pernah benar-benar mereka selesaikan di luar lewat perceraian. Cuma, bukannya belakangan hubungan mereka bisa dibilang udah sedikit membaik yah? Jevas bahkan mulai perhatian lagi padanya. Jevas memang sesekali masih suka menyindir, tapi di sisi lain dia toh masih menerimanya. Kok mendadak dia berubah?
Namun, Pamela nggak boleh diam saja kan?
Dia lalu berusaha menerangkan, "Kamu tahu aku nggak mungkin begitu. Sama Savalas aja yang ceweknya di mana-mana aku nggak pernah mikir buat cari cowok lain sampai akhirnya dia yang milih ninggalin. Aku sayang banget sama kamu. Gimana mungkin aku bisa berpaling ke orang lain?"
"Terus, kamu pikir mata saya yang salah? Saya yang halusinasi? Kamu telanjang di kasur hotel pagi itu sama lelaki lain. Enam bulan, tapi rasanya baru terjadi kemarin."
Jevas bukan drama. Dia hanya kecewa. Mungkin karena baik enam bulan lalu hingga hari ini Pamela tak permah benar-benar bisa memberinya penjelasan yang layak. Sebab, Pemela sendiri sungguh tidak tahu harus menjelaskan dengan cara gimana lagi?
Jadi, hari ini pun Pamela hanya mengatakan ucapan yang sudah pernah diutarakannya, "Aku nggak tahu kenapa bisa begitu. Kalau aku bisa ketemu lagi sama Madi aku yakin dia pasti sekarang bakal bilang nggak ada yang terjadi—"
"Dia suka kamu," gunting Jevas, mengatakan hal yang sama dengan Medina.
Pamela sontak menggelenginya. "Enggak lah. Dia kagum aja. Namanya aku Aktris kan? Kebetulan dia punya kakak perempuan juga. Mungkin dia lihat aku kayak kakaknya?"
Jevas tampak skeptis. Jadi Pamela kembali menambahi, "Fine, katakanlah dia suka, tapi kalau akunya nggak balik suka kan mau apa?"
Nggak balik suka?
Bukannya itu lebih buruk karena dia bisa tidur sama sembarang orang yang nggak dia sukai?
Jevas yang tidak tahu harus menjereng ekspresi apa, atau bereaksi macam mana akhirnya lagi-lagi menghela panjang napasnya sambil berujar, "Saya mau istirahat."
"Jev—?" Kenapa? Semuanya normal aja. Kenapa dia berubah dingin lagi?
Apakah pamerannya berantakan? Namun, kalau benar ini tentang pamerannya kenapa mendadak dia malah ungkit-ungkit soal kasus Pamela lagi?
Tinggal 70 hari waktu yang Pamela miliki. Itu juga kalau nikahan mereka nggak dipercepat. Sungguhkah dia mesti kehilangan Jevas?
"Sayang ...." Pamela masih mencoba. Dia mendekat hendak meraih tangan Jevas, tapi pria itu dengan sedikit kasar menampiknya.
Seolah sikap anti patinya yang serba mendadak tersebut belumlah cukup tembakan Jevas yang tiba-tiba pun terasa menuduhnya dengan cukup hina kendati itu mungkin fakta, "Kamu mau saya tidurin?"
"Hah?"
Dia mengamati Pamela dari ujung kaki hingga rambut seolah sedang menilai sebelum berikutnya melontar komentar bernada sinis, "Kamu pikir saya sanggup? Kamu pikir saya nggak jijik pakai bekasnya lelaki lain?"
Pamela ternganga. Ini bukan Jevas! Dia kadang omongannya memang kayak nggak ada etika, tapi nggak pernah merendahkan Pamela.
Dia pas nikah saja tahu bahwa dia bukan pengalaman pertama bagi Pamela. Dan, dia nggak pernah tampak keberatan dengan itu. Dia bukan lelaki yang pikirannya sepicik itu. Dia nggak pernah menyama-nyamakan perempuan sama barang. Lagi pula dia ... kemarin malam dia nggak tampak jijik tuh pas mengulum buah dada Pamela!
"Saya ketemu Madi," akunya yang sontak bikin mata Pamela membola.
"Hah?"
Di mana? Apa di Bali? Jadi, Madi meneleponnya saat dia sedang ada di Bali? Dan, apa yang udah dibicarakannya?
Pelan-pelan Pamela bisa menebak bahwa perubahan sikap Jevas bukan karena dia lelah, bukan pula karena pamerannya, tapi karena Madi. Namun, gimana bisa Madi menemui Jevas?
Jevas mengepalkan buku-buku jemarinya. "Kamu yakin yang ...." Dia seperti kesulitan mencari kata-kata. Jarinya dia larikan sejenak demi mengurut pelipis, sebelum mengulang melalui nada yang terkesan kecut nan gamang, "Kamu yakin yang ... saya lihat pagi itu di antara kalian bukan kali kesekian?"
"Ma-maksud kam—"
"Sudah tidak penting sebetulnya. Mau kamu sesering apa main sama dia di belakang saya. Tapi, saya tidak pernah merasa seterhina ini, Pamela." Jevas menderaikan tawa getirnya. "Kenapa? Apa kurangnya saya sih sampai kamu pikir masih perlu lelaki lain?"
Kenapa?
Tanya yang tak bisa Pamela jawab. Karena, dia memang tidak pernah butuh lelaki lain. Dia hanya butuh diperhatikan, disayangi, dimanja, serta dimiliki oleh Jevas. Tapi, apa semua orang dan Jevas mau percaya? Bagaimana dia bisa bikin orang lain percaya kalau Pamela nggak pernah bisa ingat lagi apa yang sesungguhnya terjadi sebelum pagi itu?
Pamela merasa hatinya rogol ke kaki kala dia mendapati luka enam bulan lalu yang dia kira bisa dia hapus tumbuh lagi di mata Jevas.
Sialan, apa sih yang udah Madi katakan?!
***
Nah kan apakah habis ini fix nih Mbak Pem akan move on aja? Lagian, apa sih yang diomongin sama Madi? Dan, kenyataannya itu sebetulnya yang dibilang Madi atau yang diingat Pamela? Huhuhu kan Jevas jadi syakid hati lagi 😅
Oh ya aku kemarin udah update bab 37 di sebelah yah. Kalau lancar kemungkinan besok Jumat akan update lagi bab terbaru. Wait yooo.
Terima kasih sudah membaca dan mendukung cerita ini. Sehat selalu, Gaes ❤️

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top