#35

"Tumben, Do. Tiba-tiba dateng," Fika mengambil jus dari kulkas dan berjalan ke arah ruang tengah.

Di samping Nando juga ada Raka yang sibuk makan kacang. "Mau, Do?"

Nando mengambil serauk kacang sebelum memulai pembicaraan. "Gue lagi pengen jalan-jalan aja sih sebenernya, hari ini. Karna gue bingung mau kemana, kenapa gak ke sini aja?" Sial, sebenarnya bukan itu yang ingin diutarakan. Bagaimana ya, cara mengajak Fika pergi keluar tanpa menimbulkan kecurigaan karena ini terasa tumben dan tiba-tiba?

"Kenapa gak ajak Kiki aja? Gue telfon Kiki dulu deh."

"Eh, gak usah." Nando menggoyangkan kedua tangannya. "Lagian dia juga udah-"

"Udah apa?" Tanya Fika yang masih memegang ponsel.

"Udah gue telfon tadi."

"Terus dia mau ke sini?"

Raka melirik ke dua orang di depan dan di sebelahnya bergantian.

"E-enggak. Dia bilang kalo lagi gak enak badan. Dari semalem katanya."

Alis Fika mengerut. "Serius? Ya udah gue mau jenguk. Anterin gue ya? Ka, lo ikut gak?"

Mampus.

"Kayaknya gue nitip salam aja deh buat Kiki, kasian Papah sendirian mulu di rumah."

Sofyan yang sedang duduk di ruang makan menoleh, "Gak apa-apa, Ka. Jenguk aja sana."

"Enggak, kasian Papah."

--

Setelah mereka sudah di separuh jalan, Nando membuka suara. "Aduh, Fik. Gimana, ya."

"Gimana apa?"

"Gue baru inget, tadi Kiki bilang kalo dia lagi ke dokter." Sepik aja dulu.

"Yah, gimana ya. Gue hubungin juga nomornya gak aktif terus."

Nando tertawa sumbar. "Udah, dia gak kenapa-kenapa kok." Ia melajukan mobilnya terus sampai matanya menemukan hal yang menarik. Kedua tangannya memutar stir pengemudi dan memarkir mobil tersebut di depan restoran yang tergolong menengah atas itu.

"Jadi kita makan nih?"

"Bukan Fik, nyuci baju. Ya iyalah, ngapain ke sini kalo gak makan. Gue laper." Nando membuka pintu mobil. Sebelum menutup pintu, ia menundukkan kepalanya, melihat Fika yang masih bergeming di dalam. "Lo mau nungguin gue di sini?"

"Tapi-"

"Udah jangan kebanyakan mikir, perut dulu diisi."

--

Fika menyingkirkan mangkuk kecil putih berisi kimchi dari hadapannya.

"Lo gak suka kimchi?"

"Enggak," Jawab Fika dengan wajah jijik.

"Enak, tau." Nando mengambil kimchi tersebut menggunakan sumpit. "Kayak asinan."

"Asem."

"Kayak muka lo dong?"

"Kok lo lama-lama kayak Raka, ya?"

"Maksudnya?"

"Rese."

"Ooh, gue emang rese kalo lagi laper."

Fika mencibir. Tangannya masih sibuk dengan sumpit. Sejujurnya, ia selalu kesulitan jika makan pakai sumpit. Tapi semua orang di sini, termasuk Nando, menggunakan benda itu. Jadi mau tidak mau ia harus jaga imej.

Selang beberapa detik kemudian, Nando memanggil pelayan dan mengatakan sesuatu yang Fika kurang paham. Setelah itu, seorang pelayan datang lagi membawakan sepasang sendok dan garpu.

"Kamsahamnida." (Terima kasih.) ucap Nando, kemudian ia meletakkan sendok dan garpu tersebut di samping mangkuk makanan Fika. "Makan yang bener."

"Kok lo peka, sih?"

"Makan tinggal makan."

"Demi apapun kok lo bener-bener kayak Raka?"

Nando tidak menghiraukan perempuan di hadapannya, mulutnya penuh dengan ramyeon, dan tangannya sibuk dengan sumpit. Setelah ia menelan makanan di mulutnya dalam waktu kurang dari sepuluh detik, ia meminum air mineral sampai habis sebelum menanyakan sesuatu pada Fika yang makanannya tak kunjung habis. "Eh, gue mau nanya deh."

"..." Fika masih mengunyah.

"Kalo misalkan ngelupain orang yang kita sayang itu susah gak?"

Mendengar itu, Fika menegakkan posisi duduknya. Ia berusaha menelan makanan yang baru ia kunyah dengan susah payah. "Aduh, hampir keselek gue." Mengumpulkan air mineral di dalam mulutnya yang mengembung dan menelan dalam satu tegukkan. Ia menghela napas sebelum mengeluarkan jawaban. "Ya lo pikir aja sendiri."

Air wajah Nando berubah drastis dari penuh penasaran menjadi penyesalan. Ia menyesal menanyakan hal tersebut pada perempuan berumur enam belas tahun di hadapannya. Dua tahun lebih muda. Apakah pemikirannya masih jauh untuk mencapai pertanyaan Nando? Jawaban Fika tidak sesuai harapan. "Lo harus kasih jawaban yang klimaks dong."

"Sorry, but i'm not good at giving an advice. Tapi gue selalu bisa jadi pendengar setia kok."

Aduh, susah juga ya ngomong ama bocah. "Gue gak minta saran dari lo. Yang gue maksud, gimana kalo lo ada di posisi itu?"

"Gue gak tau. Gue belom bisa ngomong karena gue belom ngerasain."

Nando menaikkan kedua alisnya dan menelan saliva ke dalam tenggorokkan. Yang dikatakan Fika memang benar adanya. Oh, atau sepertinya Nando salah memberi pertanyaan?

"Kalo gue jadi orang itu," Suara perempuan di hadapannya memecah keheningan. "Sederhana aja. Kalo gue ditakdirin untuk lupa, gue akan lupa gitu aja. Tuhan akan selalu adil untuk masalah itu kan?"

"Se-sederhana itu? Tau gak lo kedengerannya kayak orang apa?"

Kedua bahu Fika terangkat.

"Ya gak se-sederhana itu juga kali. Lo belom bisa jelasin sesuatu secara spesifik ya?" Nando harus memutar otak supaya semuanya bisa berjalan lancar. Dia sendiri juga bingung seharusnya bagaimana.


a/n: Mantap jiwa, gak kerasa udah part 38. Gak kerasa udah 2.440k readers, dan akan banyak hal-hal di depan yang juga begitu. Karena semuanya emang akan berasa kalau udah kejadian. Lah. Ya iyalah-_-

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top