#32
Kedua ujung bibir Kiki terangkat, ia tersenyum saat melihat Fika keluar dari lift. Kemudian ia langsung menggamit tangan perempuan itu dan mereka pun berjalan beriringan ke dalam mobil. Kiki membukakan pintu untuk Fika, menutup pintu tersebut, lalu mengitari mobil untuk masuk dan duduk di bagian pengemudi. Sebelum menyalakan mesin, ia menoleh ke perempuan di sebelahnya dan tersenyum simpul.
"Kenapa senyum-senyum?"
"Gak apa-apa, rasanya seneng aja bisa jalan berduaan lagi."
Fika tersipu, "Gue juga seneng."
Keduanya menghabiskan waktu dengan mengobrol, sesekali mereka mendengarkan Kodaline dari tape yang tersambung ke ponsel Kiki.
Take control of who you are
Cause ain't nobody going to save you
Take control of who you are
When the world is getting stranger
Take control of who you are
Stay the same don't let them change you
But when it comes apart
When it comes apart
Just start again and open up your heart
Take control of who you are
Take control of who you are
--
Mereka duduk di tempat makan yang terbilang emperan, tapi tempat itu bersih, banyak orang berlalu lalang dan Fika menyukai itu.
Kiki meminum air mineralnya sambil melirik Fika, setelah itu ia berniatan untuk menunjukkan sesuatu. "Fik, lo tau kan, pas masih kecil gue pernah ke Vegas dan gue pernah belajar sulap?"
Fika menyelipkan helai rambutnya dibalik telinga dan mengangguk mantap, menunggu Kiki melanjutkan pembicaraannya.
Kemudian laki-laki itu merogoh jaketnya dan mengeluarkan satu kotak berisi kartu, ia mengeluarkan setumpuk kartu tersebut dan mengambil setengahnya untuk dikocok. "Pikirin satu kartu di kepala lo," ucap Kiki, tangannya dengan lihai menjejerkan kartu-kartu yang telah dikocok dengan posisi terbalik. "Udah?"
"Udah."
"Coba sebutin,"
"Empat love."
"Empat love?" ulang Kiki yang dijawab anggukkan oleh Fika.
Lelaki itu menjentikkan jari dan diikuti oleh satu tepuk tangannya dengan cepat, seakan-akan itu adalah mantra sulap. "Ambil satu kartu." perintahnya.
Fika meraba setiap kartu dan mengambil salah satu.
"Lo bisa balik kartunya sekarang." ucap Kiki.
Setelah Fika membalik kartunya, ternyata tidak sesuai yang perempuan itu harapkan, ia berpikir akan melihat kartu empat love, tapi yang ia lihat malah joker. Tapi, tunggu, di atas gambar kartu tersebut ada tulisan 'Tukar kartu ini ke ahjussi yang lagi bakar daging di samping Kiki.'
"Sekarang, tanda tangan kartu itu sebelum lo kasih ke si ahjussi."
Fika menurut dan menandatangani kartu tersebut, ia melirik Kiki sebentar, dengan ragu ia bangkit dari duduknya, berjalan hati-hati ke pria yang sedang membakar daging tidak jauh dari sebelah Kiki. "Ahjussi,"
"Ye?" tanya pria itu.
Dengan bingung, Fika memberikan kartu tadi. Ia tidak berkata apa-apa, hanya memberikannya sambil sesekali menoleh ke Kiki.
"Jamkkan man." Ia meminta Fika untuk menunggu dan duduk karena ia akan mengantarkan sesuatu-yang entah apa itu-ke meja Fika.
Fika kembali duduk berhadapan dengan Kiki dan laki-laki di hadapannya itu tersenyum lebar, entah dengan maksud apa. Tidak sampai setengah menit, pria yang ditunggu datang. Namun, Fika terbelalak, matanya melotot dan mulutnya terbuka lebar membentuk huruf O saat ia melihat kue tart dengan bentuk panda yang sekarang sudah ada di depan meja.
Kiki mengatakan terima kasih pada pria barusan, sedangkan Fika belum bisa mengatakan apa-apa. Di kue tersebut ada tulisan 'Happy 16th birthday Afika Syifa. Jinjja saranghae. -Kiki' dengan huruf sambung yang terbentuk indah.
"Selamat ulang tahun, Fika ku." Kiki melipatkan kedua tangan di atas meja, kedua matanya menatap Fika dengan bahagia.
"Ki," Fika menggigit bibirnya, ia bahkan lupa kalau hari ini adalah hari ulangtahunnya. Ah, apa jangan-jangan hanya Kiki yang ingat. Buktinya, belum satupun dari Liska, Anggi, Sofi mengucapkan selamat ulang tahun. "Gue aja lupa kalo hari ini ulang tahun." Nah, sekarang ia merasa sangat cengeng lagi. Hanya saja air mata yang keluar kali ini bukan air mata karena sedih.
"Yah, nangis." Kiki memasang ekspresi seperti orang yang merasa bersalah, kemudian ia menjulurkan tangannya, meraih wajah Fika. "Coba, gue liat," ucap laki-laki itu, jemarinya menghapus air mata perempuan di hadapannya. "Dingin, air mata bahagia ya?"
Yang ditanya mengangguk, memegang tangan Kiki yang tadi menghapus air matanya. "Makasih, ya."
"Iyaa. Ya udah, potong dulu dong kuenya." Kiki memberikan pisau plastik pada Fika, padahal perempuan itu bisa mengambil sendiri.
Kue berukuran medium itu masih sangat bagus dan rapi sebelum Fika memotongnya dengan perlahan tapi pasti. Kiki memintanya untuk membelah dua kue tersebut. Setelah kue tersebut terbelah, aksi sulap Kiki masih berlanjut, Fika menemukan segulung kertas kecil. Ia mengambil gulungan kertas tersebut dan membukanya, perempuan itu mendapatkan kartu empat love. "Eh, ini gimana bisa ada di dalem?"
Kiki mengangkat bahu, "Bukan sulap, bukan sihir."
"Ki," gumam Fika.
"Hm?"
"Dangsin-eun choegoyeyo." (Kamu yang terbaik.) Fika mengedipkan sebelah mata.
"Jinjja?" (Masa?)
"Ne," (Iya,)
"Kalo gitu, foto gue masih ada di dompet lo gak?"
"Masih, kok."
"Mana coba, gue mau liat."
Fika pun membuka tas kecil untuk mengambil dompet biru muda miliknya. "Nih, ya" gumamnya sambil membuka dompet. "Noooo. What the-" kedua mata Fika membulat, memperlihatkan isi dompet tersebut pada Kiki karena ia melihat kartu Joker yang tadi ia tanda tangan. Padahal dari tadi ia tidak melepaskan tas tersebut dari tubuhnya, itu membuat ia bertanya-tanya bagaimana trik sulap yang Kiki lakukan. Tanpa sadar, ia terhanyut dalam dunianya sendiri, memandangi Kiki yang tertawa dan tersenyum bangga. Di saat seperti itu, kedua mata kiki nampak hanya segaris saking bahagianya. Kiki menyenangkan, lebih tepatnya, Kiki selalu berusaha menyenangkan di depan Fika dan itu berhasil. Kiki ingin membuat Fika bahagia dan lagi-lagi berhasil.
Ki, gue gak mau ini berakhir.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top