#30

"Fik, come on. Sekarang gini deh, lo juga kenapa gak bilang kalo udah ketemu Nando?"

Mereka berdiri berhadapan di depan toko buku yang berada hanya beberapa langkah dari restoran.

Fika melipatkan kedua tangan di depan dada. "Ngapain juga gue pake bilang? Lo juga gitu."

"Dia ngintilin gue mulu. Serius. Lagian niatnya kan cuma mau ketemu Nando. Kalo tau lo ada di sini juga gue gak bakal ngasih dia ikut."

"Mau alesan apa lagi sih, Ki?"

"Fik, gue serius. Kenapa sih harus dibesar-besarin?"

Perempuan itu menggaruk hidungnya yang tidak gatal.

"Lo mau tidur di tempat gue terus, biar dia gak ngintilin gue lagi? Ayo, gak apa-apa. Dengan senang hati malah. Kamar di rumah ada banyak."

"Ah, gak tau lah." Fika memutar balik tubuhnya ingin kembali ke restoran. Namun Kiki menarik lengannya sekali lagi.

"Fik, selesaiin dulu." Kedua tangan Kiki meraih milik Fika. "Please," Raut wajah laki-laki itu menunjukkan permohonan yang sangat serius.

"Plas plis plas plis."

"Bodo amat pokoknya please."

"Gimana biar gue bisa percaya sama lo?"

"Ya, gue gak tau. Pokoknya gue udah jujur."

Fika mendecak. Sebenarnya ia tidak sepenuhnya kesal pada Kiki, ia percaya pada laki-laki itu. Tapi ia tidak tahan kalau harus melihat muka Renata lagi.

Dalam hitungan detik, laki-laki itu meraih tubuh Fika agar lebih dekat dan memeluk perempuan di hadapannya dengan erat. Kurang lebih, sama dengan pelukan dari Raka. Tapi kalau kali ini adalah pelukkan kerinduan. "Gue kangen, Fik."

"....."

"Lo gak kangen apa?" Kiki menenggelamkan wajahnya di leher Fika.

Kehangatan menyeruak lagi ke tubuh perempuan itu, menghantarkan energi rindu dan membuatnya merinding.

"Mianhae..." (Maaf.) Kiki memeluk lebih erat, seakan takut perempuan itu pergi dari hidupnya.

Kedua tangan Fika pun membalas pelukan itu, ia mengelus-elus punggung Kiki, dan meletakkan dagunya di atas pundak laki-laki itu.

Setelah merasa baik-baik saja, mereka pun kembali ke restoran dan duduk di tempat semula. Raut wajah mereka tidak berubah dari sebelumnya, dari awal mereka telah duduk di tempat itu, karena mereka harus berhadapan lagi dengan orang-orang mengesalkan yang duduk di hadapan mereka masing-masing.

Sebenarnya Fika tidak rela kalau Kiki harus pulang bersama perempuan menyebalkan tingkat dewa itu. Begitu juga Kiki, ia menjadi malas untuk sekedar melirik Nando yang sekarang memasang wajah tanpa dosa.

--

Sesudah makan malam, Sofyan, Raka, dan Fika sudah ada di atas sofa. Menonton The Woulverine pada detik-detik terakhir film itu berakhir.

"Udah, pada tidur gih." Sofyan beranjak dari sofa dan menuju ke kamarnya.

Raka melirik, pasti Papahnya itu tidak langsung tidur, melainkan baca buku di kamar sampai ngantuk.

"Ka,"

"Hm,"

"Gue udah baikkan sama Kiki. Tadi gue ketemu lagi sama dia."

"Pas makan?"

"Iya,"

"Bagus, deh."

"Gue mau ke Myeondong sama dia."

"Gue ditinggal lagi?"

"Ya elo gak punya temen sih."

"Elo tuh, kalo lagi seneng aja, ngelupain gue."

"Ka, lo tau tempat hunting yang bagus buat foto-foto gak?'

"Semua sudut di sini mah bagus buat foto-foto."

"Iya, sih. Hari Kamis nanti ikut, yuk. Gue diajak hunting sama Nando."

"Tumben gue diajak."

"Kasian sama lo blangsakkan di rumah."

"Yeh, gue mah udah kemana aja kali. Udah bosen."

"Lah, tadi gak diajak, nguring. Sekarang diajak, riya."

Raka duduk menurunkan kakinya dari sofa. "Gue maunya lo diem. Berisik, suara lo gak enak didenger."

"Elo yang jangan ngomong mulu, mulut lo sumber mata air comberan tuh." Tiba-tiba suatu pertanyaan muncul dibenaknya. "Ka, lo kok gak punya cewek sih?"

"Masih sayangnya sama lo." Jawab Raka datar.

"Dih. Gila apa."

"Emang bener dih."

Fika tersenyum miring, "Ternyata segitu sulitnya ya orang kalo mau move on dari gue?"

"Diem apa, diem." Raka berdiri dan melangkahkan kakinya ke meja makan untuk meminum air mineral, kemudian membalikkan badannya.

"Fik, gue tidur sama lo ya?"

"GILA LO YA?"

Raka meringis, menutup kuping, kemudian ia membukanya lagi. "Gue takut."

"Takut apaan coba?"

"Ya au, gue takut pokoknya."

Raka berjalan ke kamar Fika, masuk, dan langsung merebahkan diri di kasur. Sang pemilik kamar berdiri mematung di ambang pintu, melihat kakaknya yang seenaknya tidur di kasur.

"Kok di kasur?"

"Kan ini kasurnya buat berdua."

"Tetep aja, gue gak mau. Lo di bawah, kek."

"Ogah."

"Ya udah gue di kamar lo."

"Dibilang, gue lagi takut tidur sendirian." Pasalnya, kemarin malam Raka habis menonton film horror di netbooknya, sendirian, di kamar. Dan bayang-bayang cuplikan hantu menyeramkan masih melayang di kepala laki-laki itu. "Buruan, sini. Gue takut."

Kedua alis Fika mengerut, ia menutup pintu kamar dan berjalan ragu menghampiri kasur bernuansa putih yang berukuran besar itu.

"Jangan dimatiin lampunya." Perintah Raka sambil meletakkan dua bantal guling di tengah-tengah untuk memisahkan dan memberi jarak di antara mereka berdua. "Tuh, ada batesnya."

Perempuan itu akhirnya duduk, menarik selimut, dan menggeraikan rambut sebelum merebahkan diri untuk tidur.

"Fik, gue duluan yang tidur." Laki-laki itu dengan cepat memejamkan matanya, ia takut kalau Fika tidur lebih dahulu dan menjadikan ia sendirian membayangkan hal-hal menyeramkan lagi hingga sulit tidur.

"Ribet lo."

"Bagi selimutnya, maruk banget." Raka menarik selimut yang juga dipakai Fika.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top