#28
Di sofa ruang tengah, Fika membuka kolom obrolan dengan Kiki. Ia memutuskan untuk membaca pesan yang banyak itu dan membalasnya.
Kiki: Fik, masih marah ya?
Kiki: Fik, kalo gue gak peduli sama lo, gue gak bakal mantengin hp sekarang nungguin lo bales.
Kiki: Iya, enak, gabakal diread emang.
Kiki: Ya udah, nih. Gue jelasin ya, sayang.
Kiki: Yang pertama, gue minta maaf banget. Gue emang sengaja gak ngabarin, fik. Gue pengen bikin surprise maksudnya, sumpah, gue gak boong. Yang kedua, lo salah paham. Iya, maaf tadi bilang lo kekanak-kanakkan. Tp apa yg lo liat itu gak gitu. Nih, gue nyampe siang menjelang sore. Dijemput sama om gue tuh. Nah terus, gue sama om gue ke apotek buat beli obat.
Kiki mengurungkan diri mengatakan bahwa dia akhir-akhir ini sering tidak enak badan, ia tidak mau terlihat bahwa mencari kasihan dari perempuan itu saat ia memang melakukan kesalahan.
Kiki: Gue dari mobil, nyusul om ke dalem apotek krn bosen. Trs gue ketemu sama Rena. Dia temen gue, fik. Gak lebih, plis percaya. Gue ngobrol sama dia, trs tiba2 gue mimisan-_- trs mungkin dia refleks bersihin darah di idung gue yg udh bikin muka gue kotor kali. Itu, gue bilang ke dia 'udah, gue aja.' Eh gk sengaja, sumpah gk sengaja fika plis percaya sama gue, ya. Gue gk mungkin modusin cewe lain selain afika syifa, gue berani sumpah. Gue gk sengaja malah megang tangannya. Plis jangan cemburu, fik. Gue berusaha jujur. Udah, gitu. Maafin gue ya. Maaf udh bilang lo kekanak-kanakkan, maaf. Gue gk maksud gk suka sama sifat lo, tp ya, yaudahlah lupain aja hal tadi. Ya? Udah jelas kan gue jelasinnya?
Fika: Ga kurang ga lebih tuh?
Kiki: Enggakk
Kiki: Ya? Masih sayang sama gue kan?
Fika: Banget (deleted)
Fika: Gatau.
Kiki: Baikkan, ya?
Fika: Gue gak suka Rena
Kiki: Iyaaa
Fika: Lo gatau sih di posisi gue gimana.
Kiki: Tau, fika
Fika: Ngga, lo gatau.
Kiki: Ya udah mau gue kyk gimana?
Fika: Hrs gk suka jg sama rena
Kiki: Iyaaa
Fika: Bodoamat harus.
Kiki: Iya seriuss
--
Sekitar jam tujuh pagi, Kiki masih berolahraga di teras, meregangkan otot-ototnya. Rasanya ia tidak bisa mengurung diri di dalam kamar terlalu lama, karena hal itu malah membuatnya merasa lebih lelah. Dari kejauhan, ia bisa melihat Renata baru keluar dari dalam rumahnya. Sekarang mereka berdua sedang ada di teras rumah masing-masing sebelum akhirnya Rena melambaikan tangan dan menghampiri Kiki. Sebenarnya semenjak kejadian kemarin, ia menjadi sedikit malas bertemu perempuan itu. Bukan apa, ah, pokoknya malas lah. Ia menjadi merasa sangat bersalah pada Fika. Kalau saja Rena memberi kain itu pada Kiki, tidak usah perempuan itu yang membersihkan wajah Kiki, pasti tidak berakhir seperti sekarang.
"Hei, Ki."
"Hei,"
"Mau susu?" Rena menawarkan sebotol susu di hadapannya.
Alis Kiki mengerut samar, bisa-bisanya Rena menawarkan satu botol minuman untuk berdua, tanpa sedotan ataupun hal lain supaya tidak membiarkan mereka minum dengan bekas mulut satu sama lain.
"Enggak, entar gue sakit perut."
"Ih, gak gue racunin kok." Perempuan itu mendekatkan botol minumnya lagi ke Kiki.
Lelaki itu menggeleng sambil tetap berlari di tempat. "Maksud gue, kalo minum susu pagi-pagi, gue suka sakit perut."
"Ooohh." Rena menarik botol itu lagi.
Keringat bercucuran di tubuh Kiki, kaos yang ia pakai menjadi hampir seluruhnya basah. Hingga lima menit kemudian, ia berhenti dan menghampiri Rena yang duduk di lantai depan pintu rumah. Tangan kanan Kiki meraih botol minum mineral dan meminumnya sampai habis.
"Eh, by the way, gue mau ketemu Nando entar." Tangannya memutar tutup botol sampai rapat.
"Serius? Kok dia gak ngajak gue?"
Kiki duduk di samping Rena, tapi memberikan ruang di antara mereka supaya tidak terlalu dekat. "Gak punya kontak lo yang baru kali."
"Ya udah, gue ikut."
"Bareng?" Tanya Kiki hati-hati.
"Ya iyalah, ngapain misah. Orang rumah sedeket ujung berung."
Lelaki itu mengangguk. Ia bingung, kenapa Rena seperti tidak menyadari kejadian kemarin. Perempuan itu seperti tidak memiliki rasa bersalah sama sekali-maksudnya, kenapa perempuan itu seperti pura-pura tidak tahu akan hal itu. Setidaknya kan-koreksi-seharusnya kan, ada lah sedikit perasaan tidak enak setelah melihat Fika dan Kiki menjadi seperti itu.
"Emang jalannya jam berapa, Ki?"
"Setengah empat."
Rena mengatur posisi tubuhnya menghadap Kiki. "Oh, iya. Yang kemaren itu cewek lo?"
"Ya. Cewek gue."
"Sorry nih, Ki." Perempuan tersebut menelan ludahnya terlebih dulu. "Dia childish banget loh kemarin."
Kiki ingin menertawakan perkataan Rena, tapi ia menahannya. Terutama, Kiki tidak mau kalau Rena mengira ia menertawakan Afika Syifa-perempuan urutan kedua setelah Mamihnya yang sangat ia cintai. Kedua, ia juga melontarkan hal yang sama pada Fika kemarin. Jadi ia hanya diam, tidak menanggapi perkataan perempuan itu, jempolnya meng-scroll layar ponsel untuk melihat kolom obrolan dengan Fika.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top