chapitre trois
Pukul tiga dini hari, Levi masih terjaga dengan laptop yang menyala.
Seluruh ruangan di villa sudah gelap. Hanya suara deru ombak dan angin malam yang menemani rasa sunyi. Bulan bercahaya dari kejauhan terlihat cantik tetapi tidak memberi kehangatan selain suhu provinsi Belanda bagian selatan yang mencapai lebih dari tiga puluh derajat.
Pada bangku tinggi di kitchen island, Levi terus terfokus pada kerjaan yang tak kunjung selesai.
"Pisau itu sudah berganti menjadi kontrak dan protokol," kata Levi serius. "Cara yang kita pakai sudah berbeda, tapi masih dalam kategori yang sama. Bukan begitu?"
Jawaban pria lain menyambut, "Tapi beberapa orang masih mengenal Lenoir & Cie dengan pemimpin yang lama, Pak. Di Ceko, mereka tidak bilang Tuan Levi. Masih Tuan Besar Julien."
Sebuah dengusan muncul. "Mereka bajingan yang belum bisa move on. Atau rindu ketika Si Tua Bangka bisa membuat mereka 'hilang' hanya dengan satu perintah saja."
"Sekarang kita perlu dua izin dari beberapa otoritas sebelum personel kita pindah ke perbatasan."
"Kau kecewa, Oliver?"
Pria itu yang sudah beberapa tahun belakangan ini menjadi asisten setia Levi pun menjawab dengan nada mengantuk. "Tidak, Pak. Justru menurut saya, perusahaan jauh lebih rapi sekarang."
Di sana, berkas-berkas masih menumpuk. Beberapa terbuka dengan penuh coretan tinta hitam tebal. Nama-nama. Lokasi. Rencana. Semua tentang bisnis keluarga yang legal maupun tidak. Levi membacanya dengan cepat. Semua ini dia lakukan demi nama besar perusahaan.
Levi mengangguk setuju. "Betul. Dan kita masih ditakuti. Dulu Lenoir disebut kejam, tapi sekarang karena kita tahu terlalu banyak."
Pria itu perlu berbangga telah memulihkan banyak hal hanya dalam lima tahun terakhir. Setelah menggantikan Julien sebagai bos besar, Levi melakukan semua cara demi mengembalikan nama baik keluarga. Tidak disangka hal ini berbuah manis. Lenoir yang dulunya terkenal dengan kekayaan hingga kekuasaan bengis, mulai menjalin cukup banyak sekutu.
"Di dunia ini ... orang baik akan cepat mati." Levi kembali menandai catatan di sana. "Tapi orang yang tahu kapan harus menjadi monster akan bertahan lebih lama. Kita tahu bagaimana menyembunyikan catatan kriminal para buyut saya. Ini lebih penting dari apa pun."
Kantuk mulai menyerang tetapi Levi tidak menyerah. Sorot itu masih menyimpan ketajamannya dengan wajah yang tenang dan dingin.
Mata Levi menelusuri sebuah nama pada berkasnya. "Ironis. Dulu dia kirim orang untuk membunuh Julien, dan sekarang minta tolong kepadaku untuk diselamatkan dari kasusnya dengan polisi setempat. Ini kau saja yang urus. Apa kau sanggup membuatnya terlihat legal?"
Tidak ada jawaban.
"Kau masih mendengarku?"
Hening menyambut.
"... Oliver?"
Oliver sudah pergi ke alam mimpi. Biarlah. Levi sendiri yang salah karena sudah mengajaknya lembur untuk berdiskusi.
Tak lama setelahnya, pria itu pun memutuskan untuk beristirahat.
Ketika terlelap, Levi dihampiri sebuah bunga mimpi; yang berwujud kebahagiaan fana.
Realitas menguap habis, tergantikan oleh rasa semu semalam suntuk. Kehidupan yang semestinya kacau berubah menjadi sejuta kesenangan tak pasti. Seperti duduk-duduk santai berdua di taman, sambil mengawasi anak semata wayang berlari-lari kecil mengejar kupu-kupu. Atau ketika mereka menghabiskan malam dengan saling bertukar cerita hingga jatuh tertidur nyenyak. Bukannya bahagia dihampiri mimpi indah, Levi justru merasa awas. Takut jika semua itu tidak akan bisa ia rasakan lagi di dunia nyata.
Pria itu tahu jika saat ini dunianya sedang berduka. Kehidupan di dalam keluarga kecilnya terancam hancur. Memimpikan sesuatu yang indah bukanlah hal bagus. Di kala hubungan mereka berada di ambang kekacauan, mendapat mimpi seperti itu malah membuat Levi merasa egois. Sebab bisa-bisanya ia tidur dengan nyenyak di saat keluarganya kesulitan seperti ini.
Levi tak lagi tidur di sisi Serra. Mereka telah pisah ranjang selama kurang lebih satu bulan terakhir. Levi tidak tahu apakah wanita itu bisa beristirahat dengan nyenyak, disertai fragmen-fragmen menyenangkan dalam mimpi. Atau malah menangis dalam tidurnya karena memikirkan kenyataan pahit yang menimpa mereka akhir-akhir ini.
Mimpi, mimpi dan mimpi.
Levi jarang sekali terlelap dengan mimpi. Tetapi sekalinya bunga tidur itu hadir, ia akan memutarkan adegan yang sangat mengerikan atau begitu menyenangkan. Tak ada mimpi normal yang dialami orang-orang kebanyakan.
Perlahan Levi membuka mata. Memaksakan tubuh untuk menyambut hari. Sebab ia tahu jika pada akhirnya harus kembali pada kejinya realita. Bukan bermaksud terlalu mendrama, tetapi kenyataan memang sekejam itu. Dan Levi telah membuktikannya sendiri. Hal yang pertama kali ditangkap matanya adalah langit-langit bangunan villa tua. Menunduk sedikit ke tempat dimana badannya terasa sedikit lebih berat, mendapati sebuah senyuman lebar dengan rambut berantakan khas bangun tidur.
"Selina?" Levi sedikit mengerjapkan mata. Mulai menyadari alasan kenapa dirinya merasa sedikit sesak. "Apa yang kau lakukan?"
"Membangunkan Papa," jawab bocah itu. Ia terduduk tepat di antara dada juga perut Levi. Dengan jari-jari kecilnya, ia cubit pipi pria di sana. "Bangun, Pa! Sudah pagi."
"Papa sudah bangun." Walau menjawab seperti itu, Levi malah kembali memejamkan mata. Dengan sekali gerakan, ia tarik tubuh Selina. Mendekapnya dalam pelukan hangat lalu mengecup pelan pada puncak kepala.
Selina menggeliat kecil dalam dekapan Levi. Ia menggembungkan kedua pipi pertanda kesal sebab Papanya malah kembali tertidur.
"Papa," panggilnya pelan.
"Hm?"
"Kenapa tidur di sofa? Kenapa tidak tidur dengan Selina dan Mama di kamar?"
Levi menjawab bohong, "Semalam Papa ketiduran saat menonton pertandingan basket di TV."
"Padahal Selina ingin sekali tidur bertiga," ujarnya pelan. Detik demi detik pun berlalu. Selina yang tak suka didiami langsung berteriak memanggil, "Papa!"
"Jangan berteriak, Selina."
"Bangun."
"Ini sudah bangun."
"Kata Mama, orang yang sudah bangun itu matanya terbuka." Dengan telunjuk dan jari tengah, ia mencoba untuk membuka salah satu kelopak mata Levi yang masih terpejam. "Ini masih ditutup. Pa...."
Levi menjawab dengan suara berat. "Apa?"
"Ayo sarapan," ajak bocah itu. "Hari ini Selina ikut bantu Mama menyiapkan sarapan. Selina sudah membuatkan roti isi untuk Papa."
"Kau dan Mamamu sarapan saja, tidak perlu menunggu Papa," elak Levi. Sebab akhir-akhir ini mereka memang sudah jarang sarapan bersama. Entahlah, perasaannya selalu tak karuan jika harus berada dalam situasi canggung atau menahan amarah di meja yang sama. Bukan tanpa alasan, tetapi mereka tak bisa memperlihatkan sesuatu yang tidak boleh ditunjukkan di hadapan anak perempuan itu. "Atau Papa bisa menyusul nanti."
"Tidak boleh!" Bocah itu mulai merengek manja. "Selina ingin disuapi Papa."
Levi yang telah membuka kedua mata dibuat gemas sendiri melihatnya. Dalam hati ia merasa tak tega. Perang dingin antara ia dan Serra seperti ini saja sudah bisa mengorbankan putri kesayangannya. Lalu bagaimana dengan perang yang sesungguhnya nanti? Seketika dada Levi mencelos.
Mau tak mau akhirnya pria itu menghela napas panjang dan menegakkan tubuh dengan Selina yang masih di dalam pelukannya. Tanpa banyak basa-basi lagi, ia pun segera bangkit dari sofa. Bocah itu seketika bersorak gembira dan meminta kepada Papanya untuk tidak melepaskan pelukan bahkan ketika mereka telah sampai di meja makan sekali pun. Levi menjawabnya dengan anggukan ringan. Tak apa jika kursi di seberangnya tampak sepi dan seolah tidak peduli dengan interaksi ayah dan anak itu. Sebab selama Selina masih membuka hati untuknya, Levi pikir tidak masalah untuk menikmati sarapan pagi bersama keluarga.
***
Selesai sarapan keluarga itu langsung melanjutkan aktivitas berlibur yang sempat tertunda kemarin. Mereka mengelilingi kota dengan mobil yang dikemudikan oleh Levi. Mengunjungi tempat-tempat terkenal tak luput dari tujuannya. Mobil melaju ke berbagai lokasi yang direkomendasikan untuk didatangi oleh beberapa situs di internet. Tak lupa berhenti di toko souvenir sambil membeli kaos bertuliskan "I Love Zeeland." Dengan lambang bendera merah putih biru di sampingnya.
Siangnya ketika perut sudah mulai lapar, mereka berhenti di sebuah restaurant makanan cepat saji. Sebenarnya Levi lebih menyarankan untuk makan di tempat yang terdapat makanan khas daerah tersebut. Tetapi dengan alasan supaya lebih cepat dan Selina yang berkata ingin sekali makan hamburger, Levi pun terpaksa memarkirkan mobilnya di depan restaurant makanan tak sehat.
Setelah memilih tempat duduk yang menghadap langsung ke jalanan di luar jendela, Serra pamit untuk memesan makanan. Meninggalkan Levi juga Selina yang sedang terduduk manis menunggu datangnya makan siang.
Sementara Selina asik bermain bersama boneka kesayangannya, Levi mengeluarkan ponsel yang sedari tadi bergetar di dalam celana. Matanya sontak melebar ketika ia membaca nama yang tertera di sana:
She is calling.
She....
Levi menghela napas pelan. Menengok ke sekitar untuk mencari keberadaan Serra dan bangkit dari kursi.
"Selina, tunggu di sini. Jangan kemana-mana," perintahnya seraya beranjak dari sana.
Setelah menemukan tempat yang lumayan sepi tepat di samping toilet, Levi mengangkat panggilan pada ponsel.
Suara lembut khas seorang wanita menyambut, "Halo, Levi?"
"Ada apa?" jawabnya dingin.
"Kenapa baru mengangkat teleponku?"
"Aku sedang mengemudi tadi."
"Lalu kemarin? Aku menghubungimu berkali-kali tapi tidak diangkat. Kau sudah membaca pesanku?"
Levi menghela napas gusar. "Ada perlu apa kau meneleponku?"
"Begini... aku pergi ke dokter lagi kemarin." Ada sedikit jeda dalam jawabannya. Mungkin karena terlalu kaget sebab Levi langsung bertanya ke inti dengan nada ketus. "Dokter bilang aku tidak boleh banyak pikiran. Tetapi mengingat masalah yang sedang terjadi, mustahil bagiku untuk tidak stress, kan?"
"Untuk saat ini kesehatan nomor satu, dan aku pun sedang menjaga keluargaku dari beban pikiran. Yang sedang terjadi biar aku selesaikan secepatnya. Mau bagaimana pun juga ini kesalahanku," ucap Levi pelan. "Apa tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan?"
"Itu... sebenarnya dia terus menanyakan tentangmu. Ini sudah hampir satu bulan kalian tidak bertemu."
Jeda. Levi sontak mengepalkan erat salah satu tangannya.
"Dia juga bertanya, kapan kau akan segera mengambil keputusan?"
Levi memijat pelan pelipisnya. "Aku masih perlu waktu."
"Tapi kau sendiri tahu kan jika kami tidak bisa menunggu selama itu?"
Ketika itu mata Levi bergulir ke arah meja tempat mereka makan. Di sana, telah ada Serra yang baru saja datang sambil menyimpan nampan di meja. Wanita itu mengedarkan pandangannya ke sana kemari selama beberapa saat sebelum akhirnya menangkap sosok Levi yang tengah menelepon di samping toilet pria.
"Levi?"
"Maaf, aku harus pergi. Kuhubungi kau lagi nanti."
Secepat mungkin ia memutuskan panggilan, dan langsung berjalan menghampiri keluarganya dengan langkah lebar. Setibanya di sana, Levi langsung disambut dengan wajah masam Serra yang telah siap menyemprotkan kata-kata kesal padanya.
"Belum sampai sepuluh menit aku menitipkan Selina padamu, dan kau malah meninggalkannya begitu saja? Kau ini bagaimana?! Selina masih kecil. Apa sulitnya bagimu untuk menjaganya sebentar selagi aku memesankan makanan untuk kalian?"
"Aku tidak pergi terlalu jauh darinya. Lagipula, aku masih bisa mengawasinya dari jarak tempatku tadi," balas Levi.
"Kau ini..." Serra menggeram kecil. "Bagaimana jika—"
"Mama, Selina lapar," potong Selina yang saat ini sedang mencari hamburger mini miliknya di atas nampan.
Levi menoleh sebentar ke arah Selina sebelum akhirnya kembali menatap Serra lalu berbisik, "Tahan emosimu."
Bisa dilihatnya Serra yang menghela napas pelan. Wanita itu merekahkan senyuman hangat untuk Selina sambil membantu bocah itu mengambil makanan juga segelas susu hangat ukuran sedang. Tak hanya untuk Selina, Serra pun memisahkan makanan dari atas nampan ke tempat dimana pria itu duduk tepat pada kursi di hadapannya. Setelah mendapat makanan sesuai dengan apa yang dipesan, mereka langsung melahapnya dalam diam.
Kira-kira lima menit berjalan tanpa saling bicara, Selina tiba-tiba saja gatal ingin berceletuk, "Mama jangan marah sama Papa. Selina tidak apa-apa ditinggal sendiri. Tadi Papa sedang menerima telepon."
Serra yang sedang sibuk melahap sup miliknya sontak berhenti. Matanya langsung menatap Levi penuh selidik. "Siapa yang meneleponmu?"
Levi mengangkat bahu. "Yah... kau tahu siapa."
Kontak mata yang tadi sempat terjalin kini diputuskan begitu saja oleh Serra. Ia berpura-pura menatap sup yang sedang diaduk-aduk tak jelas seraya berucap dengan suara amat pelan, "Oh."
"Kau marah?" tanya Levi tiba-tiba.
"Tidak, aku tidak marah," jawab Serra. Matanya masih enggan membalas tatapan Levi. Sup yang tadi sempat ia makan dengan lahap kini tampak tidak sedap walau hanya untuk dipandang sekali pun. Pada akhirnya Serra menjauhkan sup itu dari hadapannya dan segera meminum minuman soda di sana.
Levi tahu saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakan semuanya. Tetapi jika tidak sekarang, entah kapan masalah itu akan selesai. "Sepulang kita nanti, mungkin aku akan pergi menemui mereka. Itu pun jika kau tidak keberatan dan memperbolehkanku pergi."
"Jika tujuanmu memang untuk menyelesaikan masalah itu, aku tidak akan melarang." Serra meletakkan gelas minumannya di atas meja. "Berapa lama kau akan pergi?"
"Tidak lama. Jika tak ada kendala, mungkin tiga atau empat hari selesai. Aku akan menghubungi pengacaraku untuk meminta bantuan."
"Pamanmu masih belum tahu," gumamnya. Kali ini Serra mengangkat kepalanya dan menatap Levi. "Tapi pengacara?"
Levi mengangguk.
"Kalau pengacaramu memiliki pemikiran yang sama sepertiku, lebih baik tidak perlu. Temuilah dia dan bicarakan persoalan ini baik-baik. Aku siap untuk ikut jika kau perlu ditemani seseorang."
"Dan mempertemukan kau dengannya?" Levi mendengus. "Tidak akan. Aku tahu kau. Lagipula aku bisa kewalahan jika dua wanita tiba-tiba memberontak hebat di hadapanku."
"Jadi menurutmu memberontak itu salah? Kalau pun aku marah, ya wajar saja. Siapa yang tidak marah jika suaminya diperlakukan buruk—" ucapan Serra terpotong ketika ia melihat Levi yang menatapnya tajam. Akhirnya wanita itu berdeham pelan lalu melanjutkan, "Levi, aku ini wanita terpelajar. Aku tahu mana yang salah dan mana yang benar. Dan aku akui jika kelakuanmu yang biadab ini—"
"Serralyn."
"—Memanglah salah, dan tidak bisa ditolerir lagi. Aku sendiri pun sampai pusing memikirkan kenapa bisa kesialanmu itu menular kepadaku. Mungkin ini terjadi karena aku setuju untuk dinikahi kau beberapa tahun yang lalu. Namun di satu sisi aku berpikir, jika kita tidak menikah, Selina tidak mungkin ada. Selina satu-satu penguat hidupku saat ini. Dia yang dengan sialnya sangat lengket juga mirip sekali denganmu." Serra menunjuk Levi sambil menjeda perkataannya sebentar sebelum kembali berkata, "Tapi kau tahu Levi? Walau kau memang sebegitu berengsek untukku, untuk Selina, bukan berarti dia bisa bersikap seenaknya dengan merusak rumah tangga orang."
Levi di tempatnya terduduk kaku ketika mendengarkan setiap ocehan sang istri. Kedua tangan sedari tadi sigap menutup kedua telinga Selina di sampingnya. Sumpah serapah disertai perkataan kasar Serra kepada pria itu benar-benar tak baik untuk didengar bocah berusia empat tahun. Dan entah dewi macam apa yang sedang singgah sebentar, pengunjung lain di sana seolah sibuk sendiri. Mereka terdengar jauh lebih ribut daripada suara Serra. Tidak terlihat tertarik dengan pertengkaran kecil yang terjadi di sana.
"Papa, lepas." Selina menggeliat tak suka. Ia memaksa agar Levi tak lagi menutup kedua telinganya.
"Bukan bermaksud membela, tetapi dia tidak ada keinginan untuk merusak hubungan kita." Levi menarik kembali kedua tangannya. "Dan dari semua yang telah kau ucapkan, kita hanya bisa mengharapkan yang terbaik."
Serra berucap pelan, "Bagiku yang terpenting gugatan itu dicabut dan namamu bisa bersih kembali."
Dari nada juga perkataannya Levi bisa tahu jika sebenci apapun Serra terhadap dirinya saat ini, wanita itu masih memikirkan keadaannya.
"Lalu...."
"Lalu?" Levi menaikkan sebelah alisnya.
"Jika semua ini telah selesai... k-kau bebas memilih. Aku tak apa, jika mungkin kau harus bersamanya—"
"Serra." Levi meraih tangan Serra yang berada di atas meja, meremasnya lembut. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu bersama kalian."
Di saat itu, Serra menarik tangan yang sebelumnya digenggam hangat. Ia langsung buang muka, menatap sesuatu yang seolah menarik di luar jendela. Levi tahu hanya dengan melihat sekilas; wanita itu mengalihkan pandangan hanya karena ia tak mau jika kedua orang di sana melihat sudut matanya yang berair.
Melihat hal itu, Levi kembali gusar. Merasa kesal karena tidak bisa menepuk pundak yang hatinya sedang bersedih. Sebab dia tahu jika hal itu dilakukan, tangis yang sedaritadi tertahan akan meluap begitu saja. Maka dari itu, akhirnya ia memilih untuk ikut mengalihkan pandangan. Menoleh ke arah Selina yang masih asik melahap hamburgernya. Levi mengambil selembar tissue lalu membersihkan lelehan saus tomat yang sedikit mengotori sudut bibir bocah itu.
Selina terkekeh kecil dan berkata akan lebih berhati-hati lagi ketika makan. Senyumannya yang begitu polos membuat dada Levi dirundung rasa tak mengenakkan. Setelah semua yang telah ia perbuat hingga membuat Serra menutup hati untuknya. Apakah Levi harus kehilangan hati anaknya juga?
Levi mengambil potongan kentang goreng di atas meja, melahapnya dalam sejuta keheningan.
—————
Nah lho makin bingung... Sampai sini apa udah ada yang bisa nerka masalah apa yang lagi terjadi? Selamat menebak-nebak ;)
Sampai jumpa di chapter berikutnya!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top