chapitre seize

Harapan semu.

Ia diam. Menyembunyikan sedikit getaran kedua tangan dengan mata tak fokus. Seperti fatamorgana di gurun terpanas muka bumi, dia melihat dirinya sedang berada di depan rumah, menunggu kepulangan suami bersama Selina di pengujung hari. Indah rasanya. Dia yang saat itu, belum tahu arti dari pengorbanan cinta. Tidak mengerti bagaimana nyeri di ulu hati, yang tak pasti dimana letaknya, tetapi rasa sakitnya begitu nyata.

Namun, kini Serra tahu.

Bagaimana sulitnya pengorbanan, melepas orang yang paling dicinta. Sesakit apa perasaan yang terus diluka berkali-kali. Tahu jika ia tidak segera mengakhiri semua ini, rasa nyerinya tidak akan pernah hilang. Walau pun harus melakukan hal tergila: berpisah darinya.

Hei, Levi, apa yang sedang kau pikirkan saat ini?

Sebab sejak tadi, pria itu enggan menatap ke arahnya. Apa ia marah karena Serra yang meminta cerai? Sekecewa itukah dia padanya? Serra menatap punggung yang kian menjauh. Berjalan ke arah meja kerja, menunduk. Menumpukan kedua telapak tangan di sana. Dia dapat melihat bagaimana tubuh yang selalu kokoh itu mulai goyah dan bernapas berat. Levi perlu dukungan, perlu juga sentuhan lembut di bahunya yang selalu berusaha berdiri tegap.

Agaknya melihat Levi yang menolaknya dengan bentakan dan umpatan kasar jauh lebih baik.

Tetapi ini—

Mendadak Serra ingin sekali menjelma menjadi anak remaja labil. Yang boleh tidak konsisten dengan apa yang sudah terucap. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Keputusan sudah dibuat bulat-bulat. Levi mungkin akan bersikap sebagaimana adanya, berkata jika ini memang seharusnya terjadi lalu bersikap tak acuh hingga pada akhirnya kembali hidup seperti biasa. Tetapi Serra adalah Serra. Sebulat apapun keputusannya, tetap ada keinginan jika ia bisa menarik ucapan yang telah terlontar. Semu. Harapan yang sia-sia.

Yang terjadi maka terjadilah. Sebab tak ada yang bisa dirubah.

Tahu-tahu Serra merasa tubuhnya bergerak di luar kendali. Kaki melangkah pelan, sebelah tangan melepas cincin di jari manis.

Levi menoleh ketika Serra sudah tepat berada di belakang. Wajah itu sudah datar sepenuhnya. Berada pada taraf termalas lebih yang biasa ia berikan ketika sudah terlalu lelah untuk berdebat terlalu jauh dengan sang istri. Tetapi hal yang berbeda terdapat pada sorot kelabu. Sangat sulit untuk dijelaskan. Bahkan Serra sendiri tidak bisa mengartikan apa maksud dari tatapannya. Sendukah? Atau mungkin kecewa? Entahlah, mungkin lebih dari itu.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Serra memberikan cincinnya kepada Levi.

Pria itu meliriknya kurang dari sedetik lalu bersedekap. "Kau bisa menyimpannya untuk kenang-kenangan."

"Aku sudah tidak berhak." Ia menggeleng pelan. "Kau mungkin harus memberikannya kepada pendamping hidupmu yang baru."

Mendengar itu, Levi sedikit berdecih kesal. Ia mengambil cincin dari tangan Serra tanpa menatap lawan bicaranya. Benda itu ia masukan ke dalam saku celana. Rasanya seperti membuang sesuatu yang paling berharga. Dan, ya, Serra sudah berhasil melakukannya.

Karena Levi tak kunjung bersuara lagi setelahnya, Serra memutuskan untuk berkata, "Cepat atau lambat, aku sadar jika harus angkat kaki dari kehidupanmu. Mungkin sudah waktunya aku mengepak barang-barangku."

"Sebenarnya aku masih berharap kau tetap bisa bersamaku," kata Levi begitu pelan. Entah pria itu memang sadar mengucapkannya atau tidak.

Aku pun.... Tetapi ia menggeleng. "Tidak ada alasan yang membuatku tetap bisa bersamamu."

Kali ini, Levi melemparkan pandangan tepat ke arahnya. "Bahkan jika kenyataannya kita masih saling mencintai?"

"Kini ada hal yang lebih penting dari cinta. Yaitu tanggung jawab, juga pengorbanan." Lalu Serra mengeluarkan sebuah amplop dan mengulurkannya kepada Levi.

Tentu, pria itu tidak langsung mengambilnya. Ia biarkan tangan Serra terulur begitu saja lebih lama lagi.

"Kau tidak perlu bertanya darimana aku mendapatkannya dan sejak kapan aku menyimpannya. Yang terpenting adalah ... setelah kau menandatanganinya, aku bukan lagi tanggung jawabmu. Begitu pula sebaliknya. Hubungan kita tak lebih dari sekadar orangtua Selina."

Dan Levi tidak perlu penjelasan lebih jauh untuk tahu apa isi dari amplop tersebut. Pria itu mengambilnya lalu ia simpan perlahan-lahan di atas meja kerja.

Levi yang berbicara seperlunya seperti ini ... Serra ingin menghambur dan memberikan pelukan paling hangat. Kedua tubuh seakan membeku tak tahu harus berbuat apa.

Masih hangat dalam ingatan, tentang saat-saat paling bahagia dalam hidupnya. Terutama ketika ia dan Levi saling mengucap janji sehidup semati. Lalu hari kelahiran Selina, yang menyakitkan juga sukses menjadikannya puncak kebahagiaan. Namun, rasanya semua itu tinggal kenangan, dengan janji yang terputus dan menguapkan angan.

Serra menarik napas lambat-lambat, dan mentari tenggelam secepat ia mengedipkan mata.

Ia sudah berada di kamar Selina. Sudah selesai membacakan buku kanak-kanak dan menunggu hingga bocah itu hingga terlelap. Tangannya mengelus sisi helai yang sedikit menutupi wajah lugu sambil sesekali mengecup puncak kepala sang anak. Ditemani banyak boneka beruang juga gantungan lucu di beberapa sisi tembok, Serra menatap sendu. Ia ingat bagaimana cerianya wajah bocah itu ketika tahu akan mendapat kamar tidur sendiri. Terlebih dengan nuansa ruangan yang benar-benar disuka. Tetapi hal yang paling Serra ingat, adalah bagaimana Levi merubah ruang kerjanya menjadi kamar anak. Pria itu melakukan semua hal sendirian; mengecat dinding, memasukkan pakaian ke lemari, memilih dan menata letak barang. Lebih dari siapapun, Serra tahu jika sang suami begitu menyayangi anaknya.

Lalu sekarang, ia akan memisahkan Levi dengan Selina.

Serra merasakan sesak kembali menyerang dada. Ia kembali menatap Selina yang masih sibuk memainkan boneka Barbie sambil bersenandung kecil.

"Kenapa kau belum tidur juga?"

Bocah itu tertawa kecil. Gigi susunya yang berderet rapih membuat Serra gemas hingga ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium pipi anaknya. Tetapi jawabannya mampu melunturkan senyuman sang ibu. "Selina ingin menunggu Papa."

Serra langsung memeluk Selina. Ia menggerakkan jemari di atas perut hingga bocah itu tertawa geli. Saat suara tawa itu memasukki telinga, dia memejamkan mata. Tidak, Serra tak bisa mematahkan sifat ceria sang anak dengan jawaban jika papanya tidak akan pulang malam ini. Mungkin hingga malam-malam berikutnya. Entahlah. Levi barangkali sudah enggan tinggal satu atap. Lalu lebih parahnya lagi sampai bertatap muka pun tak sudi. Jadi Serra harus tetap terlihat bahagia untuk Selina. Walau perasaannya saat ini marah, sedih, kecewa, dan terluka tidak bisa diobati.

Selina menatapnya dengan binar ceria. "Selina punya ide. Bagaimana jika kita menunggu di ruang tamu, berdandan hantu lalu menakut-nakuti Papa saat pulang? Papa pasti terkejut!" Ia bangkit dari posisi rebah ke duduk. "Mama, kita harus berdandan seseram mungkin!"

Serra hanya menanggapi ocehan anaknya dengan senyuman, pahit malah. Terlalu sulit untuk dijelaskan. Ia tidak tahu bagaimana mengatakannya, walau seseram apapun penampilan mereka nanti, Levi tetap tidak akan pulang.

Otaknya bertanya-tanya, dimanakah keberadaan Levi saat ini? Apa yang sedang pria itu lakukan? Apa ia sudah makan malam? Bagaimana jika sang suami hanya makan seadanya atau malah lupa karena tidak ada yang mengingatkan? Sungguh, Serra ingin tahu bagaimana keadaan pria itu. Namun, bukankah itu hanya terdengar seperti omong kosong? Tadi siang dia baru saja mengutarakan keputusannya untuk berpisah. Tetapi sekarang Serra malah mengkhawatirkan Levi.

Maka, bohong jika Serra membenci Levi atas tindakannya. Dusta, jika ia berkata sudah tak lagi cinta.

Tahu-tahu bocah itu mencubit lengan Mamanya.

"Aw—kenapa Mama dicubit?"

"Mama melamun lagi. Selina kan sudah tidak sakit. Mama tidak perlu sedih."

Serra memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. Ingin sekali ia membayangkan saat ini Levi berada di sana. Ikut menemani Selina, bermain sebentar hingga bocah itu jatuh ke alam mimpi karena terlalu lelah. Terdapat terlalu banyak kebahagiaan dalam halusinasinya. Tetapi tidak bisa. Sebab saat ini hanya ada mereka berdua, dan yang mengisi hati tak lain dari rasa nyeri.

"Mama tidak melamun. Mama hanya berpikir kostum seperti apa yang harus kita pakai untuk menakuti Papa," ucapnya bohong.

Selina meletakkan jari telunjuk dan menepuk-nepuknya ke dagu seperti sedang berpikir keras. Lalu ia bertanya dengan antusias. "Kalau pakai baju panjang warna putih bagaimana? Lalu pakai lipstick Mama untuk dijadikan darahnya. Tapi kira-kira Papa akan takut tidak, ya?"

"Takut! Pasti takut," jawab Serra terlalu cepat lalu merutuk dalam hati. Walau kecil kemungkinannya bagi Selina untuk bisa tahu jika sang mama sedang berbohong. Sebab berkata sesuatu untuk mematahkan semangat anaknya seperti 'lebih baik Selina tidur saja karena Papa tidak akan pulang malam ini ... juga malam-malam berikutnya' terlalu jahat baginya.

"Ah, tapi kalau Papa terlalu takut nanti Papa menolak bermain lagi dengan Selina." Bocah itu menampilkan wajah sedikit cemberut. "Selina tidak mau membuat Papa marah sampai meninggalkan Selina."

"Kenapa begitu?"

"Papa seram saat sedang marah. Papa sering membentak Mama. Selina tidak mau dimarahi Papa." Ia menggembungkan pipi, siap merengek kapan saja. "Kalau Papa marah, Selina takut Papa pergi."

"Kau ini bicara apa?" Ia mencubit gemas pipi itu. Serra terdiam sejenak. Rupanya Selina masih ingat saat-saat Levi membentaknya. Terutama ketika di mobil saat mereka baru pulang berlibur. "Hei, kau tahu apa yang lebih menyenangkan daripada berdandan hantu untuk menakut-nakuti Papa?"

Selina menggeleng, tetapi mulai terdapat setitik cahaya di matanya.

"Berkunjung ke rumah Kakek dan Nenek!" Serra membuat ekspresi paling ceria. Walau tatapan matanya tak bisa berbohong bahwa hanya ada kesedihan di sana. "Selina pernah bilang ingin bertemu mereka, kan? Kalau nanti kita pindah rumah ke dekat mereka, apa Selina mau?"

"Pindah? Dekat Kakek dan Nenek?"

"Yeah." Serra mengangguk mantap dan tersenyum lebar. "Kita akan pindah ke sana."

Diam-diam ia bersyukur atas kepolosan Selina yang tidak menyadari mata sendunya.

"Jadi nanti kita akan tinggal dekat Kakek Nenek? Mau! Selina mau!"

Serra menangkap Selina ke dalam pelukannya. "Kalau begitu kita akan pindah secepatnya. Kau harus mau membantu Mama untuk mengepak barang, ya? Haha ...."

Ia mengangguk antusias. "Selina pasti bantu."

"Nanti kita ke sana naik pesawat. Tapi rumahnya tidak sebesar rumah ini. Kamarnya mungkin hanya ada dua atau tiga, jadi Selina boleh kalau mau berdua dengan Mama. Apa tidak apa-apa?"

"Tidak apa-apa! Karena Selina bisa satu kamar dengan Mama dan Papa. Oh iya, Kakek bilang di sana ada danau yang luas sekali. Selina ingin pergi memancing di sana bersama Papa."

Serra menggigit tepian bibirnya. "Kita berdua saja, Sayang. Hanya Selina dan Mama. Tidak apa-apa, kan?

"Hm? Kenapa tidak dengan Papa?"

"Selina kan tahu, kalau Papa selalu saja sibuk. Kadang Papa juga tidak pulang ke rumah, kan? Papamu banyak urusan di sini, jadi dia tidak bisa ikut bersama kita." Serra tersenyum lembut. Berusaha sekuat mungkin untuk berpikir kalimat seperti apa yang harus ia lontarkan. "Tapi, Selina bisa menelepon Papa kapan pun Selina mau."

"Tapi Papa akan menyusul kita kan, Ma? Karena Selina ingin sekali jalan-jalan bersama Papa," ucapnya. "Papa juga harus sering menginap."

"Papa pasti datang mengunjungimu sesekali, Sayang." Ya, hanya mengunjungi anaknya. Sebab nanti, Serra bukanlah siapa-siapanya pria itu lagi. Tetapi untuk soal menginap? Entahlah. Karena Levi akan memiliki keluarga baru.

"Hm ... kalau begitu mungkin bukan masalah besar. Asalkan Papa bisa datang beberapa hari sekali sambil membawa banyak mainan."

"Pasti! Papamu pasti membawa banyak mainan. Mainan yang sulit ditemukan dimana-mana. Karena bekerja keras untukmu, mencari banyak uang agar Selina bisa beli apapun yang kaumau. Selina hanya perlu bilang, nanti pasti ada banyak kiriman mainan baru. Tapi karena pekerjaannya di kantor, Papa menjadi sibuk ... dan akan semakin sibuk. Sibuk sekali...."

Serra tercekat. Sesungguhnya, ia tak lagi sanggup untuk berbohong lebih jauh. Ia mungkin bisa membohongi diri sendiri jika dia melepas Levi hingga meyakinkan diri bahwa ia baik-baik saja. Menyembunyikan rasa cintanya yang masih terlalu besar pun dia bisa. Tetapi untuk yang satu ini rasanya mustahil. Levi barangkali sibuk. Tetapi pria itu tidak pernah sekali pun lupa untuk pulang. Sekalinya harus lembur atau ada pekerjaan mendadak ke luar kota, ia tak pernah pergi lebih dari satu minggu. Lantas jika sudah seperti ini, bagaimana Serra menjelaskan jika Selina bertanya kenapa sudah berbulan—atau mungkin bertahun—tetapi Papanya tidak kunjung pulang?

"Jadi ... Selina mengerti, kan? Kalau Papa tidak bisa datang terlalu sering, itu berarti Papa sedang bekerja keras ... sangat keras." Tidak tahu seberapa lama lagi ia dapat menahan air mata agar tidak terjatuh. Sedikit beruntung karena lampu kamar telah dimatikan. Tetapi ketika memikirkan berbagai kemungkinan di masa depan nanti ketika mereka sudah berpisah, rasanya Serra ingin menangis saja. "... Untuk Selina."

"Nanti Selina ingin bilang ke Papa untuk banyak-banyak istirahat dan jangan sampai sakit. Karena Papa sendirian jadi tidak bisa dirawat Mama."

Tidak. Levi tidak mungkin sendiri. Nanti ada Harumi yang siap menggantikan perannya untuk pria itu. Walau mereka menikah secara terpaksa, tetapi wanita satu ini adalah orang baik yang tahu bagaimana harus bersikap sebagai seorang istri di masa yang akan datang. Dan, ya, walau berat mengakui, mungkin Levi pun akan kembali jatuh hati kepadanya dan menganggap Serra hanyalah orang sekadar lewat di kehidupannya.

Cemburu.

Walau seharusnya sudah tak lagi dirasa. Perasaan yang harus ia bunuh untuk melanjutkan hidup. Atau jika tidak rasa cintanya kepada Levilah yang akan balik membunuh.

Hatinya ngilu. Dulu, Levi selalu memandangnya kapan pun saat Serra berada di sekitar. Sorot yang selalu tajam tak pernah terasa menusuk ketika wanita itu menatapnya. Selalu hangat, dan membuat rindu. Tetapi kini mata itu sudah menghilang. Terlebih tadi saat Serra memantapkan diri untuk mengutarakan keputusannya jika mereka lebih baik berpisah, jangan pikirkan tatapan menusuk, karena memandang balik mata yang selalu disukainya pun pria itu sudah tak lagi sudi.

"Ini sudah malam," bisik Serra begitu pelan. Suaranya telah bergetar, dengan air mata yang menumpuk di sisi mata. Siap jatuh kapan saja. "Mungkin Papa sedang sibuk jadi akan pulang malam sekali. Lebih baik kita tidur, ya?"

Selina mau tak mau akhirnya mengangguk. Bocah itu meringkuk di samping Serra sambil memeluk boneka Barbie kesayangan. "Nanti kita berlibur ke pantai lagi, ya? Bersama Papa, sebelum kita pindah."

Serra ikut merebahkan diri di samping sang anak. Ia tidak mengiyakan permintaan Selina. Sebab memang tak akan pernah bisa. Ia dan Levi akan disibukkan dengan berbagai persidangan, dan tidak ada waktu untuk bersenang-senang. Bahkan sebagai jeda mengistirahatkan pikiran pun dirasa sulit. Maka, ia peluk tubuh mungil itu. Mengelus punggung, hingga mengecup puncak kepala berkali-kali. Perkataan maaf terucap diam-diam. Ucapan sayang dibisikkan begitu pelan. Serra menghantarkan segenap luka hati dan rasa penuh bersalah.

"Selamat tidur, Mama." Selina menggeliat di dalam pelukan. Tangan kecilnya meremas pelan baju tidur Serra. "Selina sayang Mama ... sayang sekali."

Sungguh, ini sulit. Sebab mulai saat ini, hanya Selinalah yang ia miliki.

"Selamat tidur juga, Sayang. Mimpi indah, ya." Serra mendekap tubuh itu lebih erat. "Selina akan selalu menjadi kesayangan Mama. Selalu."

... Selalu, dan maaf.

***

Pukul dua belas malam Harumi masih bersimpuh di ruang keluarga. Kakinya kebas, leher pegal menunduk sepanjang waktu. Tidak ada yang bisa membuatnya pergi dari sana bahkan kantuk dan mual sekalipun, karena kedua pria di hadapan memiliki kedudukan keluarga sangat tinggi bahkan melebihi nyawanya sendiri.

"Ini perceraian 'damai' dan akan selesai paling lama tiga bulan. Mengingat mereka adalah Lenoir, pasti dipercepat."

Hayato menyambut, "Tidak begitu damai, tapi mereka pasti akan menyembunyikan fakta ini dari publik."

"Tolong ingatkan aku keluarga Lenoir mana yang pernah bercerai?" Pria di sisi Hayato menyeruput tehnya dengan tenang. Tidak ada gangguan sedikit pun di wajah meski yang menjadi objek bicara bisa meruntuhkan segala martabat keluarga Tenjou. "Karena seingatku ini yang pertama. Walau ditutupi, media akan tahu cepat atau lambat dan pasti menjadi berita besar."

"Betul. Posisi mereka di pengamanan negara bisa sedikit goyah dan kita harus manfaatkan itu. Aku sudah bosan menjadi nomor dua. Sudah saatnya dunia lebih mengenal kekuatan keluarga kita."

Tahu-tahu Harumi goyah. Kepalanya hampir terpelanting dan kejutan luar biasa mendera dada. Sesuatu yang sangat dilarang dilakukan di keluarga ini: tertidur saat kepala keluarga sedang bicara. Sialnya, ia melakukan hal itu.

Sebelum Hayato sempat bersuara, Harumi sudah kembali kepada posisi awal. Duduk tenang, patuh, takut. "Maaf." Harumi hanya bisa berharap sang ayah tidak memberi hukuman dengan mempermalukan dirinya di hadapan keluarga besar. Lagi.

"Hayato, berilah dia istirahat."

"Dia sudah beristirahat seharian, aku malah memberinya terlalu banyak waktu luang."

Lalu ia tertawa. "Jangan terlalu keras. Siapa tahu dia sedang mengandung calon penerusmu."

"Mungkin anak itu perempuan. Matilah aku. Beban keluarga ini semakin banyak."

Dalam keluarga mereka, laki-laki adalah segalanya. Bahkan jika terjebak dalam keadaan darurat perempuanlah yang diwajibkan untuk memberikan perlindungan hingga pengorbanan. Dan mungkin di mata Hayato sendiri, perempuan hanyalah alat yang dipergunakan untuk berkembang biak.

"Sayang sekali aku tidak bisa memiliki keturunan. Kecuali kalau kau mau mengubah persyaratan itu dengan penerus yang diadopsi."

Hayato menimpali dengan menghabiskan minumannya. "Kau mengadopsi pun anak itu tidak akan sah menjadi penerus keluarga. Bukan hanya aku yang berpikiran seperti ini, tapi seluruh keluarga besar. Kau tahu itu."

Mendengar bagaimana Hayato bicara seperti sudah jadi makanan sehari-hari. Harumi bahkan bisa mengingat setiap detail hal yang selalu dibicarakan oleh sang ayah jika sedang bercengkerama dengan sosok itu—yang jika diperhatikan lebih jauh selalu memandang ke arah Harumi.

"Ini sudah terlalu malam, lebih baik aku pulang," katanya mulai beranjak.

"Oh? Tidak mau menginap saja di sini?"

Ia menggeleng. "Istriku pasti marah."

"Hikaru, lain kali ajaklah dia kemari. Sudah lama kita tidak makan-makan keluarga." Hayato ikut berdiri lalu melirik ke arah putrinya. "Harumi, cepat antar Pamanmu ke pintu depan."

Harumi mengangguk, mencoba berdiri sekuat tenaga meski kakinya hampir tidak merasakan apa pun. Ia kembali oleng. Sebelum tubuh itu benar-benar jatuh, pria yang disebut sebagai Paman dengan sigap menahannya.

"Hati-hati," katanya, dengan remasan di lengan yang sedikit lebih kuat dari normal.

Perempuan itu berusaha melepaskan diri. Ia meraih sisi meja yang menumpukkan diri di sana. Berani bersumpah sejak kejadian di malam itu Harumi benci jika harus bersentuhan dengan lelaki mana pun. Terlebih kepada Levi, bahkan keluarganya sendiri.

Meski begitu ia tetap harus profesional sebagaimana dirinya dipandang di keluarga. "Kalau begitu saya antar ke depan."

"Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Kalian beristirahatlah."

Harumi diberi tepukan pelan di punggung. Rasanya ada sengatan kecil yang mendera dan tercipta di sana lebih lama setelah tangan itu menjauh. Mata kecokelatan Harumi diam-diam terus mengikuti punggung Hikaru hingga menghilang di belokan.

Setelahnya Harumi hanya bisa menunduk, bertahan, dan diam. Sebab tidak ada tempat untuknya bicara meski ada banyak rahasia yang harus diungkap. Tidak ada tempat untuknya bersandar selain meja yang menjadi tumpuan berdiri. Tidak di keluarga ini ... di keluarga bajingan ini.

—————

Kira-kira Levi kemana ya? Ada yang tahu?

Banyak yang tanya apa bakal ada adegan bahagia di BD? Jawabannya sudah pasti ada. Kapan? Tunggu aja^^

Sampai ketemu di chapter depan!

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top