chapitre quarante
Dua jam sudah berlalu dan orang yang ditunggu tak kunjung datang juga.
Rolling Stones mencapai lagu terakhir yang akan mereka bawakan di hari itu, sedikit menyapa tamu acara dan membuat obrolan ringan. Semua orang terlihat menikmati penampilan mereka hingga lupa dengan sosok yang masih belum juga terlihat.
Berjam-jam berlalu sejak ponsel Levi dan Serra aktif. Bahkan keluarga di meja utama pun perlahan melupakannya.
Lalu pintu terbuka, dan muncul pria dari sana.
"Papa!" seru Alex ketika sang ayah berjalan cepat ke arah meja mereka.
Levi berpakaian formal serba hitam dengan wajah ketus yang khas. Langkahnya agak terburu tetapi tak menunjukkan terjadi apa pun. Sejenak, meja itu terasa canggung sebab semua mata otomatis tertuju padanya. Para tamu dari meja lain pun mulai menoleh, beberapa di antaranya berbisik tak percaya.
"Dari mana saja kau?" Julien rupanya sudah siap jika harus menendang keras bokong keponakannya. "Kau tidak tahu ini acara penting?"
Santai, Levi menarik kursi di samping Alex. "Macet."
"Memangnya kau menginap dimana? Aku sudah menyewakan satu gedung untuk keluarga kita."
"Hotel depan kantor."
"Bocah tidak tahu diuntung! Kau ini buat malu keluarga saja, itu hotel murah! Kalau ada yang melihat kau masuk ke dalam sana, bagaimana?"
Yang Julien maksud dari kata 'murah' adalah berkisar seribu euro per malam. Padahal, hotel itu milik kawan lama dan sangat terkenal di kalangan orang-orang ternama. Tetapi jika tidak ada nama Lenoir di belakangnya, Julien akan tetap menganggapnya tempat rakyat jelata.
Dari pintu yang belum sempat sepenuhnya tertutup setelah Levi masuk, suasana masih dalam keadaan sedikit hening. Semua masih memproses kemunculannya yang tiba-tiba. Orang yang sejak pagi tidak bisa dihubungi mendadak muncul dengan wajah tak berdosa.
Namun, entah memang sengaja membuat kedatangan yang menghebohkan, muncul lagi sosok lain dari sana. Di ambang pintu, Serra berdiri dengan gaun panjang merah tua yang ekornya menjuntai ke lantai. Berbeda dengan Levi yang sedikit lebih terburu, wanita itu berjalan santai ke arah keluarganya.
"Maaf aku datang terlambat," ucap Serra, mengambil tempat di sebelah Selina setelah Julien memberikan kursinya. "Di luar macet sekali."
"Klasik," bisik Julien, ingin saja ia menambahkan: Bilang saja kalian habis bercumbu di luar!
Arden nyatanya sudah datang lebih dulu. Ia menyapa lewat tatapan mata sambil berkata, "Seharusnya kujemput saja tadi."
Serra mengangguk sopan. "Jaraknya dekat, tapi aku tidak bisa jalan dengan gaun seperti ini."
"Kenapa tidak tinggal di sini saja? Aku bahkan dapat kamar gratis dari Julien."
Sebuah senyum tipis mengembang lembut. "Ada yang harus kulakukan."
Tibalah mereka pada sesi makan terakhir. Levi dan Serra sudah melewati berbagai jamuan dan hanya mendapat kesempatan untuk mencicipi hidangan penutup. Tetapi Harumi sudah memberitahu beberapa pelayan untuk menyimpan makanan mereka lebih lama, agar dua orang itu tetap bisa merasakannya.
"Kau harus coba ini."
"Harumi, piringku sudah penuh."
"Kalau Papa tidak mau, biar aku saja yang memakannya."
Hayato menimpali, "Yuji makan banyak sekali, itu bagus untuk pertumbuhan."
"Aku suka sekali makan," balas Alex, "memasak juga!"
Mata gelap Serra mata melirik pasangan di hadapannya secara diam-diam. Tak fokus sebab masih ada hal lain yang berada di dalam pikiran. Tetapi suara-suara itu tidak luput dari pendengaran.
"Kupikir itu tempat yang bagus," ucap Levi setelah menatap ponsel milik Harumi. "Kita belum pernah pergi ke sana."
"Apa itu?" tanya Alex, yang langsung ikut mengintip dari sebelah Levi. "Itu tempat yang sering dibicarakan Kak Selina."
Harumi pun bertanya, "Apa Selina sudah pernah pergi ke sana?"
Alex memberikan jawaban dengan gelengan kepala.
"Kalau ada waktu, kalian harus pergi ke sana untuk liburan. Anak-anak pasti senang."
"Aku selalu punya waktu," kata pria itu, dengan mata memandang sebal ke arah sosok paruh baya di sana. "... meski Pak Tua itu kembali membuatku repot."
Julien Si Pria Tua Renta nyatanya masih memiliki pendengaran yang terlampau bagus. Lebih baik ketimbang orang-orang tua seusianya. "Hah? Aku tidak merepotkanmu. Itu memang tugas yang kau abaikan selama di rumah sakit."
Levi tidak menggubrisnya.
Lalu Julien menambahkan, "Alex, kau tidak boleh menjadi seperti Papamu. Dia pria lemah yang sejak bayi hanya bisa menyebabkan masalah. Contohlah Kakekmu ini. Sudah tampan, kaya, sombong pula!"
Alex tersenyum kaku, melirik Levi diam-diam. Siapa pun tahu jika bocah itu merupakan sosok Lenoir yang paling normal. Ramah, ceria, juga sangat rendah hati. Barangkali sifat sombong perihal kekayaan adalah hal fatal baginya. Entah apa jadinya jika ia memilih untuk mengikuti jalan salah satu dari para pendahulu. Selina yang hanya mendapatkan setitik doktrin dari Julien pun sudah bisa membuat banyak orang kalang kabut di usia mudanya.
"Kau bisa menjadi seperti Mamamu jika ingin sesuatu yang tampak nomal," saran Levi.
Alex bertanya, "Memangnya tetap jadi diri sendiri tidak boleh, ya? Sampai harus mengikuti orang lain."
"Tentu saja boleh," jawab Harumi. "Sifat baik dari orang lain hanya bisa dijadikan sebagai contoh, selebihnya tetaplah jadi dirimu sendiri." Kerlingan cokelat tertuju pada kelabu. "Benar, kan?"
Levi tak menoleh, tetapi ia mengangguk pelan.
Serra kembali memberikan lirikan kecil kepada Levi juga Harumi.
Diam-diam ia mengamati.
Berpikir.
Janji itu ... apakah telah Levi lupakan?
Dilihat dari interaksi keduanya, sangatlah tidak mungkin jika dia masih diam-diam memendam perasaan kepada Serra. Lihatlah mereka! Levi dan Harumi bisa menjadi pasangan yang diidamkan banyak orang. Mustahil jika janji ribuan fajar tetap membelenggu pria itu. Sebab sejak Levi berhasil siuman, tak ada dari mereka yang pernah membahasnya lagi.
Jika kini Levi hidup bahagia dengan Harumi, bukankah artinya Serra harus merasa lega? Sebab perasaan tidak enak kepada Harumi, perihal janji Levi padanya sudah tak lagi ada.
Bahkan Levi tidak terlalu memperhatikan kedekatannya dengan lelaki baru di samping Serra ini.
Julien mencoba membuka obrolan dengan Harumi ketika Hayato izin ke toilet. "Ayahmu tidak suka tempat seperti ini, ya?"
"Dia lebih senang diam di rumah."
"Aku pasti sudah mati kebosanan jika jadi dia."
Harumi tertawa kecil.
"Kau harus lebih sering mengajaknya kumpul di acara keluarga. Walau aku tidak yakin jika kami akan akur."
"Dia sudah tua," jawab Harumi. "Tidak mudah baginya untuk sering berpergian seperti itu."
"Bah! Aku bahkan lebih tua dan lebih sakit darinya tapi masih bisa menonton konser band metal sambil kayang jika tidak dilarang pengawalku."
"Dan tulangmu akan patah semua," sanggah Levi.
"Aku tidak takut. Sebagai pria dewasa, kita itu harus LAKIK!"
"..."
"Ya?" Serra sontak menoleh, menatap lelaki yang sejak tadi terabaikan. "Maaf, Arden, aku tidak mendengarmu. Tadi kau bicara apa?"
"Hidangan ini ... yang sering kau bicarakan, bukan?"
Sekilas lirikan matanya menyapu piring di sana. "Ah, iya. Kenapa aku tidak menyadarinya?"
Mereka terlibat dalam pembicaraan kecil. Topik-topik apapun yang tengah hangat mengisi percakapan itu. Fokus Serra pun teralihkan. Dari sosok pasangan di depan, menjadi diri sendiri, juga kepada Arden.
Hingga sepasang kelabu yang sekilas mengarah padanya pun luput dari pandangan.
***
Suasana pesta baru saja kembali hidup. Kehadiran Levi yang tiba-tiba bersamaan dengan mantan istri masih menjadi bahan omongan beberapa tamu. Meski begitu semua berjalan sebagaimana mestinya. Pertunjukan band legendaris sudah lama selesai, digantikan oleh musik lembut yang mengalun pelan dari panggung kecil di sudut ruangan.
Serra baru saja kembali menemani Selina dari kamar kecil, tetapi pintu ballroom tiba-tiba saja terbuka lebar di hadapannya. Dari sana muncul beberapa petugas kepolisian berpakaian resmi melangkah masuk dengan tegas. Seketika musik berhenti, dan semua kepala menoleh.
"Mama," panggil Selina seraya memerhatikan mereka. "Ada apa?"
"... Tidak tahu," jawabnya pelan, tetapi mata itu fokus mengikuti kemana para polisi pergi.
Julien yang sedang santai bercengkrama dengan para tamu pun mulai tersulut emosinya. "Kalian siapa? Berani sekali datang ke tempatku tanpa izin. Siapa atasan kalian?"
Di saat yang dipercayai adalah atasan dari rombongan itu sedang menghadap Julien, orang-orang lainnya hanya fokus kepada pria lain di meja utama.
Serra mulai menggendong Selina dan menuju tempat yang sama. Di sana, matanya langsung bersitatap dengan Levi.
"Hayato Tenjou?" tanya salah satu petugas, suaranya mulai terdengar hampir di seluruh ruangan.
Pria yang dimaksud menoleh, menjawab agak ragu, "Ya?"
Dua polisi langsung mendekat. Salah satu dari mereka dengan sigap memasangkan borgol di tangannya, sementara petugas lain menahan tamu yang mulai panik dan merekam diam-diam dengan ponsel.
"Apa-apaan kalian ini?!" seru Hayato. "Ini acara keluarga, kalian salah orang!"
Sosok yang sebelumnya sempat berbincang dengan Julien pun datang. Ia menjelaskan, "Atas perintah pengadilan dan laporan resmi, Anda kami tahan atas dugaan pembunuhan terhadap saudara Hikaru Tenjou. Anda berhak untuk didampingi kuasa hukum."
"Apa?" Harumi langsung berdiri dari kursinya. "Bagaimana bisa?!"
"Ini pencemaran nama baik," kata Hayato.
Levi melangkah maju dan bertanya, "Bisa dijelaskan detailnya?"
Sementara Hayato sudah digiring keluar, pemimpin di sana memberikan sebuah amplop kepada Levi. "Dugaan terkuat karena balas dendam, tidak terima rumah pribadinya dibakar."
"Rumah yang mana?"
"Letaknya di pinggiran Paris tadi malam."
Mendengar itu, Harumi hanya bisa menutupi mulutnya dengan tangan.
Levi menatap lurus ke depan. Tak banyak reaksi tetapi rahangnya mengeras. Serra yang berdiri tak jauh dari sana dipandang dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Keadaan sudah tidak kondusif, dan Julien tidak punya pilihan lain selain memulangkan para tamu. Pria tua itu gondok setengah hati pesta penyambutan dirinya harus selesai seperti itu. Ia bersumpah akan mengadakan yang lebih besar dan megah di bulan depan selama tujuh hari tujuh malam! Julien terus berceletuk, tak peduli jika keponakan dan menantunya mulai beranjak dari sana.
"Kita pergi ke sana sekarang," ajak Levi kepada Harumi, lalu berkata kepada pria tua di sana, "Julien, aku titip Alex."
Alex mendesah kecewa, "Padahal aku ingin ikut."
"Kau tunggu di sini."
"... Oke."
Kedua orang itu pun pergi. Mereka tampak terburu-buru hingga tidak sempat berpamitan dengan yang lain termasuk para tamu.
Serra memerhatikan bocah yang duduk di seberangnya. Alex tampak sedikit menundukkan kepala. Dia pasti merasakan kekhawatiran yang sama. Mungkin menjadi kecewa karena Levi tidak membawanya ikut bersama mereka.
"Alex," panggil Serra sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya. "Kemarilah."
Bocah itu pun menurut, duduk di sisi Serra.
"Kau mau ini tidak?"
Alex mengangguk, langsung memakan kue yang disodorkan wanita itu.
Pandangan terus memerhatikan Alex. Serra dilanda nostalgia. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana orang-orang sangat tidak menginginkan kehadiran bocah itu. Masa-masa sulit, tetapi syukur mereka bisa melewatinya hingga berada di titik sekarang ini.
Tidak seperti Harumi yang sering mengunjungi Selina dan cukup dekat dengannya, masih ada jarak yang tercipta di antara Serra dan Alex. Namun wanita itu ingin mengenal lebih dalam tentang anak ini, hingga menyayanginya sepenuh hati jika boleh.
"Bibi Serra?" panggil Alex. "Ada apa? Kenapa Papa dan Mama pergi?"
"Hm? Mereka ada keperluan mendesak."
Alex mengangguk-angguk. "Kalau Kakek? Dia terlihat ... marah. Orang-orang tadi siapa—kenapa diambil makananku?"
Selina sudah duduk di kursi seberang dengan kue di tangan. "Mama, kata Papa, Alex tidak boleh makan-makanan manis terlalu banyak. Jadi yang ini biar aku saja yang habiskan."
"Curang! Aku tidak akan membuatkan Kak Selina susu cokelat lagi sebelum tidur."
"Masih bisa dibuatkan oleh Sam."
Terlihat Alex yang mulai cemberut tapi tak bisa melakukan apa pun selain pasrah. Katanya, bagi bocah satu ini meskipun Selina memperlakukannya semena-mena, ia akan tetap mendengarkan sang Kakak. Pada akhirnya mau tak mau Alex menatap Serra dengan mata membulat lucu. "Bibi Serra, boleh tidak aku dan Kak Selina main di taman luar?"
Serra menoleh. "Yang di dekat kolam renang itu?"
"Iya."
"Boleh," jawabnya ringan. Senang sekali rasanya diajak bermain oleh anak ini. "Biar Bibi temani, ya? Selina, ayo."
"Aku akan menemanimu—"
"Biar asistenku yang mengantarmu," potong Julien.
Serra berhenti, Arden rupanya masih di sana dan tidak ikut pulang seperti tamu yang lain setelah kekacauan itu. Pria ini ... sosok yang berhati hangat, tetapi entah mengapa rasanya salah. Serra memang pernah berkata ingin mengenalnya lebih jauh, namun lambat laun hanya ada perasaan bersalah saja yang terasa. Arden seperti mengharapkan sesuatu yang Serra tidak bisa beri, dan digantung untuk hal sia-sia sungguh menyakitkan.
Maka, tidak ada yang Serra bisa lakukan selain menjaga jarak perlahan-lahan. "Maaf, Arden, untuk kali ini biarkan kami pergi sendiri."
"Kenapa? Biarkan aku ikut bantu menjaga anak-anak."
Serra menggelengkan kepalanya pelan. "Kau di sini saja, ya? Temani Julien."
"Apa? Aku bukan anak kecil yang harus ditemani," sanggah Julien tak suka. Harga dirinya seperti disentil.
"Aku serius."
"Aku juga serius," balas Serra.
"..."
"Maaf, Arden. Tapi bukankah aku sudah mengatakannya berkali-kali? Aku senang mengenalmu sebagai teman dekat, tapi untuk lebih dari itu ... aku belum bisa."
Mendengarkannya, Julien mendengus diam-diam. Ternyata memang tidak mudah. Ia salut dengan keteguhan hati wanita itu.
Setelah berbagai kata diiringi ucapan maaf, Serra pun pergi dengan asisten yang telah diperintahkan Julien.
Tak lama setelahnya, Arden menatap Julien.
Si Tua Bangka memutar bola mata.
Arden berpindah ke sisi Julien. Diam di sana seperti menunggu sesuatu.
Julien melirik tak suka. "Siapa yang mengizinkanmu untuk berdiri sejajar denganku? Mundur."
"Ah, maaf, Tuan Julien."
"Bagaimana rasanya ditolak?"
"Biasa saja."
"Bagaimana dia?"
Arden berpikir sebentar. "Nyonya Serralyn sangat mandiri, walau keputusan yang dia ambil lebih banyak membuat orang kerepotan. Tapi selain itu, semuanya berhasil."
"Dia memang bisa diandalkan."
"Betul. Nyonya Serralyn memang—"
"Aku tidak membayarmu untuk membalas perkataanku," ujar Julien. "Bicaralah hanya jika aku bertanya sesuatu padamu."
Arden mengangguk patuh.
"Kau sudah lama bekerja untukku tapi masih seperti baru. Jadi contohlah para asisten juga pengawalku yang lain."
Lelaki itu kembali mengangguk.
Memang tidak salah Julien yang diam-diam mengirim Arden untuk memantau mantan menantu sekaligus cucunya. Terlebih untuk Serra yang merasa dirinya bisa menjaga diri dan cukup anti dengan pengawalan. Dalam situasi seperti ini, hal buruk bisa saja terjadi. Terutama semenjak wanita itu memutuskan untuk tinggal di pusat kota.
Julien pun melanjutkan, "Kau sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Katakan apa itu."
Arden menatap lurus. Sepasang matanya memandang dengan tegas. "Itu ... Anda selalu memerintahkan saya untuk mendekati Nyonya Serralyn. Apakah Anda tidak khawatir jika dia akan jatuh hati pada saya? Mengingat perempuan akan mudah luluh jika diberikan perhatian lebih."
"Aku yakin dia bukan wanita yang seperti itu. Aku tahu bagaimana dia," jawab Julien. "Dulu, keponakanku saja butuh waktu yang cukup lama untuk meluluhkannya. Tetapi kau? Hanya bocah piyik! Percaya diri sekali bisa membuatnya jatuh hati."
Lelaki itu mengangguk pertanda mengerti.
"Memangnya kau bisa bekerja lama-lama denganku? Aku dengar keluargamu sudah menginginkan kau pulang, untuk meneruskan usaha Bank tapi sayang anak bungsunya malah kabur ke Paris. Keluargamu cukup terkenal rupanya, Rasman?"
"Tasman," koreksinya.
"Siapa kau berani mengoreksiku?" kata Julien.
Arden langsung diam.
"Kembalilah ke Jakarta."
"Anda memecatku?"
"Aku tahu bagaimana lelaki sepertimu, aku pun begitu di masa lalu," kata Julien lambat-lambat. "Kita boleh saja gengsi mewarisi bisnis keluarga karena ego yang tinggi. Memilih melangkah sendiri meski harus tertatih-tatih. Tetapi tidak ada tempat yang lebih baik selain di lingkup keluarga."
Arden hanya diam mendengarkan.
"Setelah kembali, jangan lupakan Lenoir. Siapa tahu kita bisa bekerja sama di kemudian hari? Meski mungkin, ketika hari itu tiba aku sudah tak lagi ada."
Julien berdiri. Punggungnya sedikit membungkuk ketika berjalan. Tangan keriput menggenggam tongkat sebab lututnya sempat cedera di masa muda. Kaki panjang terlihat kaku ketika melangkah. Dia memang terlihat begitu renta. Tetapi tak seorang pun yang berani melawannya walau hanya dengan tatapan mata.
"Rusman-Lenoir bukan nama yang buruk, kurasa?"
Arden ikut berjalan di belakang Julien. "Yang benar itu Tasman."
"Sekali lagi kau mengoreksiku, akan aku gunduli rambutmu itu!"
—————
Kurang dari lima chapter lagi cerita ini bakal tamat. Yuk persiapkan diri kalian buat move on. Hehehe.
Sampai jumpa di chapter depan!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top