chapitre dix-huit
Di pertengahan akan ada instruksi untuk memutar musik. Saya memang menyarankan untuk baca sambil dengar lagunya supaya bisa lebih meresapi cerita.
Selamat membaca!
.
.
.
.
.
"Kalau Julien yang mendengarnya, dia pasti sudah kirim orang itu ke laut."
Levi membolak-balikan kertas di tangan sambil mendengarkan temannya bicara.
Pria itu tersenyum formal lalu melanjutkan, "Tapi sepertinya kaulah yang mengirim mereka dan menguji coba hotel baruku?"
"Sistem lamamu sudah ketinggalan zaman, Dorian," balas Levi. Ia simpan semua kertas itu lalu menghisap rokoknya. "Sekarang semua sudah lebih tenang, tapi bukan berarti aman."
Dorian ikut memikirkan perkataan Levi. Meski sudah berteman lama, tidak bisa dipungkiri selalu saja ada perbedaan perdapat di antara mereka. Ia hanya balas menatap Levi dan tak berniat menyangkal. Ada benarnya juga teman satu itu.
Lalu seorang wanita berkulit kecokelatan menyimpan cangkir tehnya. Ia ikut bicara tenang tapi tajam. "Apa kita bisa singkirkan masalah asmara kalian itu? Aku punya yang lebih genting. Musim panas tahun depan jumlah turis akan naik 35 persen. Tapi klien VVIP butuh tempat yang aman dan tertutup. Aku mau properti baru. Tapi aku tidak bisa sewa dari orang yang tak sanggup menjamin perlindungan penuh."
"Emma?" Dorian ikut berpaling ke arahnya. "Kalau masalah keamanan, kita tahu harus menghubungi siapa."
Lalu semua mata menuju kepada Levi.
Pria itu menjawab santai, "Kalian tahu bayaranku. Memangnya orang-orang itu sanggup?"
Emma bersandar pada kursinya lalu meregangkan tubuh. "Kalau Levi ikut andil, aku tahu orang-orangku akan aman. Tapi Levi tidak buka tempat amal."
"Memangnya usahamu itu menuju bankrut?"
"Tidak. Aku hanya membatasi. Tahun depan akan ada perubahan gila-gilaan."
Mereka sedang mengadakan temu kangen sambil rapat kecil-kecilan di kantor pusat Lenoir & Cie. Sebenarnya kedua orang itu datang tanpa diundang, seperti biasa. Dan Levi mau tak mau harus merelakan tempat kerjanya dipakai untuk bertukar ide selama satu hingga dua jam ke depan.
"Aku tidak menjual keamanan tapi rasa takut, kalian tahu itu. Dan selama mereka masih takut dengan Lenoir, mau klienmu mengobrak-abrik istana pun mereka tidak akan disentuh."
"Termasuk wilayah Asia?" tanya Emma. "Pasar Asia Tenggara mulai terbuka dan ini bisa jadi kesempatan bagus. Dorian, hotelmu sudah buka cabang di Bali tapi ada yang bertabrakan dengan pihak lain. Yang ini mungkin bisa Levi urusi."
Tahu namanya disebut, Levi melirik."Kenapa aku?"
"Kau lupa? Bali? Indonesia?" Emma balik melemparkan pandangan tanya. "Serra berasal dari Indonesia, mungkin istrimu bisa bantu. Kudengar temannya punya hotel di sana?"
Oh, Levi sampai lupa.
Entah sudah berapa lama ia tidak berhubungan dengan Serra. Terakhir bertemu pun kalau tidak salah ketika sedang sakit atau bertemu Selina. Terakhir mengirim pesan? Levi harus mengeceknya dulu karena pesan itu sudah jatuh ke paling bawah di aplikasi ponsel. Kebanyakan sekarang dilakukan dari pengacara ke pengacara. Pernah sekali Serra menelepon, Levi sedang mengemudi saat itu dan stirnya hampir berbelok. Ketika dijawab bukan suara itu yang menyambut. Hanya Selina. Bocahnya menangis dan bertanya kapan sang ayah akan segera pulang.
"Aku ... sudah tidak bicara dengannya."
Kedua orang di sana tidak bisa menutupi ekspresi terkejut mereka. "Kenapa?"
Levi belum bercerita ke siapa pun. Hanya Julien dan beberapa asisten. Selebihnya? Berita jika mereka sedang menuju proses perceraian ditutupi dengan baik. Meski cepat atau lambat media akan segera memberitakannya.
"Kami akan bercerai."
Seolah kalimat itu hanyalah lelucon. Tetapi Emma dan Dorian tahu jika Levi tidak pernah bercanda.
Levi pun melanjutkan, "Terjadi banyak hal. Dan berpisah adalah jawaban terbaik."
"Levi..." Emma menggeser kursinya dan menepuk pelan bahu itu. "Maaf. Kami tidak tahu."
Ia menggeleng. Sekarang ini tidak ada yang harus dipikirkan terlalu larut sebab nasi sudah menjadi bubur. "Bukan masalah besar."
Dorian ikut bertanya, "Lalu Selina?"
"Ikut Serra pulang ke Jakarta. Aku akan mengunjungi mereka minimal satu bulan sekali."
"Jadi kau akan tinggal di sini sendiri?"
"Tidak."
"Lalu?"
Levi menatap mereka. Mata abunya masih tajam meski sudah tak sedingin dulu. Sudah ada banyak yang ia lalui hingga sorot itu kehilangan kekuatannya. Kini hanya ada rindu, pupus, lelah.
Emma dan Dorian masih melempar ekspresi tanya. Teman mereka satu ini memang sejak dulu sangat sulit untuk terbuka. Levi lebih senang menyembunyikan setiap masalahnya, diperbaiki sendirian lalu baru bercerita ketika semua telah usai.
Tetapi saat ini ... mungkin inilah yang ia butuhkan. Teman untuk bicara. Teman yang mau mendengarkan.
***
"Kau siap?"
Waktu telah menunjukkan pukul 8 malam ketika Serra menatap pria itu berbalut tuxedo hitam hingga rambut yang tersisir rapi ke belakang. Rasanya sudah lama sekali, saat terakhir ia melihat Levi mempersiapkan diri seperti itu. Dia terlihat jauh lebih tampan dari biasanya.
Sebab malam ini adalah malam yang spesial.
"Siap untuk berpura-pura bahwa kita baik-baik saja?" ucapnya sedikit sarkas. "Ya, aku siap. Selalu." Andaikan jika bisa.
Levi di sampingnya, mengulurkan lengan sebagai isyarat agar Serra menggenggamnya di sana.
Mereka masuk ke dalam gedung dimana pesta para pengusaha juga pejabat negeri berlangsung. Acara yang mengusung tema amal membuat Levi mau tak mau harus menggandeng Serra setiap ia melangkah. Walau otaknya menolak semua ini, tetapi ketika wanita itu terus mengapit di sisinya, ia tidak punya pilihan selain menghayati kenyamanan ini.
Wanita itu dipilih secara langsung oleh Julien untuk mengurusi kegiatan amal keluarga Lenoir. Meski tak lama lagi akan kembali berpindah tangan kepada Pak Tua.
Serra tersenyum kepada setiap orang yang menyapa mereka. Memuji berbagai hal dari mulai gaun, riasan wajah, hingga betapa serasi pasangan-pasangan yang hadir malam itu. Namun, ketika seorang wanita paruh baya, tetapi terlihat sangat anggun balik memuji kemesraan Levi dan pasangannya, Serra agak merengut. Tersenyum paksa adalah pilihan terbaik.
Satu lagi pasangan yang tiba-tiba menyapa. Begitu ramah dan tampak sangat kaya dengan busana berharga selangit.
"Mereka partner perusahaan kita," jelas Levi kepada Serra. "Berjasa besar karena bantuan untuk proyek dua tahun lalu."
"Tentu. Kami selalu siap membantu. Karena sebenarnya yang benar-benar berjasa adalah perusahaan kalian di masa lampau. Tanpa bantuan Tuan Julien, kami tidak bisa menjadi seperti sekarang ini."
"Gaunmu indah sekali," puji Serra pada istri pria itu.
"Ah, terima kasih. Gaun ini didesain khusus untukku. Nama perancangnya sedang naik daun akhir-akhir ini karena busana terbarunya yang fantastis. Harganya pun mahal sekali."
Serra hanya tersenyum menanggapinya. Kalau ia adalah wanita yang hobi menyombongkan kekayaan, ia akan menyebutkan nominal. Sebab harga dari pakaian beserta perhiasan yang sedang dipakainya saat itu bisa ditukarkan dengan gedung tempat acara ini berlangsung.
"Dan, oh, gaya rambutmu itu keren sekali. Seperti vampir yang di film-film," pujinya kepada Levi, lalu melirik suaminya sediri. "Suamiku, kau juga harus berdandan seperti itu sesekali."
"Aku tidak mungkin cocok," balasnya diselingi tawa.
Levi menanggapinya dengan santai. "Aku hanya perlu mendengarkan perkataan istriku." Lalu melirik Serra sekilas lalu memeluk pinggangnya dengan sebelah tangan.
Serra—walau Levi menyadari terdapat sedikit keterkejutan di sana—otomatis merapatkan diri ke arah pria itu. Ia menatapnya, juga memeluk balik dengan senyuman lembut. "Aku benar, kan? Gaya rambut seperti ini memang cocok untukmu."
"Ya, kau benar." Levi balas menatap, begitu dalam. "... Dan akan selalu benar."
Lalu mikrofon menyala. Pandangan para tamu langsung terfokus pada pembawa acara kali itu. Setelah mengucapkan kalimat pembukaan, ia mempersilakan seseorang untuk naik ke atas podium.
Julien Kennedy Lenoir melangkah dengan tongkat emas dan topi fedora kebanggaannya. Balutan busananya rapi, elegan dan mahal. Berani bersumpah tidak ada seorang pun yang bisa menebak seberapa tinggi monimal pakaiannya. Bahkan kaos kaki hitam biasa pun dibeli dari brand ternama yang hanya menjual barang kepada kaum tertentu.
"Bonsoir," sapanya singkat. "Saat ini tidak ada yang lebih saya inginkan dibanding bermain bersama cucu tersayang daripada menghadiri acara seperti ini. Tapi terima kasih sudah datang. Saya tahu beberapa dari Anda hadir karena undangan saya terlalu mahal untuk ditolak."
Para tamu tidak sedikit pun mengeluarkan suara. Mereka fokus, serius, dan sedikit takut tinggal nama di keesokan hari.
"Walaupun Lenoir sekarang masih disebut dengan nada takut, tapi saya tidak berniat mengubah citranya dari siapa pun. Biarlah orang mau berkata sesukanya. Tapi siapa pun itu jika berani menghalangi kami ... akan menghilang."
Sunyi senyap. Adrenalin tamu perlahan naik seraya ruangan mendingin.
Sebuah seringai muncul cukup tipis. "Itu masa lalu. Atau setidaknya tidak seperti itu di bawah jabatan keponakan saya. Sekarang kami disebut pilar ekonomi, tulang punggung atau penyelamat krisis. Menggelikan. Dunia berubah. Orang yang dulu gencar ingin balik mengabisi kami, kini antre untuk bekerja sama."
Julien menatap para tamu. Tajam. Tahu mana saja yang bermuka dua.
"Saya tahu Anda benci kekuasaan kami, tapi tetap tidak bisa hidup tanpanya. Saya tidak menyalahkan karena begitulah hidup. Orang-orang akan mengerumuni jika kau punya harta dan kuasa." Ia diam sejenak. "Sejak kecil, saya hidup untuk menjadi nomor satu. Saya tidak pernah diajari untuk mengemis, justru saya memberi. Saya punya uang, saya tidak takut apa pun. Tidak ada hal yang tak bisa saya beli di dunia ini."
Di posisi dekat podium, wajah Levi menggelap dan Serra tersenyum canggung. Yang Mulia Julien dengan keangkuhannya ini bisa membuat orang-orang buang air di celana.
"Dan malam ini, saya tidak akan menjadi pura-pura dermawan yang menangis setiap kali melihat kemiskinan merajalela. Saya tidak pernah miskin. Saya tidak tahu rasanya lapar atau ditolak rumah sakit karena tak mampu." Julien mengedarkan pandangan. Mata abunya seolah mencari dari sekian banyak orang yang hadir di sana. "Saya tidak butuh angka karena sumbangan saya sudah pasti lebih banyak dari seluruh ruangan ini jika digabungkan. Saya juga tidak akan meminta maaf karena dilahirkan di keluarga yang serba kelebihan. Tapi saya bisa pastikan satu hal: selama saya masih hidup, tidak akan ada yang kelaparan di kota ini."
Tamu dari berbagai kalangan mulai mengangguk setuju, sebagian lain siap tepuk tangan. Meski terkenal menakutkan dan sombong, pria gila harta ini sebetulnya adalah sosok yang dermawan. Atau mungkin hanya ingin pamer kekayaan. Sebab bagi Julien, membuat acara amal merupakan cara untuk menyombongkan harta yang paling waras.
"Jadi silakan lanjutkan gala Anda. Ambil minuman, berfoto ria. Buat dunia tahu siapa yang benar-benar peduli ... dan siapa yang hanya ingin terlihat demikian. Terima kasih."
Bermenit-menit berikutnya, lagu yang mengudara pun berganti. Dari klasik menuju romantis. Entah apa yang dipikirkan pihak penyelenggara acara, tetapi para pasangan diminta turun ke lantai dansa dan, yeah, kau tahu apa yang akan terjadi berikutnya.
Serra tiba-tiba terkikik kecil di sebelahnya. "Seperti masa sekolah saja."
"Yeah, dan siapapun yang memikirkan konsep berdansa seperti ini ... mereka tak akan pernah dewasa."
"Karena arti kedewasaan bagimu adalah meninggalkan segala hal muluk, dan terus hidup berpegangan pada realitas. Aku mengerti."
"Sesekali aku pun ingin hidup dengan impian yang muluk, andaikan bisa. Jadi ..." Tiba-tiba Levi berpindah posisi. Ia berdiri di hadapan Serra dengan tangan yang mengulur di udara. "Are you ready for one last dance, Serralyn?"
One last dance.
Sebab esok, adalah persidangan terakhir mereka. Hari dengan status baru. Hidup baru. Dan mereka, sudah memantapkan hati untuk merasakan segala hal manis yang pahit malam ini.
Serra menyambut tangan prianya. Menampilkan senyum tipis yang akan Levi kenang sepanjang waktu. "Tentu."
Mereka berjalan ke lantai dansa. Berpegangan. Bersentuhan. Levi meletakkan tangan untuk merangkul pinggang wanitanya. Sedangkan Serra melingkarkan kedua tangan di pundak pria itu. Mereka saling tatap. Begitu lekat, terlalu dekat untuk pasangan yang rumah tangganya akan berakhir di hari esok. Tetapi mereka tidak peduli. Levi dan Serra saling memandang begitu dalam sejak terakhir kali bisa merasakan hal-hal seperti ini.
Ah, romantisme.
Walau Levi mungkin bukan sosok yang romantis, tetapi tetap saja Serra bisa dibuat jatuh cinta berkali-kali bahkan hanya dengan tatapan mata. Begitu pula saat ini. Ia kembali jatuh ke dalam pelukan yang sama.
(Putar video di atas ya)
Lagu mulai mengalun lembut, dan Levi yang menyadari sesuatu pun berkata, "Lagu ini sering kuputar di kantor akhir-akhir ini. Kuputar diam-diam."
"Kenapa?"
"Mengingatkanku padamu."
If I had to live my life without you near me
The days would all be empty
The nights would seems so long
"Kukira kau bukanlah orang yang menyukai lagu seperti ini. Kau pernah bilang bahwa semua itu hanyalah picisan."
"Ya, kau benar."
I might have been in love before
But it never felt this strong
"Tapi sudah kubilang, kan? Lagu ini mengingatkanku padamu," kata Levi pelan. "Terlebih aku selalu suka dengan hal-hal yang berhubungan denganmu." Mereka terus berdansa ringan. "Dan, yeah, walau cukup klise, tapi kuharap kau bisa meresapi lagu ini sebagaimana aku menyukainya."
Nothing's gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love
Levi memandang kerlingan di mata itu. Dalam, bahkan terlalu dalam hingga ia bisa ikut menyelami apa yang disembunyikan di balik sana. Serra masih menampilkan sedikit sendu.
The world may change my whole life through but
Nothing's gonna change my love for you
"... Jadi, kau mengerti, kan?"
Bahwa dunianya boleh saja berubah. Tetapi tidak akan ada yang mampu mengubah rasa cinta Levi padanya. Sedikit pun. Tak ada yang bisa.
George Benson melalui nyanyian merdu lelaki di sana, memang tahu cara untuk mengungkapkan perasaan seorang Levi lewat sebuah lagu.
Terdapat sedikitnya binar cahaya yang membuat Levi bisa menghembuskan napas lega. Terutama ketika lagu telah melewati reff, wanita itu tak sedikit pun mengalihkan pandangan.
Bagi Serra, mata yang Levi berikan saat ini adalah mata yang sama ketika hari dimana pernikahan mereka berlangsung. Tatapan itu penuh rasa sayang yang meluap hingga siapa pun bisa melihatnya hanya dengan sekali lirikan. Sungguh, Serra rindu pandangan itu. Ia merindukan setiap hal yang ada di dalam diri pria satu ini. Walau dia pernah merasakan apa itu kecewa, tetapi tak pernah sedikitpun rasa cintanya berkurang.
Ya, mereka masih merasakan hal yang sama.
I don't want to live without you
Levi membawa Serra mendekat. Lebih lekat dengan sebuah pelukan erat. Orang-orang akan tersentuh oleh anggapan begitu romantisnya pria bermarga Lenoir itu. Namun, mereka hanya tidak tahu jika sebenarnya sosok pemimpin yang paling disegani hingga ditakuti di sana tak mau jika kesayangannya harus pergi.
Seharusnya mereka hanya berpura-pura untuk terlihat baik-baik saja. Seharusnya ini hanyalah sebuah drama yang mereka persiapkan agar khalayak tidak bisa mencium keretakan rumah tangga insan di sana. Tetapi, perasaan mengambil alih segalanya. Semua perbuatan dilakukan tanpa adanya pemikiran klise persoalan logika. Mereka membiarkan hal itu terjadi seperti air yang mengalir.
Serra mulai merasakan Levi menyusup ke balik helaian rambut. Hidung mancungnya menghirup wewangian favorit yang khas menguar di sana. Sayangnya ini adalah malam terakhir. Dan jika memang esok mereka harus berpisah, biarkanlah pria itu menghirup harum tubuh kesukaannya sepuas mungkin.
"Kau bisa memegang janji ini."
Serra menggeleng pelan dalam dekapan erat. Ia berbisik di samping telinga Levi. Suaranya sedikit bergetar, "Tapi kau sendiri yang mengajariku ... untuk tidak terlalu berharap pada janji."
Levi menghembuskan napasnya ke leher itu. "Untuk kali ini saja...." Ia memohon.
Sial. Levi benar-benar mencintai wanita ini.
Sebab Levi terlalu menyayanginya, maka Serra harus rela ia lepas. Membebaskannya dari segala penyakit hati yang mendera belakangan ini. Pria itu tak pernah mau menjadi seorang pengekang. Dan melihat wanitanya menderita adalah hal paling terakhir yang dia perbuat. Maka, Levi tidak akan melakukannya lagi.
Oh, Levi.
Tahukah kau jika sebenarnya Serralah yang paling tidak ingin menyakitimu? Wanita itu sudah hampir menyerah ketika tahu rumah tangganya hancur. Tetapi ketika melihat pria yang selalu berada di sampingnya ini selalu tampak tegar, dunia Serra malah semakin hancur.
Sejak dulu, tak pernah sekalipun ia mendengarnya mengeluh. Levi adalah pria yang lebih senang menyembunyikan emosi dan mengubur setiap rasa sakit dalam-dalam. Seberat apapun punggungungnya ditimpa masalah, ia selalu berdiri tegap. Sesedih apapun Levi, air mata tidak pernah mengalir di pipinya.
Pria ini sudah terlalu banyak menanggung beban. Dan barangkali Serra yang meminta cerai malah semakin memperparah keadaan hatinya.
Salahkah jika Serra ingin Levi menunjukkan emosi kepadanya?
"Hey, Levi?"
Pria itu masih menatapnya. "Hm?"
"... Aku pun."
"Apa?"
"Mencintaimu, masih," ungkapnya. "... Sampai kapanpun."
Ia sudah tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Tetapi barangkali, perkataan cinta dapat membuat hati pria itu sedikit lebih baik. Dan terbukti. Ketika Serra mengatakannya, Levi menampilkan senyuman tipis. Senyum yang selalu wanita ini kagumi. Teduh sekali.
Levi semakin merengkuhnya erat. Terus tersenyum.
Lalu Serra menciumnya.
—————
Agaknya susah banget mau bikin adegan happy di BD, bawaannya sad terus😭.
Yang kemarin-kemarin udah lihat spoiler, apa tebakan kalian benar? Haha.. yang belum lihat bisa follow IG saya ya untuk spoiler-spoiler berikutnya.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top