chapitre cinq
Detik berganti menit, menit berganti jam, dan Levi baru bisa terlelap.
Dalam mimpinya, ia melihat sekumpulan merpati. Burung-burung itu terbang bebas beberapa meter di atasnya. Sekadar memantau bumi di bawah sana, apakah tanah itu cukup kering untuk mendaratkan diri dan mengistirahatkan sayap-sayap mereka. Sebagian lagi telah memenuhi jalanan setapak, menunggu diberi makan oleh anak kecil berwajah lugu.
Anak itu berlari menghampiri ibunya. Ia ketakutan sebab burung-burung itu tak henti mengejar makanan dalam genggamannya. Sang ibu membiarkan bocah itu diganggu merpati, dan tidak mengiyakan ketika anaknya merengek minta digendong. Wanita itu malah mengangkat sebelah tangan untuk menutup mulut dan tertawa cantik. Ia mewarisi wajah menawannya kepada si anak. Sorot tajam keabuan, rambut sehitam arang, juga kulit putih pucat.
Anak itu adalah dirinya di masa lalu.
Levi kecil yang terbiasa nakal dan gemar membuat nangis teman sekelasnya di Taman Kanak-kanak, kini merengek takut karena burung-burung menghampirinya dalam jumlah banyak.
Levi menatapnya. Ia menjelma sebagai tokoh figuran dalam film keluarga ceria. Ada tapi tak ada yang menganggapnya penting. Seolah tidak terlihat dan kehadirannya tak begitu diharapkan. Lantas apa tujuan pria itu berada di sana? Kenapa pula kakinya seakan-akan merekat erat dengan tanah pijakannya? Ia hanya bisa memandang mereka. Memperhatikan setiap tingkah jenaka yang ia buat sewaktu kecil, atau menatap wajah wanita yang ia rindukan.
Ketika sudah mulai terbiasa dengan burung di sekelilingnya, bocah di sana mulai bisa menenangkan diri. Kembali memberi makan merpati dengan makanan yang ia dan ibunya beli di toko depan rumah. Mereka tersenyum, menikmati indahnya pemandangan terbenamnya mentari bersama-sama.
Di kaki langit, burung yang lebih besar terbang menjauh. Meninggalkan sehelai bulu halus yang rontok dan jatuh bertemu tanah dengan gerakan perlahan.
Saat itu, kedua orang yang sedang asik bermain di ujung sana mulai menoleh. Menatap si tokoh figuran yang terdiam kaku di belakang.
Apa yang kalian lihat? Batinnya bertanya-tanya.
Lengkungan bibir pada keduanya tertarik ke atas. Amélie—begitulah orang-orang memanggilnya—menatap lembut sambil memberikan senyuman teduh, sedangkan si bocah tersenyum lebar. Begitu lebar hingga matanya menyipit dan menampakkan gigi susu putih bersih.
Levi dewasa mendengus pelan, lalu mengumpat dalam hati. Seiring beranjak dewasa Levi mulai mengerti jika kebahagiaan hanyalah hal yang bisa dinikmati sekejap saja. Hingga ia menganggap jika rasa senang adalah kebahagiaan semu. Kini tinggal menunggu waktu saja, kapan senyuman pada wajah bocah satu itu akan menghilang sebab ditekan oleh kerasnya dunia.
Memikirkan hal duniawi, hati pria itu dirundung pilu.
"Aku tahu aku salah. Tapi hal itu terjadi di luar kendaliku." Levi berkata pelan, "Orang-orang itu... Mereka menjebakku."
Sebelum memutuskan untuk memaksakan kedua kaki beranjak dari sana, Amélie mengulurkan tangannya. Seolah mengajak Levi untuk ikut bersama mereka. Entah kemana, mungkin ke suatu tempat dimana ketenangan juga kebahagiaan yang sesungguhnya berada.
Pria itu ragu.
"Apa yang harus aku lakukan?" Levi bertanya kepadanya
Amélie tak menjawab. Namun senyum itu masih di sana. Levi harus jujur jika sejak dulu ia menyukai wajah ibunya yang sedang tersenyum. Walau ia berbuat onar seperti mencoret dinding dengan kerayon atau menjahili anak tetangga hingga menangis, Amélie tak marah dan memilih untuk terus tersenyum. Tidak pernah wanita itu menampilkan wajah masam ketika sedang berhadapan dengannya. Sekali pun ketika mereka sedang jatuh sejatuh-jatuhnya, menyisakan kepedihan yang mendalam.
Ketika melihat senyuman yang sungguh menjanjikan ketenangan, Levi mulai melangkahkan kakinya.
Berjalan mendekati mereka. Hendak menerima uluran tangan ibunda.
Tetapi sesuatu menahannya dari belakang.
Levi menoleh. Di belakangnya, bocah lain memegangi celana yang ia pakai. Dia tertunduk sedih dan merasa tak rela jika Levi harus pergi meninggalkannya. Di matanya, genangan air siap meleleh kapan saja. Lalu pipi itu—kapan Levi tak pernah gemas untuk menciumi pipi tembam satu itu?
Berbalik dan berlutut, Levi menggenggam tangan kecil di hadapannya.
"Selina," ucapnya pelan.
Selina masih terus tertunduk dengan wajah sedihnya. Levi meraih dagu anaknya, memaksa untuk menatap balik pandangan yang ia berikan. Seiring mata mereka bertemu, air yang terkumpul di sudut mata Selina mulai meleleh. Ia tidak terisak, tetapi air matanya tak henti keluar. Levi tidak pernah tega melihat orang-orang yang ia sayangi menangis. Baginya hal itu terlalu memilukan. Maka ia rengkuh tubuh mungil Selina ke pelukannya. Menghantarkan rasa nyaman juga aman dalam dekapan hangat.
Dengan air mata yang masih mengalir, Selina menjauhkan wajahnya dan menoleh ke belakang. Levi ikut menatap apa yang dilihat anaknya.
Tepat di ujung sana, Serra berdiri membelakangi mereka. Jauh sekali. Begitu jauh hingga seolah sangat sulit untuk digapai. Entah apa yang perempuan itu lihat. Entah apa pula yang membuatnya berdiri terlalu jauh dari Levi dan Selina.
Sebenci itukah Serra hingga tak mau menampakkan wajahnya? Semarah apa perempuan itu hingga meninggalkan Levi dan Selina di belakang? Tak banyak yang tahu, tetapi Levi tahu betul sebenci dan semarah apa Serra kepadanya. Levi juga tahu apa penyebabnya, walau pada akhirnya ia hanya bisa meminta maaf dan berkata akan mengusahakan yang terbaik.
Tetapi Serra malah semakin menjauh, dan Selina semakin menangis pilu.
Levi mengerti jika dunia sedang mengujinya dengan cobaan terbesar. Namun apakah tidak ada kesempatan kedua baginya? Ia hanya ingin bisa terus bersama orang tersayang. Sesulit itukah?
Ketika memandang semakin menjauhnya Serra di ujung sana, Selina langsung melepaskan diri dari dekapan. Ia berlari ke arah mamanya sambil terus melelehkan air mata di pipi. Saat itu ia menoleh sekilas, menatap sang papa yang hanya bisa mati kutu di tempat.
Levi sendiri tak tahu kenapa tubuhnya merasa kaku. Ia hanya bisa melihat Selina yang terus berlari menjauhinya. Ketika menatap ke belakang, Amélie dan Levi kecil sudah beranjak dari tempatnya. Kenapa semua orang justru meninggalkan Levi sendirian? Pria itu seolah tak berdaya. Ia terdiam hingga dunia yang dipijaknya bergoyang dan mulai runtuh ke sudut terdalam bagian bumi.
Levi terjatuh.
Begitu dalam. Bahkan terlalu dalam. Hingga dunia tak lagi bisa dilihatnya.
Gelap.
Perlahan, ia mencoba untuk membuka mata.
Hal pertama yang ia dilihat adalah langit-langit ruang kerjanya berada. Levi ingat jika sepulang mereka dari pantai, pria itu langsung mengistirahatkan diri pada sofa kecil di ruang pribadinya. Pandangannya bergeser sedikit ke kiri, mendapati sosok Serra yang berdiri menatapnya dengan wajah cemas.
Levi sontak bertanya, "Ada apa?"
Serra menjawab sedetik kemudian. "Badan Selina panas sekali."
Mendengarnya, Levi langsung bangkit dan keluar dari ruang kerja. "Oh."
"Oh?" Serra mengekori Levi dari belakang. "Anakmu sedang sakit, kenapa kau terlihat biasa saja? Kau tidak panik."
"Justru karena anakku sedang sakit, aku tidak boleh panik. Harus ada salah satu dari kita yang tetap berpikir jernih." Levi membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Kamar ini sebenarnya adalah miliknya dan Serra. Tetapi entah sejak kapan ia tidak pernah lagi beristirahat di sana. Ada perasaan lain yang seolah menahannya untuk kembali tidur di samping Serra. Kini ia hanya masuk ke sana sekadar untuk berganti pakaian. "Sudah coba kompres keningnya?"
Serra menggeleng. "Aku langsung berlari dan membangunkanmu saat tahu Selina sakit."
Levi mendaratkan bokongnya di sisi ranjang. Sebelah tangannya terulur menyentuh kening Selina. Rasa panas langsung menjalar di bawah telapak tangannya. Ia berdecih pelan dan menarik napas pelan.
"Sapu tangan, air dingin."
Setelah mendapat perintah dari Levi, Serra langsung berlari keluar kamar.
Levi masih di sana. Menemani Selina yang terus mengerang karena kesulitan tidur. Pria itu menggenggam tangan si kecil dan sontak teringat akan mimpi yang baru saja menghampirinya. Begitu menyakitkan ketika harus melihat orang-orang yang disayangi pergi menjauh. Ia tak rela jika harus kehilangan mereka. Sudah cukup banyak orang yang meninggalkannya di masa lampau. Jadi jika Levi harus merasakannya lagi, ia tidak tahu apakah masih sanggup untuk terus melanjutkan hidup.
Ia mengulurkan tangannya dan menyingkirkan rambut-rambut halus yang sedikit menghalangi wajah Selina. Dalam hati pria itu berdoa untuk kesembuhan anaknya, juga agar terus selalu bisa bersama mereka. Walau pun sebenarnya siapapun tahu jika ia bukanlah orang yang religius.
Tidak perlu waktu lama bagi Serra untuk bisa menyediakan apa yang Levi suruh. Setelah wanita itu datang, Levi tak buang waktu dan langsung mengkompres kening Selina. Anak itu menangis kecil karena merasa tidak nyaman ketika sesuatu yang dingin menimpa keningnya yang hangat.
Serra ikut naik ke atas ranjang bersebrangan dengan Levi. Ia menatap Selina penuh sayang dan terdapat setitik kekhawatiran di matanya.
"Apa kita harus membawanya ke rumah sakit?" tanya Serra. "Panasnya cukup tinggi."
"Kurasa tidak perlu. Sepertinya hanya demam karena terlalu lama bermain air. Dia memang selalu seperti ini setelah berenang kan?"
Perempuan itu mengangguk ragu-ragu. Sorot matanya masih cemas seperti sebelumnya.
Levi yang menyadari hal itu pun menambahkan, "Kalau sore nanti suhu tubuhnya tidak kunjung turun, baru kita bawa dia ke rumah sakit."
"Entah kenapa tapi..." Serra berbaring di samping Selina. Tangannya mengusap pelan kepala bocah itu. "... Perasaanku tidak enak."
"Jangan berpikir yang tidak-tidak," peringat Levi. "Dia akan baik-baik saja. Kita sudah sering melalui ini."
"Aku ibunya. Perasaanku kuat sekali jika menyangkut Selina." Bola mata Serra bergulir menatap suaminya. "Walau sudah sering, tetapi aku tetap saja tidak akan pernah terbiasa. Aku tidak tega melihatnya sakit seperti ini."
"Kalau begitu obat apa yang dia butuhkan? Aku akan ke apotek sekarang."
"Ini jam tiga pagi. Apa ada apotek yang buka?"
"Pasti ada apotek 24 jam," jawab Levi.
"Kalau pun ada pasti bukan di sekitar sini."
"Tetap akan kucari." Levi mencium pipi Selina lalu mulai beranjak dari ranjang. Levi tahu, dan mungkin Serra juga tahu jika sebelum berangkat pria itu terbiasa untuk mengecup kedua pipi orang-orang tersayang. Maka dari itu hatinya cukup meringis ketika tahu jika Levi hanya bisa mencium putrinya saja. "Kau tenang saja."
Serra menjawab sambil terus mengelus sayang kepala Selina. "Kalau begitu obat penurun panas untuk anak-anak saja. Juga vitamin yang biasa Selina konsumsi."
Levi mengangguk. Ia menatap Selina sekilas lalu keluar dari kamar. "Aku pergi dulu."
Biasanya entah kemana pun Levi akan pergi, Serra akan mengantarnya hingga pria itu masuk ke dalam mobil di garasi rumah. Tetapi tidak untuk saat ini, tidak pula untuk beberapa minggu ini. Serra tak perlu repot-repot mengantar pria itu keluar rumah. Lagipula Levi cukup tahu diri. Ia juga sangat mengerti keadaan saat ini, terlepas dari Serra yang harus tetap berada di samping Selina.
Mobil dinyalakan, Levi pergi menjauh dari rumahnya.
Walau berkata harus tetap tenang dan berpikir jernih, sepanjang perjalanan fokus Levi hanya terpusat kepada Selina. Sejauh ini firasat Serra tidak pernah salah jika menyangkut putri semata wayang mereka. Pernah beberapa kali Levi mengabaikan peringatan wanita itu untuk tidak membawa Selina bermain di taman. Lalu ketika mereka pulang, anak itu menangis karena terjatuh sehingga lutut dan sikunya terluka. Pernah juga hal-hal kecil lainnya. Levi hanya menganggap itu sebuah kebetulan, dan mencoba untuk melupakannya.
Serra ternyata benar. Yah, wanita memang selalu benar.
Benar juga saat wanita itu berkata tidak ada apotek 24 jam di sekitar tempat tinggal mereka. Alhasil, Levi memerlukan waktu hampir dua jam untuk berputar-putar tak menentu hingga mencapai tempat tujuan. Ini mungkin akan lebih mudah jika ponsel yang tadi sengaja ia tinggal di mobil memiliki cukup daya untuk bisa menyala lama.
Sampai di apotek, seorang wanita muda menyambutnya, "Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?"
"Obat penurun panas. Untuk 3 tahun."
"Apa ada gejala lain selain panas? Seperti batuk atau flu?"
Levi berpikir sebentar lalu menjawab singkat, "Tidak."
Dia mencatat pesanan Levi di atas kertas. "Ada lagi?"
"Vitamin." Levi lupa mereknya, lupa juga kandungan dalam vitamin tersebut. Mungkin vitamin A, B, atau C? Atau mungkin hanya penambah nafsu makan saja? "Vitamin anak apa saja yang dijual di sini?"
Perempuan itu mengambil lima buah vitamin rekomendasinya dari etalase dan menunjukkannya kepada Levi. Ia mulai menjelaskan vitamin mana saja yang cocok untuk dikonsumsi anak berusia tiga tahun.
Levi tidak terlalu mengerti. Ia beli saja semuanya.
Ia bisa saja pulang dengan satu obat penurun panas juga lima buah vitamin anak. Tapi hanya Serra yang tahu vitamin mana yang biasa Selina konsumsi.
Kalau Levi salah membeli? Mudah saja, ia tinggal membeli vitamin lagi. Jangan dipersulit.
Setelah membayar belanjaan, Levi pun kembali ke dalam mobilnya. Dengan batrai yang hanya tinggal 4% saja, pria itu berniat untuk mengabari Serra jika ia sudah membeli obat dan siap pulang.
Tapi sebelum pesan itu terkirim, sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya pun masuk. Ia cukup terkejut mendengar berita yang disampaikan dari orang yang menghubunginya. Tanpa pikir panjang, Levi langsung menjalankan mobil dan pergi ke rumah sakit di pusat kota.
"Datanglah." Suara itu masih terekam di dalam kepala Levi. Sebuah perintah tak terelakkan. "Kukirimkan alamatnya. Kalau tidak, akan kusebarkan kelakuan busukmu ke media."
Setelah sebelumnya mendapat informasi di mana letak kamar inapnya, Levi langsung menyusuri koridor rumah sakit. Kakinya melangkah cepat. Mata tak henti mengamati setiap nomor di pintu.
Tidak. Levi tidak peduli kepada sosok itu. Yang ada di pikirannya hanyalah keluarga nasib keluarga kecilnya yang bisa terancam jika ia mengabaikan hal ini.
Tak lama, ia tiba di depan nomor pintu yang tepat. Dengan plastik obat di tangan kanannya, Levi mendorong pintu itu dan mencoba masuk.
Hanya lima menit, lalu pulang ke rumah.
Di dalam, seseorang yang sedang terbaring di ranjang pun menoleh ke arah pintu tempat Levi berada. Tak ada senyum atau ekspresi cemas di wajah pria itu. Ia masih seperti biasa. Ketus dan bibirnya melengkung ke bawah. Tetapi satu hal yang bisa membuat hatinya menghangat: Tatapan Levi yang berubah. Pria itu menatap sedikit lebih lembut dari biasanya, untuknya.
Levi menutup pintu rapat-rapat, berjalan ke arah ranjang.
Suara lembut wanita menyambut, "Kenapa kau kemari?"
Biarlah. Ini adalah satu-satunya cara agar Serra dan Selina tetap aman. Dengan bertemu wanita ini.
"Kau tak apa?" Levi berdiri di sisi ranjang. Merasa suaranya sedikit tercekat, ia berdeham sekali. "... Harumi?"
—————
Sampai sini udah ada yang bisa nebak jalan ceritanya? Selamat berspekulasi ria.
Setelah hiatus berbulan-bulan, gimana menurut kalian chapter ini? Semoga bisa terhibur walau harus di rumah aja...
Sampai ketemu lagi di chapter berikutnya!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top