Prolog

==Aomine P.O.V==


Ada yang bilang, bahwa penyesalan itu selalu datang terlambat. Aku sekarang mengakui, bahwa, perkataan itu memang benar.


Sekarang, penyesalan itu selalu menghantuiku. Dan aku, tidak bisa lari dari rasa penyesalan ini.


Setiap memejamkan mataku, memori itu kembali berputar di otakku. Kejadian dimana aku membunuh seseorang yang teramat disayanginya, tepat di depan matanya.


Sebenarnya aku melakukan hal itu bukannya tanpa alasan, tetapi, saat aku ingin mengungkapkan alasan itu, dia menutup telinganya, dan tak ingin mendengar sepatah kata pun, yang keluar dari mulutku.


Melihat tetesan bening yang keluar dari matanya, karena menangisi kepergian orang itu, membuat dadaku sesak. Aku tak suka melihatnya menangis. Tapi apa daya? Setelah melihat kejadian ini, pastilah sudah (Y/N) tak ingin melihatku, atau bahkan menyentuhku lagi.


Kala itu, aku benar-benar menyesal karena membiarkan emosi yang mengendalikan diriku hingga, aku menghabisinya hingga tarikan napas penghabisan. Seharusnya aku tidak boleh mengikuti begitu saja, perasaan yang berkobar di dalam hatiku ini.


Tetapi, nasi telah menjadi bubur. Yang terjadi telah terjadi.


Dan sedikitpun, tak dapat kuperbaiki kembali.


---



Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top