Prolog

Denpasar, 2021.

Pemuda itu bertelanjang kaki di atas aspal basah. Hujan turun di tengah malam, menyempurnakan dinginnya kegelapan. Pemuda itu memandangi telapak tangannya yang tampak pucat. Sudut bibirnya tertarik sedikit, menciptakan senyum lirih. Tubuhnya telah basah kuyup bermandikan air langit. Tak terpikir sedikit pun keinginan di dalam dirinya untuk berteduh atau pun mencari payung agar tubuhnya terlindungi. Dia hanya ingin waktu berlalu agar fajar kembali bersinar dan kegelapan terkalahkan. Itulah keinginannya. Namun, keinginan itu menimbulkan konsekuensi yang merugikan. Saat mentari mulai menampakkan diri, satu hari lagi dimulai. Dua puluh empat jam dalam sehari kembali terputar. Orang-orang di seluruh dunia akan memulai aktivitas kembali. Melanjutkan hidup. Bergerak karena mereka hidup. Namun, tidak dengannya.

Hanya pemuda berwajah muram dan lesu itu yang bergerak tanpa harapan. Melewati dua puluh empat jam seperti yang lain, tapi tak sedetik pun dari dua puluh empat jam itu ada untuk dirinya. Dia telah kehilangan esensi dari waktu itu sendiri. Meskipun waktu berhenti bergerak sekarang juga, tak akan membuatnya bersedih. Ia telah melalui 365 hari dalam setahun tanpa sepeserpun semangat. Bergerak sia-sia, sambil menunggu kematian. Kematian yang sebenarnya.

Pemuda itu hanya memandangi langit yang tampak sama tak peduli di manapun ia berada. Hingga suatu ketika tubuhnya yang sudah tak berharga lagi mendapati titik lelah terendah. Terduduk tanpa alas di pinggir jalan. Dilalui banyak orang bahkan tak jarang tertendang dan terinjak. Ia tak lagi merasakan sakit. Rasa itu telah meninggalkannya 365 hari yang lalu. Tubuhnya telah kehilangan indra perasa. Menjadi buta pun mungkin bukan hal mustahil yang akan terjadi kedepannya. Andai sebuah keajaiban tiba-tiba datang. Seperti kemalangan yang tiba-tiba merenggut kebahagiaannya.

Lalu, seorang gadis tiba-tiba berjongkok dihadapannya. Memandanginya dengan wajah nyaris tak berekspresi. Hanya sebentar ia berjongkok, namun pemuda itu tampak tersipu setelahnya. Tepat setelah gadis itu berdiri, ia sadar bahwa sosok itu hanya ilusi. Bangunan di seberang jalan yang sebelumnya telah memadamkan tulisan open di pintu kacanya, kembali menyala. Pemuda itu berdiri dan menyeberang jalan menuju pintu tersebut. Ternyata itu sebuah tempat yang belakangan ini ramai dikunjungi anak-anak muda untuk bermain game online. Ia pun masuk ke dalam ruangan. Semua komputer telah dimatikan. Namun, ia melihat ada sedikit cahaya di balik bilik komputer di sebelah kanan ujung ruangan ini. Ia pun mendekati bilik tersebut. Ternyata dugaannya benar. Komputernya menyala. Ia menekan tombol enter pada keyboard. Lalu munculah sebuah laman website.

Pemuda itu duduk di kursi menghadap komputer yang masih menuliskan sebuah nama website. Antara penasaran dan dorongan misterius, pemuda itu mencoba masuk ke dalam laman tersebut dan mulai menjelajah ke dunia baru. Dunia yang sebenarnya tidak sungguhan baru, karena dunia itu ada bersamanya sejak lama.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top