Chapter 9 || Be Interest

Semakin hari tingkah Safira semakin sulit diprediksi oleh Rossa. Akhir-akhir ini dia lebih senang menyendiri sambil menggambar hal-hal yang Rossa tidak mengerti. Bahkan sekedar makan bersama di kantin saja Safira enggan. Dia lebih memilih membungkus makanannya lalu menghabiskan waktu istirahat di rooftop seorang diri. Rossa pernah bertanya tentang kesibukan apa yang belakangan dikerjakan oleh Safira. Safira hanya menjawab, suatu saat dia akan mengetahuinya.

Akibat perubahan sikap itu, terciptalah jarak antara Rossa dan Safira. Mereka tidak lagi sering terlihat bersama. Sebaliknya, Rossa semakin dekat dengan Tika, Sasha dan Arista. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di sekolah seperti berkumpul di selasar dan membicarakan hal-hal menarik. Rossa akui, semenjak berteman dengan Tika, kepercayaan dirinya bertambah. Dia tidak lagi merasa takut berada di kerumunan orang banyak. Tidak ada lagi khawatir dan gelisah berlebihan. Intinya, banyak hal baik terjadi yang dulu tidak pernah dia dapatkan saat berteman dengan Safira.

Hari ini Rossa kembali berkumpul bersama Tika, Sasha dan Arista. Tika memberikan gantungan ponsel kepada Rossa, Sasha dan Arista. Sebuah gantungan dari kelopak bunga asli yang diawetkan dan dibungkus dengan akrilik. Milik Rossa dan Arista berwarna Kuning. Sedangkan Tika dan Sasha berwarna merah muda.

"Lucu banget sih ini. Thanks ya, Tik." Sasha berterima kasih.

"Jangan sampe hilang ya guys. Gantungan ini bisa menjadi tanda persahabatan kita. Best friends forever."

Rossa mengangguk antusias. Baru kali ini dia memiliki stuff persahabatan. Satu lagi hal baik terjadi di hidupnya. Mendapatkan sahabat baru. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan telah masuk. Rossa terpegun melihat pesan yang baru saja masuk itu. Rossa meredupkan layar ponselnya dan memastikan Tika dan yang lainnya tidak melihat. Karena pengirim pesan itu adalah Gafi.

"Guys, weekend nanti hang out, yuk!" ajak Tika.

 "Kemana?" tanya Rossa.

"Kemana aja, mall, kafe atau pantai. Kalian mau kemana?" tanya Tika kembali.

"Gimana kalo kafe dengan pemandangan pantai. Sekalian kita nikmatin sunset," usul Sasha.

"Boleh juga," sahut Arista.

"Lo gimana, Ros? Setuju gak?"

Rossa mengangguk. "Iya. Setuju." Tidak mungkin Rossa menjawab tidak setuju. Hang out seperti anak muda biasanya bukanlah keahliannya. Mengajukan pendapat sebuah tempat? Sangat tidak mungkin. Dia tidak tahu tempat-tempat mana saja yang sedang ramai dikunjungi anak muda. Oleh karena itu, setuju adalah satu-satunya jawaban yang bisa dia berikan.

Sebuah pesan kembali masuk. Pengirimnya pun masih sama. Rossa tidak tahu, dari mana Gafi mendapatkan nomornya. Itu terjadi begitu saja beberapa hari yang lalu. Semenjak itu, Gafi sering mengiriminya pesan. Rossa tidak masalah dengan hal itu, karena menurutnya isi pesan mereka masih normal saja. Namun, tidak dengan kali ini. Rossa tiba-tiba merasa takut. Takut ketahuan oleh Tika bahwa dirinya dan Gafi saling berkirim pesan.

Jadi kapan nih kita ke perpus kota?

Ros?

Rossa?

Kak Ros!

Rossa hanya membaca pesan Gafi lewat notifikasi. Dia tidak berani membukanya. Apa lagi membalas. Nanti saja, jika dia sudah tidak berada di dekat Tika.

    ***

Safira baru saja keluar dari bilik toilet. Ternyata di depan cermin wastafel ada Lusi, siswi kelas XI IPS 2—teman satu SMP nya dulu. Safira tidak menghiraukan Lusi, ia hanya membasuh tangannya dengan santai.

"Hai. Safira."

Safira hanya menoleh sekilas dengan raut datar.

"Akhirnya lo ketemu lagi sama sahabat lo ya. Gue gak nyangka Rossa bakal masuk SMA Wijaya."

Safira masih tidak merespon.

"Hm. Tapi kayaknya akhir-akhir gue liat Rossa lebih sering sama Tika dan gengnya. Apa mungkin karena dia bosan sama lo?"

Safira mengeringkan tangannya.

"Kasian banget sih lo. Yang sabar yah."

Safira mengeluarkan liptint dari saku, lalu memoleskan ke bibirnya.

"Kalo diingat-ingat, Rossa dulu culun banget yah. Gue jadi rindu buat ngusilin dia lagi. Haha."

Safira menutup lintintnya. Pandangannya fokus dan tajam menatap bayangan dirinya sendiri di dalam cermin. Lalu Safira menghadapkan tubuhnya ke arah Lusi yang berdiri di samping kiri.

Lusi tampak sedikit takut. Terlihat jelas karena senyum dan tawa yang sebelumnya ada tiba-tiba menghilang. Namun, Lusi masih berusaha stay cool.

"Rambut lo bagus banget, pergi ke salon mana?" meraba rambut Lusi yang menjuntai sepanjang lima jari di bawah bahu.

"Gak usah pegang-pegang rambut gue." Lusi menepis lengan Safira.

"Gue serius. Rambut lo bagus banget." kembali mengusap helaian rambut. "Saking bagusnya, pengin gue tarik sekuat-kuatnya." Menarik kencang rambut Lusi. Alhasil, teriakan kesakitan keluar dari mulutnya.

"Aaa! Lepasin gak!" Lusi ingin balas menjambak, namun lengannya di tahan oleh Safira.

Safira melepaskan tarikannya, lalu menghitung helaian rambut Lusi yang rontok dengan santai. "Tahu gak? Kalo lo sampe nyentuh Rossa, gue bisa dengan mudah buat hidup lo bernasib sama dengan helaian rambut lo ini." Membuang rambut tersebut ke wastafel dan memutar keran air agar masuk ke saluran pembuangan.

"Dasar cewek freak."

Safira terkekeh. Lalu mendekatkan wajahnya ke kuping Lusi. "Be careful, loser." Melewati tubuh Lusi dengan menabrakkan sedikit bahunya ke pundak Lusi.

Begitu kakinya melangkah ke luar dari toilet perempuan, Safira bertemu dengan Andin. Melihat dari gerak-geriknya, sepertinya Andin sudah cukup lama berada di tempatnya dan bisa dipastikan dia telah mendengarkan obrolan Safira bersama Lusi di dalam toilet.

"Hai. Andin." sapa Safira dengan ceria.

Sejenak Andin tercengang. Bingung harus merespon seperti apa karena perubahan sikap Safira yang sangat dadakan. Belum setengah menit dia selesai mendengarkan percakapan Safira dengan seseorang di dalam toilet yang terkesan mengancam. Namun, sangat ceria begitu menyapanya. Apakah ini yang disebut kepribadian penyihir Safira?

"H-hai juga, S-safira."

"Mau ke toilet?"

Andin refleks menggeleng. Padahal rencana awalnya memang hendak masuk ke dalam. Lalu seseorang keluar dari toilet dengan wajah jutek. Sepertinya gadis itulah lawan bicara Safira tadi.

Lusi melewati Safira dan Andin dengan tampang bengisnya. Andin sampai menundukkan wajah karena takut matanya bersirobok dengan sorot Lusi.

"Mau nemenin gue ke kantin gak?" tanya Safira.

Andin mengangguk.

"Oke. Let's go." Safira langsung merangkul leher Andin dan berjalan menuju kantin.

Sesampainya di kantin, Safira melihat Rossa sedang bersenda gurau bersama Tika dan kedua pengikut setianya—Sasha dan Arista. Rossa bahkan tidak menyadari kehadiran Safira. Akhirnya Safira memilih tempat duduk yang agak jauh dari Rossa agar Rossa tetap tidak menyadari kehadirannya. Tak disangka, Tempat duduknya justru berdekatan dengan Gafi dan beberapa kawannya yang sedang makan.

Posisi meja makan yang dipilih Safira memungkinkan untuknya menatap ke dua arah, yaitu Rossa dan Gafi. Dari penglihatannya sekarang, ada hal yang mencurigakan. Gafi terlihat terus menatap Rossa sambil sesekali mengetik sesuatu di ponselnya. Rossa pun tampak mencuri-curi pandang ke arah Gafi. Safira tersenyum dan mulai memahami situasi yang terjadi.

    ***

Rossa meminta Gafi menemuinya di rooftop. Dia berniat memberitahu secara langsung dan ingin memperingatkan Gafi untuk tidak usah mengiriminya pesan lagi. Selang beberapa menit, Gafi datang dengan napas yang memburu. Sepertinya dia baru saja berlari.

Gafi tersenyum manis menatap Rossa. Hal tersebut membuat Rossa memalingkan pandangannya. Rossa memantapkan diri untuk mengucapkan kalimat yang sudah dia susun di dalam pikirannya sejak tadi.

"Gafi. Gue mau ngomong."

"Iya?"

"Gue ... gue gak bisa terima ajakan lo."

"Kenapa?"

"Ehm. Gak bisa aja."

"Katanya lo tertarik, kenapa malah jadi gak bisa?"

"Iya gue tertarik, tapi gue juga gak bisa."

"Alasannya apa."

Rossa terdiam. "Gak ada alasan," jawabnya asal karena tidak mau memberi tahu alasan yang sebenarnya.

Gafi menghela napas. "Lo gak mau karena takut sama Tika?"

Rossa membulatkan sorotnya karena terkejut. Ternyata Gafi bisa menebak alasannya. Rossa kembali memalingkan wajah.

"Gue beneran gak ada apa-apa sama dia, Ros. Semua yang dia omongin soal perasaan dia ke gue itu palsu. Dia gak bener-bener suka sama gue."

"Gue tetap gak bisa, Fi. Gue gak mau kita terlihat dekat. Lo chat gue saat gue di dekat Tika aja gue takut."

Gafi kembali menghela napas. Kali ini hembusan napasnya terdengar keras. "Yaudah gue gak bisa maksa kalo lo emang gak mau."

"Maaf, Fi."

"Gue yang seharusnya minta maaf karena udah buat lo gak nyaman dan merasa takut."

"Wow. Ada syuting drama apa nih?" Safira tiba-tiba datang dan berteriak agar kehadirannya disadari oleh Rossa dan Gafi. Safira melangkah mendekati Rossa.

"Safira," ucap Rossa.

"Lo apain temen gue sampe mukanya suram gini?" tanya Safira dengan nada ketus.

Gafi tidak berniat merespon ucapan Safira. Dia hanya menatap Safira dengan raut tidak sukanya. Karena merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Gafi memutuskan pergi meninggalkan Rossa bersama Safira.

Safira menyilangkan tangan di depan dada dan menggelengkan kepalanya. Belum lama Safira menjauh dari Rossa tapi sudah banyak perubahan yang terjadi pada sahabatnya satu ini. Safira menggeleng takjub sekaligus tidak percaya.

"Kenapa?" tanya Rossa heran.

"Lo gak mau cerita, apa aja yang udah terjadi selama gue gak di dekat lo?"

Rossa mengerutkan keningnya. "Lo juga gak mau cerita, apa aja yang udah lo kerjain selama ini?"

"Kalo lo cerita, gue juga bakal cerita."

Sejenak Rossa bergeming. Lalu menatap Safira dan tertawa. Safira pun ikut tertawa.

"Kenapa lo ketawa?" tanya Safira.

"Lo juga kenapa ketawa?" tanya Rossa. Mereka pun sama-sama tak bisa menjawab alasan mereka tertawa.

    ***

Safira memandangi deretan kaktus koleksi ibunda Rossa. Kurang lebih sudah lima menit Safira berdiri menatap tanaman berduri itu. Karena penasaran, ia memegang salah satu kaktus dan tak sengaja durinya melukai telunjuknya.

"Wah, ternyata beneran tajam."

"Lo kayak manusia purba yang gak pernah liat kaktus tau gak. Ya iyalah tajam, namanya juga duri." Rossa terkekeh sambil menyediakan minum untuk dirinya dan Safira.

Rossa memutuskan mengajak Safira ke rumahnya. Selain untuk menemaninya karena ibunya akan lembur sampai malam, dia juga ingin bercerita banyak hal dan mendengarkan cerita Safira.

"Coba lo liat deh, cantik banget warna darah gue." Menunjukkan bulatan merah di puncak telunjuknya.

Rossa tercengang. "Semua darah warnanya gitu kali. Gak ada yang lebih cantik dan gak ada yang lebih jelek."

Safira tertawa.

"Kaktus lo gak beracun' kan?"

"Ya enggak lah, bego!"

Rossa semakin jengah dengan kelakuan Safira yang absurd sekali. Dia berjalan membawa minum dan beberapa cemilan ke depan televisi. Meraih remote dan mencari saluran yang menarik.

"Jadi gimana ceritanya Gafi bisa chatingan sama lo?" Safira memulai pembicaraan dengan pertanyaan bagus. "Dapat nomor lo dari mana?"

"Gak tau juga gue dia dapat dari mana. Tiba-tiba aja dia chat gue. Gue tanya dapat dari mana, gak dia jawab."

"Terus lo ladenin?"

Rossa mengangguk. "Dia lumayan asik sih kalo di chat. Obrolan kita juga nyambung."

"Terus siang tadi dia chat lo lagi pas lo lagi bareng Tika?"

Rossa kembali mengangguk. "Bener gak sih keputusan gue buat nolak ajakan dia ke perpus?"

Safira menguyah dan menelan cookies terlebih dahulu. "Gak tau."

Rossa sudah menunggu jawaban Safira dan berakhir kecewa. Memang salah memutuskan curhat kepada orang seperti Safira. "Kasih gue sedikit pendapat, kek!"

"Yakin, lo mau tahu pendapat gue?"

"Iya."

Safira menyeringai. "Kalo gue jadi lo, gue gak bakal nolak. Toh cuma pergi ke perpus. Bukan ke pantai, bioskop atau kafe. It's just Library, right? Dia gak ngajak lo pergi ke tempat-tempat yang biasa dipake orang buat selingkuh, wkwk!"

"Iya juga sih."

"Dan kalo pun ketahuan, lo bisa buat alasan ketemu Gafi secara gak sengaja di sana. Simple' kan? Lagian dia juga bilang ke elo kalo dia ama Tika nothing special. Yaudah gas aja. Pelakor lagi musim kok sekarang. Hahaha."

Sekali lagi Rossa tercengang. Pendapat Safira benar-benar ... menyesatkan.

"Saran dari gue nih ya. Lo ketemuan aja sama dia di sana. Gak usah berangkat bareng. Kan yang penting di Library nya, bukan di perjalanannya."

Kali ini Rossa mulai mencerna ucapan Safira. Menurutnya, saran Safira lumayan masuk akal. Tapi tetap saja Rossa belum punya cukup keberanian.

"Kalo lo masih takut juga, gue bisa temenin lo sampe Gafi datang. Begitu dia datang, gue menjauh biar dia gak tahu kalo lo datang bareng gue. Gimana, mau gak?"

Rossa bingung harus menerima saran Safira atau tidak. Dia pun terdiam. Masih berproses mencerna dengan baik.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top