17. Ability

Happy baca 💚
Sorry for typo, no edit langsung update.
.
.
.

"Akan saya pikirkan nanti soal permintaan kamu barusan, Tara." Erlangga merespons permintaan Tara tentang penambahan klausul. Lelaki itu tersenyum tapi sorot matanya menyirat datar.

"Harus Mas, itu perintah, bukan permintaan." Tegas Tara. Memindai ekspresi Erlan, Tara bisa menarik kesimpulan, sepertinya lelaki itu akan berusaha menyusun strategi lain untuk melawannya. Tarikan rahang sekilas lelaki itu disertai tatapan kosongnya cukup menarik kesimpulan kalau Erlangga sedang memberinya senyum palsu. Karena mata adalah ensiklopedia hati yang bisa memetakan perasaan seseorang.

Tawa intimidasi Erlangga berderai. "Siapa kamu berani memerintah saya, Tara?"

"Aku?" Gistara menunjuk dirinya sendiri. "Calon istri kamu!" Ledeknya, meski merasa sedikit tak rela menyebut dirinya calon istri Erlangga.

"Di atas kertas. Jangan lupakan itu, Gistara."

Gistara mengangkat kedua bahunya bersamaan, tanda dia tidak terlalu acuh dengan ucapan Erlan barusan.

Tidak ada obrolan lagi selama sisa perjalanan pulang. Gistara memilih mengunci mulutnya, sementara Erlangga memilih fokus pada setir kemudi.

Bergeming seperti ini membuat Gistara larut dalam pikirannya sendiri. Kalau dia menyebut Erlangga gila karena membuat perjanjian tak masuk akal itu, lantas apa dirinya juga termasuk gila? Karena menyetujui dan ikut andil di dalamnya.

Yang pasti sekawanan rasa bersalah menerobos bilik jantungnya. Merasa bersalah pada tante Saras yang sudah sangat baik padanya. Walau baru pertama kali bertemu, tapi mamanya Erlangga menyambutnya penuh kehangatan. Perempuan lima puluh tahunan itu seakan menemukan partner ngobrol yang asyik sejak bersemuka dengannya. Sebagai gadis yang asing, Gistara merasa itu sebuah kehormatan. Di luar sana pasti banyak gadis mendambakan bisa sedekat itu dengan Saras Danapati. Calon ibu mertua dambaan banyak para perempuan. Siapa yang tidak ingin bersanding dengan putra tunggal Danapati? Erlangga Danapati yang banyak dikagumi kaum Hawa dengan segala yang melekat pada diri Erlan.

Sialannya Gistara pernah masuk salah satu dalam daftar perempuan pengagum Erlangga. Tolong, biar Gistara ralat, itu dulu, saat dirinya masih belasan tahun, masih belum paham apa itu jatuh cinta. Yang dia rasakan saat itu dadanya selalu berdebar-debar setiap kali Mas Naka pulang membawa teman-temannya. Dari sekian banyak teman dekat Mas Naka, hanya satu orang yang menjadi pusat perhatian Gistara, Erlangga Danapati.

Belasan tahun lalu Erlangga Danapati adalah tipe calon pacar ideal. Angan gadis yang baru kelas tujuh, yang baru pertama merasakan gelenyar menyenangkan bernama jatuh suka, maka Gistara mendeklarasikan kalau Erlan adalah kecengannya kala itu.

Tipikal remaja yang jatuh suka, berusaha cari perhatian setiap kali Erlan datang, padahal jelas yang ingin ditemui lelaki itu adalah Mas Naka.

Gistara pernah pura-pura terjatuh cuma karena ingin dinotice Erlangga. Pernah juga suatu ketika saat sedang makan marshmellow sembari nonton drama kesukaannya, Erlangga jail menyahut permen lunak itu dari tangannya. Respons Gistara? Menangis, antara kaget, setelah sekian lama untuk pertama kali, akhirnya Erlangga mendekat dan langsung menebar kejailan.

Saat kelas sembilan, ketika akan lulus dari bangku menengah pertama, Gistara sengaja menulis surat cinta, berisi semua tentang perasaannya pada Erlangga. Namun, belum sempat surat itu sampai ke tangan Erlan, Gistara harus menerima kekalahan saat Erlangga datang bersama perempuan yang dia klaim sebagai pacar.

Patah hati pertama Gistara sekaligus menjadi ikrar kalau dia tidak akan lagi mengingat nama Erlangga. Dia buang jauh-jauh nama Erlan dari daftar laki-laki yang pernah singgah di hati. Sialnya lagi cinta monyet itu hadir di hadapannya setelah belasan tahun berlalu, di saat Gistara sudah berhasil melupakan semua tentang Erlangga. Dan, setelah tahu semuanya tentang Erlangga Danapati, Gistara jadi menyesal, kenapa dulu bisa sesuka itu pada Erlangga.

"Sudah sampai, Tara. Gistara?!" Erlangga sampai dua kali menegur Tara. Perempuan di sebelahnya malah asyik termenung sampai tidak menyadari jika mobil sudah sampai di pelataran kediaman orangtua Gistara.

"Kamu langsung pulang saja, Mas." Gistara berkata seraya ancang-ancang akan turun. Erlangga menahan langkahnya, membuat kening Tara mengkerut, bingung.

"Saya antar ke dalam, Tara. Sekalian pamit sama mama papa kamu."

Gistara menggeleng. Lihat saja, laki-laki culas satu itu, sedang memerani seakan menjadi cowo baik nan sopan, mengantar anak gadis orang sekalian pamit pada orangtua si gadis.

"Enggak usah Mas, aku ngantuk, capek, mau langsung ke kamar."

"Saya enggak peduli, Tara. Yang penting saya harus ketemu dan pamit sama orangtua kamu. Saya enggak mau dicap sebagai laki-laki kurang sopan, setelah membawa anak gadis keluar, tidak ada basa-basi untuk pamit." Erlangga kukuh, sementara Gistara refleks mencibir lelaki itu. Pencitraan yang luar biasa.

Adegan saat baru tiba di rumah orangtua Erlangga terulang lagi ; lelaki itu mengambil tangan Tara tanpa basa-basi, menggandengnya memasuki rumah besar milik Andrew dan Evelyn Padmaja.

Erlan tidak peduli meski Tara memberot ingin melepas gandengannya. Lelaki itu baru melepasnya tepat saat keduanya sampai di depan pintu utama.
Erlan merapal salam yang langsung dibalas papanya Tara.

"Wa'alaikumussalam," sahut papanya Tara. "Bagus, tidak lebih dari jam sepuluh malam sudah diantar pulang, terima kasih  ya, Erlan." Pengimbuhan sang papa direspons biasa saja oleh Tara. Sementara Erlangga bereaksi dengan senyum serta anggukan.

Lagi pula Gistara pikir, dia dan Erlan bukan sepasang kekasih, jadi untuk apa bertemu lama-lama di luar. Lebih membuat Tara kesal, saat dia ditinggal di rumah lelaki itu bersama mamanya Erlan, tapi malah Erlangga sibuk menemui pacarnya yang sedang sekarat - ralat, sakit.

"Pa, Tara langsung ke kamar, ya." Pamit Gistara.

"Loh, enggak mau ngobrol dulu sama Erlan sama papa, Tar?"

"Udah ngobrol tadi Pa, kalau kebanyakan khawatir nanti Mas Erlan gumoh."

Andrew menertawai statement sang putri. Erlangga ikut tertular tawa papanya Tara. Lelaki itu mengaminkan kalimat Tara lewat anggukan singkat.

"Iya Om, kami sudah ngobrol banyak tadi."

"Kalau tidak keberatan Erlan ngobrol sama saya dulu, gimana?"

"Baik, Om."

Gistara menahan langkah. Dia tahu, itu bukan permintaan papanya, tapi sebuah perintah. Dia jadi penasaran kira-kira apa yang akan dibicarakan papanya dengan Erlangga?

"Kenapa Tara? Katanya mau langsung ke kamar?" Pergerakan Gistara mendapat interupsi papanya. "Mumpung kamu masih di sini, sama buatin kopi buat papa sama Erlan."

Ah! Tara jadi menyesal kenapa tidak langsung melesat pergi sejak beberapa menit lalu.

"Mama kemana emangnya, Pa?"

"Mama kepalanya pusing, makanya istirahat duluan habis Isya tadi." Spoiler papanya dijawab dengan kata 'oh' oleh Tara. Gadis itu beranjak menuju kitchen yang jaraknya tidak terlalu jauh dari ruang tamu. Di dapur bersih ini biasanya sang mama membuatkan minum untuk tamu yang datang. Sekadar menyeduh kopi atau teh, atau memanggang roti. Tangan Gistara cekatan meracik kopi yang akan dia masukkan ke dalam coffe maker. Tidak butuh waktu lama, dua cangkir espresso masing-masing disertai tatakan, siap Gistara bawa ke ruang tamu.

"Kopinya, Pa!"

"Punya papa yang mana?"

"Sama saja, Pa. Dua-duanya enggak Tara kasih gula, silakan tuangin gula sendiri, Mas Erlan." Atensi Tara berpindah pada Erlangga.

"Espresso lebih enak tanpa gula, Nak Erlan," tukas papanya Tara.

Erlangga manggut-manggut. Sebagai pencinta kopi, dia sudah terbiasa menenggak cairan hitam itu tanpa gula.

"Terserah deh, Tara mau ke atas, Pa." Gistara akan melangkah.

"Cuma papa yang dipamitin, Tar?"

Refleks mata Gistara berotasi. "Pamit ke atas dulu ya, Mas Erlan." Senyum yang dipaksa tampil di depan calon suami ... di atas kertas.

Sepeninggal Gistara, di ruang tamu dengan sorot lampu temaram, Erlangga duduk berseberangan dengan papanya Tara. Membunuh canggung yang mulai menginvasi, dia lontarkan preambul, "Ada yang mau saya utarakan pada Om Andrew ... menyangkut hubungan saya dengan Tara." Gaya bicaranya kaku sekali. Maklum, karena baru kali ini Erlan bersemuka sekaligus ingin membicarakan hal serius di hadapan ayah seorang gadis. Pengalaman pertama selalu menciptakan rasa gugup. Padahal dia dan Gistara tidak ada koneksi perasaan, tetap saja canggung itu mengakuisisi Erlangga.

"Santai saja, Nak Erlan."

"Saya ... saya sangat serius dengan Tara, Om, kalau boleh dalam waktu dekat ini saya ingin melamar Gistara." Harusnya kalimat ini tertuju pada orangtua Naima. Andai saja mamanya merestui hubungan Erlan dengan Naima.

Andrew Padmaja menakar ekspresi Erlan. Seperti menimbang keseriusan lelaki itu dari cara bicara serta tatapan matanya.

"Apa yang membuat kamu yakin dengan putri saya, Erlan?" Pertanyaan ini lebih mirip sebuah cecaran.

Erlangga sempat gelagapan sebentar. "Saya ...." Menggantung kata. "Saya mencintai Gistara, Om." Kebohongan besar telah ditebar Erlan. Benar kan, bohong itu candu. Sekali berbohong akan muncul kebohongan lain. Dari yang kecil lama-lama jadi bohong besar dan banyak. Erlangga tidak punya pilihan lain. Cinta Erlan mutlak hanya untuk Naima. Mungkin, dia akan meminta maaf pada kekasihnya itu, karena sudah lancang melontarkan pengakuan cinta untuk Gistara, meski konteksnya hanya pura-pura.

"Sudah berapa lama, Nak Erlan saling kenal dekat sama Tara?"

"Saya mengenal Gistara sudah sejak lama, Om, dari belasan tahun lalu, waktu saya masih SMA dan Tara masih kira-kira delapan atau sembilan tahun."

"Loh, kok?" Andrew Padmaja memamerkan wajah kagetnya.

"Saya dan Naka, kami berteman baik dan lumayan dekat dulu, Om."

Mendengar pengakuan Erlan, rona Andrew berubah cepat. Rasa penasarannya diganti menjadi tawa lebar. "Pantesan saya seperti tidak asing sama wajah kamu, Erlan. Jadi kamu teman baiknya Naka?"

"Iya, Om."

Andrew Padmaja manggut-manggut. Ekspresinya memancar lega mendengar penuturan Erlan, bawah lelaki itu mengenal Gistara putrinya dari jauh hari sebelum ini.

"Jadi, apa niat saya melamar Gistara diperbolehkan, Om?" Erlangga ini memang tipikal yang tidak sabaran. Dia harus bisa mendapat jawaban papanya Tara malam ini juga.

"Sebentar, kita baru bertemu Erlan, meski pun kamu sudah mengenal Tara sejak lama, tapi saya butuh meyakinkan diri. Ingat, Gistara itu putri saya satu-satunya, sebagai orangtua tentu saya ingin yang terbaik untuk putri saya."

"Iya, Om."

"Kamu biasanya pulang ngantor jam berapa, Erlan?"

"Enggak pasti Om, kadang bisa cepat, tapi kalau kerjaan sedang overload bisa sampai malam baru bisa pulang."

"Satu minggu ini apa kamu bisa usahakan untuk pulang cepat?"

Kening Erlan refleks mengkerut oleh rasa bingung. "Akan saya usahakan, Om," sahutnya. "Kalau boleh tahu, kenapa Om Andrew meminta saya untuk pulang ngantor cepat?"

Andrew Padmaja tersenyum tipis sebelum jawabi penasaran Erlan. "Pulang ngantor kamu langsung ke sini ya, kita salat Maghrib dan Isya di sini, dengan kamu sebagai imamnya."

Mampus kau Erlan!
Satu detik, dua detik, lima detik Erlangga bergeming, masih mencerna kalimat papanya Gistara. Maksudnya, dia diminta jadi imam salat? Sungguh, ini kiamat bagi Erlan. Meski terlahir sebagai muslim, tapi dia jarang salat. Dalam seminggu paling hanya di hati Jumat Erlan menginjak lantai masjid untuk salat Jumat berjamaah.

Papanya Tara menatap Erlan dengan sorot serius. Paruh baya itu lantas kembali berkata-kata,

"I have to see for myself if you have the ability to be a good leader for my daughter in the future. Kamu bisa meyakinkan saya kalau kamu calon imam yang baik untuk putri saya, Erlangga Danapati...."





_____







06-02-2025
1700

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top