Lesti - Kucing

Lesti

Hari minggu di Kampung Nelayan, para nelayan masih saja mencari ikan, ibu-ibu masih menggosip, dan anak-anak masih berusaha mengambil kok yang tersangkut di pohon.

Lesti adalah seorang siswi SMA. Dia introvert, alias jelek. Nggak ada yang mau berkawan dengannya. Katanya sih, mereka semua takut patah tulang kalau bikin Lesti marah. Badannya saja macam bayi gajah.

Siang-siang begini, biasanya ia duduk sendiri di pantai, menikmati pergerakan ombak yang berkejaran, ditemani kerupuk ikan tenggiri oleh-oleh bapak. Terus begitu sampai mamak manggil dan minta Lesti siapin teh buat teman-teman arisannya.

Byur, byur, begitu tenang dan klasik.

"Halo."

Lesti refleks menoleh. Di sampingnya saat ini, seorang lelaki berambut hitam cepak tersenyum. Tampan, semua aspek dalam dirinya. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki adalah kategori tampan untuk Lesti. Dia seperti ... dibuat khusus untuk Lesti seorang.

Ah, kenapa orang seperti Lesti mengharapkan pangeran?

"Setahu saya, remaja seperti kamu akan pergi ke kota untuk berkencan pada hari Minggu," ujar Lesti. Tanpa sadar cara bicaranya jadi sok marah begitu.

"Begitukah kebiasaan orang-orang sini? Saya dari kota, sedang liburan ke rumah nenek." Lelaki itu tersenyum, memamerkan giginya yang ... indah. "Karena saya tak punya teman, jadi mohon bantuannya!"

Pemuda itu mengulurkan tangannya. "Nama saya Bayu."

Lesti menyambut uluran tangannya dan tersenyum diam-diam. "Saya Lesti."

Bayu duduk di sampingnya, ikut menatap ke arah ombak. "Sedang apa kamu sendirian di sini? Kenapa tidak ikut ke kota?"

Lesti menoleh malas. "Mereka yang pergi ke kota, kalau bukan liburan keluarga ya pasti kencan. Bapak lagi cari uang di pasar. Kalau emak lebih pilih kumpul bareng kawan ngegosip. Pacar? Mana punya."

Bayu manggut-manggut, sok paham mendengar penjelasannya. Lesti lanjut mengunyah kerupuk ikan tenggiri.

"Mau?" Lesti menawarkan cemilan renyah yang nikmat itu. Bayu bergeming saat ditanya. "Hei?" Lesti melambaikan tangan di depan Bayu.

Tiba-tiba, lelaki itu menarik tangan Lesti dengan semangat. Bayu mengajaknya ke sebuah vespa butut yang diparkir di dekat pohon kelapa.

"Ada apa ini, oi?"

"Mau jalan-jalan ke kota, seperti anak-anak lain?" Bayu tersenyum seraya menaiki vespa.

Lesti tersenyum, dengan bangganya ja menampakkan gigi kuningnya. "Ayo!" Tut tut tut! Vespa batu bergerak menembus hati Lesti.

Senja di kampung nelayan, matahari begitu indah. Apalagi kalau dinikmati setelah hari-hari istimewa, dengan orang yang istimewa juga.

By : aquanianers

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top