3-4 | Homecoming?

Dylan Grayson tidak bisa tidur nyenyak sejak bom waktu di dalam dirinya meledak. Setelah melihat Abby mencium Sam, pemuda itu melampiaskan amarahnya pada Chloe. Padahal, gadis itu adalah satu-satunya orang yang berada di pihaknya, tetapi pemuda itu mendorongnya menjauh.

Pemuda itu beranjak dari ranjang, keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang keluarga, tepat di mana ibunya berada.

Nancy Grayson duduk bersantai di sofa, menikmati secangkir teh chamomile. Atensi wanita paruh baya itu tertuju pada televisi, tayangan tersebut menampilkan siaran berita lokal.

[Uni Emirat Arab Berlakukan Kerjasama Pertahanan Dengan Amerika Serikat]

"Uni Emirat Arab sudah memberlakukan perjanjian kerja sama dalam bidang pertahanan dengan Amerika Serikat. Perjanjian tersebut akan berkontribusi pada kemajuan hubungan kerja sama ekonomi, politik, dan militer antara kedua negara dalam masa-masa kritis"

Pemuda itu berjalan menuju dapur dan mengambil kotak karton susu cokelat 1,5 liter, kemudian menuangkannya ke dalam gelas. Setelah itu, ia bergabung bersama ibunya di ruang keluarga.

"Hi, Mom," sapa Dylan lesu.

Atensi Nancy kini tertuju pada putra semata wayangnya. "Hi, Honey."

Pemuda itu duduk di samping sang ibu sambil menghela napas berat, kemudian mulai meneguk susu cokelat.

"Mukamu lesu. What happened?" tanya Nancy.

Dylan menoleh. "Apakah aku terlihat sekacau itu?"

Nancy tertawa kecil. "You're my son. Tentu saja aku tahu kalau kau sedang dalam masalah!"

Pemuda itu mendesah pelan, semakin menunjukan kegelisahannya. Nancy tersenyum, ia mengelus lembut pucuk kepala putranya dan tersenyum hangat.

"Kau mau menceritakannya pada Mom?" tanya wanita itu.

"Hanya hal kecil. It's okay, Mom."

Wanita berambut cokelat sebahu itu tersenyum. "Sekecil apa pun, Mom akan mendengarkanmu."

"Baiklah, jika kau memaksa. Aku penasaran, bagaimana cara mendapatkan maaf dari seorang gadis?" tanya Dylan.

Nancy tertawa, tidak menyangka jika putranya sedang terlibat masalah dengan seorang gadis.

"Mom!" cicit Dylan.

"Apakah dia pacarmu?"

Dylan menggeleng. "No! She's my friend. Aku tidak sengaja membuatnya marah karena perkataanku. I'm so stupid!" Pemuda itu mengacak-acak rambutnya.

"Kau tidak mengucapkan kata-kata kotor, 'kan?" Mendadak, Nancy menginterogasi putranya.

"No, no, no, itu bukan kata-kata kotor, tapi ...." Dylan meneguk saliva. "Aku tidak sengaja menaikkan nada bicaraku dan menghakiminya sembarangan. Aku sangat menyesal, padahal ia selalu berbuat baik padaku."

"Aaaaw, it's okay. Bermusuhan dengan teman adalah hal yang wajar."

"Tapi aku sudah buat kesalahan yang fatal." Dylan mengembuskan napas berat. "Bagaimana jika ia tidak mau memaafkanku?"

"Kurasa kau harus membiarkannya sendirian terlebih dahulu hingga emosinya mereda, baru kembali meminta maaf." Nancy memberi saran.

"Apakah itu akan berhasil?" tanya Dylan.

Nancy tersenyum. "Jika kau meminta maaf dengan tulus, Mom yakin ia akan mengerti dan memaafkanmu."

"Tapi ...." Dylan menjeda perkataannya. "Bagaimana ia tahu kalau permintaan maafku itu tulus atau tidak?"

"Oh, believe me. She's a girl, she will know."

"Apakah itu yang selalu Dad lakukan padamu?" tanya pemuda beriris cokelat gelap itu.

Wanita itu terkekeh dan mengangguk. "Yeah. Sean selalu meminta maaf dengan tulus ketika emosiku sudah mereda. Jadi, kami selalu kembali berbaikan. Tidak ada gunanya berlama-lama menyimpan gengsi."

Dylan tersenyum tipis. "Seandainya bisa semudah itu."

Nancy melingkarkan lengannya di tubuh putranya, membawanya ke dalam pelukannya. "Tidak akan tahu kalau tidak dicoba, 'kan? Yang terpenting, kau sudah menyadari kesalahanmu dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi."

"Kau benar, Mom," lirih Dylan, "baiklah, aku akan mencobanya."

Hening, tidak ada respons dari Dylan. Mereka berdua hanyut dalam kesunyian, masih fokus pada siaran televisi.

"I miss him," bisik Dylan.

"Me too." Nancy mengangguk. "Every single day."

"Kira-kira, apa yang sedang Dad lakukan di surga?" tanya Dylan.

"Mungkin Sean sedang makan glaze donut sebanyak yang ia mau, mengingat itu makanan favoritnya," jawab Nancy.

"Yeah, dulu Mom selalu melarang Dad untuk memakan glaze donut banyak-banyak karena kandungan gulanya yang tinggi."

"Keluarga kita punya turunan diabetes, mau bagaimana lagi?" ujar Nancy, "kurasa Sean sudah sangat bahagia tinggal di tempat barunya."

Perlahan, Dylan menyunggingkan senyum, pada akhirnya tertawa. Kini, mengingat Sean Grayson tidak lagi membuatnya sedih. Justru sebaliknya, hatinya menjadi hangat dan damai ketika mengingat sosok pria itu, figur seorang ayah yang selalu dibanggakannya.

Jika misinya dengan Chloe berhasil, pemuda itu dapat mengembalikan Sean Grayson kembali ke dunia. Namun pertama-tama, pemuda itu harus berbaikan dulu dengan gadis itu, 'kan?

*****

Keesokan paginya, koridor Moorevale High School tampak berbeda dari biasanya. Di dinding, banyak sekali elemen dekorasi berwarna biru serta bendera-bendera kecil yang tertempel di sana. Dua buah spanduk berwarna biru dan putih tergantung di salah satu sisi tembok.

[Homecoming Is Right Around The Corner! Grab Your Date!]

[Final Homecoming Basketball Game: Moorevale High vs Wittenberg High]

Kedua netra Dylan meneliti seluruh dekorasi yang dibuat oleh homecoming committee sekolahnya. Pemuda itu nyaris lupa malam pesta dansa sekolah akan segera tiba. Selain itu, tim basket sekolah juga akan bertanding final di malam itu. Banyak sekali siswa yang berlalu-lalang membicarakan tentang pertandingan tersebut.

Tiba-tiba Dylan mengingat Sam si Dewa Basket Moorevale High, pemuda yang mematahkan hatinya tempo hari lalu, seseorang yang mencium pujaan hatinya. Hal itu membuat luka di hatinya kembali terbuka.

Pemuda itu berhenti di depan loker untuk mengambil beberapa textbook. Setelah menekan kombinasi angka pada gembok di lokernya, pemuda itu membuka pintu dan mengambil beberapa benda yang menurutnya penting.

"Dylan!"

Dylan menutup pintu, kemudian menoleh ke sumber suara, seseorang yang familier baru saja menyapanya.

"Oh, hai, Abby," jawabnya gugup.

Gadis berambut pirang itu berjalan menghampirinya bersama Sam.

"Ke mana kau tempo hari lalu? Kami menunggumu seharian di gym!" ucap Sam tanpa basa-basi. "Kami langsung pulang ketika seluruh lampu di sekolah padam!"

"Yeah, ponselmu juga tidak aktif. Kita baru bertemu hari ini karena terpotong akhir pekan," tambah Abby.

"Kau juga tidak membalas pesanku!" seru Sam.

"Hei! Kukira hanya pesanku saja yang tidak kau balas!" seru Abby juga.

"Whoaaa, easy, guys!" Dylan menginterupsi. "Aku baik-baik saja, kalian tidak perlu khawatir."

"Bohong!" Abby menekuk wajahnya.

"Aku paham jika kau ingin berduaan dengan Chloe, tapi bisakah kau kabari kami terlebih dahulu agar kami tidak menunggumu seharian?" Sam meninggikan suaranya.

"Sttt!" Dylan mendesis, ia meletakkan telunjuknya di bibir. "Aku dan Chloe hanya teman. jangan sembarangan membuat rumor!"

"Benarkah? Kukira kau sedang melakukan homecoming proposal untuk gadis itu," ucap Abby.

"Homecoming proposal?" Dylan mengernyit.

"Yeah, kau tahu, kau berlutut di depannya dengan sebuket bunga mawar dan bertanya 'Chloe, maukah kau pergi ke homecoming bersamaku?' something like that?" Sam mengedikkan bahu.

"Semua orang di sekolah ini melakukannya, tentu saja dengan cara yang berbeda-beda!" lanjut Abby.

Dylan mengangguk berkali-kali. "Yeah, yeah! Aku tahu apa itu homecoming proposal. But, no. Untuk apa aku melakukan itu?"

"Karena homecoming hanya tinggal beberapa minggu lagi dan kau ingin menjadikan gadis itu sebagai pasanganmu?" tanya Abby.

Dylan mengembuskan napas kasar. "I told you. Aku tidak punya perasaan seperti itu untuk Chloe!"

"Aw, really?" Abby merengut. "Sedikit pun?"

"Yeah!" seru Dylan.

"Lalu, mengapa kau banyak menghabiskan waktu dengannya akhir-akhir ini?" tanya Sam.

"Itu karena—"

Tiba-tiba, bel masuk kelas terdengar di seluruh penjuru koridor.

"Oh, bel masuk sudah berbunyi." Dylan mengalihkan pembicaraan.

"Kau hutang satu penjelasan pada kami, Grayson! Stop Burger, sepulang sekolah!" Abby menunjuk Dylan tepat di wajahnya.

Dylan bingung. Apa yang harus pemuda itu katakan pada kedua sahabatnya? Ia tidak mungkin menceritakan hal yang sejujurnya, 'kan? Tentang penyelidikannya dengan Chloe?

"Yeah, yeah, alright!" Dylan menjawab seadanya. "Tapi tidak sekarang, oke?"

"Why not?" tanya Sam.

"Mom menungguku di rumah. Hari ini giliranku yang membuatkannya makan malam," jawabnya bohong.

"Jadi kita tidak akan hangout hari ini?" tanya Abby.

"Yeah, sorry. Kita hangout besok saja, oke?" pinta Dylan.

Sebenarnya, Dylan berniat untuk mengobrol empat mata dengan Chloe, menjelaskan segalanya dan kembali memohon maaf secara layak.

Abby mengedikkan bahu. "Fine."

Sam menoleh ke arah Abby. "I gotta go. Kita mengambil kelas yang berbeda pagi ini, 'kan?"

Gadis pirang itu mengangguk. "Yeah." Kemudian menoleh ke arah Dylan. "Tapi aku dan Dylan akan bertemu lagi di kelas Fisika siang ini."

"Oh, y-yeah, right," jawab Dylan gugup.

Dylan hampir lupa bahwa ia mengambil kelas yang sama dengan Abby hari ini. Menyebalkan sekali!

"See ya after school." Abby berbisik pada Sam.

"See ya!" Sam balas berbisik, secara tiba-tiba mengecup bibir gadis itu cepat.

"Tunggu! Ada apa ini?" ucap Dylan refleks.

Kedua sahabatnya itu menoleh perlahan. Sam tertawa kecil sedangkan Abby tersenyum simpul dengan semburat merah di kedua pipinya.

"Oh, yeah, kami belum sempat memberitahumu. Kini, kami berkencan," jawab Abby.

"What?" Dylan terkejut.

"Dan kami akan pergi ke homecoming bersama-sama," tambah Sam.

"Oh!" Dylan memaksakan untuk tersenyum lebar. "Congrats, you two!" Kemudian pemuda itu tertawa canggung.

"Thanks!" Abby tersenyum.

"Mengapa kalian tidak memberitahuku?" tanya Dylan.

"Kami ingin memberitahumu, tetapi kau menghilang berhari-hari!" gerutu Sam.

"Sorry, sorry. I have a lot in my mind. By the way, congrats again!" ucap Dylan seadanya.

Sam tersenyum jahil, ia menyikut lengan Dylan. "Sebaiknya kau segera mencari homecoming date sebelum gadis-gadis cantik di sekolah ini diambil orang lain!"

"Ha ha ha." Dylan tertawa hambar.

Setelah puas bercakap-cakap, ketiga remaja itu berpisah dan berjalan menuju kelas masing-masing.

Dylan merasa kesal setelah mendengar ucapan Sam. Mencari homecoming date apanya? Gadis yang Dylan inginkan justru sudah diambil oleh dirinya! Kurasa pemuda itu tidak akan datang ke pesta dansa dan lebih memilih untuk tidur di rumah.

Siders gapapa ga comment, tapi ⭐-nya diklik ya! It means a lot to me, thank you so much💙

*****

GLOSSARIUM

HOMECOMING: Tradisi tahunan yang biasanya diadakan di sekolah menengah atas (SMA) di Amerika. Dimulai dengan serangkaian pertandingan olah raga dan diakhiri dengan pesta dansa sebagai penutup.

Buat yang nanya, apakah part ini terinspirasi dari Spiderman Homecoming?

Jawabannya adalah ... enggak juga.

Homecoming emang tradisi anak sekolah di barat dan di setiap ceritaku pasti ada homecoming😁 buat yang baca WS sama Riflettore pasti tau. Huehehe

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top