3-10 | Fireflies

"Jadi, aku pernah menonton sebuah series di televisi," ucap Chloe.

Dylan menoleh ke arah gadis di sampingnya. "Series tentang apa?"

"Ada dua orang remaja yang menyelidiki mayat di sebuah kota kecil. Mereka menelusuri hutan di malam hari. Tiba-tiba, seekor werewolf datang dan menggigit salah satu dari mereka." Chloe menyelesaikan ceritanya.

"Apakah anak yang digigit itu akhirnya mati?"

Chloe menggeleng. "Tidak. Tentu saja ia berubah menjadi werewolf juga!"

Dylan terkekeh. "Poor guy. Ia pasti diasingkan oleh teman-teman sekolahnya."

"Sebenarnya ia merahasiakan identitasnya dan menjadi seekor alpha pada akhirnya. Remaja itu menggigit orang lain lagi dan merekrut werewolf baru untuk bergabung ke dalam kawanannya." Chloe kembali bercerita.

"Menjadi seorang alpha terdengar menyenangkan." Dylan menyeringai.

Chloe memutar bola matanya. "Oh, trust me. Being a werewolf is a curse!"

"Well, kita aman. Sekarang bukan bulan purnama. Tidak ada werewolf yang akan menggigit kita."

"Yeah, tapi serigala sungguhan yang akan menerkam kepalamu," sarkas Chloe.

Pemuda itu terkekeh geli, masih terus berjalan masuk ke dalam hutan. Partikel 201X masih menyelimuti tubuhnya, memberikan penerangan untuk mereka. Sebenarnya, posisi mereka dengan perbatasan hutan hanya berjarak beberapa meter saja, tetapi Chloe selalu merasa khawatir. Ia menengok ke belakang beberapa kali, memastikan tidak ada yang mencuri mobil Quentin.

"Where are we going?" tanya gadis itu.

"Ke sarang werewolf."

"Seriously?"

Dylan terkekeh. "Just kidding, aku hanya ingin tahu apakah tempat ini bisa dipakai untuk latihan atau tidak," ucapnya bohong.

Chloe berhenti berjalan. "Kurasa tempat ini cukup luas untuk dijadikan tempat latihan. Kita tidak bisa pergi lebih jauh lagi, Grayson."

"Bisa kah kita berjalan sedikit lagi?"

Chloe menggeleng. "Bad idea!"

Dylan memutar tubuhnya ke arah Chloe. "Ayolah! Kau tidak seru untuk diajak berpetualang!"

"Kau bilang kita tidak akan berjalan jauh-jauh!" keluh Chloe.

"Well, apa hal buruk yang akan terjadi? You have me and my superpower!"

"Kalau begitu, pergilah sendiri! Terakhir kali menelusuri hutan sembarangan, aku harus terbaring koma selama empat hari!" Chloe memutar balik tubuhnya dengan jengkel dan berjalan menuju mobil.

"Hey, Wilder!" panggil Dylan. "W-wait! Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu!"

Chloe tidak menjawab, melainkan terus berjalan menjauh. Dylan mengerang putus asa, pada akhirnya ia berjalan menyusul Chloe.

"Chloe, wait!" serunya.

Lagi-lagi, tidak ada jawaban. Dylan membuat gadis itu kesal dua kali malam ini.

"Oh, come on!" gerutunya.

Dylan berjalan dua kali lebih cepat, kemudian berusaha meraih pergelangan tangan gadis di depannya.

"Hei, berhenti!" titahnya ketika berhasil meraih lengan Chloe.

Gadis bersurai merah itu berbalik dan bertanya dengan ketus. "What do you want, Grayson?"

"Um, tutup matamu," ucapnya gugup.

"What?" Chloe mengernyit.

"Just do it!"

Chloe mendengkus kesal, ia melakukan apa yang pemuda itu perintahkan.

Dylan membuka telapak tangannya lebar-lebar, cahaya putih kebiruan yang berpendar di seluruh tubuhnya meredup, berpindah ke arah lengannya. Dari sana, hadir butiran-butiran cahaya kecil yang berterbangan di udara.

Ketika butiran cahaya itu mulai berterbangan ke arah Chloe, Dylan berseru, "Look! Fireflies!"

Gadis itu membuka kedua netranya, ia mendongak, menoleh ke kanan kirinya yang kini dipenuhi oleh semacam kawanan binatang bercahaya. Ketika Chloe menyentuh salah satunya, ia menyadari bahwa benda tersebut bukan lah kunang-kunang.

Chloe menoleh ke arah Dylan. Wajahnya dipenuhi oleh berjuta tanda tanya sekaligus kekaguman.

"You did this?" tanyanya.

"Yeah," jawab Dylan. "Kurasa semua ini berhasil membuatmu mendengarkanku."

"Bagaimana bisa kau melakukan semua ini?"

Dylan mengusap tengkuk lehernya. "Aku berlatih beberapa kali sebelum kita pergi."

"Simpan kekuatanmu, aku tidak ingin kau kehabisan energimu seperti tadi!"

"Dan meninggalkanmu sendiri lagi?"

"Yeah!" seru gadis itu. "I was freak out, okay?"

Dylan mengedikkan bahu. "It's okay. Tidak butuh tenaga banyak untuk melakukan ini."

Gadis itu tidak dapat menahan diri untuk tersenyum. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, berusaha menyentuh cahaya-cahaya kecil di sekitarnya. Iris matanya merefleksikan cahaya tersebut, membuatnya berkali-kali lipat lebih indah dari biasanya.

"I'm sorry," bisik Dylan.

"Untuk apa?" tanya Chloe cuek, masih sibuk dengan butiran cahaya di sekitarnya.

"Karena membuatmu kesal berkali-kali," jawab Dylan. "Aku mengajakmu berjalan-jalan di hutan untuk membuat perasaanmu menjadi lebih baik, tapi malah membuatmu semakin kesal. Aku jadi merasa bersalah."

"Yeah, kau memang menyebalkan, Grayson. Menuduhku sebagai stalker, selalu berkata dan berbuat seenaknya."

"I'm the biggest dork in town. Sejujurnya aku tidak tahu bagaimana caranya berbicara dan memperlakukan perempuan, jadi ...."

Pada akhirnya, Chloe menatap kedua netra cokelat tua milik pemuda di depannya, senyuman terukir di wajahnya.

"Mengapa kau melihatku seperti itu?" tanya Dylan gugup.

Chloe mengangguk setuju. "Yeah, you're the biggest dork in town."

"Masih marah padaku?" tanya Dylan lagi.

Chloe enggan menjawab. Namun, terlihat jelas dari ekspresi wajahnya kalau ia memaafkan pemuda di depannya.

"Kuanggap kau sudah memaafkanku." Dylan tersenyum.

Belum sampai di situ, Dylan melihat seekor kupu-kupu yang terbang tepat di hadapannya. Pemuda itu menyentuhnya. Ketika binatang itu hinggap di salah satu jarinya yang bercahaya, tiba-tiba Partikel 201X tersebut berpindah ke tubuh makhluk kecil tersebut.

Kupu-kupu itu lepas, ia terbang mengelilingi Chloe.

Gadis itu merasa dejavu. Kupu-kupu di hadapannya persis seperti apa yang ia lihat di hari Vortex Laboratory hancur.

"Aku pernah melihat kupu-kupu yang mirip sekali dengan ini," cerita gadis itu. Binatang itu hinggap di salah satu jarinya.

"Oh, ya? Kapan?" tanya Dylan.

"Ketika aku tersesat dan menemukan laboratorium ayahmu di pinggir hutan," jawabnya. "Aku ingin sekali menyentuhnya saat itu."

"Well, keinginanmu sudah terkabul sekarang."

"Kurasa sebelum laboratorium itu meledak, partikel ini sudah meradiasi daerah sekitarnya," ujar Chloe. "Sehingga kupu-kupu yang kujumpai waktu itu juga bercahaya."

"Do you like it?" tanya Dylan, ia menjeda perkataannya. "Wait, let me guess. I think you like it."

Chloe tertawa kecil. Meskipun berada di hutan pinus pada malam hari, butiran cahaya dan kupu-kupu yang ada di sekitar gadis itu merefleksikan fitur wajahnya dengan baik. Dylan dapat melihat senyum manis dari gadis itu, meskipun di dalam pencahayaan yang minim.

Melihat senyum itu, hatinya menjadi damai. Perlahan, kehangatan menjalar ke kedua pipinya.

Tanpa mereka sadari, bunga-bunga bercahaya bermekaran di sekitar mereka, seakan-akan paham dengan apa yang sedang Chloe rasakan. Gadis itu masih terfokus pada kupu-kupu bercahaya di atas jarinya, mengamatinya dalam waktu yang sangat lama dan mengabaikan pemuda di depannya, sedangkan Dylan sibuk menggerakan kakinya dengan gugup, berusaha memulai percakapan kembali.

"Um, Chloe ... may I ask you something?"

"Ask away!" ucap Chloe cuek, masih terfokus pada binatang bercahaya itu.

"Sebenarnya ... aku tidak tahu harus mulai dari mana." Dylan berdeham.

Chloe melirik ke arah pemuda di depannya. "Bukankah biasanya kau banyak bicara?"

"Yeah, sekarang aku tiba-tiba tidak tahu harus berbicara apa. Sungguh menyebalkan!"

Kini, Chloe menaruh seluruh perhatiannya pada Dylan, menunggu pemuda itu berbicara. Karena paham bahwa Chloe sedang menunggunya, Dylan memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.

"Okay, will you--"

Ucapan Dylan terhenti. Tiba-tiba, muncul cahaya menyilaukan dari kejauhan, membuat atensi kedua remaja itu tertuju ke arah perbatasan hutan. Perlahan, butiran cahaya dan bunga di sekitar mereka meredup, pada akhirnya padam. Begitu pula dengan kupu-kupu di jari Chloe. Binatang itu meredup dan terbang meninggalkan mereka.

"Someone's coming," bisik Dylan.

Siders gapapa ga comment, tapi ⭐-nya diklik ya! It means a lot to me, thank you so much💙

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top