#8


Jakarta was never familiar to her.

Anda nggak pernah menetap dalam kurun waktu cukup lama, apalagi menjadi warga Jakarta. Paling-paling, Jakarta hanya sebagai tempat singgah baginya. Atau tempat mencari nafkah—dulu kala, setiap liburan sekolah.

Bahkan, Bandara Soetta, tempat yang paling sering dia datangi—walau lokasinya tidak persis berada di Jakarta—juga tidak terasa familier. Jelas, dulu dia menggunakan akses umum. Sekarang menggunakan akses VIP, demi menghindari bertemu dengan orang-orang yang mungkin menyadari identitasnya.

"You are getting smaller. Nggak dikasih makan ya, sama Adnan?" Jeffrey yang datang menjemput, langsung memeluknya begitu pihak keamanan bandara telah mengantarnya ke tempat penjemputan dengan selamat.

Anda cuma bisa tertawa, sementara Adnan berlagak tersinggung mendengar pertanyaan Jeffrey barusan.

"Perlu gue bawain timbangan?" Adnan berdecih, yang tentu saja tidak digubris oleh Jeffrey. "Anyway, gue ikut mobil lo?"

Adnan menatap tiga kendaraan di situ. Lalu mengamati koper-koper besar yang sedang dimasukkan ke bagasi.

Dua kendaraan di belakang, sudah dipastikan bakal penuh barang.

"You wish." Dengan teganya, Jeffrey menjawab demikian.

Menyadari tatapan Adnan telah beralih padanya, Roman, yang datang bersama Jeffrey, seketika meringis. "Sorry, Mas Adnan. Gue yang duduk depan. Lo di mobil satunya. Biar gampang kalau mau misah."

"Misah ke mana? Yang ke hotel si Fanny doang. Gue ikut ke rumah si Jeffrey."

Dengan bersungut-sungut, Adnan masuk ke kendaraan di belakang, sedang Fanny ke kendaraan satu lagi.

Berikutnya, Roman menahan pintu sampai Anda dan juga Jeffrey masuk ke dalam.

"Tidur aja." Jeffrey mengatur sandaran kursi yang Anda duduki supaya nyaman. "Perjalanannya sejam lebih."

Karena sepanjang penerbangan tadi tidak bisa tidur sama sekali, Anda pun memejamkan mata, berharap ketika tiba di tujuan nanti, badannya sedikit lebih segar.

Beberapa saat terlelap, ketika kemudian terbangun, Anda melihat Jeffrey sedang membuka seatbelt miliknya.

"Udah sampe? Kok cepet?" Anda menyipitkan mata ke arah belakang punggung sang pria, tempat pintu mobil telah terbuka.

Kepalanya terasa berat. Pandangannya terasa buram.

"Udah. Kamu masih ngantuk, nggak usah bangun. I'll carry you."

Tidak kuat bangkit sendiri, Anda pun membiarkan sang pria membawanya ke dalam gendongan.


~


"Bisa nih, Januari diajak nonton final Australia Open. Udah nggak malu-maluin." Pak Sony berkomentar pasca melihat Ibel melonjak di atas net, melakukan lob dengan sempurna, menghasilkan bola mendarat tepat di dalam baseline, yang menjadi penutup permainan tenis sore ini.

Yeah, dibandingkan tahun lalu, kemampuan Ibel sudah meningkat drastis.

Karena sebelum dengan Roger, Ibel tidak pernah main tenis, dulu-dulu setiap bertanding dengan Sony, Roger selalu harus bermain extra karena perlu meng-cover Ibel juga.

Sekarang, Ibel sudah bisa berkontribusi. Tidak cuma bengong dan sotoy berlarian ke sana-kemari tanpa bisa mendapatkan bola sama sekali.

Bahkan, sore ini bukan sekadar berkontribusi. Melainkan dirinya menjadi penentu kemenangan tim.

"You played so well." Roger memuji rekan setimnya, setelah sebelumnya melempar tatapan mengejek pada Sony yang tampak mau mati kelelahan di sisi lain lapangan.

"You too." Ibel tersenyum puas, melangkah cepat untuk memeluk pacarnya.

Mereka berkeringat dan menguarkan hawa panas dari tubuh masing-masing. Tapi tidak masalah. Kemenangan pertama Ibel patut dirayakan.

"Gimana? Tickets are on me." Sony lagi-lagi mengompori.

Sebelum Ibel benar-benar fomo, perempuan itu segera menggeleng. Melepaskan diri dari pelukan Roger.

"Sayang jatah cutinya, Pak. Jauh-jauh ke Melbourne, taunya Nole doang." Ibel beralasan. Padahal, dia dan Roger punya agenda lain tahun depan. Yang jelas membutuhkan banyak cuti.

Ketika Ibel menatap pacarnya, Roger hanya tersenyum geli.

Yes, they already decided the due date—setelah sebelumnya mencocokkan tanggal yang dipilih Jeffrey untuk acara-acara miliknya dan sang calon istri.

"Papi nih, jadi third wheel mulu. Kalau Mami nggak mau diajak, pergi sendiri lah." Mega, putri Pak Sony satu-satunya, mengelap muka dengan handuk dan duduk di bench pinggir lapangan. Sementara Papinya yang belum selesai melakukan cooling down di dekat situ tidak terlalu memperhatikan, anak perempuan itu beralih menatap Roger. "Yang menang harus traktiran makan nggak sih, Om?"

"Boleh, boleh." Roger menjawab santai. "Tapi hari Minggu gini, makan di mana yang nggak perlu reservasi?"

"Ah, gampang. Empat orang doang, masih bisa reservasi sekarang, buat sejam lagi."

Roger mengangguk. Pria itu membuka sebotol air mineral, kemudian menyerahkannya ke Ibel.

Iri, Mega menyerahkan botol miliknya ke sang ayah. "Bukain juga, biar kayak Kak Ibel."

"Makan di mana?" Sony bertanya ke putrinya.

"Restoran temenku, di PI level 3. Is that okay?"

"Kok di mall, sih? Nanti ketemu orang kantor, gimana?"

"It's okay." Ibel segera mengiyakan, sekali lagi menoleh ke Roger.

Roger mengangguk sebagai dukungan atas keputusan yang dibuat pacarnya, yang segera membuat kening Sony mengerut.

"Udah mantep go public, nih?"

"Lho, emangnya backstreet? Kalau gitu, aku cari tempat lain aja, yang private."

"Beneran. Nggak apa-apa." Sekali lagi Ibel meyakinkan bahwa dia bebas diajak makan di mana saja. Toh, kalau pergi beramai-ramai begini, alih-alih dikira sebagai pacar Roger Abram, kemungkinan besar orang-orang justru akan mengira dirinya anak sulung Pak Sony. "Yuk, Meg. Kita ganti baju."

Di locker area, saat mengambil tas masing-masing, kembali Mega memastikan pada Ibel. "Serius nggak apa-apa, Kak, kita makan di mall? Aku taunya dari Papi, Kakak sama Om Roger mau married tahun depan, setelah Bang Jeffrey. Nggak tahu kalau kalian backstreet."

"Nggak apa-apa." Ibel mengulas senyum, lebih untuk meyakinkan diri sendiri.

Udah waktunya, lanjutnya dalam hati.


~


"Thank God, you're awake."

Anda mendengar suara Jeffrey ketika dia membuka mata di sebuah kamar tidur yang asing dan gelap.

Wangi chamomile yang menenangkan terendus penciumannya. Tidak terlalu kuat. Just enough to calm the room.

"I almost called an ambulance. You have slept for 17 hours."

Jeffrey membuka sedikit gorden jendela, memberikan cukup cahaya ke dalam ruangan. Tapi alih-alih memperhatikan kamar barunya, Anda masih fokus mencerna ucapan sang kekasih.

Jika dia tidur sejak Minggu sore, maka sekarang sudah Senin pagi? Pantas saja badannya terasa enak. Dia tidur seperti monster.

"You're home?" Menyadari Jeffrey tidak seharusnya berada di rumah pada hari dan jam kerja, Anda pun bertanya.

Jeffrey mengulas senyum. Duduk di sisi tempat tidur. Membantu Anda duduk. "Of course, I'm home. Where would I be?"

"Office?"

Pria itu tertawa. Meraih kedua tangan Anda untuk digenggam. "Aku juga butuh aklimatisasi, kali. Seminggu di sini, masih kerasa jetlag."

"Kirain." Anda meringis. Kemudian segera ingat bahwa Adnan berencana pulang ke Malang hari ini. "Adnan ...?"

"Udah berangkat. Tadi mau nunggu kamu bangun, takut ketinggalan pesawat."

Anda pun mengangguk.

Salah dia sendiri, tidur kebablasan. Sekarang dia jadi tidak bisa mengucap selamat tinggal ke temannya.

"Hungry?" Jeffrey bertanya.

Anda mesem.

Sejujurnya dia tidak lapar. Tapi daripada membuat Jeffrey khawatir, dia pun mengangguk.

"Mau sarapan di sini?" Jeffrey bertanya lagi, yang dibalas gelengan oleh Anda.

"Di meja makan aja."

"Okay. Meja makan ada di bawah."

Jeffrey mengepaskan sandal di lantai, lalu menarik kedua lengan pacarnya untuk membantu berdiri.

Setelah menginjakkan kaki di lantai dan bisa mengamati seluruh ruang itulah Anda akhirnya menyadari bahwa dia benar-benar sudah tidak lagi tinggal di NYC.

Dia di Jakarta sekarang. Di tempat banyak orang telah menunggu untuk bertemu dengannya.

"Kamu udah bilang orang-orang, kalau aku udah di Jakarta?" Sebelum mencapai pintu keluar, Anda menghentikan langkah, mencengkeram lengan Jeffrey yang sedang menggandengnya.

Jeffrey menggeleng pelan. "Aku bilang kamu mau pulang, tapi nggak bilang tepatnya kapan."

"Even to her?"

"Mama kamu? Yes." Jeffrey mengangguk, mengusap-usap bahu kekasihnya untuk menenangkan. "You can meet her whenever you're ready. Nggak perlu buru-buru."

And that's what she needs most right now: opportunity to make decisions.

"Yang tinggal sama kita di sini ada berapa orang?" Anda bertanya sambil meneruskan langkah keluar dari kamar.

"Lima." Jeffrey menunjuk pintu di seberang kamar. "Studio kamu di situ. Udah dirapiin. Mau lihat?"

Anda menggeleng. "Nanti aja."

Karena tidak ada apa-apa lagi yang perlu ditunjukkan di atas, Jeffrey membawa sang perempuan turun ke lantai bawah yang sepi.

Tak ada lalu lalang, karena semua pekerjaan rumah telah selesai.

"Kamu masak?" Anda mengernyit melihat menu di meja. "Ngapain? Katanya ada catering? Katanya kamu masih jetlag? Aku nggak ngapa-ngapain di sini, bisalah waktunya kupakai buat belajar masak. Kamu nggak perlu capek-capek."

Jeffrey hanya tertawa. Menangkup kedua pipi pacarnya, lalu menjatuhkan kecupan di dahi dengan gemas. "Stop complaining. Because I'm the one who wants to do everything for you."

"Okay. Terserah kamu aja." Anda mengangguk, segera duduk di kursi yang sudah ditarik Jeffrey untuknya.

Lalu, karena ternyata Jeffrey sudah sarapan, pria itu berujung hanya menemaninya saja. Duduk memperhatikannya mengunyah setiap suapan.

Setelah selesai makan pun, sang pria tidak beranjak sama sekali dari sisinya. Menemaninya duduk-duduk di bawah pohon di halaman belakang.

Agak aneh, berhubung biasanya sama-sama sibuk dan hampir tidak pernah bengong berdua selama berjam-jam, bahkan pada akhir pekan sekalipun.

"Let's get sweaty." Anda tiba-tiba menggumam.

"Here? Now? Dua jam lagi, lah. Biar selesai dicerna dulu sarapan kamu." Jeffrey mengerling jenaka, membuat tawa Anda lepas.

"You silly. Olahraga beneran, lah. Aku mau bergerak setelah tidur 17 jam." Anda mengerang pelan mendapati reaksi pacarnya. "Ayo ajakin aku keluar rumah."

Satu alis Jeffrey terangkat. Tapi dia memutuskan tidak mengorek-ngorek. "GBK?" tanyanya cepat.

Anda mengernyit untuk menimbang-nimbang ide Jeffrey itu.

"Tapi nanti sore aja. Siang-siang ke GBK sama aja mau memanggang diri." Jeffrey melanjutkan.

Anda pun mengangguk. "Oke, nanti sore."

"Sambil nunggu sore, dua jam lagi kita bisa cardio yang lain dulu di rumah."

Sekali lagi Anda tertawa, dan kemudian mengangguk.


~


Gera memasuki ruang tengah rumahnya yang gelap gulita. Seketika terperanjat mendapati sosok tak diundang berada di sana.

"Ngapain kamu di sini?" tanyanya pada—siapa lagi kalau bukan—Aprinta. "Izin pulang cepet, kirain ada keperluan mendesak, malah ke rumah orang tanpa permisi."

"Sst." Sang perempuan meletakkan telunjuk di depan bibir, meminta bosnya tidak membuat kegaduhan. Lalu menunjuk sofa lain di sebelah kirinya.

Di sana, tampak gundukan selimut memanjang, yang kemudian Gera sadari adalah sosok adiknya yang tengah terlelap.

"Kok dia bisa di Jakarta?" Gera terheran-heran. Ini hari Senin, bukan libur sekolah, jadi tidak seharusnya anak yang baru masuk SD itu ada di sini.

Aprinta mengangkat bahu. "Tadi Pak Ardhi nitipin dia ke aku. Beliau lagi ada acara di Jakarta. Kayaknya si bocil ngotot ikut. Nggak tau kenapa tadi aku diminta ngajakin dia jalan-jalan. Mungkin rewel. Katanya mau dijemput sore-sore, tapi sampai jam segini Papa kamu belum ngehubungin aku lagi."

Gera mendesah pelan. Capek.

Rasa-rasanya, semua hal kalau sudah membawa-bawa ayahnya, cuma bisa bikin dia sakit kepala.

"Ya udah. Aku mandi bentar. Tolong kalau mau pulang, tunggu aku selesai, ya."

Gera sudah akan berjalan masuk kamar ketika sang adik mendadak terbangun dan memanggil namanya.

Sebelum menoleh, pria itu mendesah sekali lagi.

Dia kira, dia bisa santai setelah berhasil menyelesaikan semua pekerjaan pada sore hari. Ternyata, masih ada PR menunggu di rumah.

"Laper, nggak?" tanyanya pada sang adik tiri dengan wajah ramah, menyembunyikan rasa kesal rapat-rapat.

"Laper." Gemma mengerang manja.

"Udah makan dia." Aprinta cepat melapor. "Sebelum tidur tadi udah makan banyak."

"Tapi masih laper." Si bocah mengerang lagi. "Kayaknya aku cacingan, deh. Cepet laper soalnya."

Gera tidak bisa tidak tertawa mendengarnya.

Semenyebalkan apapun orang tua mereka berdua, tidak mempengaruhi rasa sayang Gera terhadap adiknya. Apalagi, Gemma memang konyol.

"Ta, tolong order makanan, dong. Buat kita bertiga."

Aprinta lalu bertanya ke si bocah. "Mau makan apa, Gem?"

"McD New Jeans."

"Astaghfirullah." Perempuan itu mengelus dada. "Anak SD zaman sekarang udah nggak nonton Upin Ipin, ya? Malah nonton KPop? Lagian, emang kamu boleh, makan McD?"

Anak tujuh tahun itu segera menatap abangnya dengan penuh harap.

Aprinta menoleh ke bosnya, menunggu jawaban.

"Boleh. Sekali ini aja." Gera menjawab, sebelum kemudian bersiap-siap untuk berlalu ke kamarnya. "Abang mandi sebentar. Kamu tunggu makanannya dateng sambil ngobrol sama tante Aprinta."

"Kamu dipanggil abang, kenapa aku tante?" Aprinta nggak terima.

Gera tersenyum tipis. "Inget umur, Ta. Kecuali kamu nikah sama abangnya, baru deh dipanggil kakak."

Tidak sampai sejam kemudian, mereka bertiga telah duduk mengitari meja makan. Sibuk mengunyah sambil bertukar candaan. Meriah. Seperti sebuah keluarga kecil.

Yeah, Gera berani sumpah, punya keluarga seperti dia dan Aprinta akan jauh lebih baik untuk adiknya ketimbang keluarga yang saat ini anak itu punya.

"Pada pake legging, emang habis ngapain?" Gera mengernyit pada outfit Aprinta yang tidak biasa. Kompak pula dengan Gemma.

"Poundfit." Gemma menjawab dengan antusias. "Di GBK."

"Ada, yang buat anak kecil?"

"Ada, lah, Bang."

"Bisa?"

"Bisa, dong. Tante Aprinta tadi videoin aku. Pake handphone Tante." Dia lalu menoleh ke Aprinta. "Coba kasih lihat videoku ke Abang, Tan."

Dengan sabar, Aprinta menyerahkan ponselnya ke Gera.

"Tolong kirim videonya ke Papa juga, ya. Siapa tau Papa mau pamer ka Papanya Chiquitta."

Gera melakukan scrolling pada puluhan video itu dengan antusias palsu.

Mulai dari video jalan-jalan yang berdurasi pendek dan goyang-goyang—yang jelas diambil sendiri oleh Gemma—sampai video poundfit yang panjangnya lebih dari setengah jam—yang katanya diambil oleh Aprinta.

"Bisa, kan? Padahal aku baru pertama kali ikut lho." Si bocah kembali sesumbar.

"Seru?" Gera masih konsisten berlagak antusias.

"Seru. Nanti bilangin Papa, aku mau poundfit juga di Bali."

"Iya."

Gera hampir menyerahkan kembali ponsel di tangannya ke sang pemilik, ketika video amatir Gemma menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya.

Hanya sekilas, hingga Gera perlu memutar ulang beberapa kali, juga melakukan pause pada detik-detik tertentu, kemudian menekan opsi share dan menyentuh nomor teleponnya sendiri.

Selanjutnya, Gera tak banyak bicara hingga sang ayah tiba untuk menjemput adiknya.


#TBC

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top