44. Precaution
VI. The Sacred Sign
Asap masih mengepul dari kedua bola mata si tikus mondok raksasa. Tidak ada yang menyerang, sebab semua orang dibuat tercengang oleh ledakan tiba-tiba itu.
Tapi tampaknya mereka memang tidak perlu melakukan sesuatu. Ledakan itu telah mengenai bagian vital si monster, membuatnya terhuyung lemas dan ambruk ke tanah, tak bergerak lagi, hingga tubuh besarnya perlahan melebur menjadi debu keemasan.
Lalu hening.
Eve merosot ke tanah. Kepalanya terasa pusing dan bahunya masih nyeri. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ledakan fatal tadi sepertinya muncul akibat jarum darah yang dia buat, tetapi Eve sama sekali tidak memasang sihir peledak atau semacamnya dalam serangan itu. Dia bahkan tidak yakin bisa benar-benar melakukannya.
“Hei, tadi itu ulahmu, ‘kan? Apa yang kau lakukan?” Setelah urusan mereka selesai, Ayato segera menghampiri Eve dengan tergesa-gesa, Sakura mengikuti di belakangnya.
Eve tidak menjawab hingga kedua rekannya tiba di hadapannya, yang kini memandangnya dengan penuh tanda tanya.
“Tapi … aku juga tidak mengerti,” erang Eve akhirnya.
Eve bisa melihat kebingungan yang tergambar jelas pada wajah keduanya. Kemudian, Ayato berkata lagi, “Jarum besar yang tadi menusuk si monster, itu buatanmu, ‘kan? Kau benar-benar tidak mengaturnya supaya bisa meledak atau bagaimana?”
“Ya, jarum tadi memang dibuat dari darahku,” Eve mengaku. “Tapi memasang sihir peledak pada benda seperti itu bukan hal mudah, aku tidak bisa melakukannya.”
“Jadi, jarum itu meledak dengan sendirinya?” tebak Sakura.
“Sepertinya begitu,” sahut Eve. Sebenarnya, sesuatu baru saja terlintas di benaknya, tapi saat ini dia merasa amat pusing hingga tidak bisa berpikir jernih. “Yang penting, urusan kita sudah selesai. Ayo kembali.”
Namun, baru saja Eve berdiri, dia kembali terhuyung. Dia pasti sudah ambruk lagi jika Ayato tidak menahannya.
“Waduh, kau kehilangan banyak darah. Sebaiknya jangan banyak bergerak,” saran Ayato. “Sini kubantu–”
“Terima kasih, tapi aku bisa jalan sendiri,” tolak Eve seraya menepis tangan Ayato yang hendak memapahnya. “Hanya sedikit pusing, kok.”
“Itu bukan sedikit. Pokoknya waktu kembali nanti, kamu harus langsung istirahat!” bantah Sakura.
Eve hanya mengembuskan napas panjang. Meski terdapat hal tak terduga, setidaknya urusan mereka sudah selesai. Sakura benar, sepertinya dia memang butuh istirahat panjang.
Maksud Eve, tidak sepanjang itu.
Penyakitnya kambuh lagi setelah mereka bertiga kembali dari gunung. Sebenarnya tidak parah, tetapi gara-gara itu Ayato jadi melarangnya untuk ikut dalam entah apa yang sedang dia lakukan selama dua hari sejak hari itu.
Mereka tidak punya sesuatu yang harus dilakukan sampai permintaan lain dari Biro Layanan Pahlawan datang, jadi sepertinya mereka masih akan menginap beberapa hari lagi di Kima. apalagi, Ayato berkata bahwa dia menemukan cara supaya bencana longsor itu tidak terjadi lagi. Karena itu, dia dan Sakura, bersama beberapa warga Kima, terus sibuk di gunung sepanjang hari.
Sedangkan Eve, kedua rekannya bersikeras bahwa dia tidak boleh melakukan aktivitas berat apapun sampai lukanya sembuh.
Dua hari hanya berbaring di rumah tamu, siapapun pasti akan merasa bosan, termasuk Eve. Jadi dia memutuskan untuk datang ke gunung siang itu.
Ketika Eve berjalan melintasi lorong rumah tamu, dia mendengar suara tawa yang amat dikenalnya. Dia mengintip dari pintu yang terbuka di lorong. Rupanya pintu itu terhubung ke dapur, ada Sakura dan Mei di sana, sepertinya sedang sibuk menyiapkan sesuatu.
“Hei, apa lukamu sudah sembuh?” Mei yang pertama kali menyadari keberadaan Eve saat dia memasuki dapur untuk menyapa kedua anak perempuan itu.
“Yah, hampir, kurasa,” kata Eve seraya meraba bahunya yang masih diperban.
“Kamu yakin tidak perlu istirahat lagi?” tanya Sakura, yang muncul dari balik bahu Mei.
“Aku sudah tidak apa-apa, sungguh.” Kini perhatian Eve beralih pada bahan-bahan masakan yang disebar di atas meja dapur. “Kalian sedang membuat apa?” tanyanya.
Di meja dapur terdapat berbagai macam sayuran, potongan daging setengah matang, serta sebakul nasi yang masih mengepul. Jika hanya untuk membuat makan siang bagi mereka yang berada di rumah tamu, rasanya bahan-bahan itu terlalu banyak.
“Kami hendak membuat makan siang untuk orang-orang yang bekerja di gunung,” jawab Mei. “Benar juga, kau sama sekali belum ke gunung, ya? Kalau kau melihat apa yang sedang kami buat–”
“Bagaimana kalau nanti kita pergi ke gunung bersama?” potong Sakura. “Akan lebih baik jika Eve bisa melihatnya sendiri.”
Sekarang Eve jadi tambah penasaran. Bahkan selama dua hari ini, Ayato bersikeras untuk tidak mengatakan apa-apa padanya.
“Kalau begitu, biar kubantu kalian,” tawar Eve. Siapa tahu, dengan begitu dia bisa mengorek informasi lebih jauh dari keduanya.
Mei memiringkan kepalanya. “Tapi biasanya laki-laki tidak bekerja di dapur?”
“Aturan dari mana itu? Padahal sejak dulu aku biasa menyiapkan makan malam sendiri,” balas Eve. “Sudahlah, akan lebih cepat kalau banyak orang yang membantu, ‘kan?”
Setelahnya, yang terdengar hanya suara dentingan alat-alat masak yang diselingi obrolan antar ketiganya. Eve diberi tugas memotong sayuran, sebab Sakura masih tidak mengizinkannya mengerjakan pekerjaan berat.
Saat sedang memotong wortel, perhatian Eve teralih oleh motif pada mangkuk keramik yang digunakan sebagai tempat sayuran. Motif itu lagi, pedang dan tongkat sihir bersilangan dengan sekuntum bunga di atasnya.
“Hei, Mei, boleh aku tanya sesuatu?” Eve menggeser mangkuk sayuran supaya Mei dapat melihat motif yang dia maksud. “Sepertinya kalian sering menggunakan motif seperti ini saat membuat tembikar. Apa ada arti tertentu di baliknya?”
Mei memperhatikan motif yang ditunjukkan Eve, keningnya berkerut. “Hmm … entahlah? Motif seperti itu memang banyak digunakan di Kima, tapi sepertinya tidak ada arti khusus. Soalnya motif seperti itu sudah dipakai sejak lama sekali.”
“Kenapa tiba-tiba menanyakan itu? Apakah ada sesuatu?” tanya Sakura.
“Yah, sebenarnya ….” Jawaban dari Mei tidak membantu, jadi Eve menceritakan tentang ruangan misterius yang dia dan Ayato temukan di bawah gunung malam itu.
Mei melongo. “Wah, aku tidak pernah tahu ada tempat seperti itu di bawah gunung,” katanya.
“Tapi, katamu ceruk yang seperti gerbang itu tidak bisa dibuka?” potong Sakura.
“Memang, tidak ada tuas atau tombol apapun yang bisa dipakai untuk membukanya,” jelas Eve. “Tapi aku yakin itu sebuah gerbang.”
Sakura terdiam, tapi matanya berkilat penuh rasa ingin tahu. Lalu anak itu berkata, “Aku ingin melihatnya ….”
Eve mengerjap. “Eh?”
“Aku ingin melihatnya,” ulang Sakura. “Kalau tidak keberatan … bisakah kita kembali ke ruangan itu?”
Sejujurnya Eve sama sekali tidak keberatan, dia juga masih penasaran dengan gerbang itu. Dia hanya tidak menduga Sakura akan tertarik dengan hal tidak penting seperti itu.
“Boleh saja, aku akan menyeret Ayato nanti,” janji Eve.
Eve hampir dibuat terpana.
Warga kota yang berkumpul di gunung jauh lebih banyak daripada yang dia duga. Ditambah, bekas longsoran tempo hari sepertinya sudah dirapikan. Yang semakin membuat Eve takjub, adalah sepanjang lereng gunung yang kini dipenuhi batang-batang pohon yang ditancapkan ke tanah. Sekarang dia tahu apa sebenarnya yang dilakukan warga kota di gunung ini.
Karena sudah waktunya makan siang, seluruh warga kota segera menghentikan pekerjaan mereka dan menyerbu keranjang piknik yang dibawa Mei. Sekarang Eve bertanya-tanya, apakah nasi kepal dan dumpling yang mereka buat cukup untuk warga kota yang lapar itu.
Ayato muncul dari salah satu sudut gunung. Dia segera bergabung bersama Eve dan Sakura yang sudah mengamankan jatah makan siang mereka, lalu duduk di bagian lereng yang belum ditanami.
“Jadi, apa rencanamu?” tanya Eve ketika mereka sudah mendapat jatah nasi kepal masing-masing.
Ayato menelan makanannya dengan cepat sebelum menjawab, “Begini, gunung ini sering longsor dalam beberapa tahun, ‘kan? Kupikir penyebabnya adalah karena gunung ini terlalu tandus. Waktu kutanyakan pada Pak Han, katanya pohon-pohon di gunung memang sengaja ditebang supaya proses mengambil tanah sebagai bahan baku tembikar jadi lebih mudah.”
Cukup masuk akal, pikir Eve. “Tapi, apa penanaman kembali pohon seperti itu cukup untuk menghentikan longsor?” tanyanya.
“Yah, setidaknya bisa mengurangi dampaknya, ‘kan,” jawab Ayato. “Tapi cukup sulit meyakinkan Pak Han dan yang lainnya mengenai penanaman kembali ini. Makanya aku sempat bingung, kupikir semua orang sudah tahu kalau gunung yang tandus rawan terjadi longsor.”
“Aku benci mengakuinya, tapi itu fakta baru,” kata Eve, yang merasa tidak rela saat Ayato mengetahui sesuatu yang tidak dia ketahui. “Lebih tepatnya, tidak ada yang pernah memikirkan itu.”
Kening Ayato berkerut. “Benarkah? Padahal itu pengetahuan umum ….” Seketika matanya membulat, seperti baru menyadari sesuatu. “Begitu, ya. Pandangan dunia ini dan duniaku sebelumnya berbeda!”
Eve dan Sakura saling pandang. Sepertinya ada banyak pertanyaan yang hendak mereka lontarkan, tapi masih ada hal lain yang harus mereka bahas.
“Kalau begitu, pahlawan terdahulu seharusnya juga mengetahui soal penyebab tanah longsor itu? Sebab kalian semua berasal dari dunia yang sama.” Sakura hanya menanyakan hal yang paling membuatnya penasaran. “Tapi mengapa belum ada yang mengambil langkah berupa penanaman kembali?”
“Barangkali mereka hanya tidak peduli pada dunia ini,” kata Eve asal. Dia lalu melirik Ayato. “Jadi, menurutmu dengan begini kau sudah bertindak selayaknya pahlawan?”
Ayato mendengus. “Hei, kenapa, sih? Aku cuma melakukan apa yang bisa kulakukan, kok!” sergahnya.
Eve mengabaikannya. “Sudahlah. Lagipula, ada hal lain yang harus kita lakukan, iya, ‘kan, Sakura?”
Sakura mengangguk, kemudian dia menoleh pada Ayato. “Sebenarnya aku penasaran pada sesuatu ….”
----
Published on: 17/11/2024
1443 words
-Eri W. 🍁
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top