Chapter 3

Saat Hauta berenang ke pintu depan, dia langsung kehabisan kata-kata. Ada bermacam-macam ikan yang pernah mendatangi rumahnya, tetapi belum ada yang seperti sekarang. Sejenak yang bisa dia lakukan adalah berbisik pada kepalanya sendiri, untuk apa seekor hiu abu-abu dan ikan remora berkunjung di rumahnya? Lalu jawaban untuk pertanyaan itu datang dengan sendirinya.

"Apa k–kalian Konihi dan Piri? Apa aku membuat masalah?" Mata ikan buntal itu sontak melebar. "Astaga! Apa anak jantanku yang membuat masalah?! Oh. Jangan bilang padaku kalau dia menjual racunnya pada ikan-ikan nakal itu. Sudah kuduga anakku sudah berani memulai bisnis kotornya. Sudah kuduga membeli Pearl Link itu kesalahan—"

"Tidak, Nyonya Koru. Kau dan anakmu baik-baik saja," potong Tehere. Di saat bersamaan berusaha menahan tawa atas kepanikan Hauta. Dia teringat, dulu Poha yang selalu pulang ke rumahnya paling pertama. "Mama akan memarahiku habis-habisan."

"Dan dia juga bukan Konihi," jelas Tehere melambaikan siripnya pada Talis.

"Setidaknya belum ...," tambah Talis..

Mendengar itu membuat Hauta meregangkan insangnya dengan lega, tetapi dengan cepat tubuhnya mengembang sedikit, sebuah sikap pertahanan diri khas ikan buntal. "Lalu untuk apa hiu itu datang kemari?"

"Tidak perlu khawatir, Nyonya Koru. Begini. Kami—" Talis ingin mengatakan dia adalah teman Poha dulu, tetapi tiba-tiba dia teringat kalau saat itu tak ada yang tahu dirinya berteman dengan beberapa herbivora. Kalau dia mengatakannya di hadapan Hauta, maka mereka semua akan mendapatkan masalah yang baru.

Tehere yang mengerti dengan diam Talis langsung melanjutkan. "Kami memang ingin bertemu dengan Poha, tetapi aku janji dia tidak berada dalam masalah. Begitupun temanku di sini."

Tatapan Hauta sangsi. Dia masih tak mengerti untuk apa seekor predator muncul begitu saja di hadapannya dan mencari anaknya. Insting induknya tahu ada sesuatu yang salah sedang terjadi dan anak jantannya juga berurusan dengan itu. Hanya saja dia tidak tahu apa itu, dan dia terlalu tua untuk mencari tahu.

"Dia di dalam, tapi ... kurasa temanmu terlalu besar untuk masuk. Jadi ...."

"Oh. Tentu. Aku mengerti, Nyonya Koru," kata Talis dan mundur sedikit. Tehere mengangguk padanya, dan dia berenang masuk sendiri ke kediaman keluarga Koru.

"Poha! Poha Koru! Keluar dari kamarmu sekarang!" teriak Hauta tiba-tiba. Suaranya sangat keras dan cukup untuk mengagetkan Tehere. Bahkan Talis bisa mendengarnya di luar sana. Namun, yang dipanggil justru tak muncul.

Ekor kecil Hauta berkedut-kedut. "Anak itu. Kau bisa langsung masuk saja ke kamarnya, eh ... siapa namamu tadi?"

"Tehere. Tehere Tautoko," kata Tehere dan menjabat sirip Hauta. "Hiu di luar itu bernama Talis."

"Baiklah Tehere. Masuk saja, dan tolong jangan terlalu lama," kata Hauta, kemudian mendekati Tehere untuk berbisik. "Kehadiran hiu di tempat ini akan mengundang banyak pertanyaan. Kau mengerti maksudku, kan?"

"Oh. Tentu, Nyonya Koru. Kami tidak akan lama." Sebenarnya Tehere tidak pernah menyukai konsep pemisahan karnivora dan herbivora di Solaris. Bahkan dia selalu tersinggung pada ikan-ikan yang memanggil karnivora dengan sebutan predator. Karena selama bermusim-musim tak lagi pernah terjadi kasus predasi, atau setidaknya begitu yang Tehere ingat.

Namun, dia selalu menyimpan dalam-dalam pemikiran tersebut karena semua ikan akan selalu berkata kalau remora berpihak pada karnivora. Jauh di lubuk hati Tehere dia selalu merasa tersinggung saat dipanggil seperti itu.

Tehere tersenyum dengan sopan pada Hauta sebelum akhirnya masuk ke kamar Poha. Di dalam, ikan buntal dengan tubuh kuning-putih itu sedang menggembungkan tubuhnya. Di hadapannya terdapat sebuah kerang dengan mutiara yang menyala terang. Kedua sirip Poha jadi tampak lebih kecil dan seakan tengah berusaha mencapai ujung kepalanya. Sementara itu kedua matanya menutup dengan rapat.

"Ha! Aku mendapatkannya! Kau kalah, dasar pecundang. Kalian tidak akan bisa mengalahkanku dalam ReefNet Arena! Kau yang pecundang! Makan racunku dasar ubur-ubur lembek! Tunggu sampai seekor penyu gila menghabisimu dan ibumu!"

Tehere yang sebenarnya sudah siap memanggil Poha sontak menahan lidahnya, dan kini mulutnya terbuka lebar karena terheran-heran dengan setiap kata yang diucapkan ikan buntal itu. Tentu itu sebuah kalimat yang benar-benar berani, terlalu berani untuk seukuran Poha. Setidaknya Poha yang bisa diingat Tehere. Karena dulu Poha adalah ikan yang selalu berbicara dengan ramah, sopan, dan lucu.

Bukannya dia tidak mengerti apa yang ikan buntal itu lakukan. Sejak dirilis, ReefNet Arena memiliki banyak pemain di seluruh lautan, khususnya Solaris. Pada dasarnya itu sebuah permainan terhubung sonar yang mengharuskan setiap ikan mengikuti jejak arus untuk mendapatkan poin tertinggi sambil berusaha menghindari rintangan atau jebakan dari pemain lain. Untuk bermain hanya diperlukan Pearl Link, sebuah perangkat pemancar di mana ikan-ikan bisa menjelajah dalam sonar sepuasnya.

Dulu Tehere juga biasa memainkan permainan itu, tetapi dia berhenti setelah menerima banyak komentar kasar dari pemain lain. Seperti yang Poha lakukan saat ini. Lalu Tehere mulai berpikir mungkin dulu dia secara tidak sengaja pernah bermain dengan Poha dan kalah darinya.

Setelah puas saling melempar hinaan dengan lawan mainnya, Poha memutuskan koneksi sonar. Dia berbalik dan terlonjak kaget karena baru sadar dengan kehadiran Tehere di sana. "Astaga! Sejak kapan kau—Astaga, Tehere. Sudah lama sekali."

Tehere terkikik dengan puas. "Ya. Sudah lama, Poha. Kau ...." Kembali Tehere mengingat saat-saat dia dulu masih sering berkumpul dengan teman-temannya. Dengan Talis, Poha, Rake, Marino, dan juga Anera. Saat itu Poha hanyalah ikan kecil yang belum begitu sering menggembungkan tubuhnya, jadi dia tampak lebih ramping dan hanya sedikit lebih besar daripada Anera. Sekarang ikan yang berada di hadapannya benar-benar bulat, gemuk, dan berisi. "Kau banyak berubah."

"Kau juga, Tehere. Kudengar kau sekarang jadi Piri untuk seekor hiu Tiaki?"

"Ya. Bagaimana denganmu?"

"Masih butuh tiga atau empat musim lagi sebelum aku bisa mendapatkan pekerjaan. Kita punya masa dewasa yang berbeda-beda."

"Aku tahu. Maka dari itu kau menyibukkan diri dengan bermain ReefNet Arena. Skor tertinggi, kurasa," ucap Tehere, sengaja menggodanya.

"Eh ...." Pipi Poha merona. "T–Tentu saja tidak. Lupakan itu. Untuk apa jauh-jauh ke rumahku? Dan karena kau ada di sini, kutebak Talis juga."

Tehere tersenyum dan mengangguk. "Dia di luar. Hanya saja tubuhnya terlalu besar untuk melewati pintu-pintu rumahmu."

"Mama pasti sangat paranoid dengan kemunculannya," Poha tertawa kecil. "Lucu sekali Mama tidak langsung mengusir kalian."

"Lebih tepatnya dia berpikir kau sudah menjual racunmu. Entah apapun maksudnya."

Tawa Poha menjadi lebih keras sampai ukuran tubuhnya menyusut sedikit. "Oh, tentu saja. Itu semacam kejahatan yang bisa kami para ikan buntal lakukan. Sederhananya kami menjual racun di tubuh kami pada ikan-ikan yang cukup bodoh untuk teler."

Mata Tehere melebar. "Sungguh? Benar-benar ada ikan di luar sana yang mencari racun ikan buntal untuk mabuk?"

"Ya. Itu yang pamanku lakukan sebelum dia akhirnya dimakan oleh Konihi. Omong-omong, apa Talis sudah jadi Konihi sekarang?"

"Belum," ujar Tehere. Dia berenang lebih dekat dengan Poha, suaranya ikut berubah jadi lebih kecil. "Tapi aku dan Talis datang padamu memang untuk membahas itu ...."

Sebenarnya Poha tidak langsung mengerti, tetapi dia punya dugaan kuat. Suasana di dalam kamarnya langsung berubah. Setiap ikan memiliki insting yang berbeda-beda, tetapi Poha bisa merasakan kecemasan yang sama seperti yang dirasakan Tehere, bahkan sebelum ada yang sempat mengatakan sesuatu.

Dugaan Poha terbukti benar setelah Tehere mulai menjelaskan masa Talis dengan singkat. Tentang pemeriksaan silang dan peristiwa bermusim-musim lalu tersebut. Tubuh ikan buntal itu mengempis, dan kini Tehere bisa menemukan sosok Poha yang dulu diingatnya. Sekarang ukuran siripnya lebih proporsional dengan ukuran badannya yang jauh lebih kecil, walau tubuhnya sudah sedikit lebih panjang.

"Jadi ...?" tanya Tehere dengan kedua sirip melambai. Poha hanya terdiam sejenak, dan tak terlihat tubuhnya berusaha mengembang kembali. Sebelum insangnya mengepak.

"Kurasa kau juga harus membicarakannya pada yang lain."

"Memang itu rencananya, tetapi karena kebetulan kau yang paling dekat, jadi kami menemuimu pertama kali."

"Maksudku kita berkumpul bersama-sama dan membahas ini dengan seperti ikan yang baik," ujar Poha. "Maksudku, lihatlah diriku. Bukannya Konihi, tetapi Mamaku yang akan membunuhku jika tahu soal Anera."

Tehere ingin saja tertawa dengan lelucon aneh Poha, tetapi ikan itu benar. Mereka harus berkumpul dan membahas ini bersama-sama. Mungkin mereka bisa mendapatkan jalan keluar lain, daripada hanya berbohong saat pemeriksaan silang benar-benar dilakukan.

"Mama! Aku pergi dulu sebentar!" teriak Poha saat berenang dengan cepat meninggalkan kamarnya, dengan Tehere mengikuti di belakang.

"Apa?! Kau mau kemana?! Makan siangmu—dasar anak nakal! Kalau kau sampai kedapatan menjual racunmu, Mama akan—"

"Ya, Mama. Tidak ada racun untuk dijual, mengerti," sambung Poha sambil berlalu. Tehere hanya bisa terdiam menyaksikan interaksi keluarga ikan buntal tersebut.

Di luar Poha akhirnya bertemu Talis, yang seperti perkiraannya kini memiliki tubuh yang jauh lebih besar. Walau sebenarnya belum benar-benar besar, karena Talis belum mencapai usia dewasa. Dulu Poha seukuran setengah tubuh Talis, sekarang Talis bisa menghalangi Poha hanya dengan satu siripnya saja.

"Senang bertemu denganmu lagi, Talis. Ayo pergi."

"Hah? Kemana?" tanya Talis, tetapi dia tetap mengikutinya. Dia beralih pada Tehere. "Kau sudah menjelaskan padanya?"

"Semuanya akan baik-baik saja, kawan besar," jawab Poha. "Kita akan menyelesaikan masalahmu bersama-sama."

"Sudah kubilang kita hanya perlu berbicara. Jangan terlalu cemas, Talis. Sebulan dari sekarang kau akan menjadi Konihi, aku jamin itu."

Talis menyeringai. "Tapi sungguh, kita mau kemana?" sambungnya. Kini mereka semakin jauh dari pusat ekosistem dan berenang naik.

"Tentu saja bertemu dengan yang lain," ucap Poha.

"Perhentian berikutnya, Arus Penyu," sambung Tehere.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top