Chapter 10

Tehere sebenarnya tidak siap meninggalkan Mako begitu saja. Meski sudah tak bernyawa lagi dengan seluruh sirip yang terpotong habis, Tehere tak ingin pergi. Dia hanya ingin berada di sana sampai seekor ikan akhirnya mendapati mereka. Namun, dia tersentak begitu mendengar kedua pengawal setia Perdana Menteri berpikir bahwa ini adalah kesalahan para hiu.

Dengan terpaksa dia berenang naik dan memasuki istana, tetapi Maui dan Matau sudah menghilang. Tehere tahu mereka berdua pasti sudah terbawa insting predator, tetapi dia juga sadar kalau kedua paus orca itu sudah berpikir bahwa para hiu lah yang telah membunuh Perdana Menteri.

Tehere melihatnya, dan Mako sendiri juga mengatakannya sebelum dia mati. Ini ulah makhluk bernama Manusia itu. Mungkin mereka sejenis ikan lain dari distrik berbeda, datang ke Solaris secara berkelompok dan secara mengejutkan berhasil menggigit habis semua sirip hiu dan kepala Perdana Menteri Orca. Mereka lah pelakunya, bukan hiu.

Tehere berenang secepat yang dia bisa untuk mencari Maui dan Matau. Sesuai aturan Solaris, kekuasaan tertinggi saat Perdana Menteri pergi adalah pengawal setianya, atau salah satu dari mereka. Tehere harus memberitahu mereka yang sebenarnya, sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi.

***

Marino melihat Samsara menuju perbatasan penyu-ikan saat pasang naik. Awalnya dia pikir penyu itu sedang bertingkah aneh lagi, atau beberapa ekor ikan datang berkunjung ke Arus Penyu dan Samsara seperti biasa selalu jadi ingin penyu pertama yang menyambut mereka.

Lalu dia menemukan beberapa hiu juga berenang ke gerbang perbatasan. Seolah sesuatu yang besar akan datang dan setiap penyu sudah siap dengan momen mendebarkan itu. Marino coba menggali isi kepalanya, memeriksa apakah ingatannya pernah secara sekilas menangkap sebuah pembicaraan tentang momen besar dan penting bagi para penyu, tetapi tidak ada.

Bagaimanapun, dia jadi sama penasarannya dan ikut berenang ke sana. Sampai di sana dia langsung bisa mengenali Samsara dan cangkangnya yang pudar karena terlalu sering naik ke permukaan. Puluhan ekor penyu juga memenuhi tempat tersebut.

"Samsara."

"Marino ...," sahut Samsara, tetapi sikapnya tidak bersemangat seperti biasa.

"Apa yang terjadi di sini?"

"Entahlah adikku, tetapi kedua Kaiki mengaku mereka mencium sesuatu yang aneh," jawab Samsara, lalu dia menunduk lagi, memusatkan perhatiannya pada apapun yang terjadi di bawah sana, di kawasan ikan-ikan.

"Bau aneh apa?" tanya lagi Marino, tetapi kali ini Samsara tak berkata apa-apa.

Marino melihat beberapa penyu bisa melewati gerbang tanpa dihalangi oleh Kaiki, jadi dia melakukan hal yang sama. Dia keluar dari Arus Penyu dan turun sedikit, tetapi tidak terlalu jauh. Kemudian bau aneh yang Samsara maksud mulai tercium, meski awalnya Marino berpikir itu berasal dari insting liarnya saja.

Namun, semakin lama dia berada di tempatnya, semakin bau itu menyapu seluruh indra penciumannya. Mata Marino melebar. Dia tahu bau itu. Perasaan saat Talis memakan Anera saat itu kembali lagi. Sebuah bau yang menghantuinya, yang membuatnya ketakutan setengah mati.

"Ini darah ...," kata seekor penyu yang berada di dekat Marino, dan dia serta seluruh penyu yang bisa menciumnya mengangguk sepakat.

"Bagaimana bau darah tercium sampai ke Arus Penyu? Apa ada ikan yang terluka di sekitar sini?"

"Butuh puluhan ikan yang sama-sama terluka untuk menciptakan bau yang menyengat seperti ini."

"Dia benar. Apa itu artinya ada predasi besar-besaran yang terjadi di bawah sana?"

Marino hanya bisa terdiam mendengarkan percakapan ketiga penyu itu, tetapi pertanyaan lain terulang-ulang di dalam kepalanya. Apa yang sudah terjadi di Solaris?

***

Poha mengaktifkan Pearl Link-nya. Setiap hari yang bisa dilakukan ikan buntal itu hanyalah bermain ReefNet Arena dan mendapatkan skor tinggi di dalam sonar. Dia bangga dengan pencapaian kecil tersebut, tetapi selalu malu jika ada yang tahu dia seekor pemain ReefNet yang hebat.

Meski akhir-akhir ini Poha sudah kehilangan semangatnya untuk bermain. Malah setiap kali masuk ke dalam sonar, dia malah berakhir dikalahkan dan mendapatkan banyak sekali cemoohan dari pemain lain, dan meski itu terjadi Poha tidak bergairah seperti biasanya. Tidak seperti dulu dia selalu punya kata-kata untuk membalas mereka, tetapi kali ini Poha hanya terdiam dan membiarkannya.

Itu karena dia hanya memikirkan teman-teman lamanya. Belum ada kabar dari Talis ataupun Tehere. Setelah pertemuan mereka dengan Marino yang berakhir canggung, Poha berkata pada Tehere akan mengabari Rake karena mereka saling melempar koneksi di dalam sonar. Sebenarnya itu terjadi secara tidak sengaja.

Poha mengirimkan pesan pada Rake setelah kembali ke rumahnya.

Hai, Rake. Sudah lama sekali kita tidak ngobrol. Talis dan Tehere mendatangiku hari ini. Pada akhirnya hiu dungu itu akan menjadi Konihi, tetapi dia juga bilang mereka akan melakukan pemeriksaan silang dan itu artinya kita semua mungkin akan ditanyai soal Talis di masa lalu. Talis mengkhawatirkan saat ketika dia memakan Anera. Aku tahu, aneh sekali setelah bermusim-musim dan dia muncul di hadapanku untuk mengabarkan hal tersebut, tetapi hei, dia hiu.

Kami bertemu dengan Marino hari ini, tetapi penyu itu tidak berada di arus yang sama. Dia menolak untuk mengikuti rencana Talis, dan itu membuatnya jadi murung. Kami batal menemuimu hari ini, tetapi karena aku tahu kita saling terhubung di sonar, jadi aku mengirimkanmu pesan ini.

Aku tidak tahu kesibukanmu sekarang, teman. Bagaimanapun, kuharap kita bisa bertemu, bersama-sama, membahas apa yang terbaik untuk Talis. Atau bertiga saja, tanpa Talis, atau kalau kau juga tidak ingin bertemu dengan Tehere, kita bisa berdua saja. Kita mungkin bisa bermain ReefNet Arena bersama-sama dan sebagainya.

Semoga Roh Laut mendengarkan nyanyianmu.

Salam,
Poha Koru

Poha tak pernah mendapatkan balasan dari Rake. Bagaimanapun itu bukan pesan menyenangkan yang bisa dikirimkan setelah sekian lama tak saling berbincang. Poha tahu bagaimana campur tangan Rake pada kematian Anera. Dia yang membiusnya, jadi Poha berpikir pari biru itu punya tanggung jawab yang sama besarnya seperti yang Talis rasakan.

Setiap harinya dia menunggu balasan atau kabar terbaru. Sayangnya tak ada yang mau repot-repot memberitahu Poha apapun. Jadi pada akhirnya dia hanya berdiam diri di kamarnya, bermain Pearl Link dari pasang naik sampai turun, mendapatkan omelan kecil dari induknya, lalu keesokan harinya di mulai dengan cara yang sama.

"Poha!" Terdengar teriakan di luar kamarnya. Tubuhnya langsung mengempis sedikit saat tahu itu adalah ibunya yang memanggil. Entah omelan apa lagi yang akan disampaikan.

"Ya, Mama ...." Dengan malas Poha berenang keluar dari kamar dan mencari induknya, tetapi dia tidak sedang berada di tempatnya yang biasa, membuat makan siang favorit Poha, tetapi di pintu masuk, melihat ke luar sana dengan ekor yang bergerak tegang.

"Mama? Apa yang terjadi—" Poha bahkan tak butuh jawaban apapun. Itu karena dia bisa melihat sendiri seonggok tubuh hiu yang turun perlahan-lahan di depan rumahnya, dengan sekujur tubuh dipenuhi gigitan. Air di sekitar mereka kini berubah merah, diikuti dengan bau menyeruak dan tajam.

Lalu Hauta ikut terjatuh, ekor dan siripnya berhenti bergerak. Diikuti dengan tubuhnya mulai mengempis dan jadi mengecil.

"Mama!" teriak Poha panik sambil memeriksa tubuh induknya yang sudah tak sadarkan diri.

***

Saat itu semuanya gelap di penglihatan Talis, tetapi dia mendengarkan suara. Dari dua atau tiga ikan mungkin; Talis menghitung.

"Dia benar-benar besar."

"Kita akan kenyang!"

"Apa kalian yakin ingin memakannya? Dia juga hiu, bagaimana kalau dia bangun dan balas memakan kita?"

Talis berpikir itu mungkin berasal dari kakaknya. Teika memang selalu mengerjainya saat Talis sedang tidur, dia kakak yang usil. Namun, Talis dengan segera menyadari kalau dia sudah meninggalkan kakaknya di Solaris. Saat ini Talis sudah ada di laut dalam.

Dia tersadar dan membiarkan matanya menerima setiap cahaya yang dibutuhkannya untuk melihat, tetapi di sekitarnya benar-benar gelap. Semuanya remang, dan Talis benar-benar kesulitan melihat apapun.

"Dia bangun! Kita terlambat!" Suara itu kembali, dia tidak tahu siapa, tetapi suara itu berada sangat dekat dengannya.

"Diamlah, dasar bodoh! Inilah mengapa kami tidak pernah mengajakmu berburu!"

"Tidak masalah kalau dia bangun. Kita masih bisa memakannya."

"Argghhh!" Talis meraung, merasakan sesuatu baru saja menggigit bagian bawah perutnya. Kemudian rasa sakit itu kembali di sisi tubuhnya yang lain. Dia tidak tahu apa sebenarnya itu, hingga cahaya yang tipis itu berhasil membuatnya melihat.

Hiu Pemotong Kue. Hiu pembawa masalah yang selalu ayahnya ceritakan.

"Menjauh dariku!" amuk Talis dan berusaha menyingkirkan ketiga hiu kecil itu dengan siripnya. Dia juga coba menggunakan ekornya, tetapi rasa nyeri menghentikannya. Dia baru teringat ekornya terluka.

"Kurasa kita harus pergi sekarang, kakak-kakakku. Hiu itu melawan," kata salah satu hiu tersebut.

"Kau tidak sadar, yah, dia terluka. Mari habisi dia dan makan dengan kenyang."

"Lagipula dia pasti tidak berasal dari perairan ini. Dia dari atas, aku jamin itu. Artinya dia sendirian."

Talis merasakan gigitan lain di tubuhnya. Entah sudah berapa bekas berbentuk lingkaran di tubuhnya saat ini, tetapi Talis terus berusaha menyingkirkan hiu-hiu kecil tersebut menggunakan siripnya, tetapi dia mulai melemah, dan hiu pemotong kue tersebut menjadi kegirangan dengan kelelahannya.

"Jauhi dia dasar hama!" Lalu terdengar teriakan lain. Bukan dari Talis, ataupun ketiga hiu kecil tersebut. Apapun itu, mereka jadi berhenti menggigiti Talis. "Pergi sebelum aku memakan kalian!"

Sontak saja mereka bertiga berenang dengan terbirit-birit, sesekali mereka menabrak satu sama lain, tetapi akhirnya menjauh. "Sudah kubilang kita seharusnya menjauhi hiu itu selagi bisa!" Terdengar samar-samar teriakan salah satu dari mereka.

Talis tidak tahu siapa yang baru saja menyelamatkannya, dia benar-benar kesulitan melihat. Pada akhirnya dia hanya berkata, "Terima kasih ...."

"Mara ...," kata ikan itu lagi. "Sudah aman ...."

Kemudian sebuah cahaya terang sontak menyilaukan penglihatan Talis untuk sementara waktu. Dia melihat cahaya itu bergerak dengan pelan mendekatinya dan ikan tadi, sampai berhenti tepat di hadapannya. Lalu Talis menyadari itu berasal dari seekor ikan angler. Baru kali ini dia bisa bertemu spesies ikan laut dalam tersebut.

Talis jadi semakin terkejut saat tahu ikan yang menyelamatkannya tadi juga adalah seekor hiu, tetapi bukan hanya sekadar hiu. Dia juga hiu abu-abu. Seekor hiu abu-abu betina.

"Dia terluka ...," kata Mara. Talis sontak memeriksa tubuhnya, beberapa bagian perutnya dipenuhi dengan luka-luka berbentuk bulat berkat hiu pemotong kue itu. Lalu dia melihat lebih jauh ke belakang, siripnya memiliki kondisi yang lebih buruk.

"Kita tinggalkan dia saja, Anok," sambung Mara. Talis melirik lagi ikan yang tadi menyelamatkannya. Hanya ada wajah yang datar.

"Tidak!" teriak Talis. "Tolong bantu aku. Aku Talis, aku dari Solaris dan ekorku terluka parah."

"Solaris? Wow. Kapan terakhir kali kita melihat ada ikan dari Solaris yang cukup bodoh masuk ke zona Batial seperti ini?" kata Mara lagi dengan tawa pendek, tetapi Anok masih terdiam.

"Para orca menyerang kami. Mereka memakan setiap hiu yang mereka temui. Aku terpaksa kabur ke sini. Aku ... apa ini Abyss?"

"Abyss masih jauh dari sini. Ini laut lepas, tempat kau ingin mati perlahan-lahan dimakan hiu pemotong kue," ujar Anok pada akhirnya.

"Atau hiu lain," tambah Mara. "Atau predator apapun yang tidak kau sukai. Tunggu. Kau bilang orca menyerang hiu di Solaris? Mereka yang memakan ekormu sampai jadi seperti itu?"

"Kumohon." Talis berusaha untuk menggerakkan sirip dan ekornya meski kesakitan. "Antar aku ke Abyss. Aku mohon. Ayahku bilang hanya itu satu-satunya tempat yang aman."

Sekali lagi, Mara hanya bisa tertawa, meski hanya dirinya sendiri. "Bicara apa ikan ini? Oh, Anok. Apa begini cara hiu abu-abu di atas sana berbicara? Dia bilang Abyss tempat yang aman."

"Apanya yang lucu?!" Talis mulai kesal dengan sikap ikan angler tersebut.

"Kami bisa mengantarmu ke Abyss," kata Anok, Talis menoleh dengan lega. "Tapi hanya untuk menyembuhkan luka. Setelah itu aku sarankan kau kembali ke Solaris."

"Kau tidak mendengarku, yah? Tempat itu sudah dipenuhi darah hiu berkat paus orca kelaparan, dan—"

"Aku mendengarmu," potong Anok. "Tapi kau pikir Abyss lebih baik?"

Anok berenang ke samping Talis, dan mulai menuntunnya untuk berenang. Sementara Mara berada di depan untuk menuntun arus.

"Siapa namamu, hiu?" tanya Mara.

"Uh ... Talis," balasnya pelan. "Talis Kua."

"Baiklah, Talis ...." Mara menyeringai, menampilkan gigi-giginya yang tak kalah tajam dari milik Talis. "Selamat datang di neraka laut. Aku Mara, pemandumu. Dengan motto kami, 'Hei di sana! Bangkai ikan apa itu?!'."

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top