Chapter 3

Sumpah, ini sekolah apa sekolah? Soalnya aku tadi enggak sengaja lihat orang ber-hoodie kuning lagi digigit buaya. Mana udah setengah badan dia masuk ke mulut si buaya. Bakal selamat enggak, tuh?

Enggak, enggak, pasti cuma salah lihat. Tapi kayak pernah lihat di mana gitu.

Yang pasti beberapa menit lagi kelas akan segera dimulai, tapi kayaknya belum semua murid masuk, deh.

“Amu, Upi belum datang kah?”

Amu yang sedang menawarkan bakpao ke Vanilla pun menengokkan kepalanya padaku. “Hmm ... paling juga nanti bentar lagi,” katanya.

“Oh, oke.”

Aku gabut. Nungguin Pak Saipudin masuk lama amat. Eh, Saipudin bukan, sih? Bukan salahku oke enggak ingat nama guru wali kelas, di komik itu bapak rambut kuning ganti-ganti nama terus.

Sampai sejauh ini aku baru ketemu Toro dan Amu saja. Kemungkinan Upi bakal telat karena berurusan dulu sama adiknya. Terus ... Kiki sama Sho kamana eta budak (kemana itu anak)?

Biar pun modelannya absurd begitu, tapi mereka itu rajin loooh. Iya, rajin buat rusuh.

Masih ada satu lagi yang jadi pikiran. Aku masuk komik seperti ini, nasibku di dunia nyata bagaimana, ya?

Semoga saja si Dadan bawa aku ke rumah sakit. Atau enggak diantar pulang. Jangan sampai aku dijual ke tukang loak hanya demi bisa jemput waifu. Dadan kadang bisa lakukan hal nekat, terpenting dapat uang buat nge-pull dan gacha. Padahal cuma makhluk gepeng.

Nah, sekarang aku kan sudah masuk ke karya dari author spesies membelah diri itu. Kira-kira apa yang harus kulakukan?

Bantu hubungan percintaan mereka sampai happy ending mungkin? Hmm, susah agaknya.

Hilangkan trauma hidup? Waduh, aku bukan psikiater.

Yasudahlah, jalani dulu sementara. Nikmati kekayaan dari keluarga Toro! Muwahahaha!

“(Name)?”

Satu tangan menyentuh kening. Membuyarkan segala macam fantasiku.

“Toro, kayaknya adikmu masih sakit, deh,” kata Amu dengan tangannya yang masih menempel di keningku, “kegiatan menghalumu bahkan udah berlebihan. Sampai ketawa-ketawa gitu.”

Kampr*t. Malu banget enggak bisa jaga komuk! Semoga Amu enggak mikir yang bukan-bukan.

“Kayaknya kamu benar. Tadi di mobil pun tingkahnya sedikit aneh,” timpal Toro dari bangkunya.

Bukannya bela adik (bohongan), malah ikut ngatain. Kakak macam apa coba?

“Aku udah sehat, kok. Apa perlu aku sikap lilin dulu supaya Amu sama Abang percaya kalau aku udah fit?”

Free style sekalian, aku bisa tunjukkan.

“Sudahlah kamu ke UKS aja, (Name). Di sana juga pasti ada Lin,” kata Amu sekali lagi.

Astaga, kenapa susah percaya, sih? Aku tuh enggak apa-apa. Sehat walafiat.

Daripada kena semprot terus yasudahlah aku turuti. Awalnya Toro menawarkan untuk mengantarkan sampai ke UKS, tapi aku tolak karena pasti sebentar lagi bel masuk berbunyi.

Kemudian di tengah perjalanan, aku berpapasan dengan tokoh utama lain.

Laki-laki beranmbut biru muda berperawakan jangkung dengan tas gitar di punggung.

Sudah tahu dong siapa dia.

‘Asdfghjkl, ketemu Kiki beneran!’

Bercucur air mata imajiner. Dilihat langsung dari jara sedekat ini emang Kiki ganteng banget! Rambutnya yang biru itu berkilau seperti memantulkan cahaya mentari.

“Oh, (Name), tumbenan kalem biasanya macam reog.”

Jdar! Bagai petir di siang bolong, eh bukan deng, disambar petir di pagi hari, karena memang masih pagi.

Maksud?

Coret apa yang barusan aku bilang. Kiki tidak ramah, bintang satu.

.
.
.

Gambar di atas kece banget kan? 😔👆
Itu dibuat oleh besplenku yang kiyowok abis Salmonkaleng_ ✨✨

________________
31 Agustus 2022

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top