Sembilan Belas

"Bahkan buat figure Darth Vader limited edition yang Aa liat waktu itu di web?"

Mendengar Vio menyebut benda yang paling diincarnya, keyakinan Kavi langsung runtuh. Lelaki itu mematung, mulai goyah di dalam. Matanya menyipit menatap Vio. Melihat istrinya itu menyengir jail, tangannya langsung bergerak mencubit pipi Vio. "Oh, mainannya gitu ya sekarang? Sengaja mau bikin saya khilaf?"

Tawa puas Vio memenuhi seisi kamar. Perempuan itu berusaha melepas cubitan di pipinya, lalu menatap sang suami sambil mengedip-ngedipkan matanya genit. "Ayolaaah pleaseee .... Kalau Aa beliin skincare dan bayarin all you can eat, aku izinin beli figure Darth Vader yang waktu itu, deh."

"Enggak," tolak Kavi tegas meskipun hatinya menjerit ingin memeluk figure tokoh Star Wars limited edition itu. "Kita investasiin ke saham, titik."

"Cih. Enggak seru." Vio mencebik sambil memutar bola mata.

"Lagian yakin banget bisa all you can eat sushi pakai uang itu." Kavi dengan tidak sabar mengambil amplop tebal di tangan istrinya, lalu mulai menyobeknya. "Amplopnya aja belum kita buka!"

Vio mendekat, menopangkan dagu di bahu Kavi sambil mengamati pergerakan jemari sang suami. Amplop pun terbuka dan Vio mengintip ke dalamnya. Ketika Kavi mengeluarkan sekumpulan uang kertas, Vio spontan melotot. Alisnya bertaut, mulutnya menganga antara kaget dan kesal.

Namun, Kavi malah tertawa keras dan membuat Vio semakin kesal. Direbutnya tumpukan uang kertas dua ribuan itu oleh Vio dan dipelototinya. "Apaan cuma dua ribuan?! Siapa yang ngasih?! Berani-beraninya datang ke nikahan kita cuma nyawer recehan?"

"Iya ... Sayang ... sana, pakai uangnya buat ... all you can eat lemper ayam." Kavi menimpali di antara tawanya. Tubuhnya sampai bergetar hebat akibat tawa yang menggelegar.

Seisi kamar apartemen kini dipenuhi tawa menyebalkan Kavi. Vio yang wajahnya merah padam memukul dada lelaki itu, membuatnya limbung dan jatuh. Punggungnya mengenai karpet, sementara Vio yang kesal sekaligus malu merangkak naik ke pangkuannya, memukul-mukul gemas suaminya itu.

"Aaaah! Iya—iya iya! Ampun ampun!" Kavi masih tertawa sambil mengaduh. Tangannya melindungi badan dari 'pukulan' sang istri.

Setelah huru-hara amplop nikahan berakhir, pasutri itu berpindah pada kado nikahan. Teman-teman Vio patungan untuk membeli peralatan rumah tangga yang belum ada di apartemen Kavi, seperti air fryer dan satu set panci. Sedangkan teman-teman Kavi memilih untuk memberi kado dalam bentuk emas, berhubung mereka tahu bahwa Kavi maniak investasi.

Sejauh ini, tidak ada yang aneh kecuali ... kain satin berenda warna hitam yang sedang Vio angkat tinggi-tinggi di udara. Kavi yang duduk di sebelahnya langsung mengangkat alis dan bersiul.

"Wah, mantap! Kita dikasih armor buat sunah Rasul," celetuk Kavi, kemudian lelaki itu mengambil kartu ucapan yang dibungkus bersama lingerie tadi dan membacanya. "Poppy siapa? Pengertian amat dia."

"Sahabatku waktu ... SMA. Emang agak sinting anaknya." Vio berdeham canggung dan buru-buru memasukkan baju haram itu kembali ke boksnya.

"Kok disimpen lagi? Enggak akan dipakai?"

"Hah? Mau langsung dipakai malam ini?" Pipi Vio memerah ketika menoleh, suaranya pun memelan. "Malu ah, A'. Lain kali aja, ya?"

"Terus, kita enggak akan sunah Rasul malam ini?" Nada bicara Kavi santai, padahal sebenarnya ia berharap setengah mati. Tangannya meraih pinggang Vio, meremas-remas lapisan lemak tipis di sana.

Vio langsung membeku, pipinya kian memanas. Ia tahu bahwa ritual sakral suami istri ini tidak bisa dihindari selamanya. Malah Vio yang durhaka sebagai istri kalau menolak.

Vio sebenarnya mau, tetapi hatinya belum siap, terlebih lagi ketika Kavi duduk di sampingnya, mengenakan slim-fit t-shirt warna abu-abu dengan sweatpants, kemudian berusaha merayunya dengan menyentuh titik sensitifnya. Rambut ikalnya yang setengah basah sedikit acak-acakan, membuatnya terlihat lebih seksi. Jangan lupakan juga otot perutnya yang membuat Vio penasaran sejak lama, dan malam ini ia sudah diizinkan melihatnya.

"C-capek abis resepsi, A'. Besok pagi aja ya, abis salat subuh?" kilah Vio dengan gugup. Setidaknya masih ada sekitar sepuluh jam lagi untuk mempersiapkan mental. Mungkin malam ini ia bisa pelan-pelan membiasakan diri berada di dekat Kavi dengan tidur seranjang dulu dengannya, tanpa kegiatan seksual apa pun. Tangannya dengan canggung berusaha melepas remasan Kavi di pinggangnya, tetapi lelaki itu bertahan di tempatnya.

Namun, Kavi tidak menyerah. Sekarang ia malah memeluk pinggang Vio dengan kedua tangan dan meletakkan pipinya di dada perempuan itu, kemudian mendongak dan menatap Vio dengan puppy eyes mematikan. "Sekarang aja ya, Sayaaang?"

Dalam hati, Vio ingin mengumpat karena sepasang mata imut menyedihkan seperti anak anjing itu berhasil membuatnya goyah. Padahal, puppy eyes yang digunakannya untuk memanipulasi Kavi kadang-kadang tidak berhasil. Debaran di dadanya kian menggila dan ia yakin Kavi bisa merasakannya.

Cowok yearner sialan!

Vio membuang muka, meletakkan telapaknya di wajah Kavi dan mendorongnya pelan-pelan. "Besok aja ...." Vio mencoba tegas, tetapi suaranya melemah.

"Kenapa besok?" Kavi mencebik. Disingkirkannya tangan Vio dari wajahnya.

Otak perempuan itu berpikir cepat untuk memberi alasan. "Capek, A'. Barusan baru aja mandi, masa nanti harus keramas lagi? Ngeringin rambutnya lama. Keburu ngantuk."

"'Kan bisa pakai hair dryer."

"Kita enggak punya—"

"Punya." Kavi mengambil kotak berisi alat pengering elektronik yang tergeletak di lantai dan menunjukkannya pada Vio.

Vio memejamkan mata dan berdecak. Bisa-bisanya perempuan itu melupakan benda sepenting ini padahal tadi ia sendiri yang membuka bingkisan itu. Terkutuk sahabat SMP Vio yang memberinya hair dryer dengan pesan yang bertuliskan, 'Jangan tanya kenapa aku kasih hair dryer. Percayalah, kamu pasti perlu banget kalau udah jadi istri orang'.

Melihat sang istri skak mat, Kavi menyeringai senang. Jemarinya pelan-pelan menggambar pola abstrak di punggung Vio, mengedarkan aliran-aliran listrik kecil ke seluruh tubuh perempuan itu. "Jadi ... sunah Rasul?"

Vio hampir menggeliat ketika jemari Kavi menjelajah punggungnya. Perempuan itu juga merasakan perasaan aneh di bagian bawah perutnya. Mendengar suara husky-nya Kavi, tubuhnya menjerit meminta lebih. Akhirnya, Vio mengembuskan napas pasrah dan mengangguk. "Ya udah iya, tapi—"

Belum selesai berbicara, Vio sudah diangkat oleh Kavi ke atas bahunya, kemudian lelaki itu berdiri dengan mudahnya, seolah-olah tubuh Vio seringan kapas. Spontan Vio menjerit, berpegangan dengan meremas t-shirt lelaki itu. "Aa! Turunin dulu! Aku belum selesai ngomong—"

"Loh, tadi bilang iya?" goda Kavi sambil membopong Vio ke ranjang. Lengan kokohnya memeluk tubuh sang istri di bahunya.

"Iya! Tapi—tapi kita enggak punya—" Vio memekik lagi ketika Kavi mendaratkannya di ranjang. Tubuhnya memantul sekali. Dengan refleks perempuan itu menutup mata dan membentuk kedua lengannya menjadi X untuk menghalau sang suami. "Kondom! Kita enggak punya kondom!"

Kavi dengan santai membuka laci nakasnya dan mengeluarkan sekotak alat kontrasepsi pria.

Vio membuka mata untuk mengintip, kemudian dagunya jatuh saking speechless-nya. Ia sudah di tahap terlalu bingung untuk merespons gebrakan gila sang suami dan terlalu lelah untuk berdebat. "Kapan ... kapan belinya?"

"Tiga hari lalu." Kavi menyeringai puas dan mengangkat alisnya beberapa kali. Ia menggoyang-goyangkan pengaman di tangannya. "Kamu enggak nyuruh, mungkin bahkan lupa, tapi saya udah prepare."

Vio hampir memekik ketika Kavi menjatuhkan diri ke arahnya. Kedua lengan kokohnya menopang tubuh di ranjang, menjebak sisi kanan kiri Vio sehingga perempuan itu tidak bisa kabur. Perempuan itu bahkan tidak sadar telah menahan napas cukup lama.

"Anggap aja kita lagi naik roller coaster. Teriak aja sekeras apa pun yang kamu mau."

Dukung Anomali Ananda dengan menekan bintang di pojok kiri bawah 🌟

7 September 2025

*****

Disuruh TERIAK sama Kavi🥲🥲🥲

Aku kalau tinggal di kamar apart sebelah mereka mending melipir aja deh ke tempat lain😔 Enggak kasian banget sama yang belum punya suami....

Anyway, chapter 20-26 udah update di KaryaKarsa ya! Search NatWinchester atau klik link di bio!

See you very soon💓

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top