𐙚˙⋆.˚06. Lepas Amarah

"Harsa!" teriak Jingga.

Orang-orang yang berada di lapangan langsung melirik ke arah Jingga. Mereka mengernyitkan kening, mendengar seorang gadis berjaket hitam meneriaki nama Harsa. Terlebih lagi, jaket yang dipakai gadis itu memiliki coretan logo kulit harimau, yang dikenal milik Harsa.

Harsa yang dipanggil menurunkan kepalan tangannya. Dengan napas terengah-engah, dan sudut bibir berdarah, dia mengikuti arah pandang teman-temannya. Mereka semua menatap Jingga dari bawah hingga atas. Apalagi ketika Jingga berlari, dan menghampiri mereka tanpa memikirkan pertengkaran yang saat ini sedang terjadi.

"Harsa! Bukannya pulang, lo malah bikin keributan di sini! Masih pake seragam sekolah lagi! Jangan malu-maluin sekolah di depan umum kayak gini!" omel Jingga.

Harsa menundukkan kepala, sembari mengusap cairan merah di sudut bibirnya. Pemuda itu berusaha untuk menenangkan diri, sembari berpikir jernih. Sementara itu, orang yang menjadi sasaran kepalan tangan Harsa mengernyitkan kening. Pemuda berseragam abu itu melengkungkan sudut bibirnya ke atas. Dia ikut memperhatikan Jingga dari bawah hingga ke atas. Baru kemudian menebak, "Ternyata anggota geng kalian nerima cewek juga?"

Tangan Jingga mengepal kuat. Apalagi setelah mata pemuda di depan Harsa tak berhenti memindai tubuh mungilnya. Gio memberi senyuman mengejek pada Jingga. Sementara Jingga menggelengkan kepala, dan mengelak, "Gue bukan anggota mereka."

Dika yang berada di belakang Harsa langsung mengangguk. "Gak usah peduliin dia. Dia cuman cewek galak yang suka nyari gara-gara. Kalo mau gelud, lanjutin gelud kalian aja! Jangan ditunda-tunda!"

Seketika, Jingga melemparkan penghapus kecil ke kepala Dika. "Gak tahu malu. Ini lapangan umum, bukan lapangan buat berantem! Kalo mau berantem, ya di tempatnya! Jangan di tempat umum kayak gini! Pake baju seragam lagi, malu-maluin sekolah aja!" gerutu Jingga dengan mata memelotot.

Dika merotasikan mata, sembari mengusap-usap kepalanya yang terkena lemparan penghapus Jingga. Sementara itu, Gio kembali bersuara, "Kalo bukan anggota geng, kenapa dia paket jaketnya geng maung aneh kalian ini? Atau... jangan-jangan dia ceweknya... si Harsa?"

Tebakan Gio membuat Harsa tertawa, sembari memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia mencoba menghindari pandangannya dari Jingga, sembari memberitahu Gio, "Mana mungkin, gue punya cewek kayak dia. Liat aja... dia kecil dan gak menarik sama sekali."

"Dia pake jaket gue, karena ngadu sama guru! Bajunya koyak setelah gue buli. Jadi... bisa dikatakan, kalo dia itu... musuh gue," jelas Harsa dengan mata memelotot.

Kebohongan Harsa bisa diendus oleh Gio. Pemuda itu menarik sebelah sudut bibirnya ke atas, ketika melihat kepalan tangan Jingga, dan mata memelotot, yang tak takut bertukar pandang dengannya. "Korban buli? Atau... musuh lo? Yakin?" tanya Gio.

Harsa menggenggam kerah baju Gio, lalu memberitahu, "Urusan lo cuman sama gue. Jadi, gak usah narik-narik orang lain."

Gio tersenyum, dan berbisik, "Kalo dia cuman musuh lo... berarti gak masalah kan, kalo gue... sedikit mainin dia?"

Kesabaran Harsa langsung melebur, ketika ucapan Gio menambah api ke dalam amarahnya. Pemuda itu tak bisa menahannya lebih jauh, hingga kepalan tangannya akhirnya mengarah pada pipi Gio berulang kali. Tak hanya itu saja, Harsa juga mendapatkan pukulan. Disertai dengan anggota geng, yang ikut bertengkar mengikuti ketua mereka.

Pertengkaran terjadi di depan Jingga. Itu pun tepat di lapangan umum yang sedang tidak dipakai. Jingga melirik ke kiri dan ke kanannya. Ibu-ibu yang melihat perkelahian langsung berlari dan menghubungi polisi. Sementara itu, beberapa orang bersembunyi dan merekam tanpa berniat melerai.

Banyaknya jumlah pemuda yang berkelahi membuat beberapa warga merasa takut terkena imbasnya. Mereka hanya bisa merekam diam-diam, sembari bergosip tentang anak-anak yang berkelahi. Lalu di antara semua orang, ada Jingga yang mencari cara menghentikan pertengkaran mereka.

"Kalo sedikit, masih bisa gue lerai. Tapi kalo serombongan kayak gini? Gimana cara misahin mereka?" tanya Jingga.

"Jingga!" panggil Elsa. Elsa berlari terburu-buru ke arah Jingga. Dia menepuk bahu Jingga, dan mengajak, "Ji, ayo pulang aja. Biarin mereka. Nanti lo kena pukul juga!"

Jingga melirik ke arah sekumpulan pemuda yang semakin menjadi-jadi. Satu pukulan dibalas dengan dua pukulan. Beberapa ambruk, dan kembali berdiri untuk menyerang musuhnya. Semua pukulan dan pergerak mereka, menyebabkan kabut berwarna kecokelatan yang disebabkan oleh tanah.

"Kalo gue biarin gitu aja, mungkin ada korban! Liat itu! Mereka berantem kayak binatang!" ucap Jingga.

Elsa berdecak, dan berkata, "Terus, lo pikir dengan lo berdiri di sini, dan teriak-teriak mereka bakal dengerin lo?"

"Enggak, Ji. Lo bukan Wonder woman, dan teriakan lo gak akan cukup melerai mereka. Mendingan lo selamatin diri lo aja! Nanti juga bakal ada polisi yang dateng ke sini!" jelas Elsa.

"Polisi?" Tiba-tiba sudut bibir Jingga terangkat ke atas. Gadis itu merogoh ponsel di saku jaketnya, kemudian mencari-cari nada suara sirine polisi. "Nunggu polisi kelamaan, sebelum ada korban jiwa, mendingan diberhentiin dari sekarang."

Elsa merotasikan mata, lalu membalas, "Astaga, Ji! Suara ponsel lo gak cukup kenceng buat---"

Belum sempat Elsa mengakhiri ucapannya, suara sirine ponsel Jingga terdengar oleh dua orang yang berkelahi di dekat Jingga. Dua orang itu langsung menghentikan perkelahian mereka, lalu memberitahu, "Ada polisi!"

"Polisi!"

Teriakan dua orang pemuda mengakibatkan pemberhentian perkelahian para pemuda. Dengan napas terengah-engah, mereka melirik ke arah dua orang pemuda yang berteriak. Setelahnya mereka melihat ke belakang, dan mencari-cari polisi yang dimaksud.

"Polisi? Di mana polisi?" tanya Dika.

Semua orang terdiam, dan mendengar suara sirine mobil polisi. Arah pandang bola mata mereka tertuju pada Jingga yang memegangi ponsel, bersamaan dengan Elsa yang meneguk ludahnya sendiri. Elsa tak ingin ikut campur urusan mereka, jadi dia menepuk bahu Jingga, dan berpesan, "Lari, Ji!"

Elsa berlari, dan Jingga mematung di tempat. Gadis itu berhasil memberhentikan perkelahian, sekaligus memancing bawahan Gio untuk mendekat ke arahnya. Salah satu di antara mereka tersenyum, dan berkata, "Kecil-kecil cabe rawit. Berani banget, ngeprank dua kelompok yang lagi gelud. Lo mau ikut kena bogeman gue, hah?!"

Pemuda itu berniat untuk menjambak rambut Jingga, dan memberi Jingga rasa takut untuk tidak mengganggu. Namun, Jingga menahan tangannya dan mencubitnya sekuat tenaga. " Sebelum gue kena bogeman, lo duluan yang kena."

Satu kepalan tangan mendarat di pipi pemuda yang sudah mengganggu Jingga. Sikap Jingga mendapatkan tepukan tangan, dengan sorot mata tajam dari Gio. Gio berniat untuk membalas perlakuan Jingga pada temannya. Namun, suara sirine mobil polisi asli terdengar di telinga mereka.

"Ini mobil polisi beneran! Bukan prank lagi!"

"Cepet lari!"

"Kita lanjutin di lain waktu aja!"

"Kabur!"

Para pemuda terburu-buru naik ke sepeda motor mereka, dan melajukannya tanpa mempedulikan penampilan. Hal itu membuat sudut bibir Jingga terangkat ke atas. Gadis itu mengeluarkan napas panjang, sembari mengusap keringat di keningnya. "Syukurlah, polisi udah dateng."

Baru saja Jingga merasa senang karena keberadaan polisi. Tiba-tiba Harsa melajukan sepeda motornya, dan berhenti di depan Jingga. Pemuda itu mengajak, "Ayo naik."

Jingga menggelengkan kepala, dan menyilangkan tangan di depan dada. "Kabur aja sana. Gue mau pulang sendiri."

Harsa berkata, "Cepet naik, atau gue gendong?"

Jingga kembali menggelengkan kepala. "Udah gue bilang! Kabur, ya kabur aja sana! Gak usah ngajak-ngajak segala!"

"Lagian yang diincar polisi itu lo, bukan gue," lanjut Jingga tak ambil pusing.

Harsa menunjuk jaket miliknya. Lalu Jingga menunduk, menatap jaket yang sedang dia kenakan. Hanya dalam hitungan detik saja, kelopak mata Jingga melebar. "S*al."

"Makanya cepetan naik!" peringat Harsa.

•••

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top