𐙚˙⋆.˚04. Suka Amarah

"Syukurlah badan lo kecil, jadi handuk ini bisa nutupin nodanya," ucap Stefan.

Sudut bibir melengkung ke atas. Mata menyipit, sampai dua buah lesung pipi terlihat jelas di mata Jingga. Setiap Stefan berada di dekatnya, Jingga tak bisa berhenti menatap kedua lesung pipi itu, dengan detak jantung berdetak kencang.

Ketika semua orang menertawakan dan menjauhi Jingga. Orang yang setia mendekati, dan membantunya adalah Stefan. Termasuk, saat seragam Jingga kotor, dan pecahan gelas berserakan di atas tanah. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Stefan sudah memberikan handuk dan membantu Jingga memunguti pecahan yang ada di tanah.

Jingga ingin berterima kasih kepada Stefan, setelah membantunya tanpa banyak bicara. Namun, ketika sudut bibir Jingga diam-diam terangkat ke atas, Jingga merasakan handuk di bahunya menghilang. Digantikan dengan sebuah jaket yang melingkupi tubuhnya dari belakang.

Hanya dengan mencium aroma parfum, dan mendengar suara orang di sampingnya. Jingga sudah bisa menebak, siapa pelaku yang sudah menyingkirkan handuk Stefan dari bahunya.

Tanpa rasa bersalah, Harsa berkata, "Handuk itu kotor, udah dipake ngelap keringat."

Suara tawaan para siswa terhenti, melihat ketua geng anak-anak nakal sekolah tiba-tiba mendekati Jingga. Para siswa kembali berbisik-bisik, meskipun bisikan mereka terdengar langsung di telinga objek pengamatan mereka.

"Harsa mau bantuin Jingga juga?! Kerasukan apa cowok itu?"

"Wah, gak beres ini! Pasti si Jingga emang caper! Pengen nyari-nyari perhatian!"

"Biasanya juga mandiri banget, kenapa sekarang pake harus dibantu-bantu segala?"

"Apalagi? Selain mau cari-cari perhatian. Ngeselin banget, si Kurcaci itu."

Tak hanya para siswi yang bergosip, teman-teman Harsa juga mengernyitkan kening melihat Harsa memberikan jaket gengnya begitu saja. Dika berkata sekaligus mewakili pertanyaan teman-temannya, "Bro! Ngapain lo bantuin cewek rese itu? Pake kasih jaketnya segala lagi."

Pertanyaan Dika terdengar jelas di telinga Stefan. Stefan berjongkok, dan mengambil handuk yang sudah Harsa singkirkan dari pundak Jingga. Pemuda itu menatap ke arah Harsa, tanpa menurunkan sudut bibirnya. Dia berkata, "Handuk ini belum gue pakai. Karena sejak tadi, temen-temen gue ngasih handuk-handuknya tanpa diminta."

Harsa tertawa, dan menebak, "Loh? Bukannya itu kumpulan cewek-cewek lo? Gue pikir mereka semua pacar lo. Ternyata cuman dianggep temen doang. Atau... babu gratis?"

Para gadis yang sedari tadi menyemangati Stefan, menurunkan sudut bibirnya. Mereka tersinggung dengan apa yang Harsa katakan. Namun, ucapan Stefan selanjutnya langsung menenangkan hati mereka.

Stefan tersenyum, dan berkata, "Gue belum punya pacar, dan kalo pun punya, gak mungkin punya banyak pacar. Gue gak suka mainin cewek kayak lo."

Tatapan mata Stefan tak sejalan dengan senyuman manisnya. Ada aura permusuhan yang dia gunakan untuk menatap Harsa. Sementara itu, Harsa berdecak dengan tangan bersilang di depan dada. "Mainin cewek? Tau dari mana lo, gue suka mainin cewek? Bukannya yang suka ngebaperin banyak cewek itu lo?" tanya Harsa.

Stefan meremas handuk di tangannya, kemudian membalas, "Lo bilang, gue gak boleh ngedeketin Jingga. Tapi ternyata, diam-diam lo juga suka deketin Jingga. Buktinya, lo bahkan ngasih jaket."

Teman-teman Harsa ikut menatap tajam ke arah Harsa. Mereka menyipitkan mata, dan memperhatikan apa yang terjadi pada ketua mereka. Namun, Harsa masih tetap tenang, dan menepuk-nepuk bahu Jingga. Itu pun tepat di depan Stefan.

Harsa berusaha untuk merangkul Jingga, tetapi Jingga sudah lebih dulu memberinya tatapan tak bersahabat. Setelah itu, Harsa menundukkan kepala dan memberitahu semua orang, "Jangan salah paham. Gua gak suka ngebaperin cewek tanpa kepastian. Tapi gue suka gangguin cewek galak."

"Dan jaket yang gue kasih ini, adalah jaket yang penuh kuman karena gak dicuci beberapa bulan ini. Gue cuman mau sedikit balas dendam aja," balas Harsa, yang membuat para anggotanya tersenyum puas.

Sudut bibir yang awalnya melengkung ke bawah, kini terangkat ke atas. Para anggota kembali bersemangat untuk menyuraki Jingga, dan memberi dukungan penuh pada Harsa. Namun, sorakan itu malah membuat Jingga semakin bersemangat mendapatkan targetnya.

Setelah memastikan Harsa berada di depannya, Jingga langsung menarik pergelangan tangan Harsa untuk pergi ke kantin sekolah. Dia membawa satu nampan di tangan kanan, sementara tangan kirinya menyeret Harsa untuk ikut dengannya.

"Jingga!" panggil Stefan.

Tak hanya Stefan saja yang memanggil-manggil Jingga. Para anggota geng juga ikut memanggil Jingga, untuk memastikan ketua mereka tidak dihukum dan diskors kembali.

"Boss! An*jir! Si Boss diseret gitu aja!"

"Pasti si Cepu itu ngelapor!"

"Atau enggak, ngasih hukuman enteng lagi!"

"Buang-buang waktu! Padahal kita harus ngadain rapat!"

"Parahnya lagi, Boss malah pasrah dibawa gitu aja! Apa dia gak kapok, duit jajannya dipotong?"

"Kalo dipotong terus, siapa orang yang mau bayarin makanan kita?"

Jingga berjalan lurus ke arah dapur sekolah. Gadis itu melewati beberapa siswa yang berkerumun di kantin, atau pun para penjaga sekolah yang menatapnya heran. Sementara Harsa sendiri masih bisa mempertahankan senyumannya, tanpa mencari tahu apa yang akan Jingga lakukan padanya.

Aroma roti berlapis madu tercium hidung Harsa. Perutnya memanggil dirinya untuk pergi ke kantin, dan duduk untuk mencicipinya. Namun, tarikan Jingga menghalangi langkah Harsa. Pada akhirnya, Harsa pasrah diajak Jingga pergi ke dapur, untuk menyimpan nampan dan membuang pecahan gelas.

"Ada perlu apa lo sama gue?" tanya Harsa sembari mendudukkan diri di salah satu sofa sekolah.

Bukannya menjawab, Jingga malah sibuk merapikan nampan dan pergi untuk membuang pecahan gelas. Setelah itu, Jingga menemui pemilik dapur, dan mengucapkam permintaan maaf, sekaligus perjanjian untuk mengganti gelas dengan gelas yang baru. Setelahnya, Jingga kembali melangkah ke arah Harsa, dengan mata menyipit.

Harsa yang ditatap dengan tatapan penuh selidik, tertawa kecil sembari menyandarkan punggungnya di kursi. Setelah itu, dia menyilangkan tangan di depan dada, dan menutup kelopak matanya. Dia menundukkan kepala, melihat ke arah jam di pergelangan tangannya, sebelum akhirnya memperingati, ""Gue gak punya banyak waktu buat berduaan sekarang. Jadi, cepet bilang apa yang lo mau dalam lima detik."

"Lima."

"Empat."

"Tiga."

"Dua."

"Sat---"

"Lo yang ngerusak karya seni di acara pameran?" tanya Jingga tanpa basa basi.

Tuduhan yang diberikan Jingga, tak membuat Harsa tersinggung sedikit pun. Pemuda itu hanya tersenyum, sembari menundukkan kepala untuk memperhatikan jam di tangannya. "Bukan gue."

"Cuman lo doang. Orang yang berantem, dan buat keributan di acara pameran. Gara-gara meriksa keributan, gue terpaksa ninggalin karya seni yang harusnya gue jaga," jelas Jingga.

Harsa menarik dan mengeluarkan napas panjang. Dia kembali menyandarkan tubuhnya di kursi, kemudian berkata, "Lo tahu, kalo gue berantem pas acara itu."

"Gak mungkin 'kan? Gue membelah diri, terus ngancurin karya seni pas lo lagi meriksa gue berantem? Ini gak masuk akal," lanjut Harsa.

Jingga menggelengkan kepala, dan membalas, "Cuman lo aja, orang rese yang paling sering gangguin gue. Selain itu, lo bisa aja nyuruh anak buah lo, buat ngancurin karya seni yang gue jaga."

Harsa tersenyum, kemudian menangkup pipi dengan salah satu tangannya. Dia membalas, "Gue gak mungkin ngelakuin hal kayak gitu."

"Kalo bukan lo, terus siapa lagi? Siapa orang yang benci gue, dan terus gangguin gue secara terang-terangan selain lo?" tanya Jingga dengan tangan mengepal kuat.

Harsa membalas, "Gue gak benci sama lo."

"Bohong. Gue juga tahu, lo pasti kesel karena sering gue marahin kan?" tanya Jingga.

Harsa menggelengkan kepala. "Enggak, tuh. Lagian gue suka lo marah. Pipi lo merah kayak tomat, bibir lo lucu kayak cumi, dan bagian favoritnya adalah... teriakan lo mirip nyokap gue, pas tau gue ngilangin rantang favoritnya."

"Lo ngejelekin gue?" tanya Jingga.

Harsa menggelengkan kepala, dan mengungkap, "Gue suka sama lo."

•••

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top