TRAGEDI

Makan siang kali ini, Ali mengajak Prilly dan Angel ke restoran dekat dengan kantornya. Sembari menunggu pesanan datang, Angel mengerjakan pekerjaan rumah yang gurunya berikan tadi saat di sekolah. Prilly mengajari dan membimbing Angel penuh kesabaran. Ali yang melihat sosok keibuan dari Prilly tak menyangka, gadis yang ditemukannya saat dulu sedang mabok, kini berbalik banding dengan gadis yang di depannya. Tak semua orang pemabok memiliki kehidupan kelam, mabok bukan berarti memiliki kehidupan negatif.

"Mommy, ini sulit sekali. Angel nggak bisa," rengek Angel menunjuk buku pelajarannya yang sedari tadi dia hadapi.

"Mana lihat." Prilly menggeser bukunya dan melihat hasil yang Angel kerjakan. "Ini salah Sayang, coba kamu hitung lagi. Hasan memiliki 10 buah apel, lalu dia memberikan 3 apelnya kepada Hesti. Sisa berapakah apel yang Hasan punya?" baca Prilly pada soal yang tadi salah.

Angel mulai menghitung sangat serius, sedangkan Ali memperhatikan mereka sambil tersenyum bahagia bercampur geli. Bagaimana tidak? Ali bahagia karena Angel dan Prilly begitu dekat secara alami tanpa bujukan dan rayuan, meskipun begitu, Ali juga geli karena kedua wanita berbeda generasi itu memiliki tubuh yang sama-sama mungil dan cantik. Usia tak menjadi penghalang untuk hadirnya cinta. Cinta tak memilih berapa usia yang akan mereka tempati. Dia datang begitu saja tanpa melihat sasaran.

"Berapa?" tanya Prilly setelah Angel menghitung.

"Ini sangat sulit Mommy," rajuk Angel sedih sambil mengeluarkan jurus andalannya, yaitu memasang wajah memelas. Bukannya membuat Prilly iba, namun justru membuatnya tertawa gemas kepada Angel.

Ali ikut tertawa melihat wajah putrinya yang sangat menggemaskan itu.

"Kamu ini ada-ada aja, masak sih wajah mengiba begitu. Yang ada orang nggak kasihan sama kamu, malah orang, adanya mau cium kamu karena saking gemasnya," ujar Ali sambil tertawa lepas.

Angel justru semakin memperlihatkan wajah menggemaskannya. Dia mencondongkan kepalanya ke kiri sambil mengulum bibir bawahnya, matanya dia biarkan melirik melihat Prilly yang masih tertawa hingga memegangi perutnya.

"Sudah ... sudah, perut Mommy sakit. Ayo beresin dulu bukunya, itu makanannya sudah datang," kata Prilly sambil menghapus air matanya, karena saking bahagianya tertawa melihat ulah Angel.

Prilly membantu Angel memasukkan bukunya agar para pelayan dapat menurunkan pesanan makan siang mereka di atas meja.

"Nanti dibantu lagi ya Mommy, PR-nya belum selesai," rengek Angel menutup tasnya.

"Iya, nanti kita kerjakan bersama di rumah ya. Sekarang kita makan dulu," sahut Prilly mengelap telapak tangan Angel dengan tisu basah dan meneteskan ati kuman pada telapaknya.

Ali terus menatap Prilly yang melayani Angel sepenuh hati. Pikirannya teringat oleh ucapan Lovely saat itu.

"Daddy?" panggil Prilly lembut sambil mengelus lengannya, menyadarkan Ali saat sedang melamun.

Sengaja Prilly dan Ali memanggil Daddy-Mommy untuk membiasakan diri sebelum mereka nanti memiliki anak dari hasil pernikahannya nanti.

"Eh, maaf," ucap Ali tersadar dari lamunannya.

"Mikirin apa sih?" tanya Prilly mengambilkan lauk dan sayur ke piring Ali.

Ali menghela napasnya dalam, jika dia menceritakan kepada Prilly, dia takut nanti Prilly ikut kepikiran seperti dirinya.

"Nggak papa, sedikit memikirkan pekerjaan tadi yang aku tinggal," dusta Ali mengambil sendok dan garpunya.

"Makan dulu, jangan pikirkan yang lain. Nanti kan bisa dilanjutkan," ujar Prilly tersenyum sangat manis.

Ali membalas senyuman itu, entah menggapa hatinya dirundung kekhawatiran. Tiba-tiba perasaan tak ingin jauh dari Prilly dan Angel menyelimuti dadanya.

"Nanti malam jadi, mau ngajak Angel ke pasar malam?" tanya Ali mencoba mengusir pikiran dan perasaannya yang tak menentu itu.

"Jadi, kenapa? Kamu ada acara?" tukas Prilly menghentikan makannya dan menatap Ali yang sedang mengunyah makanannya.

"Nggak, nanti aku jemput di apartemen kamu aja. Ajak Angel ke apartemen," titah Ali mengelus pipi Prilly lembut.

Prilly hanya tersenyum, lantas mereka menikmati makan siang dengan canda tawa dan obrolan kecil. Sesekali Ali dan Prilly menggoda Angel, sampai dia merengek manja.

Pulang dari kantor, Ali langsung pergi ke apartemen Prilly. Dia melihat jam tangannya menunjukan pukul 15.00 WIB, hari ini dia pulang lebih awal. Ali mengusap tengkuknya yang terasa letih dan berat. Seharian bekerja, membuatnya ingin segera meluruskan otot dan merilekskan otaknya. Setelah sampai di depan pintu kamar apartemen Prilly, tanpa mengetuk, Ali memasukkan 6 digit password rahasia yang hanya dia dan Prilly tahu. Berhasil membuka pintu, Ali perlahan masuk, sepi, kemana mereka? Pikir Ali menyapu pandangannya ke seluhur ruangan sambil menutup pintunya perlahan. Ali melepaskan sepatunya, lantas dia juga membuka jasnya.

"Apa mungkin masih pada tidur kali ya?" gumam Ali membuka dua kancing kemejanya sembari berjalan mencari Prilly dan Angel di kamar.

Senyum terukir di bibirnya, ternyata kedua malaikatnya masih tertidur saling berpelukan. Ali masuk, melepas celana kainnya, menyisakan boxer dan kaus putih polos. Lalu dia ikut menyusup di bawah selimut langsung memeluk Prilly dari belakang. Merasakan sesuatu membebani punggungnya, Prilly pun mengejapkan matanya, dia mencium aroma tubuh Ali.

"Sudah pulang?" tanya Prilly pelan agar tak mengganggu tidur Angel.

"Iya, barusan. Aku lelah, mau ikut tidur sebentar," bisik Ali yang sudah merasa kantuk.

"Ngantuk sih ngantuk, tapi kenapa jujun yang malah bangun," gerutu Prilly yang merasakan bokongnya tersentuh sesuatu yang membengkak keras.

Ali hanya tersenyum lalu semakin mengeratkan pelukannya dan menyusupkan wajahnya di tengkuk Prilly.

"Pengen," bisik Ali menghembuskan napasnya yang hangat di tengkuk Prilly, membuat tubuhnya merinding.

"Tahan dulu, belum juga sah," tolak Prilly yang naif, karena sebenarnya dia juga menahan berahinya.

Meski mereka sudah sering bercumbu, namun Ali masih menjaga kesucian Prilly. Walaupun itu sangat sulit dan menyiksanya, Ali menyadari jika itu belum saatnya.

"Bantu ngeluarin deeeeeh," bujuk Ali sengaja menggerakkan bagian bawahnya di bokong Prilly.

"Ssssshhhhh ah!!!" desahan lolos dari bibir Prilly karena tak sanggup menahannya, apa lagi tangan Ali sudah nakal menemukan nipple Prilly meski dari luar dasternya.

"Tuh kan ... puting kamu aja udah tegang. Ayoooo," rajuk Ali manja sambil jarinya terus bergerak di atas nipple Prilly yang sudah mengacung keras di balik dasternya.

"Jangan, nanti kebablasan. Ada Angel juga, nanti terbangun dia," alasan Prilly yang sebenarnya dalam hatinya juga menginginkan.

"Makanya, jangan berisik. Nggak perlu buka-bukaan, cuma bawahnya aku aja yang dibuka. Please, udah sakit banget niiiiih," bujuk Ali terus menggesekkan alat vitalnya yang masih terbungkus boxer di bokong Prilly.

Prilly tak kuasa menahan gejolak yang menyeruak dalam tubuhnya. Apa lagi, Ali terus memainkan nipple-nya, yang terus semakin mengeras. Perlahan Prilly melepaskan Angel dari dekapannya, lantas dia membatasi Angel dengan sebuah guling. Ali tersenyum puas, akhirnya Prilly akan membantunya pelepasan, setelah sekian lama tertahan.

"Sebentar, jangan lama-lama, nanti Angel bangun," gertak Prilly membalikkan badannya menghadap pada Ali.

Ali mengangguk manja sambil tersenyum sangat manis, wajah mesumnya tak dapat dia tutupi lagi. Lantas Ali melepas boxer-nya di balik selimut. Jantung Prilly berdebar keras, karena baru kali ini, dia akan menyentuh alat vital Ali secara langsung, biasanya dia menyentuh, namun masih terlapisi dengan kain. Tanpa melihatnya secara langsung, tangan Prilly perlahan diarahkan Ali untuk menyentuh batang kemaluannya.

"Wooww, besar, keras dan panjang, bikin aku gemas," takjub Prilly setelah menyentuh dan merabanya.

Ali hanya tersenyum bangga, perlahan Prilly menggerakkan tangannya membuat mata Ali merem melek. Desahan tertahan keluar dari mulut Ali, tak ingin membuat berisik, Ali pun menarik dagu Prilly agar dapat menyatukan bibir mereka. Tangan Prilly terus bekerja di bawah, sedangkan bibirnya beradu dengan bibir Ali. Ali terus menghisap bibir Prilly dan sesekali dia menggigitnya. Tak puas dengan itu, lidah Ali mendesak masuk ke dalam mulut Prilly. Mereka saling bersilat lidah, bertukar saliva tak lagi jijik namun justru menimbulkan sensasi liar yang semakin menggila.

Bagian bawah Prilly bekedut keras, dia merasa bawahnya sudah mengeluarkan lendir rangsangan. Prilly menikmati setiap belaian tangan Ali yang menyusuri tubuhnya, menjamah bagian-baian sensitif untuk meningkatkan rangsangan. Tangan Prilly merasakan batang 'itu' semakin keras dan besar, tubuh Ali juga semakin menegang.

"Aku mau keluar," bisik Ali menginterupsi agar pergerakan tangan Prilly semakin dipercepat.

Tak terasa, sesuatu membasahi tangan Prilly, hangat dan kental. Ali tersenyum puas dan wajahnya terlihat cerah. Tubuhnya ringan, kepalanya juga tak lagi pusing. Seperti melepaskan beban yang menimpanya bertahun-tahun.

"Daddy sama Mommy ngapain?"

Jlek!

Jantung Ali dan Prilly seakan jatuh dari tempatnya. Dengan cepat, Prilly mengelap tangannya dengan selimut yang menutupi permainan mereka, lantas dia mencabut tangannya dari batang Ali. Prilly membalikkan badan, melihat Angel sudah setengah bangun. Apakah Angel melihatnya tadi? Pikir Prilly takut jika Angel mencurigainya dan Ali. Prilly menghela napas dalam, bersikap seolah-olah tak terjadi sesuatu, begitupun juga Ali, yang menghela napas dalam untuk menetralkan suasana hatinya.

"Loh, kok sudah bangun?" tanya Prilly menarik pelan tangan Angel agar kembali berbaring.

Angel mengambil guling pembatasnya, lalu memeluk Prilly menyusupkan wajahnya di dada Prilly.

"Mommy katanya, ngelonin Angel, kok malah Daddy yang kelonin sih!" protes Angel sebal membuat Ali tersenyum simpul.

Prilly memeluk Angel dan mengelus rambutnya pelan. "Siapa bilang Mommy ngelonin Daddy, dari tadi kan Mommy meluk Angel. Cuma, tadi Daddy minta tolong dipijit sebentar. Bukan kah seperti itu, Daddy?" tanya Prilly menoleh ke belakang mengisyaratkan Ali dengan kedipan mata.

"Iya Sayang, badan Daddy capek, jadi minta tolong Mommy sebentar buat melepaskan rasa capeknya," timpal Ali tersenyum manis mengerling jahil pada Prilly.

Ali sudah merasa tak nyaman dengan selimutnya yang basah. Bagaimana dia akan bangun? Sedangkan Angel sudah membuka matanya. Pasti dia akan banyak bertanya dan Ali harus menjawab apa?

"Ajak Angel bangun Mom, aku lapar," alasan Ali agar Prilly dapat membawa Angel keluar dari kamar dan dia dapat membersihkan diri serta mengganti seprei sekaligus bed cover-nya yang basah.

Prilly yang memahami maksud Ali langsung mengajak Angel bangun. "Kita masak yuk Sayang, buat makan malam sekalian," ajak Prilly merangkak turun dari tempat tidur dan mengikat rambutnya asal.

"Daddy nggak ikut?" tanya Angel polos menatap Ali dengan wajahnya yang sangat menggemaskan.

"Daddy capek, mau istirahat sebentar. Nanti kalau sudah selesai memasaknya, bangunin Daddy ya Sayang," pinta Ali tersenyum sangat manis kepada Angel yang siap turun dari ranjang.

"Oke Daddy," sahut Angel lugu tak menaruh kecurigaan apapun kepada Ali maupun Prilly.

"Anak pintar," puji Ali seiring Angel menyusul Prilly yang sudah berjalan lebih dulu.

Ali menghela napas lega, setelah dua wanita berbeda generasi itu keluar dari kamar, lantas dia bangun dan masuk ke kamar mandi membersihkan diri. Tak hanya itu saja, Ali juga mengganti seperangkat tempat tidur dengan yang bersih. Barulah dia tidur, menunggu Angel dan Prilly selesai memasak.

Malam pun tiba, Ali dan Prilly mengajak Angel bersenang-senang di pasar malam. Meskipun permainan di sana sederhana, namun Angel terlihat bahagia. Berbagai macam permainan ia coba, ini dan itu dia beli jika dia tertarik dan suka. Terlihat Ali dan Prilly sangat bahagia dan memanjakan Angel.

"Mommy, mau balon itu!" tunjuk Angel pada pedagang balon.

"Baiklah, ayo kita beli." Prilly membopong Angel mendekati penjual balon tersebut.

Ali hanya mengikuti mereka dari belakang. Angel memilih balon yang dia inginkan.

"Mommy, beli semua ya?" rajuk Angel.

"Mau buat apa? Satu aja ya?" bujuk Prilly memintakan satu balon kepada pedagangnya.

Setelah Ali membayar, Angel tampak bahagia membawa balon dan boneka yang sempat tadi dia beli sebelum sampai di pasar malam.

"Duduk sana yuk!" ajak Ali merangkul Prilly berjalan di belakang Angel. "Makasih ya?" sambungnya berbisik di telinga Prilly sambil tersenyum jahil.

"Makasih buat?" tanya Prilly bingung menoleh Ali melihat senyuman jahilnya.

"Buat tadi sore," sahut Ali sambil menaik turunkankan kedua alisnya, membuat pipi Prilly memanas karena malu.

"Apaan sih? Udah ah, jangan dibahas lagi. Aku malu." Prilly menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, membuat Ali tertawa lepas.

Jika sedang tak di tempat gelap, mungkin Ali dapat melihat pipi memerah Prilly. Ali terus menggoda Prilly, sambil mencolek-colek pinggangnya sehingga tubuh Prilly menggeliat.

"Jangan begitu ah! Geli tahu!" Prilly menepis tangan Ali, lalu dia menghindar dari tangan Ali yang terus mencolek pinggangnya. Dia sedikit menjauh dari Ali, agar tak terus menerus digodanya.

Prilly berjalan mendahului Ali, memilih membuntuti Angel lebih dekat, agar dia juga mudah mengawasinya. Saat mereka sedang berjalan, rintikan air hujan turun dari langit. Dengan cepat Prilly menarik Angel dan menggendongnya. Semua orang berhamburan tak beraturan mencari perlindungan. Ali terpisah dengan Angel dan Prilly, karena banyak orang yang lalu lalang di depan mereka, sehingga Ali kehilangan jejak keduanya.

Tiiiiiiiiiiiiin ... Braaaaak!!!

"Aaaaaaaaaaaaaaa," teriakan itu membuat jantung Ali seketika anjlok.

"Angel!"

###########

Begitu banyak cara sebelum 'itu' terjadi. Hahahahaha
Yang penting udah bisa sedikit lega ya Daddy.😝
Kalau mau lebih, sabar dulu. Sampai waktunya tiba. Asyeeeeeek.

Udah ah! Aku mau ajeb-ajeb sama DJ berondongku. Kalau masih ada yang minta cepet nikah, terpaksa aku hentikan di part 20. Semoga, kalian masih sabar membaca ya? Karena perjuangan tak cukup hanya sampai di sini. Belanda masih jauh. Hihihihi

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top